Bersiaplah, Fenomena Astronomi September 2020

Oleh Andi Pangerang
31 Agustus 2020

Selamat datang di bulan September. Fenomena astronomis apa saja yang akan terjadi pada bulan ini? Berikut ulasannya:

Rabu, 2 September – Fase Bulan Purnama

Puncak purnama kali ini akan terjadi pada pukul 12.21.58 WIB dengan jarak geosentris 399200 km dan diameter sudut 29,5 menit busur. Pengamat di wilayah Indonesia bagian Barat dapat menikmati purnama selama dua hari berturut-turut yakni pada malam hari tanggal 1 dan 2 September karena puncak purnama berdekatan dengan tengah hari. Bulan purnama dapat diamati pada arah Timur-Menenggara hingga Barat-Barat Daya dan terletak pada konstelasi Akuarius. Purnama ini dapat disebut juga sebagai Bulan Jagung Penuh (Full Corn Moon) dan Bulan Jelai Penuh (Full Barley Moon) karena pada saat itu tanaman jagung dan jelai sedang dipanen.

Gambar 1.a Bulan Purnama pada 2 September 2020. Sumber: Alcyone Lunar Calculator 1.0

 

 

Sabtu-Minggu, 5-6 September – Konjungsi Bulan-Mars

Puncak Konjungsi Bulan-Mars di Indonesia terjadi pada tanggal 6 September 2020 dengan waktu puncak bervariasi antara pukul 13.42.57 WIT (Jayapura) hingga 11.43.04 WIB (Sabang). Bahkan, Mars mengalami okultasi dengan Bulan yakni ketika Mars melintas di belakang Bulan. Akan tetapi, baik Mars maupun Bulan berada di bawah ufuk.

Oleh karena itu, di Indonesia hanya dapat menyaksikan fenomena konjungsi Bulan-Mars yang terjadi pada 5 September pukul 21.00 WIB (ketika Mars di atas ufuk) hingga keesokan harinya pukul 05.30 WIB dari arah Timur hingga Barat-Barat Laut. Sementara, pada 6 September, konjungsi Bulan-Mars dapat disaksikan mulai pukul 21.15 WIB (ketika Bulan di atas ufuk) hingga keesokan harinya pukul 05.30 WIB dari arah Timur hingga Barat-Barat Laut.

Sudut elongasi antara Bulan dan Mars pada 5 September malam hari bervariasi antara 7,23° hingga 3,06°. Sementara, pada 6 September sudut elongasi  bervariasi antara 4,66° hingga 8,71°. Bulan dan Mars terletak di konstelasi Pisces dekat manzilah Alrescha.

Gambar 1.b Konjungsi Bulan-Mars pada 5-6 September 2020. Sumber: Stellarium PC 0.20.2

 

 

Minggu, 6 September – Okultasi Mars oleh Bulan

Okultasi Mars oleh Bulan adalah fenomena astronomis ketika Mars melintas di belakang Bulan sehingga tampak tertutupi oleh Bulan. Hal ini dapat terjadi karena jarak Mars ke Bumi lebih jauh dibandingkan dengan jarak Bulan ke Bumi. Secara global, Okultasi Mars oleh Bulan terjadi pada tanggal 6 September 2020 mulai pukul 02.25 Universal Time (09.25 WIB) hingga 07.03 Universal Time (14.03 WIB).

Wilayah yang dapat menyaksikan okultasi Mars antara lain: sebagian Amerika Selatan (Peru, Bolivia, Paraguay, Brazil, Chile bagian Utara dan Argentina bagian Utara), Afrika bagian Utara (Tanjung Verde, Maroko, Sahara Barat, Mali, Aljazair, Tunisia, Libya, Mesir, Sudan, Jibouti, sebagain Ethiopia, Chad, Niger, Nigeria bagian Utara dan negara-negara Guinea), Eropa bagian Selatan (Spanyol, Portugal, Italia, Yunani, Albania, Makedonia Utara) serta sebagian Timur Tengah (Arab Saudi, Turki, Irak bagian Barat, Suriah, Lebanon, Palestina, Yordania).

