Antara Paradoks Fermi, Skala Kardashev dan Persamaan Drake

Oleh Andi Pangerang
10 Februari 2021

Halo, Sahabat Edusainsa semua! Jika Sahabat melihat alam semesta di langit malam, Sahabat mungkin sudah mengetahui bahwa faktanya terdapat milyaran galaksi di alam semesta. Setiap galaksi memiliki jutaan bintang, setiap bintang mungkin memiliki sistem tata surya seperti tata surya kita yang terdiri dari beberapa planet, dan di antara beberapa planet itu mungkin hanya satu atau dua yang laik huni. Dengan jumlah galaksi, bintang dan planet sebanyak ini, Sahabat mungkin bertanya-tanya: mengapa ya alam semesta seolah tidak berpenghuni, sunyi senyap, sementara kehidupan di alam semesta ini hanya ada di Bumi saja?



Tahukah Sahabat? Galaksi kita ini, Bima Sakti, setidaknya memiliki 100 hingga 400 milyar bintang. Di antara banyaknya bintang yang ada di galaksi kita ini, tentunya terdapat bintang yang mirip dengan Matahari kita, bukan? Jika terdapat bintang yang mirip dengan Matahari, tentunya akan terdapat planet yang mirip dengan Bumi (atau setidaknya laik huni), bukan? Kalau ada yang planet yang mirip dengan Bumi, seharusnya terdapat peradaban di luar sana, bukan?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, saya perkenalkan persamaan matematis yang bernama “Persamaan Drake”. Sesuai namanya, persamaan ini dicetuskan oleh Dr. Frank Donald Drake. Persamaan Drake adalah persamaan matematis yang bersifat probabilitas dan digunakan untuk memperkirakan jumlah peradaban di galaksi Bima Sakti ini.



Bentuk persamaan ini dapat dituliskan sebagai berikut:

N = R* x fp x ne x fl x Fi x Fc x L

Dimana :

  • N = jumlah peradaban yang dapat dihubungi di galaksi kita

  • R* = laju rata-rata pembentukan bintang setiap tahunnya di galaksi kita

  • fp = fraksi bintang yang memiliki planet

  • ne = jumlah rata-rata planet yang dapat mendukung kehidupan untuk setiap bintang yang memiliki planet

  • fl = fraksi planet yang dapat mengembangkan kehidupan

  • fi = fraksi planet yang dapat mengebangkan kehidupan cerdas (seperti manusia)

  • fc = fraksi peradaban yang telah mengembangkan teknologi untuk mengirim sinyal ke luar angkasa

  • L = lama waktu yang diperlukan peradaban untuk mengirim sinyal ke luar angkasa

Di tahun 1961, Drake dan rekan-rekannya mencoba menghitung berapa banyak peradaban makhluk asing (alien) yang cerdas di galaksi kita ini. Dengan memasukkan parameter sebagai berikut:

  • R* = 10 bintang per tahun

  • fp = 0,5 (separo dari seluruh bintang memiliki planet)

  • ne = 2 planet/bintang

  • fl = 1 (100% planet yang mendukung kehidupan akan mengembangkan kehidupan)

  • fi = 0,01 (1% di antaranya merupakan kehidupan cerdas)

  • fc = 0,01 (1% di antaranya mampu mengembangkan teknologi untuk mengirim sinyal ke luar angkasa)

  • L = 10000 tahun

Maka diperoleh N = 10 x 0,5 x 2 x 1 x 0,01 x 0,01 x 10000 = 10

Berarti, setidaknya terdapat 10 peradaban makhluk asing cerdas di galaksi Bima Sakti ini (termasuk di dalamnya manusia di Bumi). Sementara itu, untuk bentuk kehidupan makhluk asing yang kurang cerdas (seperti hewan, protozoa dan tumbuhan), menurut penurunan dari persamaan Drake ini, terdapat antara 200 – 1000 makhluk asing kurang cerdas di luar sana.

