Apakah Puncak Bulan Purnama Selalu Jatuh Pada Malam Ke-15 Penanggalan Hijriah?

Oleh Andi Pangerang
30 Agustus 2021

Halo, Sobat LAPAN semua! Dalam benak Sobat, pasti Sobat menganggap bahwa puncak Bulan Purnama selalu jatuh di malam ke-15 penanggalan Hijriah. Benarkah demikian? Yuk simak ulasan astronomisnya!

Penanggalan Hijriah adalah penanggalan yang digunakan oleh umat Islam di mana sistemnya didasarkan pada peredaran Bulan mengelilingi Bumi. Fenomena yang digunakan untuk menandai tanggal 1 setiap bulannya adalah terlihatnya Bulan sabit muda yang sangat tipis, lazim disebut hilal, beberapa saat setelah Matahari terbenam.  Pergantian hari dalam penanggalan Hijriah dimulai sejak terbenamnya Matahari, tidak seperti penanggalan Masehi yang pergantian harinya dimulai sejak tengah malam.

Hilal biasanya muncul beberapa jam setelah fase Bulan Baru astronomis, yang mana Bulan Baru ini ditandai oleh nilai bujur ekliptika Matahari maupun Bulan yang bernilai sama. Dengan kata lain, selisih bujur ekliptika antara Matahari dan Bulan bernilai nol derajat. Bujur ekliptika sendiri adalah sudut yang ditempuh benda langit di sepanjang ekliptika atau bidang edar yang diukur dari Titik Pertama Aries (First Point of Aries) atau perpotongan antara ekliptika dengan ekuator langit atau perpanjangan ekuator Bumi yang memotong bola langit.

Selang waktu dari Bulan Baru ke Bulan Baru berikutnya berkisar antara 29 hari 5,5 jam hingga 29 hari 20 jam. Inilah yang membuat terkadang umur bulan dalam penanggalan Hijriah terkadang 29 hari, terkadang 30 hari, terkadang berselang-seling 29 dan 30 hari, terkadang dua bulan berturut-turut 29 hari dan terkadang dua bulan berturut-turut 30 hari.

Kemunculan hilal berkisar antara 5 hingga 25 jam setelah fase Bulan Baru astronomis. Sedangkan, selang waktu dari Bulan Baru astronomis hingga Purnama astronomis berkisar antara 13 hari 21,6 jam hingga 15 hari 14,7 jam antara tahun 1000 Hijriah hingga 2000 Hijriah. Purnama astronomis ditandai oleh selisih antara bujur ekliptika Matahari dan Bulan sebesar 180 derajat. Oleh karenanya, Purnama juga disebut sebagai Oposisi atau Istiqbal yang berarti “membelakangi” atau “berlawanan”. Karena selisih maksimum bujur ekliptika Matahari dan Bulan sebesar 180 derajat yang juga merupakan Purnama astronomis, maka Purnama astronomis dapat disebut juga sebagai puncak Purnama.

Dalam simulasi ini, kita menggunakan nilai ekstrem dan nilai rata-rata dari durasi kemunculan hilal sejak Bulan Baru astronomis maupun selang waktu Bulan Baru astronomis ke Purnama astronomis. Kemunculan hilal rata-rata 15 jam setelah fase Bulan Baru astronomis, sementara selang waktu dari Bulan Baru astronomis hingga Purnama astronomis rata-rata 14 hari 18,4 jam.

Jika hilal muncul sekitar 15 jam setelah Bulan Baru astronomis, sementara selang waktu dari Bulan Baru astronomis hingga Purnama astronomis sekitar 14 hari 18 jam, maka selang waktu dari munculnya hilal hingga Purnama astronomis sekitar 14 hari 3 jam atau dibulatkan menjadi 14 hari (dikarenakan Purnama astronomis terjadi sebelum tengah hari, terlihat dari fraksi jam yang bernilai kurang dari 18 jam, sehingga dibulatkan ke bawah). 14 hari setelah tanggal 1 adalah tanggal 15.

Demikian juga jika hilal muncul sekitar 25 jam setelah Bulan Baru astronomis, sementara selang waktu dari Bulan Baru astronomis hingga Purnama astronomis sekitar 15 hari 14 jam, maka selang waktu dari munculnya hilal hingga Purnama astronomis sekitar 14 hari 13 jam atau dibulatkan menjadi 14 hari (dikarenakan Purnama astronomis terjadi sebelum tengah hari, terlihat dari fraksi jam yang bernilai kurang dari 18 jam, sehingga dibulatkan ke bawah). 14 hari setelah tanggal 1 adalah tanggal 15.

Akan tetapi, jika hilal muncul sekitar 25 jam setelah Bulan Baru astronomis, sementara selang waktu dari Bulan Baru astronomis hingga Purnama astronomis sekitar 13 hari 22 jam, maka selang waktu dari munculnya hilal hingga Purnama astronomis sekitar 12 hari 21 jam atau hampir 13 hari (dikarenakan Purnama astronomis terjadi setelah tengah hari, terlihat dari fraksi jam yang bernilai lebih dari 18 jam, sehingga dibulatkan ke atas). 13 hari setelah tanggal 1 adalah tanggal 14.