Sedangkan negara-negara di Asia Selatan dan Asia Tenggara mengalami okultasi Mars ketika Bulan dan Mars sudah berada di bawah ufuk, sehingga tidak dapat menyaksikan fenomena ini. Okultasi Mars oleh Bulan pernah dialami oleh Indonesia pada 6 Desember 2015 dan 3 Januari 2017, dan akan dialami pada 17 April 2021 dan 5 Mei 2024 mendatang.

Gambar 1.c. Peta Ketampakan Okultasi Mars oleh Bulan 6 September 2020. Sumber: http://in-the-sky.org

 

 

Minggu, 6 September – Apogee Bulan

Bulan akan berada pada titik terjauh Bumi (apogee) pada pukul 13.21.34 WIB dengan jarak geosentris 405.579 km, iluminasi 85,44% (fase benjol akhir) dan lebar sudut 25,2 menit busur. Bulan terletak di konstelasi Pisces ketika apogee akan tetap baru dapat disaksikan mulai pukul 21.00 WIB di arah Timur dan terbenam keesokan harinya pada pukul 09.00 WIB.

Gambar 2. Apogee Bulan pada 6 September 2020. Sumber: Alcyone Lunar Calculator 1.0

 

 

Kamis, 10 September – Fase Perbani Akhir

Puncak fase perbani akhir akan terjadi pada 10 September 2020 pukul 16.25.40 WIB. Bulan berjarak 396.196 km dari Bumi (geosentris) dan terletak pada konstelasi Taurus dekat manzilah Aldebaran. Bulan akan terbit di sekitar tengah malam dari arah Timur-Timur Laut, kemudian berkulminasi  di arah Utara menjelang terbit Matahari dan terbenam dari arah Barat-Barat Laut menjelang tengah hari.

Gambar 3.a. Fase Perbani Akhir pada 10 September 2020. Sumber: Alcyone Lunar Calculator 1.0

 

 

Kamis, 10 September – Retrograde Mars

Retrograde adalah gerak semu planet yang tampak berlawanan arah (dari Timur ke Barat) dibandingkan dengan gerak normalnya (dari Barat ke Timur) jika diamati dari Bumi. Retrograde Mars dimulai pada tanggal 10 September 2020 pukul 05.23 WIB dan berakhir pada tanggal 14 November 2020 pukul 07.36 WIB, sehingga retrograde Mars berlangsung selama 65 hari.

Gambar 3.b. Diagram Terbentuknya Retrograde Mars

 

Puncak dari retrograde Mars adalah Oposisi Mars, yakni ketika seluruh permukaan Mars yang menghadap Bumi terkena sinar Matahari sehingga akan tampak lebih terang. Oposisi Mars tahun ini terjadi pada tanggal 14 Oktober 2020. Retrograde Mars dapat diamati pada konstelasi Pisces. Retrograde Mars berikutnya akan terjadi 2 tahun mendatang pada 30 Oktober 2022.

Gambar 3.c. Diagram Retrograde Mars Tahun 2020. Sumber: http://in-the-sky.org

 

 

Sabtu, 12 September – Deklinasi Maksimum Utara Bulan

Bulan akan berada pada deklinasi maksimum Utara pada pukul 12.25.04 WIB dengan jarak geosentris 386.421 km, iluminasi 31,88% dan lebar sudut 9,9 menit busur. Deklinasi maksimum Utara bermakna Bulan terletak pada posisi paling utara dari ekuator langit (sebagaimana solstis Juni pada Matahari). Deklinasi Bulan ketika mencapai maksimum bervariasi antara 18,3° hingga 28,6°. Hal ini disebabkan oleh orbit Bulan yang memiliki kemiringan 5,15° terhadap ekliptika dan sumbu rotasi Bumi yang memiliki kemiringan 23,45°

Deklinasi Maksimum Utara Bulan kali ini adalah 24,35° dengan ketinggian Bulan di Indonesia ketika kulminasi bervariasi antara 54,7° (Pulau Rote) hingga 71,7° (Pulau Weh). Bulan berada di arah Utara ketika kulminasi yang terjadi satu jam setelah terbit Matahari (sekitar pukul 07.00 WIB). Bulan terletak di konstelasi Gemini dekat manzilah Alhena dan berada di atas ufuk sejak pukul 01.15 WIB hingga pukul 12.45 WIB dari arah Timur-Timur Laut hingga Barat-Barat Laut.

