Bersiaplah, Fenomena Astronomi November 2020

Oleh Andi Pangerang
26 Oktober 2020

Bulan November sudah di penghujung mata, fenomena astronomis apa sajakah yang akan terjadi di bulan November 2020? Berikut ulasannya:

5 November – Okultasi Mebsuta oleh Bulan


Gambar 1. Okultasi Mebsuta oleh Bulan pada 5 November 2020. Sumber: Alcyone Lunar Calculator 1.0

Mebsuta atau Epsilon Geminorium adalah salah satu bintang bermagnitudo3 yang terletak di konstelasi Gemini. Mebsuta akan mengalami okultasi oleh Bulan sejak pukul 22.35.09 WIB hingga 23.44.02 WIB dengan durasi 69 menit di arah Timur-Timur Laut mulai dari ketinggian 10 hingga 26 derajat di atas ufuk. Dapat diamati dengan mata telanjang selama cuaca cerah, bebas polusi cahaya dan penghalang yang menghalangi medan pandang.

 

6 November – Deklinasi Maksimum Utara Bulan


Gambar 2. Deklinasi Maksimum Utara Bulan pada 6 November. Sumber: Alcyone Lunar Calculator 1.0

Bulan akan berada pada deklinasi maksimum Utara pada pukul 02.29.53 WIB dengan jarak geosentris 394.568 km, iluminasi 76,99% dan lebar sudut 23,3 menit busur. Deklinasi maksimum Utara bermakna Bulan terletak pada posisi paling utara dari ekuator langit (sebagaimana solstis Juni pada Matahari). Deklinasi Bulan ketika mencapai maksimum bervariasi antara 18,3° hingga 28,6°. Hal ini disebabkan oleh orbit Bulan yang memiliki kemiringan 5,15° terhadap ekliptika dan sumbu rotasi Bumi yang memiliki kemiringan 23,45°

Deklinasi Maksimum Utara Bulan kali ini adalah 24,8° dengan ketinggian Bulan di Indonesia ketika kulminasi bervariasi antara 54,2° (Pulau Rote) hingga 71,2° (Pulau Weh). Ketika kulminasi , Bulan terletak di arah Utara pada pukul 03.40 WIB. Bulan terletak di konstelasi Gemini dan berada di atas ufuk sejak pukul 22.00 WIB malam sebelumnya hingga pukul 9.30 WIB dari arah Timur-Timur Laut hingga Barat-Barat Laut.

 

6-11 November – Tripel Konjungsi Merkurius-Venus-Spica


Gambar 3. Tripel Konjungsi Venus-Spica-Merkurius. Sumber: Stellarium PC 0.20.3

Spica, bintang paling terang di konstelasi Virgo akan mengalami tripel konjungsi dengan Venus dan Merkurius mulai 6 hingga 11 November mendatang. Dapat diamati sejak pukul 04.45 WIB dari arah Timur-Menenggara. Merkurius akan semakin terang dengan magnitudo yang bervariasi mulai dari -0,11 hingga -0,63. Sementara itu, magnitudo Venus sedikit bervariasi antara -3,96 hingga -3,95. Sedangkan magnitudo Spica relatif konstan di angka +0,95. Merkurius berjarak antara 129.400.000 km hingga 149.378.000 km dari Bumi. Sementara Venus berjarak antara 194.410.000 km hingga 198.608.000 km dari Bumi. Spica sendiri berjarak 249,75 tahun cahaya atau sekitar 250 triliun kilometer dari Bumi, sehingga konjungsi kali ini adalah konjungsi secara visual.

Pastikan cuaca cerah, bebas dari polusi cahaya dan penghalang yang menghalangi medan pandang.

 

9 November – Fase Perbani Akhir


Gambar 4. Fase Perbani Akhir pada 8 November 2020. Sumber: Alcyone Lunar Calculator 1.0

Puncak fase perbani akhir akan terjadi pada 8 November 2020 pukul 20.46.02 WIB. Bulan berjarak 381.175 km dari Bumi (geosentris) dan terletak pada konstelasi Cancer. Bulan akan terbit setelah tengah malam tanggal 9 November dari arah Timur-Timur Laut, kemudian berkulminasi di arah Utara ketika terbit Matahari dan terbenam dari arah Barat-Barat Laut setelah tengah hari.