Meskipun demikian, sampat saat ini, kita belum menemukan satu bukti adanya makhluk asing (alien) baik yang kurang cerdas apalagi yang sudah memiliki peradaban cerdas dan canggih. Hal inilah yang melandasi pertanyaan yang kala itu diajukan oleh Enrico Fermi, salah seorang astrofisikawan yang juga dijuluki sebagai bapak bom atom dunia tersebut.

Sebelum menuju ke pertanyaan yang diajukan oleh Fermi tersebut, saya perkenalkan juga sebuah skala yang dinamakan Skala Kardashev. Skala ini merupakan skala yang digunakan untuk mengukur tingkat kemajuan peradaban makhluk hidup di alam semesta baik manusia maupun makhluk asing.



Sesuai namanya, skala ini dicetuskan oleh seorang kosmonot Rusia bernama Nikolai Kardashev. Menurut beliau, peradaban makhluk hidup di alam semesta ini secara umum terbagi menjadi tiga tingkatan atau tiga tipe, yaitu:

  1. Peradaban Tipe I : telah mampu menguasai sepenuhnya energi di planetnya sendiri.

    Peradaban tipe ini mampu memanfaatkan 100% energi dari bintang terdekat yang sampai ke planet tersebut alias mampu memanfaatkan 100% energi dari sinar Matahari yang diserap Bumi.

    Untuk kasus di Bumi, agar mencapai Peradaban Tipe I ini umat manusia harus mampu memanfaatkan sepenuhnya energi bersih terbarukan yang tidak merusak dan mencemari Bumi, seperti menggunakan energi fusi, energi sinar Matahari, energi angin, energi fotosistesis, dll.

    Berhubung umat manusia masih menggunakan sumber energi kotor seperti minyak, gas bumi, batu bara, plastik, reaksi kimia, dll yang mencemari lingkungan dan menghancurkan bumi maka sampai saat ini bumi baru berada di skala 0,72 (berdasarkan perhitungan tahun 2010 silam). Nah untuk menuju ke skala tipe I diperkirakan perlu waktu sekitar 100 – 200 tahun lagi bagi peradaban manusia (dengan catatan umat manusia mampu menambah konsumsi energinya 3% per tahun).

    Menurut Kardashev, jika peradaban manusia telah sampai ke tingkat I ini manusia akan mampu mengendalikan pangan global, letusan gunung berapi, gempa dan cuaca.



    Peradaban Tipe I

  1. Peradaban Tipe II : telah menguasai sepenuhnya energi dari bintangnya nya sendiri.

    Peradaban tipe ini mampu menyerap 100% energi langsung dari bintang terdekatnya alias mampu memanen energi langsung dari matahari. Peradaban tipe ini mungkin menggunakan alat yang menyerupai Bulatan Dyson (Dyson Sphere).



    Bulatan Dyson (Dyson Sphere) sendiri adalah alat megastruktur raksasa yang mampu menutupi matahari untuk menyerap energi yang dipancarkan Matahari (bintang) tersebut. Hal itu karena energi yang di serap planet sangat-sangat kecil bila dibandingkan dengan total energi tiap detik yang dihasilkan sebuah bintang. Sebagai perbandingan sederhana energi yang di pancarkan matahari satu detik itu jauh lebih besar dari energi yang di gunakan umat manusia selama 1.000 tahun terakhir ini. Jadi tentunya menangkap energi matahari langsung jauh lebih efesien ketimbang menangkap energinya saat sampai ke bumi. Itu sebabnya di perlukan megastruktur raksasa untuk mengurung matahari dan memanfaatkan setiap jengkal energi yang di pancarakannya.

    Rancangan Dyson Sphere sendiri mungkin berbeda-beda tergantung peradaban makhluk asing yang membangunnya, mungkin ada yang menutupi langsung sebuah bintang dengan struktur solid raksasa, tapi bisa juga dengan cara menutupi bintang tersebut dengan jutaan satelit kecil, atau bisa juga membuat seperti cincin raksasa yang mengitari bintang tersebut, pokoknya ada banyak rancangan untuk Dyson Sphere ini.