Demikian juga jika hilal muncul sekitar 5 jam setelah Bulan Baru astronomis, sementara selang waktu dari Bulan Baru astronomis hingga Purnama astronomis sekitar 13 hari 22 jam, maka selang waktu dari munculnya hilal hingga Purnama astronomis sekitar 13 hari 17 jam atau dibulatkan menjadi 14 hari (dikarenakan Purnama astronomis terjadi sebelum tengah hari, terlihat dari fraksi jam yang bernilai kurang dari 18 jam, sehingga dibulatkan ke bawah). 13 hari setelah tanggal 1 adalah tanggal 14.

Sedangkan, jika hilal muncul sekitar 5 jam setelah Bulan Baru astronomis, sementara selang waktu dari Bulan Baru astronomis hingga Purnama astronomis sekitar 15 hari 14 jam, maka selang waktu dari munculnya hilal hingga Purnama astronomis sekitar 15 hari 9 jam atau dibulatkan menjadi 15 hari (dikarenakan Purnama astronomis terjadi sebelum tengah hari, terlihat dari fraksi jam yang bernilai kurang dari 18 jam, sehingga dibulatkan ke bawah). 15 hari setelah tanggal 1 adalah tanggal 16.

Mengapa patokan yang digunakan adalah tengah hari? Karena, tengah hari merupakan waktu di antara terbit dan terbenam Matahari. Jika Purnama Astronomis terjadi setelah tengah hari, maka iluminasi (luas pencahayaan) Bulan akan maksimum saat terbenam Matahari setelah tengah hari, sedangkan iluminasi Bulan saat terbit Matahari sebelum tengah hari lebih kecil dibandingkan dengan iluminasi Bulan saat terbenam Matahari setelah tengah hari. Sementara itu, jika Purnama Astronomis terjadi sebelum tengah hari, maka iluminasi Bulan akan maksimum saat terbit Matahari sebelum tengah hari, sedangkan iluminasi Bulan saat terbenam Matahari setelah tengah hari lebih kecil dibandingkan dengan iluminasi Bulan saat terbit Matahari sebelum tengah hari. Sederhananya, jika terjadinya Purnama Astronomis berdekatan dengan terbit ataupun terbenam Matahari, maka iluminasi Bulan akan maksimum sesuai dengan waktu yang berdekatan tersebut, baik ketika terbit maupun terbenam Matahari.

Hasil simulasi tersebut dapat ditabelkan menjadi berikut ini:

Tabel 1. Selang Waktu dari Kemunculan Hilal hingga Purnama Astronomis

Selang Waktu dari Kemunculan Hilal hingga Purnama Astronomis

Selang Waktu dari Bulan Baru Astronomis
ke Purnama Astronomis

Minimum
13 hari 22 jam

Rata-Rata
14 hari 18 jam

Maksimum
15 hari 14 jam

Selang Waktu dari Bulan Baru astronomis hingga Kemunculan Hial

Minimum
5 jam

13 hari 17 jam
Hari ke-14

14 hari 13 jam
Hari ke-15

15 hari 9 jam
Hari ke-16

Rata-Rata
15 jam

13 hari 7 jam
Hari ke-14

14 hari 3 jam
Hari ke-15

14 hari 23 jam
Hari ke-16

Maksimum
25 jam

12 hari 21 jam
Hari ke-14

13 hari 17 jam
Hari ke-14

14 hari 13 jam
Hari ke-15

 

Dari simulasi ini, dapat disimpulkan bahwa puncak Bulan Purnama tidak selalu jatuh pada malam ke-15 dalam penanggalan Hijriah, melainkan dapat terjadi juga pada malam ke-14 maupun malam ke-16. Purnama astronomis jatuh pada malam ke-14 jika selang waktu dari Bulan Baru astronomis ke Purnama astronomis lebih kecil dari rata-ratanya. Sedangkan, Purnama astronomis jatuh pada malam ke-16 jika selang waktu dari Bulan Baru astronomis ke Purnama lebih besar dari rata-ratanya dan selang waktu dari Bulan Baru astronomis hingga kemunculan hilal lebih kecil kecil atau sama dengan rata-ratanya.

