Bersiaplah, Fenomena Astronomis Februari 2021

Oleh Andi Pangerang
29 Januari 2021

Bulan Februari sudah di penghujung mata, apa sajakah fenomena astronomis yang akan terjadi selama bulan Februari mendatang? Berikut ulasannya:

4 Februari – Perige Bulan

Perige Bulan adalah konfigurasi ketika Bulan terletak paling dekat dengan Bumi. Hal ini disebabkan oleh orbit Bulan yang ­berbentuk elips dengan Bumi terletak di salah satu titik fokus orbit tersebut. Perige Bulan terjadi setiap rata-rata 27? hari dengan interval dua perige Bulan yang berdekatan bervariasi antara 24?–28½ hari.

Gambar 1 Perige Bulan 4 Februari 2021. Sumber: Live Star Chart by Alcyone Software

Perige Bulan di bulan Februari 2021 terjadi pada tanggal 4 Februari pukul 02.10.42 WIB / 03.10.42 WITA / 04.10.42 WIT dengan jarak 370.038 km dari Bumi (geosentrik), iluminasi 60,72% dan berada di sekitar konstelasi Virgo. Perige Bulan ini dapat disaksikan sejak tanggal 3 Januari sekitar pukul 23.00 waktu setempat dari arah timur, berkulminasi di arah selatan keesokan harinya pukul 05.00 waktu setempat dan terbenam di arah barat sekitar pukul 11.00 waktu setempat.

4-8 Februari – Konjungsi Venus-Saturnus

Venus akan mengalami konjungsi dengan Saturnus selama 5 hari sejak tanggal 4 hingga 8 Februari 2021. Fenomena ini dapat disaksikan ketika pertengahan fajar bahari (30 menit sebelum terbit Matahari) dari arah timur-tenggara dengan ketinggian dan sudut pisah yang bervariasi. Puncak fenomena ini terjadi ketika sudut pisah Venus-Saturnus sangat kecil yakni 6 Februari dengan sudut pisah 0,55° dan kecerlangan masing-masing sebesar −3,87 dan +0,63.

Gambar 2 Konjungsi Venus-Saturnus 4-8 Februari 2021. Sumber: Stellarium PC 0.20.4

Kecerlangan Venus selama konjungsi cukup konstan di angka −3,87 ; sedangkan kecerlangan Saturnus selama konjungsi bervariasi antara +0,62 hingga +0,64.

5 Februari – Fase Bulan Perbani Akhir

Fase perbani akhir adalah salah satu fase Bulan ketika konfigurasi antara Matahari, Bumi dan Bulan membentuk sudut siku-siku (90°) dan terjadi setelah fase Bulan purnama. Puncak fase perbani akhir terjadi pada pukul 00.37.03 WIB / 01.37.03 WITA / 02.37.03 WIT. Sehingga, Bulan perbani akhir ini baru dapat disaksikan ketika terbit sekitar tengah malam dari arah timur-tenggara, berkulminasi di arah selatan menjelang terbit Matahari dan kemudian terbenam di arah barat-barat daya sekitar tengah hari. Bulan berjarak 370.288 km dari Bumi (geosentrik) dan berada di sekitar konstelasi Libra.

Gambar 3 Fase Bulan Perbani Akhir 5 Februari 2021. Sumber: Live Star Chart by Alcyone Software

8 Februari – Konjungsi Inferior Merkurius

Konjungsi Inferior adalah konfigurasi ketika Bumi, Merkurius dan Matahari berada pada satu garis lurus. Konjungsi inferior sama seperti fase Bulan baru pada Bulan, sehingga Merkurius tidak tampak baik ketika senja maupun fajar. Konjungsi inferior Merkurius menandai pergantian ketampakan Merkurius dari senja ke fajar. Selain itu, konjungsi inferior merupakan titik tengah dari siklus retrograd Merkurius yang menandai titik balik gerak semu Merkurius (jika diamati dari Bumi) sebelum Merkurius kembali melakukan gerak prograde.