    Dyson Sphere ini sendiri selain berguna sebagai sumber energi utama peradaban makhluk asing tipe II, bisa juga digunakan untuk membawa “kabur” tata surya makhluk asing tersebut seandainya tata surya tersebut akan terkena ledakan Supernova atau akan menabrak Lubang hitam liar maupun bintang Neutron yang sedang melintas di dekatnya.

    Bagi peradaban umat manusia sendiri untuk bisa mencapai peradaban tipe II ini diperlukan waktu ribuan sampai puluhan ribu tahun lagi, tapi di ujung semesta sana mungkin ada alien yang udah sampai ke peradaban tipe II ini, seperti: bintang “Tabby Star” (yang terletak di konstelasi Cygnus) yang beberapa tahun lalu membuat heboh ilmuwan karena tingkat keterangan cahaya bintang ini berubah-ubah tidak wajar sehingga dianggap oleh beberapa ilmuwan, ada alien cerdas yang sedang membangun Dyson Sphere di sistem bintang ini sehingga kecerlangan bintang tersebut berubah-ubah secara tidak wajar.

    Jika peradaban manusia telah sampai ketingkat II ini manusia akan mampu menjalani kehidupan antar planet bukan hanya sebatas bumi saja, bahkan planet Mars dan Venus akan berhasil dijinakkan dan diterraformasi sekalian, sehingga bisa di tinggali layaknya Bumi versi 2.0 dan 2.1.

    Peradaban Tipe II (Dyson Sphere)

  1. Peradaban Tipe III : telah menguasai sepenuhnya energi dari galaksinya nya sendiri yang terdiri dari jutaan bintang bahkan juga lubang hitam.

    Pada tingkatan ini sebuah peradaban sudah memiliki teknologi yang mampu menjelajahi bintang-bintang bahkan memiliki teknologi yang mampu membengkokan ruang dan waktu sekaligus. Hal ini karena untuk perjalanan antar bintang yang sangat jauh tidak mungkin di tempuh dengan perjalanan biasa bahkan walaupun memiliki pesawat dengan kecepatan cahaya jarak tempuh dari satu bintang ke bintang lain itu masih sangat jauh (dari beberapa tahun cahaya sampai ratusan ribu tahun cahaya) sehingga di perlukan teknologi yang mampu membengkokan ruang dan waktu sekaligus untuk menyingkat perjalanan antar bintang ini.

    Pada skala peradaban tipe III ini kemungkinan mahluknya sudah melebihi para dewa-dewa yang dibayangkan peradaban manusia lampau, dimana mahluk peradaban tipe III ini mungkin sudah semi-imortal (mampu hidup lebih lama dibandingkan harapan hidup rata-rata manusia pada umumnya), memiliki kecerdasan sangat luar biasa yang mampu membuat mereka bergerak melebihi kecepatan cahaya, bisa membengkokan dimensi ruang dan waktu, serta mampu menyerap energi baik dari planet, bintang, bintang neutron, bahkan lubang hitam sekalipun.

    Umat manusia sendiri kemungkinan memerlukan waktu sekitar 100.000 tahun hingga jutaan tahun untuk sampai pada peradaban tipe III ini.



    Peradaban Tipe III

    Meskipun nantinya Skala Kardashev ini awalnya hanya sampai tipe III, tapi para ilmuwan modern seperti Zoltan Galantai dan Michio Kaku malah menambahkan sampai tingkatan 8 atau tipe VIII yaitu terbagi menjadi :

  1. Peradaban tipe IV adalah peradaban yang mampu memanfaatkan energi dari galaksi lain, atau bisa dibilang peradaban ini adalah peradaban Antar galaksi dan mampu memanen energi dari energi gelap dan materi gelap.



    Peradaban tipe IV

  1. Peradaban tipe V adalah peradaban yang mampu memanen energi dari seluruh alam semesta, Peradaban tipe ini mempu memanen semua energi di alam semesta ini apapun bentuknya.