Berikut ini tabel jatuhnya Purnama astronomis atau puncak Purnama untuk tahun 2021 dan 2022 Masehi:

Tabel 2. Jatuhnya Purnama Astronomis Sepanjang Tahun 2021-2022 Masehi

Bulan dan Tahun Hijriah

Bulan Baru Astronomis

Tanggal 1 Penanggalan Hijriah

Purnama Astronomis

Tanggal Purnama Astronomis

Jumadal Akhirah 1442 H

13 Januari 2021
pukul 12.00 WIB

14 Januari 2021

29 Januari 2021
pukul 02.16 WIB

16 Jumadal Akhirah

Rajab 1442 H

12 Februari 2021
pukul 02.05 WIB

13 Februari 2021

27 Februari 2021
pukul 15.17 WIB

16 Rajab

Sya’ban 1442 H

13 Maret 2021
pukul 17.21 WIB

15 Maret 2021

29 Maret 2021
pukul 01.48 WIB

15 Sya’ban

Ramadan 1442 H

12 April 2021
Pukul 09.30 WIB

13 April 2021

27 April 2021
pukul 10.31 WIB

15 Ramadan

Syawwal 1442 H

12 Mei 2021
Pukul 01.59 WIB

13 Mei 2021

26 Mei 2021
pukul 18.13 WIB

15 Syawwal

Zulqa’dah 1442 H

10 Juni 2021
pukul 17.52 WIB

12 Juni 2021

25 Juni 2021
pukul 01.39 WIB

14 Zulqa’dah

Zulhijjah 1442 H

10 Juli 2021
pukul 08.16 WIB

11 Juli 2021

24 Juli 2021
pukul 09.36 WIB

14 Zulhijjah

Muharram 1443 H

8 Agustus 2021
pukul 20.50 WIB

10 Agustus 2021

22 Agustus 2021
pukul 19.01 WIB

14 Muharram

Safar 1443 H

7 September 2021
pukul 07.51 WIB

8 September 2021

21 September 2021
pukul 06.54 WIB

14 Safar

Rabi’ul Awwal 1443 H

6 Oktober 2021
pukul 18.05 WIB

8 Oktober 2021

20 Oktober 2021
pukul 21.56 WIB

14 Rabi’ul Awwal

Rabi’ul Akhir 1443 H

5 November 2021
pukul 04.14 WIB

6 November 2021

19 November 2021
pukul 15.57 WIB

15 Rabi’ul Akhir

Jumadal Ula 1443 H

4 Desember 2021
pukul 14.43 WIB

6 Desember 2021

19 Desember 2021
pukul 11.35 WIB

14 Jumadil Ula

Jumadal Akhirah 1443 H

3 Januari 2022
pukul 01.33 WIB

4 Januari 2022

18 Januari 2022
pukul 06.48 WIB

15 Jumadal Akirah

Rajab 1443 H

1 Februari 2022
pukul 12.46 WIB

2 Februari 2022

16 Februari 2022
pukul 23.56 WIB

16 Rajab

Sya’ban 1443 H

3 Maret 2022
Pukul 00.34 WIB

4 Maret 2022

18 Maret 2022
pukul 14.17 WIB

16 Sya’ban

Ramadan 1443 H

1 April 2022
pukul 13.24 WIB

2 April 2022

17 April 2022
pukul 01.55 WIB

16 Ramadan

Syawwal 1443 H

1 Mei 2022
pukul 03.28 WIB

2 Mei 2022

16 Mei 2022
pukul 11.14 WIB

15 Syawwal

Zulqa’dah 1443 H

30 Mei 2022
pukul 18.30 WIB

1 Juni 2022

14 Juni 2022
pukul 18.51 WIB

15 Zulqa’dah

Zulhijjah 1443 H

29 Juni 2022
pukul 09.52 WIB

30 Juni 2022

14 Juli 2022
pukul 01.37 WIB

15 Zulhijjah

Muharram 1444 H

29 Juli 2022
pukul 00.54 WIB

30 Juli 2022

12 Agustus 2022
pukul 08.35 WIB

14 Muharram

Safar 1444 H

27 Agustus 2022
pukul 15.17 WIB

29 Agustus 2022

10 September 2022
pukul 16.59 WIB

14 Safar

Rabi’ul Awwal 1444 H

26 September 2022
pukul 04.54 WIB

27 September 2022

10 Oktober 2022
pukul 03.54 WIB

14 Rabi’ul Awwal

Rabi’ul Akhir 1444 H

25 Oktober 2022
pukul 17.48 WIB

27 Oktober 2022

8 November 2022
pukul 18.02 WIB

14 Rabi’ul Akhir

Jumadal Ula 1444 H

24 November 2022
Pukul 05.57 WIB

25 November 2022

8 Desember 2022
pukul 11.08 WIB

14 Jumadil Ula

 

Dari tabel di atas, terlihat bahwa jatuhnya Purnama astronomis tidak selalu jatuh pada tanggal 15 dalam penanggalan Hijriah, melainkan dapat terjadi pula pada tanggal 14 maupun tanggal 16 penanggalan Hijriah. Sehingga, puncak Bulan Purnama dapat terjadi antara tanggal 14-16 dalam penanggalan Hijriah bergantung dari jatuhnya tanggal 1 penanggal Hijriah maupun jatuhnya Purnama astronomis.

Demikian penjelasan mengenai puncak Bulan Purnama yang tidak selalu jatuh pada tanggal 15 dalam penanggalan Hijriah. Semoga bermanfaat bagi Sobat LAPAN semua. Salam Antrariksa!

 

Comments