 

11 November – Elongasi Barat Maksimum Merkurius


Gambar 5. Orbit dan Posisi Merkurius Ketika Elongasi Barat Maksimum. Sumber: Live Star Chart by Alcyone Software

Puncak elongasi barat maksimum Merkurius terjadi pada 10 November 2020 pukul 23.42 WIB. Akan tetapi, elongasi barat maksimum Merkurius baru dapat disaksikan keesokan paginya sejak Merkurius terbit pada pukul 04.15 WIB dekat konstelasi Virgo di arah Selatan-Menenggara dan akan berada pada ketinggian 15,7 derajat ketika Matahari terbit pada pukul 05.20 WIB. Sudut elongasi Merkurius-Matahari sebesar 19,1 derajat dengan magnitudo visual -0,6 membuat Merkurius tampak paling terang dibandingkan hari-hari lainnya.

 

11-12 November – Puncak Hujan Meteor Taurid Utara


Gambar 6. Puncak Hujan Meteor Taurid Utara pada 12 November 2020. Sumber:  Stellarium PC 0.20.3

Hujan Meteor Taurid Utara adalah hujan meteor yang titik radian (titik asal munculnya meteor)-nya berada di konstelasi Taurus bagian utara dekat gugus Pleiades. Hujan meteor ini aktif sejak 20 Oktober hingga 10 Desember dan puncaknya pada 12 November sekitar tengah malam ketika berada di titik tertinggi (kulminasi).

Hujan Meteor Taurid Utara berasal dari sisa debu asteroid 2004 TG10 yang mengorbit Matahari dengan periode 3,3 tahun sebagaimana komet Encke yang merupakan objek induk hujan meteor Taurid Selatan. Pemisahan hujan meteor Taurid menjadi Taurid Utara dan Selatan disebabkan oleh perturbasi atau perubahan interaksi gravitasi khususnya pada planet Jupiter.

Hujan Meteor Taurid Utara dapat disaksikan sejak pukul 18.30 WIB pada malam sebelumnya (11 November) hingga pukul 04.30 WIB keesokan paginya (12 November) dengan intensitas berkisar 4 meteor per jam untuk wilayah Indonesia dan ketinggian titik radian ketika kulminasi bervariasi mulai 57 derajat (Pulau Rote) hingga 73 derajat (Pulau Weh).

 

12-14 November – Kuartet Bulan-Venus-Spica-Merkurius


Gambar 7. Kuarter Bulan-Venus-Spica-Merkurius pada 12-14 November. Sumber: Stellarium PC 0.20.3

Setelah Venus, Spica dan Merkurius mengalami tripel konjungsi selama enam hari berturut-turut, ketiga benda langit ini akan mengalami kuartet dengan Bulan berfase sabit akhir selama tiga hari sejak tanggal 12 hingga 14 November dan dapat diamati sejak pukul 04.45 WIB dari arah Timur. Hari pertama (12 November), Bulan terlihat cukup tinggi dibandingkan Venus, Spica dan Merkurius. Keesokan harinya (13 November), Bulan berkonjungsi dengan Venus dan keesokan harinya (14 November), Bulan berkonjungsi dengan Merkurius.

Magnitudo Bulan bervariasi antara -9,22 hingga -6,26 dengan iluminasi yang bervariasi antara 15,8% hingga 2,7% yang menandakan Bulan semakin meredup dan tipis. Sementara itu, Merkurius semakin terang dengan magnitudo bervariasi antara -0,67 hingga -0,71. Magnitudo Venus relatif konstan di angka -3,95. Sedangkan magnitudo Spica relatif konstan di angka +0,95.

Pastikan cuaca cerah, bebas dari polusi cahaya dan penghalang yang menghalangi medan pandang.

 

14 November – Ketampakan Terakhir Bulan Sabit Tua


Gambar 8. Bulan Sabit Tua pada 14 November 2020. Sumber: Alcyone Lunar Calculator 1.0

Bulan sabit tua dapat disaksikan terakhir kali dengan mata telanjang pada 14 November 2020 sejak pukul 5.00 WIB hingga terbit Matahari (5.30 WIB) dengan jarak toposentris 356.587 km, iluminasi 2,60% dan lebar sudut 0,87 menit busur. Bulan sabit tua kali ini berumur 28 hari 2,85 jam, elongasi 18,9° dan terbit dari arah Timur di konstelasi Virgo.