    Peradaban tipe V

  1. Peradaban tipe VI adalah peradaban yang mampu memanen energi dari seluruh multi-semesta

    (Ilmuwan modern hari ini banyak meyakini bahwa alam semesta tidak tunggal ada alam semesta lainnya atau biasa disebut multi-semesta atau multi-universe), peradaban ini tidak lagi terikat dimensi ruang dan waktu dan mampu berpindah antar alam semesta.



    Peradaban tipe VI

  1. Peradaban tipe VII adalah peradaban yang mampu memanen energi dari seluruh metasemesta (semesta mentah alias semesta yang belum terbentuk).

    Menurut kosmologi Aarex, peradaban manusia butuh 10 duodecillion (10 pangkat 39) tahun untuk mencapai peradaban tipe ini



    Peradaban tipe VII

  1. Peradaban tipe VIII adalah peradaban yang mampu memanen energi dari seluruh xenosemesta (alam semesta yang tidak diketahui).



    Peradaban tipe VIII

Bahkan dalam tahun-tahun belakangan skala Kardashev ini terus berlanjut hingga skala yang tak diketahui, karena rentetan semesta lainnya. Karena setelah xenosemesta masih ada megasemesta, gigasemesta, terasemesta, dan seterusnya. 

Hingga akhirnya mencapai skala yang disebut “Type Ultimate Civization” alias peradaban tertinggi terakhir, pada skala “Type Ultimate Civization” ini peradabannya udah mencapai titik omnipotent (maha segalanya) dan mampu mengendalikan apa saja dan dimana saja serta abadi. Mungkin sudah seperti peradaban Tuhan saja yang tidak lagi memiliki batasan dan mampu menciptakan maupun menghancurkan semesta semaunya.

Tipe Ultimate Civization

Para ilmuwan modern sendiri sebenarnya masih berdebat tentang Skala Kardashev ini ada yang sampai tipe 8 ada yang hanya sampai tipe 7 bahkan ada yang hanya sampai tipe 6 atau 5 saja, ada yang memasukan tipe 0 ada yang tidak memasukan tipe 0. Meskipun demikian, Skala Kardashev yang dibuat oleh Nikolai Kardashev ini sudah membuka cakrawala baru pemikiran manusia tentang masih jauhnya perjalanan peradaban manusia.


Nikolai Kardashev

Mulai dari peradaban tipe II ini memang hanya sebatas hipotesa saja, Meski demikian, jika kita anggap secara logis rentang waktu sebuah peradaban alien tipe II melompat dari satu sistem tata surya ke sistem lain selama 500 tahun, maka kurang lebih dalam 3,5 milyar tahun seharusnya mereka sudah dapat menguasai seisi galaksi.

Jika 1% saja dari 1.000.000 peradaban makhluk asing cerdas di galaksi Bima Sakti ini bertahan hidup cukup lama sampai masuk ke peradaban kategori III, hitungannya kurang lebih ada 1.000 peradaban tipe III di galaksi kita saja. Meskipun sedikit, kita sebagai orang pinggiran galaksi (tata surya kita memang posisinya terletak di pinggiran galaksi bima sakti) seharusnya dapat mendeteksi atau setidaknya merasakan kehadiran mereka. Kenyataannya, kita tidak melihat apapun, tidak mendengar apapun, bahkan tidak dikunjungi siapapun. Hal inilah yang dinamakan “The Fermi Paradox” atau bisa juga disebut silentium universi (silent universe) yang sejak lama membuat bingung para ilmuwan.

Jawaban sementara dari Fermi paradox 

GRUP 1 :  Tidak ada yang namanya Peradaban Tipe II dan III, oleh karena itu tidak terdapat tanda-tanda dari makhluk asing.

Grup ini menyatakan kemungkinan peradaban tipe I tidak akan sampai ke tipe II – III karena ada sesuatu yang menyebabkan peradaban tipe I tidak akan sampai ke tipe II apalagi tipe III, yang dinamakan teori “The Great Filter

Penjelasannya, pada suatu kurun waktu, semua peradaban berlomba-lomba berevolusi dari tipe 0 ke tipe diatasnya, sampai suatu saat mereka terbentur tembok yang memfilter sebagian besar dari mereka. yang memungkinkan cuma segelintir saja dari mereka yang bisa terus berevolusi ke tahap berikutnya.