Gambar 4. Konjungsi Inferior Merkurius 8 Februari 2021. Sumber: Live Star Chart by Alcyone Software

Konjungsi inferior kali ini terjadi pada tanggal 8 Februari pukul 20.36 WIB. Fenomena ini terjadi setiap 116 hari sekali, terakhir kali terjadi pada 26 Oktober 2020 dan akan terjadi kembali pada 11 Juni dan 10 Oktober 2021. Ketika konjungsi inferior, jarak Merkurius dari Matahari sejauh  0,652 sa atau 97,5 juta kilometer.

9 Februari – Deklinasi Maksimum Selatan Bulan

Deklinasi maksimum selatan pada Bulan merupakan posisi Bulan yang terletak paling selatan terhadap ekuator langit. Deklinasi maksimum selatan dapat diibaratkan seperti solstis Desember pada Matahari. Mengingat orbit Bulan yang membentuk sudut 5,1° terhadap ekliptika, dan ekliptika yang membentuk sudut 23,4° terhadap ekuator langit, maka nilai deklinasi maksimum dapat bervariasi antara 18,3°–28,5° selama 18,6 tahun yang merupakan periode simpul Bulan mengelilingi Bumi.

Gambar 5. Deklinasi Maksimum Selatan Bulan 8 Feburari 2021. Sumber: Live Star Chart by Alcyone Software

Puncak deklinasi maksimum selatan di bulan Februari 2021 ini terjadi pada 8 Februari pukul 22.34 WIB / 23.34 WITA atau 9 Februari 00.34 WIT dengan deklinasi maksimum sebesar −25,0° dan memasuki fase sabit akhir beriluminasi 5,4%. Sehingga ketinggian Bulan di Indonesia bervariasi antara 59°–76° di arah selatan ketika kulminasi keesokan harinya (9 Februari) sekitar pukul 09.45 waktu setempat. Bulan dapat disaksikan sejak terbit pada 9 Februari pukul 03.15 waktu setempat di arah timur-tenggara hingga terbenam pukul 16.15 waktu setempat di arah barat-barat daya. Bulan terletak di konstelasi Sagitarius ketika deklinasi maksimum selatan.

9-12 Februari – Tripel Konjungsi Jupiter-Venus-Saturnus

Setelah Venus mengalami konjungsi selama 5 hari dengan Saturnus, Venus juga mengalami konjungsi dengan Jupiter, sehingga membentuk konfigurasi tripel konjungsi Jupiter-Venus-Saturnus. Fenomena ini berlangsung selama 4 hari sejak tanggal 9 hingga 12 Februari dan dapat disaksikan ketika pertengahan fajar bahari (30 menit sebelum terbit Matahari) dari arah timur-tenggara dengan ketinggian, kecerlangan dan sudut pisah yang bervariasi.

Gambar 6. Tripel Konjungsi Saturnus-Venus-Jupiter 9-12 Februari 2021. Sumber: Stellarium PC 0.20.4

Puncak konjungsi Jupiter-Venus terjadi pada tanggal 11 Februari pukul 21.42.22 dengan sudut pisah 0,43° ; sehingga, sudut pisah Jupiter-Venus pada keesokan paginya sebesar 0,54° sedangkan Saturnus bertengger di atas Jupiter dan Venus sejauh 6,09°. Kecerlangan Venus selama tripel konjungsi bervariasi antara −3,87 hingga −3,88. Saturnus juga memiliki kecerlangan yang bervariasi antara +0,64 hingga +0,66. Sedangkan, kecerlangan Jupiter selama tripel konjungsi cukup konstan di angka −1,95.