 

14 November – Perige Bulan


Gambar 9. Perige Bulan pada 14 November 2020. Sumber: Alcyone Lunar Calculator 1.0

Bulan akan berada pada titik terdekat Bumi (perige) pada pukul 18.37.03 WIB dengan jarak 357.833 km, iluminasi 0,89% (fase sabit akhir) dan lebar sudut 0,30 menit busur. Bulan terletak di konstelasi Libra ketika perige, akan tetapi tidak dapat disaksikan karena Bulan sudah terbenam lebih dahulu dibandingkan Matahari dan cahaya Bulan sangat tipis.

 

15 November – Fase Bulan Baru


Gambar 10. Fase Bulan Baru pada 15 November 2020. Sumber: Alcyone Lunar Calculator 1.0

Bulan memasuki fase konjungsi atau Bulan Baru pada 15 November 2020 pukul 12.07.08 WIB dengan jarak geosentris 358.348 km dan diameter sudut 33,35 menit busur. Bulan terletak di konstelasi Libra.

Ketinggian Bulan di Indonesia pada petang hari 15 November bervariasi antara +0,76° (Merauke) hingga +2,49° (Sabang), sedangkan sudut elongasi Bulan-Matahari bervariasi antara 2,34° (Sabang) hingga 3,17° (Merauke), sehingga Bulan mustahil dapat terlihat bahkan dengan alat optik sekalipun.

Ketika senja, kalian dapat menyaksikan Mars di ufuk Timur dengan ketinggian 45 derajat, sementara Saturnus dan Jupiter berada di ufuk Barat dengan ketinggian berturut-turut 56 dan 52 derajat. Keduanya terbenam pada pukul 22.00 WIB. Sementara itu, Venus dan Merkurius terbit keesokan harinya berturut-turut pada 03.30 WIB dan 04.30 WIB serta dapat terlihat hingga terbit Matahari.

 

15-20 November - Tripel Konjungsi Merkurius-Venus-Spica


Gambar 11. Tripel Konjungsi Venus-Spica-Merkurius. Sumber: Stellarium PC 0.20.3

Setelah mengalami kuartet dengan Bulan selama tiga hari berturut-turut, Spica, bintang paling terang di konstelasi Virgo akan kembali mengalami tripel konjungsi dengan Venus dan Merkurius mulai 15 hingga 20 November mendatang. Dapat diamati sejak pukul 04.45 WIB dari arah Timur-Menenggara. Hari ketiga (17 November) merupakan puncak konjungsi Venus-Spica dengan sudut pisah 3,8 derajat sebelum akhirnya Spica menjauh dari Venus dan semakin menjauh dari Merkurius.

Magnitudo Merkurius cenderung meredup mulai -0,72 hingga -0,71. Sementara itu, magnitudo Venus sedikit bervariasi antara -3,94 hingga -3,93. Sedangkan magnitudo Spica relatif konstan di angka +0,95. Merkurius berjarak antara 164.299.000 km hingga 180.246.000 km dari Bumi. Sementara Venus berjarak antara 201.865.000 km hingga 205.805.000 km dari Bumi. Spica sendiri berjarak 249,75 tahun cahaya atau sekitar 250 triliun kilometer dari Bumi, sehingga konjungsi kali ini adalah konjungsi secara visual. 

Pastikan cuaca cerah, bebas dari polusi cahaya dan penghalang yang menghalangi medan pandang.

 

16 November – Ketampakan Pertama Bulan Sabit Muda


Gambar 12. Bulan Sabit Muda pada 16 November 2020. Sumber: Alcyone Lunar Calculator 1.0

Bulan sabit muda dapat disaksikan pertama kali dengan alat bantu optik maupun mata telanjang pada 16 November 2020 sejak terbenam Matahari (17.47 WIB) hingga 19.00 WIB ketika Bulan terbenam, dengan jarak toposentris 359.735 km, iluminasi 2,27% dan lebar sudut 0,75 menit busur. Bulan sabit muda kali ini berumur 29,7 jam, elongasi 16,35° dan terbenam dari arah Barat-Barat Daya di konstelasi Ophiuchus.

 

18 November – Puncak Hujan Meteor Leonid


Gambar 13. Puncak Hujan Meteor Leonid. Sumber:  Stellarium PC 0.20.3

Hujan Meteor Leonid adalah hujan meteor yang titik radian (titik asal munculnya meteor)-nya berada di Leo. Hujan meteor ini aktif sejak 6 November hingga 30 November dan puncaknya pada 18 November sekitar terbit Matsahari ketika berada di titik tertinggi (kulminasi).

