Astronomi, Salah Satu Ilmu Pengetahuan Tertua di Dunia?

Oleh Andi Pangerang
16 April 2021

Halo, Sahabat Edusainsa! Tahukah Sahabat, bahwa astronomi menjadi salah satu ilmu pengetahuan tertua di dunia?

Diawali sejak jutaan tahun silam, manusia purba yang tinggal di padang sabana Afrika sudah menyaksikan pemandangan langit malam yang bertabur bintang dan berhiaskan cahaya Bulan. Pemandangan ini tidak jauh berbeda dengan saat ini, meskipun mereka lebih sering menyaksikannya dengan rasa takjub dibandingkan dengan manusia modern saat ini. Setelah manusia memahami bintang sebagai sarana untuk aktivitas sehari-hari, manusia mulai dapat memahami pergerakan bintang-bintang setiap hari, setiap tahunnya.

Berkisar 7.000 tahun silam, sekelompok manusia nomaden yang tinggal di padang sabana Afrika menjadi yang pertama kali mencatat pergerakan bintang-bintang di situs Nabta Playa. Manusia nomaden Afrika ini merupakan sekelompok pemburu dan peramu hewan-hewan ternak yang digunakan juga untuk ritus penyembahan terhadap hewan tersebut. Lingkaran batu tertua di situs ini dibangun oleh mereka untuk menandai Solstis Utara dan penanda musim lainnya yang digunakan untuk menjamin ketersediaan air dan pangan dalam kelompok tersebut. Pengamatan ini menandai awal dari kemunculan astronomi sebelum akhirnya menjadi semapan sekarang ini. Tidak hanya dalam astronomi saja, disiplin keilmuan lainnya juga membutuhkan pengamatan ribuan tahun lamanya agar menjadi seperti sekarang ini.

Nabta Playa menjadi tonggak pengamatan astronomi sebelum kemudian disusul oleh peradaban kuno seperti bangsa Mesir, Amerika Tengah, India, Tiongkok, Barat (Eropa) dan Nusantara. Pengamatan dan perbendaharaan mengenai astronomi ini menjadi penting karena dapat mendukung tatanan masyarakat agraris yang terhitung maju di saat itu. Demikian halnya yang dialami di Nusantara, beberapa bintang seperti Banyak Angrem atau Klapa Doyong (Angsa mengeram atau Nyiur Melambai, padanan dari Scorpius), Kidang atau Waluku (Kijang atau Alat Bajak, padanan dari Orion), Gubug Penceng (Pondok Miring, padanan dari Crux), Gumarang (Sapi Bajak, padanan dari Taurus) dan Wulanjar Ngirim (Dewi Berparas Jelita, padanan dari Centaur) sudah digunakan oleh masyarakat dalam kegiatan pertanian dan penanda musim.

Terlepas dari pemaknaan benda-benda langit oleh manusia purba sebagai entitas religius yang diyakini dapat membawa mereka ke alam baka, pengamatan dan pencatatan yang cermat dari setiap perubahan yang terjadi tetap masih mereka lakukan dan mengaitkan perubahan tersebut dengan kondisi alam di sekitar mereka. Dengan melakukan hal ini, manusia purba sudah bisa memprediksi kejadian-kejadian penting di masa depan seperti kapan terjadinya awal musim hujan maupun waktu panen tanaman karena kejadian-kejadian seperti ini akan terus berulang secara teratur sesuai dengan hasil pengamatan mereka selama ini.

Peradaban di setiap wilayah di dunia menjadi semakin berkembang dengan bantuan orang-orang yang mampu memahami dan memaknai setiap pergerakan benda-benda langit. Yang berarti, keberadaan astronom sebagai orang yang menguasai perbintangan menjadi sangat penting di kala itu. Hal ini membuat peradaban agraris di seluruh dunia menjadi tumbuh pesat sebelum tergantikan oleh peradaban mekanis dan industrial seperti sekarang ini.

 Penamaan Bintang dan Konstelasi

Nama-nama bintang dan konstelasi yang ada saat ini ternyata diawali dari peradaban Mesopotamia yang menandai era kebangkitan pertanian. Wilayah ini kerap disebut oleh para sejarawan sebagai Sabit Subur (Levant) di mana pertanian dan tulis-menulis lahir di sini. Peradaban kuno di bawah peradaban Mesopotamia seperti Sumeria, Asyur (Assyria) dan Babilonia semakin pesat seiring pesatnya juga kajian mengenai perbintangan.

Meskipun nama-nama bintang dan konstelasi diadopsi dari peradaban Yunani Kuno (termasuk di dalamnya juga Aristoteles), jika ditelusuri asal-usulnya akan berpangkal ke peradaban Babilonia. Dalam peradaban Babilonia, peta bintang memiliki dua penamaan yang terpisah untuk tujuan yang berbeda. Penamaan pertama digunakan untuk menandai perayaan kuno maupun tanggal-tanggal tertentu terkait dengan pertanian, penamaan kedua digunakan sebagai bentuk pengenalan dan penyembahan kepada para dewa. Penandaan terhadap para dewa inilah yang kemudian sampai ke peradaban Yunani Kuno dan menjadi cikal bakal dari 12 konstelasi zodiak saat ini. Tidak sekadar menandai pola bintang-bintang tertentu menjadi beberapa sosok yang menghiasi langit malam, orang-orang Babilonia juga mencatatnya ke dalam sebuah katalog bintang pada sebuah tablet batu yang berumur 3.200 tahun.

Meskipun demikian, penamaan bintang-bintang tertentu justru diduga diawali dari orang Sumeria. Hal ini menjadi isyarat bahwa sebelum sejarah mencatat pengamatan astronomis ini, perbendaharaan mengenai perbintangan ini sudah sejak lama berlangsung. Hal ini dapat mewarnai khazanah etnoastronomi, ilmu yang mempelajari perbintangan yang dikaitkan dengan peradaban suatu bangsa, dan menjadi sebuah pemahaman bahwa di masa lampau, peradaban manusia sudah bisa maju berkat pengetahuan astronomi ini. Hal ini terlihat dari berbagai bangunan-bangunan kuno seperti Piramdia Giza, situs megalitikum Gunung Padang, Candi Tikus, Chichen Itza, Stonehenge, dan Nabta Playa yang sudah dijelaskan di awal.

Tidak hanya di Mesopotamia saja, perkembangan astronomi seperti ini juga terjadi di beberapa tempat di dunia, termasuk Barat dan Nusantara, meskipun dengan linimasa dan cara yang berbeda sesuai dengan perkembangan peradaban tersebut. Sebagai contoh, di Nusantara sendiri, ilmu perbintangan telah diwariskan melalui budaya tutur/lisan lintas generasi sebelum akhirnya dibukukan menjadi sebuah kitab yang disebut sebagai Primbon (atau Paririmbon di Tatar Sunda), terlepas dari penggunaannya yang lebih cenderung untuk menentukan hari baik dan tidak baik untuk setiap kegiatan tertentu. Oleh karenanya, tidak sedikit sejarawan yang menganggap astronomi sebagai ilmu pengetahuan tertua di dunia.

Comments