Bersiaplah! Fenomena Astronomis Agustus 2020

Oleh Andi Pangerang
30 Juli 2020

Minggu lusa, kita akan memasuki bulan kedelapan dalam kalender Masehi, yakni bulan Agustus. Ada fenomena apa sajakah yang terjadi di bulan Agustus mendatang? Berikut ulasannya:

1  Agustus – Posisi Tertinggi Venus Ketika Matahari Terbit


Diagram Posisi Venus Ketika Matahari Terbit
Sumber gambar: Live Star Chart – Alcyone Software

 Venus akan berada di ketinggian 42,1° di atas ufuk ketika Matahari terbit (pukul 06.01 WIB) dan merupakan ketinggian tertinggi untuk ketampakan Venus ketika pagi. Venus terletak di konstelasi Taurus dan tampak seperti sabit dengan iluminasi 43%, magnitudo -4,4 dan lebar sudut 27,4 detik busur (1/70 kali lebar sudut Matahari). Venus berada di arah Timur Laut (azimut 56°) dan terletak di 22° utara Matahari.

1-3 Agustus – Tripel Konjungsi Bulan-Jupiter-Saturnus


Tripel Konjungsi Bulan-Saturnus-Jupiter. Sumber gambar: Stellarium PC ver. 0.20.2

Selama tiga hari berturut-turut sejak tanggal 1 hingga 3 Agustus malam hari, Bulan akan berkonjungsi tripel dengan Jupiter dan Saturnus. Mula-mula, Bulan akan tampak lebih tinggi dibandingkan Jupiter dan Saturnus ketika malam hari, serta membentuk garis lurus. Keesokan harinya, Bulan tampak lebih “dekat” terhadap Jupiter ketika fajar. Malam harinya, Bulan tampak lebih “dekat” terhadap Saturnus dan semakin menjauhi Jupiter. Keesokan harinya, Bulan menjauhi Saturnus dan Jupiter. Fenomena ini dapat dilihat dari arah Timur-Menenggara hingga Barat-Barat Daya.

3 Agustus – Perihelion Mars

Mars ketika Perihelion.
Sumber gambar: Live Star Chart – Alcyone Software

Mars akan mencapai titik terdekat dengan Matahari (perihelion) pada pukul 16.02 WIB dengan jarak 1,38 sa (206,5 juta km). Akan tetapi, Mars baru dapat diamati sejak pukul 23.00 WIB dari arah Timur Laut dan berkulminasi keesokan harinya pada pukul 04.16 WIB di arah Utara dengan ketinggian 79°. Mars akan tampak di konstelasi Pisces ­­­dengan iluminasi 86,7% ; magnitudo -1,1 dan lebar sudut ¼ menit busur. Orbit Mars yang lebih lonjong dibandingkan orbit Bumi membuat perihelion Mars lebih pendek 10,5% terhadap jarak rata-rata Mars ke Matahari. Perihelion Mars terjadi rata-rata setiap 687 hari sekali.

3-4 Agustus – Fase Bulan Purnama

Puncak Fase Bulan Purnama dan Posisinya. Sumber gambar: Live Star Chart – Alcyone Software

Puncak Purnama akan terjadi pada tanggal 3 Agustus pukul 22.58 WIB dengan lebar sudut 30,6 menit busur dan berjarak 383.961 km dari Bumi. Bulan teretak di rasi Capricornus dan dapat disaksikan dari arah Tenggara hingga Barat Daya. Bulan purnama ini dinamai Purnama Sturgeon dikarenakan pada waktu tersebut, ikan Sturgeon (ikan penghasil kaviar) muncul ke permukaan danau dan mudah ditangkap. Nama lain dari purnama ini adalah: Purnama Jagung Hijau (Green Corn Moon), Purnama Ceri Hitam (Black Cherry Moon) dan Purnama Terbang Tinggi (Flying Up Moon).