Hujan Meteor Taurid Leonid berasal dari sisa debu komet 55P/Temple-Tuttle yang mengorbit Matahari dengan periode 33,3 tahun dan merupakan salah satu di antara beberapa hujan meteor lain yang dinantikan setiap tahun, selain Geminid, Lyrid, Perseid dan Orionid.

 Hujan Meteor Leonid dapat disaksikan sejak pukul 00.30 WIB hingga terbit Matahari pukul 5.25 WIB dengan intensitas berkisar 11 meteor per jam (Pulau Rote) hingga 14 meteor per jam (Pulau Weh) untuk wilayah Indonesia dan ketinggian titik radian ketika kulminasi bervariasi mulai 52 derajat (Pulau Rote) hingga 69 derajat (Pulau Weh).

 

18 November – Deklinasi Maksimum Selatan Bulan


Gambar 14. Deklinasi Maksimum Selatan Bulan pada 18 November 2020. Sumber: Alcyone Lunar Calculator 1.0

Bulan akan berada pada deklinasi maksimum Selatan pada pukul 18.27.28 WIB dengan jarak geosentris 371.547 km, iluminasi 14,41% (fase sabit awal) dan lebar sudut 4,6 menit busur. Deklinasi maksimum Selatan bermakna Bulan terletak pada posisi paling Selatan dari ekuator langit (sebagaimana solstis Desember pada Matahari). Deklinasi Bulan ketika mencapai maksimum bervariasi antara 18,3° hingga 28,6°. Hal ini disebabkan oleh orbit Bulan yang memiliki kemiringan 5,15° terhadap ekliptika dan sumbu rotasi Bumi yang memiliki kemiringan 23,45°

Deklinasi Maksimum Selatan Bulan kali ini adalah 24,9° dengan ketinggian Bulan di Indonesia ketika kulminasi bervariasi antara 59,1° (Pulau Weh) hingga 76,1° (Pulau Rote). Bulan berada di arah Selatan ketika kulminasi yang terjadi pada pukul 14.45 WIB. Bulan terletak di konstelasi Sagitarius dan berada di atas ufuk sejak pukul 08.30 WIB hingga pukul 21.00 WIB dari arah Timur Menenggara hingga Barat-Barat Daya.

 

19 November – Tripel Konjungsi Bulan-Jupiter-Saturnus


Gambar 15. Tripel Konjungsi Bulan-Jupiter-Saturnus pada 19 November. Sumber:  Stellarium PC 0.20.3

Bulan akan mengalami tripel konjungsi dengan Jupiter dan Saturnus pada tanggal 19 November 2020 di dekat konstelasi Sagitarius arah Barat-Barat Daya. Fenomena ini dapat disaksikan sejak pukul 17.50 WIB hingga terbenam Bulan pada pukul 21.40 WIB. Puncak tripel konjungsi terjadi pada pukul 18.40.43 WIB dengan konfigurasi Bulan, Jupiter dan Saturnus membentuk sebuah segitiga sembarang.

 

22 November – Fase Perbani Awal


Gambar 16. Fase Perbani Awal pada 22 November 2020. Sumber: Alcyone Lunar Calculator 1.0

Puncak fase perbani awal akan terjadi pada 22 November 2020 pukul 11.45.01 WIB. Bulan berjarak 393.845 km dari Bumi (geosentris) dengan diameter sudut 30,3 menit busur dan terletak pada konstelasi Aquarius. Bulan akan terbit di sekitar tengah hari dari arah Timur Menenggara, kemudian berkulminasi di arah Selatan setelah terbenam Matahari dan Bulan terbenam dari arah Barat-Barat Daya setelah tengah malam.

 

25-26 November – Konjungsi Bulan-Mars                 


Gambar 17. Konjungsi Bulan-Mars pada 25-26 November. Sumber:  Stellarium PC 0.20.3

Bulan dan Mars kembali konjungsi pada tanggal 25-26 Oktober 2020 dengan puncak konjungsi terjadi pada tanggal 26 Oktober pukul 06.34.11 WIB dengan sudut pisah 4,25 derajat .