Gambar 4.a. Deklinasi Maksimum Utara Bulan pada 12 September 2020. Sumber: Alcyone Lunar Calculator 1.0

 

 

Sabtu, 12 September – Oposisi Neptunus

Fenomena ini terjadi pada 12 September 2020 pukul 03.10 WIB. Sebagaimana pada planet-planet lainnya di Tata Surya, oposisi Neptunus adalah konfigurasi ketika Matahari, Bumi dan Neptunus tampak segaris lurus dan Neptunus terletak pada posisi berlawanan arah terhadap Matahari.

Jarak Neptunus ketika Oposisi kali ini sebesar 28,92 SA atau 4,33 milyar kilometer. Sehingga, akan nampak seperti cakram berwarna biru pucat dengan sudut diameter 0,04 menit busur dan magnitudo tampak +7,8. Neptunus dapat diamati dengan teleskop berdiameter kecil (kurang dari 50 cm).

Neptunus akan berada di atas ufuk mulai pukul 19.00 WIB hingga 04.30 WIB keesokan harinya, dan berkulminasi menjelang tengah malam di dekat Zenit. Neptunus dapat ditemukan di konstelasi Aquarius dekat manzilah Sadachbia (al-Akhbiyah). Pastikan cuaca cerah dan bebas dari polusi cahaya ataupun penghalang lainnya agar dapat menyaksikan titik biru pucat ini!

Gambar 4.c. Orbit Neptunus ketika oposisi. Sumber: http://astro.vanbuitenen.nl

 

 

Senin, 14 September – Tripel Konjungsi Bulan-Venus-Beehive

Fenomena ini dapat diamati sejak pukul 03.30 WIB hingga 05.30 WIB dari arah Timur-Timur Laut.

 Gugus Beehive (sarang lebah) adalah gugus bintang terbuka yang terletak di konstelasi Cancer. Gugus bintang ini terdiri dari 50-100 bintang dan dikenal juga dengan nama Praesepe atau Manger. Dalam sistem manzilah Arab, Beehive disebut sebagai manzilah an-Natsrah yang berarti “hidung singa”. Gugus Beehive memiliki magnitudo visual +3 sehingga dapat terlihat dengan mata telanjang jika kondisi langit cerah dan bebas polusi cahaya.

Sudut elongasi antara Bulan dan Venus bervariasi antara 6,8° hingga 6° sedangkan sudut elongasi antara Gugus Beehive dengan Venus bervariasi antara 2,3° hingga 2,4°.

Gambar 4.b Tripel Konjungsi Bulan-Venus-Beehive pada 14 September 2020. Sumber: Stellarium PC 0.20.2

 

 

Rabu, 16 September – Ketampakan Terakhir Bulan Sabit Tua

Bulan sabit tua dapat disaksikan terakhir kali dengan mata telanjang pada 16 September 2020 sejak pukul 4.45 WIB hingga terbit Matahari (5.45 WIB) dengan jarak toposentris 363.544 km, iluminasi 3,49% dan lebar sudut 1,1 menit busur. Bulan sabit tua kali ini berumur 27 hari 20 jam, elongasi 21,5° dan terbit dari arah Timur-Timur Laut di konstelasi Leo dekat manzilah Algieba.

Gambar 5. Bulan Sabit Tua pada 16 September 2020. Sumber: Alcyone Lunar Calculator 1.0

 

 

Kamis, 17 September – Fase Bulan Baru

Bulan memasuki fase konjungsi atau Bulan Baru pada 17 September 2020 pukul 17.59.56 WIB dengan jarak geosentris 360.212 km dan diameter sudut 33,2 menit busur. Bulan terletak di konstelasi Leo dekat manzilah Zosma (az-Zubrah).

Ketinggian Bulan di Indonesia pada petang hari 17 September bervariasi antara -1,63° (Merauke) hingga 1,04° (Sabang), sedangkan sudut elongasi Bulan-Matahari bervariasi antara 3,68° (Sabang) hingga 4,16° (Merauke), sehingga Bulan mustahil dapat terlihat bahkan dengan alat optik sekalipun.

Ketika senja, kalian dapat menyaksikan Merkurius di ufuk Barat, sementara Saturnus dan Jupiter bertengger di dekat ufuk dan terbenam setelah tengah malam. Sementara itu, Mars dapat disaksikan sejak pukul 20.00 WIB dan Venus terbit keesokan harinya pada 03.30 WIB dan dapat terlihat hingga terbit Matahari.

