Bersiaplah, Fenomena Astronomis Desember 2020

Oleh Andi Pangerang
23 November 2020

Sahabat Edusainsa, tidak terasa kita sudah memasuki penghujung tahun 2020. Fenomena astronomis apa saja yang akan terjadi pada Desember 2020? Berikut ulasannya:

  1. 3 Desember – Deklinasi Maksimum Utara Bulan

Bulan akan berada pada deklinasi maksimum Utara pada pukul 08.22.00 WIB dengan jarak geosentris 394.440 km, iluminasi 93,30% (fase Benjol Akhir) dan lebar sudut 28,3 menit busur. Deklinasi maksimum Utara bermakna Bulan terletak pada posisi paling utara dari ekuator langit (sebagaimana solstis Juni pada Matahari). Deklinasi Bulan ketika mencapai maksimum bervariasi antara 18,3° hingga 28,6°. Hal ini disebabkan oleh orbit Bulan yang memiliki kemiringan 5,15° terhadap ekliptika dan sumbu rotasi Bumi yang memiliki kemiringan 23,45°

Deklinasi Maksimum Utara Bulan kali ini adalah 24,9° dengan ketinggian Bulan di Indonesia ketika kulminasi bervariasi antara 54,1° (Pulau Rote) hingga 71,1° (Pulau Weh). Ketika kulminasi, Bulan terletak di arah Utara pada pukul 01.40 WIB. Bulan terletak di konstelasi Gemini dan berada di atas ufuk sejak pukul 19.40 WIB malam sebelumnya hingga pukul 7.40 WIB dari arah Timur-Timur Laut hingga Barat-Barat Laut.

Gambar 1. Deklinasi Maksimum Utara Bulan pada 3 Desember. Sumber: Alcyone Lunar Calculator 1.0

  1. 8 Desember – Fase Bulan Perbani Akhir

Puncak fase perbani akhir akan terjadi pada 8 November 2020 pukul 07.36.32 WIB. Bulan berjarak 375.110 km dari Bumi (geosentris) dengan magnitudo visual -10,13 dan diameter sudut 31,9 menit busur serta terletak pada konstelasi Leo. Bulan akan terbit di sekitar tengah malam dari arah Timur-Timur Laut, kemudian berkulminasi di arah Utara ketika terbit Matahari dan terbenam dari arah Barat-Barat Laut setelah tengah hari.

Gambar 2. Fase Perbani Akhir pada 8 Desember. Sumber: Alcyone Lunar Calculator 1.0

  1. 13 Desember – Konjungsi Bulan-Venus

Puncak konjungsi Bulan-Venus terjadi pada pukul 02.45 WIB dengan sudut pisah 1,25 derajat. Akan tetapi, kedua objek langit ini baru terbit pada pukul 04.00 WIB dari arah Timur-Tenggara dengan sudut pisah 1,45 derajat dan terakhir terlihat ketika terbit Matahari (05.30 WIB) dengan sudut pisah 2 derajat. Bulan memasuki fase sabit akhir dengan iluminasi 4%, berjarak 361.773 km dari Bumi, magnitudo visual -7,05 dan lebar cahaya 1,33 menit busur. Sementara, Venus memasuki fase Benjol dengan iluminasi 91%, berjarak 222,1 juta kilometer dari Bumi, magnitudo visual -3,88 dan diameter sudut 0,19 menit busur.

Gambar 3. Konjungsi Bulan-Venus pada 13 Desember. Sumber: Stellarium PC 0.20.3 

  1. 13 Desember – Perige Bulan

Bulan akan berada pada titik terdekat Bumi (perige) pada pukul 03.34.36 WIB dengan jarak 361.757 km, iluminasi 4,73% (fase sabit akhir), magnitudo visual -6,40 dan lebar sudut 1,56 menit busur. Bulan terletak di konstelasi Libra ketika perige, akan tetapi baru dapat disaksikan sejak pukul 04.00 WIB hingga terbit Matahari dikarenakan Bulan masih di bawah ufuk ketika puncak perige.

Gambar 4. Perige Bulan pada 13 Desember. Sumber: Alcyone Lunar Calculator 1.0

 

  1. 13-14 Desember – Puncak Hujan Meteor Geminid

Hujan Meteor Geminid adalah hujan meteor yang titik radian (titik asal munculnya meteor)-nya berada di konstelasi Gemini. Hujan meteor ini aktif sejak 4 Desember hingga 17 Desember dan puncaknya pada 14 Desember sekitar dini hari ketika berada di titik tertinggi (kulminasi).