11 Februari – Kuartet Konjungsi Bulan-Jupiter-Venus-Saturnus

Selama Venus membentuk konfigurasi tripel konjungsi dengan dua planet gas raksasa paling terang, Jupiter dan Saturnus sejak tanggal 9 lalu, Bulan pun turut menghampiri ketiga planet ini sehingga membentuk konfigurasi kuartet konjungsi Bulan-Jupiter-Venus-Saturnus.  Fenomena ini dapat disaksikan ketika pertengehan fajar bahari (30 menit sebelum terbit Matahari) dari arah timur-tenggara. Kecerlangan masing-masing planet sebagai berikut: Venus −3,88 ; Jupiter −1,95 ; Saturnus +0,65. Sedangkan kondisi Bulan sudah memasuki fase sabit akhir dengan iluminasi 1% dan kecerlangan −4,36.

Gambar 7 Kuartet Konjungsi Bulan-Jupiter-Venus-Saturnus 11 Februari 2021. Sumber: Stellarium PC 0.20.4

12 Februari – Fase Bulan Baru

Fase Bulan baru, disebut juga konjungsi [solar] Bulan, adalah konfigurasi ketika Bulan terletak di antara Matahari dan Bumi dan segaris dengan Matahari dan Bumi. Mengingat orbit Bulan yang membentuk sudut 5,1° terhadap ekliptika, bayangan Bulan tidak selalu jatuh di permukaan Bumi ketika fase Bulan baru, sehingga setiap fase Bulan baru tidak selalu beriringan dengan gerhana Matahari.

Fase Bulan baru di Februari 2021 ini terjadi pada 12 Februari pukul 02.03.57 WIB / 03.05.37 WITA / 04.05.37 WIT dengan jarak 385.520 km dari Bumi (geosentrik) dan terletak di konstelasi Capricornus.

Gambar 8 Fase Bulan Baru 12 Februari 2021. Sumber: Live Star Chart by Alcyone Software

Kondisi langit pada 12 Februari beberapa saat setelah fajar astronomis, Saturnus dapat dilihat hingga fajar bahari berakhir. Sedangkan, Jupiter, Venus dan Merkurius dapat diamati sejak awal fajar bahari hingga fajar bahari berakhir. Sementara itu, ketinggian Bulan di Indonesia ketika terbenam Matahari bervariasi antara 6,6° hingga 8,9 ° dengan sudut elongasi terhadap Matahari bervariasi antara 7,6° hingga 8,8° sehingga, Bulan dapat diamati dengan alat bantu maupun mata telanjang. Sedangkan, Mars sudah condong ke arah barat laut ketika awal fajar bahari hingga kemudian terbenam di arah barat sebelum tengah malam.

13-18 Februari – Kuartet Konjungsi Merkurius-Venus-Jupiter-Saturnus

Setelah Venus mengalami tripel konjungsi dengan dua planet gas raksasa, Merkurius menemani Venus selama 6 hari berturut-turut sehingga membentuk konfigurasi kuartet konjungsi Merkurius-Venus-Jupiter-Saturnus. Fenomena ini berlangsung sejak tanggal 13 hingga 18 Februari dan dapat disaksikan ketika pertengahan fajar bahari (30 menit sebelum terbit Matahari) dari arah timur-tenggara.


Gambar 9 Kuartet Konjungsi Merkurius-Venus-Jupiter-Saturnus 13-18 Februari 2021. Sumber: Stellarium PC 0.20.4

Mula-mula, Merkurius berkonjungsi dengan Venus dengan sudut pisah 4,67°, sudut pisah yang sama ketika berkonjungsi dengan Jupiter. Keesokan paginya (14 Februari), sudut pisah Merkurius-Jupiter semakin kecil sedangkan sudut pisah Merkurius-Venus semakin besar. Puncak konjungsi Merkurius-Jupiter terjadi tanggal 15 Februari pukul 21.34.45 WIB dengan sudut pisah 3,85°. Sehingga, keesokan paginya (16 Februari), sudut pisah Merkurius-Jupiter menjadi 3,86°. Dua hari terakhir (17-18 Februari), Merkurius semakin jauh meninggalkan Venus beserta Jupiter dan semakin mendekat ke Saturnus.