Jika kita menganggap teori ini benar. yang jadi pertanyaannya adalah, bilamana (kapan) The Great Filter ini terjadi ? Kalo kita berkaca ke peradaban manusia sendiri, lalu kita tanya kapan terjadi the great filter, maka jawabannya ada 3 kemungkinan yaitu : we’re rare, we’re first or we’re in trouble.

  1. We’re rare (kita salah satu dari sedikit mahluk yang berhasil melewati the great filter)

    Di sini, kita anggap the great filter sudah terjadi, entah itu saat kita melompat keluar kolam sup primordial dari bentuk protein organik yang evolusi ke mahluk hidup bersel tunggal sampai evolusi ke mahluk hidup sel banyak, maupun berhasil menghindari kepunahan dari kejadian katatrospik yang sudah-sudah di antaranya: tidak punahnya makhluk hidup di Bumi karena jatuhnya meteor Chicxulub yang cukup besar sehingga dapat memusnahkan dinosaurus, atau tidak terjadinya perang nuklir antara Amerika dan Uni Soviet saat perang dingin silam. Jika memang demikian ceritanya, kita adalah pemenang. Dengan kemajuan teknologi kita hari ini, dapat dibilang tidak ada lagi yang dapat menahan kita untuk terus berkembang jadi tipe II dan III. Hipotesis ini didukung Peter Ward dalam bukunya Rare Earth.



    We’re rare (kita salah satu dari sedikit mahluk yang berhasil melewati the great filter)

  2. We’re first. (kita yang pertama melewati the great filter)

    Sama dengan poin 1 diatas, cuma bedanya kali ini ada beberapa peradaban makhluk asing lainnya yang berhasil melompati the great filter. Hanya saja, mereka mengekor di belakang kita. Kita tetep jadi pemenang. Breaking the filter bukan sekedar anomali, tapi sebatas probabilitas. Meskipun probabilitasnya sangat kecil, tapi kita berhasil sebagai yang pertama, itulah sebabnya kita tidak mendengar makhluk dari planet lain karena kita menjadi makhluk pertama yang paling canggih.


    We’re first. (kita yang pertama melewati the great filter)

  3. We’re in trouble. (kita sebenarnya belum melewati the great filter)

    Kemungkinan paling buruk adalah The Great Filter bagi mahluk hidup di Bumi belum terjadi alias “kiamat” Bumi belum datang. Seperti asteroid Chicxulub yang memusnahkan dinosaurus itu masih terbilang kecil. Di luar sana ada asteroid yang ukurannya jauh lebih besar dibandingkan dengan sebelumnya yang sedang menuju Bumi, atau Bumi yang belum pernah terkena radiasi semburan gamma maupun supernova dari bintang lainnya, atau yang paling ekstrem adalah semua kehidupan dirancang untuk self destruct (hancur dengan sendirinya) entah karena faktor biologis atau faktor ambisius dari kita sendiri yang dapat berperang menggunakan nuklir yang bisa menghancurkan Bumi ini sendiri.


    We’re in trouble. (kita sebenarnya belum melewati the great filter)

Grup 2: adalah kebalikan dari grup 1, yang menyatakan Tipe II dan III ada, tapi ada beberapa alasan logis mengapa kita tidak mendengar apa-apa dari mereka. Grup ini tidak menggunakan teori The Great Filter, dan menyatakan evolusi itu terjadi secara ubiquitous (terjadi dimana saja) dan lumrah. Peradaban manapun bisa menjadi tipe I/II/III.