Gambar 5. Puncak Hujan Meteor Geminid pada 14 Desember. Sumber: Stellarium PC 0.20.3

Hujan Meteor Geminid berasal dari sisa debu asteroid Phaethon (1983 TB) yang mengorbit Matahari dengan periode 524 hari atau 1,43 tahun. Asteroid Phaethon tergolong dalam keluarga Asteroid Apollo dengan orbit sangat lonjong dan kemiringan orbit 22 derajat. Intensitas maksimum hujan meteor ini bervariasi sesuai dengan fase Bulan ketika terjadinya puncak hujan meteor. Intensitas maksimum terendah yang pernah tercatat mencapai 109 meteor per jam ketika fase Bulan baru di tahun 2012, sedangkan intensitas maksimum tertinggi mencapai 253 meteor per jam ketika fase Bulan perbani di tahun 2014.

Hujan Meteor Geminid dapat disaksikan sejak pukul 20.00 WIB pada malam sebelumnya (13 Desember) hingga pukul 05.00 WIB keesokan paginya (14 Desember) dengan intensitas berkisar 86 hingga 107 meteor per jam untuk wilayah Indonesia dan ketinggian titik radian ketika kulminasi bervariasi mulai 45 derajat (Pulau Rote) hingga 62 derajat (Pulau Weh).

  1. 14 Desember – Fase Bulan Baru dan Gerhana Matahari Total di Amerika Selatan

Bulan memasuki fase konjungsi atau Bulan Baru pada 14 Desember 2020 pukul 23.16.35 WIB dengan jarak geosentris 364.414 km, magnitudo visual -3,89 dan diameter sudut 32,8 menit busur. Bulan terletak di konstelasi Ophiuchus.

Gambar 6.a. Fase Bulan Baru pada 14 Desember. Sumber: Alcyone Lunar Calculator 1.0

Fase Bulan baru kali ini bertepatan dengan gerhana Matahari total yang dapat disaksikan di sebagian besar wilayah Amerika Selatan kecuali Venezuela, Kolombia, Guyana, Surinam, Guyana Perancis, dan bagian utara Brazil, Peru dan Ekuador. Puncak gerhana Matahari total secara global terjadi pada pukul 23.16.30 WIB.

Gambar 6.b. Peta Visibilitas Gerhana Matahari Total di Amerika Selatan. Sumber: timeanddate.com

Untuk wilayah Asia Tenggara khususnya Indonesia, Matahari terhalangi oleh Bulan ketika fase Bulan Baru. Hal ini terlihat dari peta visibilitas gerhana Matahari total yang diamati dari sisi belakang bagian yang mengalami gerhana. Garis merah kecoklatan menunjukkan bahwa daerah tersebut mengalami gerhana Matahari total ketika di bawah ufuk, sementara garis merah menunjukkan lintasan Matahari dan batas wilayah yang mengalami gerhana Matahari sebagian ketika di bawah ufuk.

Gambar 6.c. Peta Visibilitas Gerhana Matahari Total dari sisi yang membelakangi daerah yang mengalami gerhana. Sumber: Finspektor 3.38

Ketika senja, kalian dapat menyaksikan Mars dengan ketinggian 65 derajat dari arah Timur Laut, sementara Jupiter dan Saturnus tampak berdekatan dengan jarak pisah 0,8 derajat dan ketinggian 32 derajat dari arah Barat-Barat Daya. Sementara, itu Venus dan Merkurius terbit keesokan paginya berturut-turut pukul 03.50 dan 05.15 WIB. Hal ini membuat Venus dapat terlihat hingga terbit Matahri sementara Merkurius sulit terlihat dikarenakan kalah dengan cahaya fajar.

  1. 14 Desember – Ketampakan Terakhir Bulan Sabit Tua

Bulan sabit tua dapat disaksikan terakhir kali dengan mata telanjang pada 14 Desember 2020 sejak pukul 4.50 WIB hingga terbit Matahari (5.30 WIB) dengan jarak toposentris 361.743 km, iluminasi 0,79%, magnitudo visual -4,99 dan lebar sudut 0,13 menit busur. Bulan sabit tua kali ini berumur 28 hari 17,37 jam, elongasi 9,23° dan terbit dari arah Timur-Tenggara di konstelasi Ophiuchus.