6 Agustus – Perihelion Merkurius

Merkurius ketika Perihelion. Sumber gambar: Live Star Chart – Alcyone Software

Merkurius akan mencapai titik terdekat dengan Matahari (perihelion) pada pukul 10.37 WIB dengan jarak 46,4 juta km. Akan tetapi, Merkurius sulit diamati dengan mata telanjang sebelum Matahari terbit, mengingat ketinggian Merkurius lebih rendah dari 6° ketika fajar bahari/nautika berakhir (24 menit sebelum Matahari terbit). Meskipun demikian, Merkurius masih dapat diamati dengan teleskop yang teletak di konstelasi Cancer dengan iluminasi 85,2% ; magnitudo -1,2 dan lebar sudut 5,6 detik busur. Orbit Merkurius merupakan satu-satunya orbit planet terlonjong di Tata Surya yang mana titik perihelionnya 43% lebih pendek dibandingkan jarak rata-rata Merkurius ke Matahari. Perihelion Merkurius terjadi rata-rata setiap 88 hari sekali.

9 Agustus – Apogee Bulan

Apogee Bulan dan Posisinya. Sumber gambar: Live Star Chart – Alcyone Software

Bulan akan berada pada titik terjauh dari Bumi (apogee) pada pukul 20.46.52 WIB dengan jarak 407.076 km, iluminasi 69,8% (fase Benjol Akhir) dan lebar sudut 29,5 menit busur. Bulan terletak di konstelasi Pisces ketika apogee. Akan tetapi, Bulan baru dapat disaksikan ketika terbit pada pukul 22.30 WIB di arah Timur dan terbenam keesokan harinya pada pukul 10.00 WIB di arah Barat.

9 Agustus – Konjungsi Bulan-Mars

Konjungsi Bulan-Mars. Sumber gambar: Stellarium PC ver. 0.20.2

Konjungsi Bulan Mars dapat disaksikan sejak pukul 22.30 WIB di arah Timur dan berakhir ketika senja bahari/nautika berakhir (24 menit sebelum Matahari terbit) di arah Barat-Barat Laut. Ketika konjungsi Bulan-Mars, Bulan akan terpisah sejauh 4,3° terhadap Mars.

11-12 Agustus – Fase Perbani Akhir

Puncak Fase Perbani Akhir dan Posisinya. Sumber gambar: Live Star Chart – Alcyone Software

Puncak fase perbani akhir akan terjadi pada tanggal 11 Agustus 2020 pukul 23.44.38 WIB. Bulan berjarak 401.942 km dari Bumi dan akan tampak dengan lebar sudut 29,7 menit busur. Ketika fase perbani akhir, Bulan akan terbit di sekitar tengah malam di arah Timur-Timur Laut dan berkulminasi di arah Utara ketika Matahari terbit. Bulan terbenam di arah Barat-Barat Laut di sekitar tengah hari. Bulan berada di Manzilah Botein (Delta Arietis) di konstelasi Aries.

12-13 Agustus – Puncak Hujan Meteor Perseid

Puncak Hujan Meteor Perseid. Sumber: Stellarium PC ver. 0.20.2

Hujan Meteor Perseid aktif sejak tanggal 17 Juli hingga 24 Agustus dan puncaknya terjadi pada tanggal 12-13 Agustus 2020. Hujan meteor ini dinamai berdasarkan titik radian (titik asal munculnya hujan meteor) yang terletak di konstelasi Perseus, Hujan meteor ini berasal dari sisa-sisa debu komet 109P/Swift-Tuttle. Hujan meteor ini dapat disaksikan mulai tengah malam hingga fajar bahari/nautika berakhir (24 menit sebelum Matahari terbit) ketika titik radian berkulminasi di arah Utara dengan ketinggian 25,3°. Intensitas maksimum hujan meteor ini mencapai 60-70 meteor tiap jam dengan kelajuan meteor mencapai 212.400 km/jam.