Gambar 6. Fase Bulan Baru pada 17 September 2020. Sumber: Alcyone Lunar Calculator 1.0

 

 

Jumat, 18 September – Ketampakan Pertama Bulan Sabit Muda

Bulan sabit muda dapat disaksikan pertama kali dengan mata telanjang pada 18 September 2020 sejak terbenam Matahari (17.45 WIB) hingga 18.45 WIB ketika Bulan terbenam, dengan jarak toposentris 357.621 km, iluminasi 1,66% dan lebar sudut 0,55 menit busur. Bulan sabit muda kali ini berumur 23,75 jam, elongasi 14,8° dan terbenam dari arah Barat di konstelasi Virgo dekat manzilah Auva.

Gambar 7. Bulan Sabit Muda pada 18 September 2020. Sumber: Alcyone Lunar Calculator 1.0

 

 

Jumat, 18 September – Perigee Bulan

Bulan akan berada pada titik terdekat Bumi (perigee) pada pukul 20.41.12 WIB dengan jarak 359.093 km, iluminasi 2,04% (fase sabit awal) dan lebar sudut 0,68 menit busur. Bulan terletak di konstelasi Virgo ketika perigee akan tetap baru dapat disaksikan mulai pukul 17.45 WIB di arah Timur dan terbenam pada pukul 18.45 WIB.

Gambar 8.a. Perigee Bulan pada 18 September 2020. Sumber: Alcyone Lunar Calculator 1.0

 

 

Selasa, 22 September – Konjungsi Merkurius-Spica

Puncak konjungsi Merkurius-Spica terjadi pada pukul 18.26.58 WIB dengan sudut pisah 0,27°. Fenomena ini dapat disaksikan dengan mata telanjang dari arah Barat dengan ketinggian 10,7° selama kondisi langit cerah, bebas dari polusi cahaya maupun bebas dari penghalang di sekitar medan pandang. Ketika berkonjungsi, magnitudo Spica sebesar +0,95 sedangkan magnitudo visual Merkurius sebesar -0,05.

Spica merupakan bintang paling terang di antara bintang lainnya yang terletak di konstelasi Virgo. Spica digolongkan sebagai bintang variabel berganda. Dalam sistem manzilah Arab, Spica dikenal sebagai as-Simak, sementara dalam sistem manzilah India, Spica disebut Caitra yang bermakna “yang paling terang”.

Gambar 4.b Konjungsi Merkurius-Spica pada 22 September 2020. Sumber: Stellarium PC 0.20.2

 

 

Selasa, 22 September – Ekuinoks September

Ekuinoks September merupakan salah satu dari dua ekuinoks yang selalu terjadi setiap tahunnya. Ekuinoks September merupakan titik perpotongan ekliptika dan ekuator langit yang dilewati Matahari dalam perjalanan semu tahunan Matahari dari langit belahan Utara menuju ke langit belahan Selatan. Ekuinoks September dikenal juga sebagai Ekuinoks Musim Gugur (autumnal equinox) di belahan Utara dan Ekuinoks Musim Semi (vernal equinox) di belahan Selatan.

Gambar 4.c. Orbit Bumi pada Empat Titik Musim. Sumber: http://timeanddate.com

 

Jika ditinjau dari pengamat Tata Surya di luar Bumi, posisi sumbu rotasi Bumi tegak lurus terhadap arah sinar Matahari ke Bumi. Hal ini mengakibatkan batas siang-malam berimpit dengan garis bujur di setiap permukaan Bumi, sehingga panjang siang dan malam nyaris sama (walau kenyataannya tidak tepat 12 jam karena dipengaruhi oleh refraksi atmosfer)

Gambar 4.d. Posisi Bumi ketika Ekuinoks September. Sumber: http://timeanddate.com

 

Tahun ini, Ekuinoks September terjadi pada tanggal 22 September 2020 pukul 20.30 WIB. Bagi pengamat yang berada di garis katulistiwa, kalian akan mendapat Matahari akan tepat di atas kepala ketika tengah hari. Sedangkan untuk tempat yang lain, Matahari akan condong ke Utara atau Selatan sejauh lintang tempat kalian berada. Tidak hanya itu, ketika ekuinoks, Matahari akan terbit nyaris tepat di arah Timur dan terbenam nyaris tepat di arah Barat. Hal ini karena perpotongan ekuator langit dengan horizon (ufuk) adalah titik Barat dan Timur tempat kalian mengamati Matahari.