Gambar 7. Bulan Sabit Tua pada 14 Desember. Sumber: Alcyone Lunar Calculator 1.0

  1. 15 Desember – Ketampakan Pertama Bulan Sabit Muda

Bulan sabit muda dapat disaksikan pertama kali dengan alat bantu optik pada 15 Desember 2020 sejak terbenam Matahari (18.00 WIB) hingga 18.45 WIB ketika Bulan terbenam, dengan jarak toposentris 359.735 km, iluminasi 2,27% dan lebar sudut 0,75 menit busur. Bulan sabit muda kali ini berumur 18,75 jam, elongasi 9,64° dan terbenam dari arah Barat-Barat Daya di konstelasi Sagittarius.

Gambar 8. Bulan Sabit Muda pada 15 Desember. Sumber: Alcyone Lunar Calculator 1.0

Ketinggian Bulan di Indonesia pada petang hari 15 Desember bervariasi antara +7,72° (Merauke) hingga +8,75° (Sabang), sedangkan sudut elongasi Bulan-Matahari bervariasi antara 8,44° (Sabang) hingga 9,94° (Merauke), sehingga Bulan dapat terlihat dengan alat bantu optik.

  1. 16 Desember – Deklinasi Maksimum Selatan Bulan

Bulan akan berada pada deklinasi maksimum Selatan pada pukul 05.22.49 WIB dengan jarak geosentris 369.145 km, iluminasi 2,17% (fase sabit awal), magnitudo visual -5,66 dan lebar sudut 0,7 menit busur. Deklinasi maksimum Selatan bermakna Bulan terletak pada posisi paling Selatan dari ekuator langit (sebagaimana solstis Desember pada Matahari). Deklinasi Bulan ketika mencapai maksimum bervariasi antara 18,3° hingga 28,6°. Hal ini disebabkan oleh orbit Bulan yang memiliki kemiringan 5,15° terhadap ekliptika dan sumbu rotasi Bumi yang memiliki kemiringan 23,45°

Gambar 9. Deklinasi Maksimum Selatan Bulan pada 16 Desember. Sumber: Alcyone Lunar Calculator 1.0

Deklinasi Maksimum Selatan Bulan kali ini adalah 24,9° dengan ketinggian Bulan di Indonesia ketika kulminasi bervariasi antara 59,1° (Pulau Weh) hingga 76,1° (Pulau Rote). Bulan berada di arah Selatan ketika kulminasi yang terjadi pada pukul 13.20 WIB. Bulan terletak di konstelasi Sagitarius dan berada di atas ufuk sejak pukul 07.00 WIB hingga pukul 19.45 WIB dari arah Timur-Tenggara hingga Barat-Barat Daya.

  1. 17 Desember – Tripel Konjugsi Bulan-Jupiter-Saturnus

Empat malam sebelum Jupiter dan Saturnus mengalami konjungsi agung, kedua objek langit ini terlebih dahulu mengalami tripel konjungsi dengan Bulan yang berfase sabit awal. Iluminasi Bulan mencapai 9,7% dengan magnitudo visual -8,39 dan lebar cahaya 3,1 menit busur. Sementara itu, Jupiter dan Saturnus memiliki magnitudo visual masing-masing -1,98 dan +0,64. Jarak pisah Bulan dengan Jupiter dan Saturnus masing-masing 3,9 derajat dan 3,7 derajat. Sementara itu, jarak pisah Jupiter terhadap Saturnus sebesar 0,5 derajat. Fenomena ini hanya dapat diamati selama dua jam saja sejak pukul 18.30 WIB hingga 20.30 WIB dari arah Barat-Barat Daya.

Gambar 10. Tripel Konjungsi Bulan-Jupiter Saturnus pada 17 Desember. Sumber: Stellarium PC 0.20.3 

  1. 20 Desember – Konjungsi Superior Merkurius

Merkurius mengalami konjungsi superior pada 20 Desember 2020 pukul 10.25 WIB. Konjungsi superior adalah konfigurasi yang berlaku khusus pada Merkurius dan Venus, yakni ketika Merkurius, Matahari dan Bumi terletak pada satu garis lurus dan Merkurius membelakangi Matahari. Konjungsi superior ini menandai pergantian ketampakan Merkurius yang semula ketika fajar menjadi senja.