13 Agustus – Elongasi Barat Maksimum Venus


Diagram Orbit dan Posisi Venus ketika Elongasi Barat Maksimum
Sumber gambar: Live Star Chart – Alcyone Software

Venus akan mencapai elongasi maksimum di arah barat pada tanggal 13 Agustus 2020 pukul 07.21 WIB sebesar 46°. Venus berjarak 105,7 juta km dari Matahari ketika elongasi maksimum. Venus terletak di 20° sebelah Utara Matahari dengan ketinggian 41,3° dan berada di Manzilah Alhena (Gamma Geminorium) Konstelasi Gemini. Venus dapat diamati dengan mata telanjang karena magnitudonya mencapai -4,3 dan lebar sudut 23,8 detik busur. Elongasi maksimum barat Venus  terjadi rata-rata setiap 19 bulan sekali, terakhir terjadi pada 6 Januari 2019 dan akan terjadi lagi pada 21 Maret 2022 bertepatan dengan Ekuinoks Aries.

13 Agustus – Fase Dikotomi Venus

Fase Dikotomi Venus. Sumber: Stellarium PC ver. 0.20.2

Dikotomi adalah nama lain dari fase perbani atau kuartir atau kuadratur. Secara umum, dikotomi adalah konfigurasi ketika Bumi, planet dan Matahari membentuk sudut siku-siku atau 90°. Hal ini membuat bagian planet (yakni Venus) yang teramati dari Bumi akan tampak bercahaya 50% dari luas piringan. Secara umum, terjadinya dikotomi Venus hanya berselisih beberapa jam dengan elongasi maksimum Venus (baik di Barat maupun Timur), hal ini karena orbit Venus tidak tepat berimpit dengan ekliptika.

16 Agustus – Konjungsi Bulan-Venus

Konjungsi Bulan-Venus. Sumber: Stellarium PC ver. 0.20.2

Puncak konjungsi Bulan-Venus sebenarnya terjadi pada 15 Agustus 2020 pukul 20.12.32 WIB dengan jarak pisah 3,7°. Akan tetapi, konjungsi ini baru dapat disaksikan pada keesokan harinya, tanggal 16 Agustus 2020 pukul 03.30 WIB ketika Bulan terbit di arah Timur-Timur Laut dengan jarak pisah 6,4°. Ketika konjungsi Bulan-Venus terjadi, Bulan dalam fase sabit akhir dengan iluminasi 13% dan berjarak 382.250 km dari Bumi, sedangkan Venus dalam fase benjol dengan iluminasi 51,6% dan berjarak 109,2 juta km dari Matahari.

17 Agustus 2020 – Konjungsi Superior Merkurius

Diagram Orbit Merkurius Ketika Konjungsi Superior. Sumber gambar: Live Star Chart – Alcyone Software

Tepat di hari kemerdekaan Indonesia ke-75, Merkurius mengalami konjungsi superior terhadap Matahari. Hal ini dapat menandai berakhirnya visibilitas Merkurius ketika fajar dan mengawali visibilitas Merkurius ketika senja beberapa pekan ke depan. Jarak pisah antara Merkurius dengan Matahari hanya 1,75°, hal ini karena orbit Merkurius tidak tepat berimpit dengan ekliptika. Merkurius juga mengalami apogee dengan jarak 1,35 sa (202 juta km) dari Bumi sehingga lebar sudut Merkurius menjadi sangat kecil, hanya 1/12 menit busur meskipun permukaan Merkurius yang menghadap Bumi menjadi tersinari seluruhnya. Kejadian ini berulang setiap 116 hari sekali.

19 Agustus – Fase Bulan Baru

Fase Bulan Baru. Sumber gambar: Live Star Chart – Alcyone Software

Bulan memasuki fase Konjungsi atau Bulan Baru pada 19 Agustus 2020 pukul 09.41.31 WIB dengan jarak 362655 km dari Bumi dan lebar sudut 32,5 menit busur. Bulan terletak di konstelasi Leo bersama dengan Matahari dan Merkurius. Bulan baru kali ini dapat disebut sebagai Black Moon karena merupakan Bulan baru ketiga dari empat Bulan baru dalam satu musim astronomis, dalam hal ini musim dingin di belahan Selatan yang dimulai ketika Solstis Juni dan berakhir ketika Ekuinoks September.