Bulan dan Mars dapat diamati sejak tanggal 25 Oktober 2020 pukul 18.00 WIB dari arah Timur-Timur Laut dengan sudut pisah 7,4 derajat dan ketinggian 50 derajat di atas ufuk, kemudian berkulminasi di arah Utara pada pukul 20.20 WIB dengan sudut pisah 6,75 derajat dan ketinggian 70 derajat di atas ufuk, hingga terbenam pada tanggal 26 Oktober 2020 pukul 02.20 WIB dari arah Barat dengan sudut pisah 5 derajat. Bulan terletak di konstelasi Cetus, sementara Mars terletak di konstelasi Pisces.

 

27 November – Apoge Bulan


Gambar 18. Apoge Bulan pada 27 November 2020. Sumber: Alcyone Lunar Calculator 1.0

Bulan akan berada pada titik terjauh Bumi (apoge) pada pukul 07.20.09 WIB dengan jarak geosentris 405.917 km, iluminasi 89,89% (fase benjol awal) dan lebar sudut 26,5 menit busur. Bulan terletak di konstelasi Pisces ketika apoge dan baru dapat disaksikan mulai pukul 15.40 WIB di arah Timur dan terbenam keesokan harinya pada pukul 03.30 WIB di arah Barat.

 

30 November – Gerhana Bulan Penumbral Parsial


Gambar 19. Diagram Ketampakan Gerhana Bulan Penumbral Parsial 30 November 2020. Sumber: Lunar Eclipse Inspector 1.14

Bulan November 2020 ditutup dengan Gerhana Bulan Penumbral Parsial yang dimulai sejak pukul 14.29.56 WIB hingga pukul 18.55.48 WIB selama 4 jam 25 menit 52 detik. Puncak gerhana terjadi pada pukul 16.42.49 WIB. Gerhana Bulan kali ini termasuk dalam Seri Saros 116 Gerhana Ke-58 (dari 73 gerhana). Magnitudo penumbra bernilai negatif yang menandakan bahwa hanya sebagian permukaan Bulan yang masuk ke dalam bayangan penumbra oleh karena itu gerhana Bulan kali ini disebut sebagai gerhana Bulan penumbral parsial.

Wilayah di Indonesia seperti Sulawesi Utara, Gorontalo, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat dan Papua ditambah dengan Timor Leste dapat menyaksikan seluruh fase gerhana mulai dari kontak awal, puncak gerhana hingga kontak akhir. Sementara wilayah Indonesia sisanya hanya dapat menyaksikan Bulan yang sudah tidak tertutup bayangan penumbra secara maksimal karena puncak gerhana terjadi sebelum Bulan terbit. Secara umum, gerhana Bulan penumbral parsial dapat diamati dari arah Timur-Timur Laut.

Gerhana Bulan Penumbra secara kasat mata memang tampak nyaris sama sebagaimana purnama pada biasanya. Akan tetapi, bagi yang terlatih mengamati gerhana Bulan, permukaan Bulan akan tampak sedikit lebih redup ketika sebagian besar permukaan Bulan memasuki bayangan penumbra. Keredupan ini akan tampak jelas perbedaannya ketika dipotret menggunakan kamera dan dibantu dengan teleskop. Pastikan cuaca cerah, bebas dari polusi cahaya dan penghalang yang menghalangi medan pandang.

 

30 November – Fase Bulan Purnama


Gambar 20. Fase Bulan Purnama pada 30 November 2020. Sumber: Alcyone Lunar Calculator 1.0

Puncak Bulan Purnama kali ini terjadi pada tanggal 30 November 2020 pukul 16.29.47 WIB, beberapa menit sebelum puncak gerhana Bulan penumbral parsial. Bagi wilayah Indonesia Timur, puncak purnama akan beriringan dengan terbit Bulan. Sementara bagi wilayah Indonesia Barat dan Tengah, puncak purnama terjadi sebelum terbit Bulan. Bulan akan terbit di arah Timur-Timur Laut, berkulminasi di arah Utara sekitar tengah malam dan terbenam keesokan harinya di arah Barat-Barat Laut.

Secara tradisional, Bulan purnama yang jatuh di bulan November dinamakan Bulan Berang-Berang Penuh (Full Beaver Moon) karena pada saat itu berang-berang membangun bendungan kecil agar dapat menahan salju di musim dingin sehingga memudahkan berang-berang untuk tetap dapat berenang. Selain itu, Bulan purnama kali ini juga dinamakan Bulan Embun Beku Penuh (Full Frost Moon) karena di bulan ini, embun beku mulai terbentuk sebagai pertanda masuknya awal musim dingin di belahan Utara.

Comments