Gambar 11. Konjungsi Superior Merkurius pada 20 Desember. Sumber: Live Star Chart by Alcyone

Fase Merkurius ketika konjungsi superior sama dengan fase purnama pada Bulan maupun oposisi pada planet luar (Mars hingga Neptunus). Bagian permukaan Merkurius yang menghadap Bumi tersinari seluruhnya oleh Matahari. Akan tetapi, karena Merkurius membelakangi Matahari, Merkurius akan tampak berdekatan dengan Matahari dan jarak Merkurius terhadap Bumi menjadi sangat jauh, sehingga Merkurius akan tampak berukuran lebih kecil dan cukup sulit diamati.

Jarak Merkurius ke Bumi mencapai 1,447 sa atau 216,5 juta kilometer dengan magnitudo tampak -1,2 dan diameter sudut 1/13 menit busur. Konjungsi superior Merkurius berikutnya akan terjadi pada 19 April, 1 Agustus dan 29 November 2021.

  1. 21 Desember – Solstis Desember

Solstis Desember atau Titik Balik Selatan Matahari adalah posisi ketika Matahari berada paling Selatan terhadap ekuator langit jika diamati oleh pengamat di permukaan Bumi. Sedangkan, jika diamati dari sembarang titik di luar angkasa, belahan Bumi bagian Selatan akan terlihat “mendekat” ke arah Matahari. Oleh karenanya, pengamat yang berada di Garis Balik Selatan (Tropic of Capricorn, 23,50 LS) akan melihat Matahari tepat berada di atas kepala ketika tengah hari.

Gambar 12. Posisi Bumi Ketika Solstis Desember. Sumber: Wikipedia, dengan suntingan seperlunya

Bagi pengamat yang berada di belahan Bumi bagian Utara, akan merasakan malam yang lebih panjang dibandingkan hari-hari lainnya. Bahkan, Matahari tidak pernah terbit di Kutub Utara ketika solstis Desember. Sebaliknya, pengamat yang berada di belahan Bumi bagian Selatan, akan merasakan siang yang lebih panjang dibandingkan hari-hari lainnya. Bahkan, Matahari tidak pernah terbenam di Kutub Selatan ketika solstis Desember.

Puncak solstis Desember tahun ini terjadi pada tanggal 21 Desember pukul 17.02.22 WIB. Baik pengamat di belahan Bumi bagian Utara maupun Selatan, akan mendapati Matahari terbit dari arah Timur-Tenggara dan terbenam dari arah Barat-Barat Daya. Bagi daerah berlintang tinggi di belahan Selatan, akan mendapat Matahari terbit dari arah Selatan-Tenggara dan terbenam dari arah Selatan-Barat Daya.

 

  1. 21 Desember – Konjungsi Agung Jupiter-Saturnus

Puncak fenomena ini sebenarnya terjadi pada 22 Desember 2020 pukul 01.18 WIB. Akan tetapi, karena kedua planet raksasa ini sama-sama berada di bawah ufuk, maka fenomena ini baru dapat disaksikan pada malam sebelumnya, yakni 21 Desember 2020 pukul 18.30 WIB.

Gambar 13. Konjungsi Agung Jupiter-Saturnus pada 21 Desember.
Sumber: Live Star Chart by Alcyone dan Stellarium PC 0.20.3

Konjungsi Agung Jupiter-Saturnus tergolong sangat langka karena terjadi setiap 19,6 tahun sekali. Konjungsi Agung ini terakhir terjadi pada 31 Mei 2000 dan akan terjadi kembali pada 5 November 2040, 10 April 2060 dan 15 Maret 2080.

Sudut pisah Jupiter-Saturnus ketika Konjungsi Agung kali ini hanya 6,4 menit busur yang merupakan sudut pisah terkecil kedua di abad ke-21, sedangkan pada 15 Maret 2080, sudut pisahnya mencapai 6,1 menit busur. Dua nilai ini mengalahkan rekor sudut pisah terkecil pada abad ke-20 yang mana pada 18 Februari 1961 hanya mencapai 14 menit busur.

Untuk dapat mengamati Konjungsi Agung ini, diperlukan teleskop berukuran kecil dan akan lebih baik jika perbesarannya semakin besar agar dapat melihat masing-masing satelit alami dari kedua planet raksasa ini.