 Grup ini mengajukan beberapa kemungkinan antara lain:

  1. Entitas super cerdas kemungkinan sudah pernah ke bumi, tapi pada zaman dahulu kala.

    Pertanyaan ini cukup sederhana, berapa lama peradaban manusia cerdas seperti ini baru muncul? Paling lama berkisar 100.000 tahun yang jika dibandingkan dengan skala usia alam semesta yang berusia 14.000.000.000 tahun, peradaban manusia ini relatif lebih singkat bahkan diibaratkan seperti tidak ada seujung kuku.



    Jadi, jika memang kehidupan makhluk asing lain sudah berevolusi milyaran tahun lalu, bisa jadi mereka sudah pernah ke Bumi dahulu kala saat spesies manusia belum ada (bisa jadi, ketika mereka mengunjungi Bumi, planet ini masih dipenuhi raptor dan t-rex, sehingga mereka pergi kembali karena merasa planet ini hanya dipenuhi oleh makhluk kurang cerdas dan belum berperadaban maju)

  1. Bumi terletak di daerah pinggiran Bima Sakti.

    Analoginya, jika wilayah yang penduduknya padat terletak di Jakarta, Bumi diibaratkan seperti berada di wilayah Boven Digoel (Papua) yang penduduknya masih jarang. Sebenernya ini sama dengan teori dasar Urban Planning (Perencanaan Wilayah dan Kota, PWK atau Planologi) yang mengatakan sebaran Distrik Pusat Bisnis (Central Business District, CBD) mengalami aglomerasi (bergumpal) ke tengah kota.



    Dengan kata lain, wilayah yang terletak di pinggir kota akan lebih jarang penduduknya dibandingkan dengan wilayah di tengah kota. Hal itu bisa saja benar, mengingat tata surya kita yang berisi bumi ini berada di bagian pinggir galaksi Bima Sakti.

  1. Peradaban tipe III tidak ikut campur urusan peradaban primitif.

    Bayangkan, peradaban tipe II atau III sudah sangat maju, mereka sudah dapat memenuhi kebutuhan mereka tanpa harus kemana-mana. Seberapa signifikan mengurus manusia dan Bumi yang masih primitif dan kurang begitu penting?



    Atau mungkin juga mereka sudah naik level menjadi the elevated one (semacam tujuan semua mahluk hidup) seperti: mereka sudah tidak tinggal lagi di dimensi fisik, mereka sudah meninggalkan atribut fisik mereka sehingga hanya tersisa kesadaran murni, semacam menjadi dewa yang tidak perlu makan, minum, dan hampir abadi (imortal). 

  1. Galaksi dalam perang bintang

    Kenapa kita tidak mendengar sinyal apa-apa dari luar sana, bisa jadi karena semua makhluk sedang bersembunyi di planet mereka masing-masing. Hanya ada satu makhluk yakni manusia yang terus menerus mengirim sinyal ke luar angkasa karena bisa jadi tidak mengetahui bahwa sedang terjadi perang antar bintang.



    Stephen Hawking sendiri sudah mengingatkan, agar manusia jangan membuat kontak sama sekali dengan makhluk asing, karena hal ini sama aja dengan mengundang maut. Hal ini akan mirip dengan peradaban suku Aztec yang hancur karena kedatangan penjajah Spanyol. Suku Aztec hanya bersenjatakan panah dan tombak, sedangkan Spanyol bersenjatakan pistol dan meriam. Nasib yang serupa akan kita hadapi apabila bertemu dengan makhluk asing canggih.

  1. Ada satu peradaban makhluk asing super dominan di galaksi



    Jadi, satu peradaban ini akan datang menghancurkan semua peradaban yang dianggap mengancam peradaban mereka. Saat ini Bumi masih beruntung dan belum sampai tiba gilirannya didatang dan dihancurkan oleh mereka.

  1. Manusia terlalu primitif untuk berkomunikasi.

    Apakah ada jaminan bahwa makhluk asing di luar sana masih menggunakan teknologi radio yang bisa jadi masih dianggap primitif oleh mereka? Bahkan, dalam usianya yang belum ada 200 tahun sejak penemuannya, kita sendiri menganggap teknologi radio ini sudah usang. Teknologi radio sudah tergantikan oleh laser, serat optik, gelombang mikro (microwave), dll.