Ketinggian Bulan pada petang hari 19 Agustus 2020 untuk Indonesia bervariasi antara 2,5° hingga 4,8°. Sedangkan sudut elongasi Bulan-Matahari pada petang hari 19 Agustus 2020 untuk Indonesia bervariasi antara 4,3° hingga 5,7°. Setelah Bulan terbenam, kalian dapat menikmati langit malam bertabur bintang-bintang, galaksi dan planet-planet kasat mata seperti Venus, Mars, Jupiter dan Saturnus.

19 Agustus – Konjungsi Bulan-Merkurius

Konjungsi Bulan-Merkurius. Sumber: Stellarium PC ver. 0.20.2

Puncak Konjungsi Bulan-Merkurius terjadi pada pukul 15.20.02 WIB dengan sudut pisah terkecil 2,8°. Akan tetapi, fenomena ini tidak dapat disaksikan bahkan ketika Matahari terbenam ketika sudut pisahnya 3,1°. Hal ini dikarenakan posisi Merkurius masih terlalu dekat dengan Matahari. Ketika Bulan berkonjungsi dengan Merkurius, Bulan memasuki fase Bulan baru dengan iluminasi 0,2% dan lebar sudut 32,6 menit busur, sedangkan Merkurius masih berkonjungsi superior dengan Matahari pada jarak 52,9 juta km dengan iluminasi 99,6% dan lebar sudut 4,9 detik busur.

21 Agustus – Perigee Bulan

Perigee Bulan dan Posisinya. Sumber gambar: Live Star Chart – Alcyone Software

Bulan akan berada pada titik terdekat dari Bumi (perigee) pada pukul 17.49.09 WIB dengan jarak 360.300 km, iluminasi 7,6% (fase Sabit Awal) dan lebar sudut 32,9 menit busur. Bulan terletak di manzilah Awwa (Auva, Lambda Virginis) di konstelasi Virgo ketika perigee. Beberapa tempat seperti Jakarta, Bandung, Sumedang, Garut dan Pontianak akan menyaksikan perigee Bulan ketika terbenamnya Matahari. Sedangkan wilayah di sebelah Timur kelima kota tersebut akan menyaksikan perigee Bulan pada jam yang sama setelah terbenamnya senja (baik sipil, bahari maupun astronomis). Sementara itu, wilayah di sebelah Barat kelima kota tersebut baru dapat menyaksikan perigee Bulan setelah Matahari terbenam.

26 Agustus – Fase Perbani Awal

Puncak Fase Perbani Awal dan Posisinya. Sumber gambar: Live Star Chart – Alcyone Software

Puncak fase perbani awal akan terjadi pada tanggal 11 Agustus 2020 pukul 00.57.30 WIB. Bulan berjarak 374.882 km dari Bumi dan akan tampak dengan lebar sudut 32 menit busur. Ketika fase perbani akhir, Bulan akan terbit di sekitar tengah hari di arah Timur-Menenggara dan berkulminasi di arah Selatan ketika Matahari terbenam. Bulan terbenam di arah Barat-Barat Daya di sekitar tengah malam. Bulan berada di Manzilah Iklil (Dschubba, Delta Scorpii) di konstelasi Scorpius.

28-30 Agustus – Tripel Konjungsi Bulan-Jupiter-Saturnus

Tripel Konjungsi Bulan-Saturnus-Jupiter. Sumber gambar: Stellarium PC ver. 0.20.2

Selama tiga hari berturut-turut sejak tanggal 28 hingga 30 Agustus malam hari, Bulan akan berkonjungsi tripel dengan Jupiter dan Saturnus. Mula-mula, Bulan akan tampak lebih tinggi dibandingkan Jupiter dan Saturnus ketika malam hari, serta membentuk garis lurus. Keesokan harinya, Bulan tampak lebih “dekat” terhadap Jupiter ketika dini hari. Malam harinya, Bulan tampak lebih “dekat” terhadap Saturnus dan semakin menjauhi Jupiter. Keesokan harinya, Bulan berkonjungsi dengan Saturnus dan semakin menjauhi Jupiter. Malam harinya, Bulan menjauhi Saturnus dan Jupiter. Fenomena ini dapat dilihat dari arah Timur-Menenggara hingga Barat-Barat Daya.

Comments