  1. 22 Desember – Fase Bulan Perbani Awal

Puncak fase perbani awal akan terjadi pada 22 Desember 2020 pukul 06.41.15 WIB. Bulan berjarak 400.551 km dari Bumi (geosentris) dengan diameter sudut 29,8 menit busur dan magnitudo visual -10,13 serta terletak pada konstelasi Pisces. Bulan akan terbit setelah tengah hari dari arah Timur, kemudian berkulminasi di arah Selatan setelah terbenam Matahari dan Bulan terbenam dari arah Barat setelah tengah malam.

Gambar 14. Fase Bulan Perbani Awal pada 22 Desember. Sumber: Alcyone Lunar Calculator 1.0  

  1. 23 Desember – Puncak Hujan Meteor Ursid

Hujan Meteor Ursid adalah hujan meteor yang titik radian (titik asal munculnya meteor)-nya berada di konstelasi Ursa Minor. Hujan meteor ini aktif sejak 17 Desember hingga 26 Desember dan puncaknya pada 23 Desember sebelum terbit Matahari untuk pengamat di Indonesia.

Gambar 15. Puncak Hujan Meteor Ursid pada 23 Desember. Sumber: Stellarium PC 0.20.3

Hujan Meteor Ursid berasal dari sisa debu komet 8P/Tuttle yang mengorbit Matahari dengan periode 13,6 tahun. Komet ini memiliki orbit yang sangat lonjong dan kemiringan orbit 54,9 derajat. Intensitas maksimum hujan meteor ini berkisar 10 meteor per jam. Sayangnya, hanya pengamat di belahan Utara yang mendapatkan kesempatan terbaik mengamati hujan meteor ini. Pengamat yang terletak di 50 LS atau lebih Selatan lagi tidak dapat menyaksikan hujan meteor Ursid.

Hujan Meteor Ursid dapat disaksikan sejak pukul 01.00 waktu lokal hingga sebelum terbit Matahari dengan intensitas berkisar 1 hingga 2 meteor per jam untuk wilayah Indonesia dan ketinggian titik radian ketika kulminasi bervariasi mulai 5 derajat (Kendari, 40 LS) hingga 16 derajat (Pulau Weh, 60 LU).

  1. 23 Desember – Puncak Konjungsi Venus-Antares

Sejak tanggal 20 Desember pukul 05.05 WIB, Venus berkonjungsi dengan Antares yang mana sudut pisahnya sebesar 7,5 derajat. Puncak konjungsi Venus-Antares terjadi pada tanggal 23 Desember pukul 04.45 WIB dengan sudut pisah sebesar 5,7 derajat. Konjungsi Venus-Antares berakhir pada 28 Desember pukul 04.25 WIB dengan sudut pisah sebesar 7,5 derajat. Magnitudo visual Venus bervariasi antara -3,34 hingga -2,37 sedangkan magnitudo Antares sebesar +1,05. Fenomena ini dapat disaksikan dari arah Timur-Tenggara ketika fajar. Pastikan cuaca cerah, dan bebas dari polusi cahaya maupun penghalang yang menghalangi medan pandang.

Gambar 15. Puncak Konjungsi Venus-Antares pada 23 Desember. Sumber: Stellarium PC 0.20.3

  1. 23-24 Desember – Konjungsi Bulan-Mars

Bulan mengalami konjungsi dengan Mars selama dua hari hari berturut-turut yakni pada 23 dan 24 Desember. Sudut pisah antara dua objek langit pada dua tanggal tersebut masing-masing 7,5 dan 7,9 derajat. Magnitudo visual Mars pada dua tanggal tersebut masing-masing -0,44 dan -0,46 sedangkan magnitudo visual Bulan pada dua tanggal tersebut masing-masing -11,41 dan -11,63 dengan iluminasi 64,3% dan 74,1%. Kedua objek langit ini sama-sama terletak di konstelasi Pisces

Gambar 15. Konjungsi Bulan-Mars pada 23-24 Desember. Sumber: Stellarium PC 0.20.3

Pada tanggal 23 Desember pukul 18.30 WIB, Bulan dan Mars sama-sama terletak di arah Utara-Timur laut dengan ketinggian Bulan 78 derajat sedangkan ketinggian Mars 71 derajat. Bulan dan Mars sama-sama terbenam keesokan harinya pada pukul 01.00 WIB yang mana Bulan terbenam di arah Barat sedangkan Mars terbenam di arah Barat-Barat Laut.