    Dalam hal ini, SETI (lembaga pencari kehidupan cerdas di luar angkasa) masih menggunakan teknologi radio untuk mencari kehidupan di luar sana. Bisa jadi, makhluk asing sudah menggunakan teknologi Subspace atau quantum network dalam berkomunikasi, akan tetapi, kita masih belum mengetahui bagaimana men-dekode-kan sinyal tersebut. Salah satu ilmuwan terkenal, Michio Kaku pernah menganalogikan hal ini seperti : manusia tidak ubahnya semut yang sedang mencari jalan setapak untuk jalan kesarangnya, tapi sama sekali tidak sadar ada jalan layang 10 jalur disamping sarang mereka.

  1. Kita sudah mendapat kontak, Tapi pihak yang berwenang menyembunyikan kenyataan ini.



    Dapat ditunjukkan dengan keberadaan area 51, penampakan UFO, dll. Meskipun bagi beberapa ilmuwan masih diragukan keabsahan bukti-bukti yang mendukung fenomena tersebut.

  1. The Prime Directive.

    Diantara semua pilihan, ini adalah pilihan yang paling masuk akal. Teori ini menyatakan bahwa: semua makhluk asing cerdas diluar sana sudah bekerjasama satu sama lain, dan membentuk federasi. Kemudian, untuk melindungi keragaman kultural, mereka menerapkan sebuah peraturan ketat untuk tidak melakukan kontak kepada peradaban di bawah tipe II. Alasannya bisa bermacam-macam, selain keragaman kultural itu sendiri, hal lainnya adalah karena ketidaksiapan peradaban primitif itu ketemu peradaban canggih tipe II dan III.



    Secara sederhana, jika tidak terdapat prime directive ini, peradaban makhluk asing yang lebih tinggi dapat seenaknya menjajah dan menghancurkan peradaban makhluk asing lainnya yang lebih rendah (diibaratkan seperti Angkatan Laut Amerika Serikat (Navy Seal) dengan persenjataan lengkap, melawan suku terasing di sungai Amazon yang masih menggunakan tombak), maka bisa habislah peradaban lebih rendah di galaksi ini. Hal ini yang ingin dijaga oleh federasi.

Grup 3: Tidak ada yang namanya teori-teori diatas bahkan yang namanya realitas pun tidak ada karena manusia sebenarnya hidup dalam simulasi komputer (Simulation Theory). 

Teori ini terkesan sangat fantastis dan tidak masuk akal. Meskipun demikian, teori ini benar-benar ada dan dimuat dalam jurnal ilmiah. Teori ini ditulis oleh Nick Bostrom, alumni Oxford University. Elon Musk pun percaya dengan teori ini. Menurut Nick, sebenarnya ada entitas super cerdas di sebuah alam semesta yang sedang membuat simulasi alam semesta, yaitu alam semesta yang kita tinggali sekarang. Nah sayangnya entitas super cerdas ini baru memprogram manusia dan mahluk di Bumi saja, belum ada makhluk asing lainnya di planet lainnya. Manusia dan makhluk hidup lainnya di Bumi ini diibaratkan seperti karakter di sebuah game, sedangkan luasnya alam semesta hanya berupa hologram saja.



Menurut teori ini, sebenarnya alam semesta ini hanyalah simulasi terbatas, seperti dalam sebuah game atau film Matrix. Entitas super cerdas ini dapat dianggap sebagai Tuhan maupun makhluk asing yang sudah mencapai level terlepas dari dimensi ruang-waktu. Bisa jadi, mereka membuat simulasi manusia dan makhluk di Bumi sebagai bahan percobaan mengamati makhluk material saja. Siapa yang tahu? Bagaimana menurut Sahabat Edusainsa? Apakah Sahabat mempercayai keberadaan makhluk asing di luar tata surya kita?

Comments


  • 20 February 2021 | 12:11 Manna

    Amazing

    • 22 February 2021 | 08:11 Admin Edusainsa

      thanks for appreciation