Gambar 4.e. Posisi Matahari pada Bola Langit di Belahan Utara dan Selatan ketika Ekuinoks

 

Kamis, 24 September – Fase Perbani Awal

Puncak fase perbani awal akan terjadi pada 24 September 2020 pukul 08.54.51 WIB. Bulan berjarak 378.549 km dari Bumi (geosentris) dan terletak pada konstelasi Sagitarius dekat manzilah Na’aim atau Teapot. Bulan akan terbit di sekitar tengah hari dari arah Timur Menenggara, kemudian berkulminasi  di arah Selatan setelah terbenam Matahari dan Bulan terbenam dari arah Barat-Barat Daya setelah tengah malam.

Gambar 9. Fase Perbani Awal pada 24 September 2020. Sumber: Alcyone Lunar Calculator 1.0

 

 

Jumat, 25 September – Deklinasi Maksimum Selatan Bulan

Bulan akan berada pada deklinasi maksimum Selatan pada pukul 02.10.52 WIB dengan jarak geosentris 382.215 km, iluminasi 57,72% dan lebar sudut 18 menit busur. Deklinasi maksimum Selatan bermakna Bulan terletak pada posisi paling Selatan dari ekuator langit (sebagaimana solstis Desember pada Matahari). Deklinasi Bulan ketika mencapai maksimum bervariasi antara 18,3° hingga 28,6°. Hal ini disebabkan oleh orbit Bulan yang memiliki kemiringan 5,15° terhadap ekliptika dan sumbu rotasi Bumi yang memiliki kemiringan 23,45°

Deklinasi Maksimum Selatan Bulan kali ini adalah 24,46° dengan ketinggian Bulan di Indonesia ketika kulminasi bervariasi antara 59,5° (Pulau Weh) hingga 76,5° (Pulau Rote). Bulan berada di arah Selatan ketika kulminasi yang terjadi sekitar 40 menit setelah terbenam Matahari (pukul 18.20 WIB). Bulan terletak di konstelasi Sagitarius dekat manzilah Na’aim (Teapot) dan berada di atas ufuk sejak pukul 11.50 WIB hingga pukul 01.15 WIB dari arah Timur Menenggara hingga Barat-Barat Daya.

Gambar 10.a Deklinasi Maksimum Selatan Bulan pada 25 September 2020. Sumber: Alcyone Lunar Calculator 1.0

 

Kamis-Sabtu, 24-26 September – Tripel Konjungsi Bulan-Jupiter-Saturnus

Selama tiga hari berturut-turut sejak tanggal 24 hingga 26 September malam hari, Bulan akan berkonjungsi tripel dengan Jupiter dan Saturnus.

Mula-mula, Bulan berada di arah Selatan Menenggara (SM) dekat Manzilah Na’aim ketika senja. Bulan terletak di sebelah Selatan Jupiter dan Saturnus yang terletak di arah Tenggara (TG) dekat Manzilah Albaldah. Kedua manzilah ini berada di konstelasi Sagitarius. Setelah tergelincir ke arah Barat, ketiga benda langit ini mulai terbenam di arah Barat-Barat Daya (BBD) setelah tengah malam.

Keesokan harinya, Bulan berada di arah Tenggara (TG) bersama-sama Jupiter dan Saturnus yang masih berada dekat manzilah Albaldah ketika senja. Setelah tergelincir ke arah Barat, ketiga benda langit ini mulai terbenam di arah Barat-Barat Daya (BBD) setelah tengah malam.

Keesokan harinya, Bulan sudah bergeser di arah Timur Menenggara (TM) dekat Manzilah Dabih yang terletak di Konstelasi Capricornus ketika senja. Sementara itu, Jupiter dan Saturnus masih berada dekat manzilah Albaldah. Setelah tergelincir ke arah Barat, ketiga benda langit ini mulai terbenam di arah Barat-Barat Daya (BBD) setelah tengah malam.

Gambar 10.b. Tripel Konjungsi Bulan-Jupiter-Saturnus. Sumber: Stellarium PC 0.20.2

Comments