Pada tanggal 24 Desember pukul 18.30 WIB, Bulan terletak di Timur Laut sedangkan Mars terletak di arah Utara-Timur Laut. Ketinggian Bulan 68 derajat sedangkan ketinggian Mars 71 derajat. Keesokan harinya, Mars terbenam lebih dulu pada pukul 01.00 WIB di arah Barat-Barat Laut, sedangkan Bulan terbenam pada pukul 01.45 WIB di arah Barat-Barat Laut.

  1. 24 Desember – Apoge Bulan

Bulan akan berada pada titik terjauh Bumi (apoge) pada pukul 23.28.14 WIB dengan jarak geosentris 405.046 km, iluminasi 74,49% (fase benjol awal), magnitudo visual -11,1 dan lebar sudut 21,98 menit busur. Bulan terletak di konstelasi Pisces ketika apoge dan baru dapat disaksikan mulai pukul 13.40 WIB di arah Timur dan terbenam keesokan harinya pada pukul 01.40 WIB di arah Barat.

Gambar 18. Apoge Bulan pada 24 Desember. Sumber: Alcyone Lunar Calculator 1.0

  1. 30 Desember – Deklinasi Utara Maksimum Bulan

Bulan akan berada pada deklinasi maksimum Utara pada pukul 14.53.24 WIB dengan jarak geosentris 392.141 km, iluminasi 99,94% (fase Purnama), magnitudo visual -12,66 dan lebar sudut 30,45 menit busur. Deklinasi maksimum Utara bermakna Bulan terletak pada posisi paling utara dari ekuator langit (sebagaimana solstis Juni pada Matahari). Deklinasi Bulan ketika mencapai maksimum bervariasi antara 18,3° hingga 28,6°. Hal ini disebabkan oleh orbit Bulan yang memiliki kemiringan 5,15° terhadap ekliptika dan sumbu rotasi Bumi yang memiliki kemiringan 23,45°

 

Gambar 19. Deklinasi Maksimum Utara Bulan pada 30 Desember. Sumber: Alcyone Lunar Calculator 1.0

Deklinasi Maksimum Utara Bulan kali ini adalah 24,9° dengan ketinggian Bulan di Indonesia ketika kulminasi bervariasi antara 54,1° (Pulau Rote) hingga 71,1° (Pulau Weh). Ketika kulminasi, Bulan terletak di arah Utara keesokan dini hari pada pukul 00.25 WIB. Bulan terletak di konstelasi Gemini dan berada di atas ufuk sejak pukul 18.30 WIB hingga keesokan pagi pukul 6.15 WIB dari arah Timur-Timur Laut hingga Barat-Barat Laut. 

  1. 30 Desember – Fase Bulan Purnama

Puncak Bulan Purnama kali ini terjadi pada tanggal 30 Desember 2020 pukul 10.28.12 WIB. Bagi wilayah Indonesia Timur dan Indonesia Tengah, puncak purnama akan beriringan dengan tengah hari.

Gambar 20. Fase Bulan Purnama pada 30 Desember. Sumber: Alcyone Lunar Calculator 1.0

Secara tradisional, Bulan purnama yang jatuh di bulan Desember dinamakan Bulan Dingin Penuh (Full Cold Moon) dan Bulan Malam Panjang Penuh (Full Long Night’s Moon) karena pada saat itu di belahan Bumi bagian Utara, suhu menjadi sangat dingin dan durasi malam sangat panjang. Selain itu, Bulan purnama kali ini juga dinamakan Bulan Ek Penuh (Full Oak Moon) karena di bulan ini, pohon ek masih dapat tumbuh di musim dingin belahan Utara meskipun tertutupi salju.

 Demikianlah fenomena astronomis yang akan terjadi di bulan Desember 2020. Jangan sampai Sahabat Edusainsa lewatkan fenomena tersebut. Selamat berburu langit!

Comments


  • 29 December 2020 | 21:04 Sutan Bareno

    Terimakasih atas informasi tentang fenomena astronomis yang terjadi selama bulan desember 2020 akhir tahun ini. Kalo bisa saya minta ada notifikasi dari alamat tertaut guna mendapatkan informasi yang terupdate.

    • 29 December 2020 | 22:30 Admin Edusainsa

      Terimakasih masukannya. Akan segera ditindaklanjuti