Kecerlangan Merkurius bervariasi cukup besar antara +3,15 hingga +1,31. Sedangkan, kecerlangan Venus bervariasi cukup kecil antara −3,88 hingga −3,89. Demikian halnya dengan Jupiter yang kecerlangannya bervariasi antara +1,95 hingga +1,96 dan Saturnus yang kecerlangannya bervariasi antara +0,66 hingga +0,68.

18 Februari – Apoge Bulan

Apoge Bulan adalah konfigurasi ketika Bulan terletak paling jauh dengan Bumi. Hal ini disebabkan oleh orbit Bulan yang ­berbentuk elips dengan Bumi terletak di salah satu titik fokus orbit tersebut. Perige Bulan terjadi setiap rata-rata 27? hari dengan interval dua apoge Bulan yang berdekatan bervariasi antara 26,98–27,90 hari. Rentang yang lebih sempit dibandingkan dengan perige disebabkan karena Bulan juga bersama-sama dengan Bumi mengelilingi Matahari. Sehingga, ketika perige, akan mengalami perturbasi lebih besar dengan Matahari dibandingkan ketika apoge.

Gambar 10. Apoge Bulan 18 Feburari 2021. Sumber: Live Star Chart by Alcyone Software

Apoge Bulan di bulan Februari 2021 terjadi pada pukul 17.24.29 WIB / 18.24.29 WITA / 19.24.29 WIT. Sehingga, apogee Bulan ini baru dapat disaksikan ketika terbit sekitar pukul 11.00 waktu setempat dari arah timur-timur laut, berkulminasi di arah utara sekitar pukul 17.00 waktu setempat dan kemudian terbenam di arah barat-barat laut sekitar pukul 23.00 waktu setempat. Bulan berjarak 404.505 km dari Bumi (geosentrik) ketika apoge Bulan dan berada di sekitar konstelasi Aries dengan iluminasi 37,4%.

19 Februari –Konjungsi Segitiga Bulan-Mars-Pleiades

Puncak konjungsi Bulan-Mars terjadi pada pukul 07.11.12 WIB dengan sudut pisah 3,73°. Akan tetapi, Bulan dan Mars baru dapat disaksikan sejak awal senja bahari (21 menit setelah terbenam Matahari) dari arah utara-barat laut dengan ketinggian Bulan sebesar 60,67° dan sudut pisah 5,56°.

Gambar 11 Tripel Konjungsi Bulan-Mars-Pleaides 19 Februari 2021. Sumber: Live Star Chart by Alcyone Software

Bulan juga berkonjungsi dengan Pleiades dengan sudut pisah 5,9° sehingga membentuk konjungsi segitiga antara Bulan, Mars dan Pleiades. Ketampakan terakhir terjadi di arah barat-barat laut pada pukul 23.00 waktu setempat dengan sudut pisah Bulan-Mars sebesar 6,5° dan sudut pisah Bulan-Pleiades sebesar 5,4°. Berselang 32 menit kemudian, ketiga benda langit ini sudah berada di bawah ufuk.

19-28 Februari – Konjungsi Segitiga Merkurius-Jupiter-Saturnus

Setelah Merkurius menemani Venus selama enam hari berturut-turut membentuk konfigurasi kuartet konjungsi bersama dua planet gas terang, Merkurius meninggalkan Venus dan membentuk konjungsi segitiga bersama Jupiter dan Saturnus sejak 19 Februari hingga penghujung bulan. Fenomena ini dapat disaksikan ketika pertengahan fajar bahari (30 menit sebelum terbit Matahari) dari arah timur-tenggara.

Gambar 12 Konjungsi Segitiga Merkurius-Jupiter-Saturnus 19-28 Februari 2021. Sumber: Stellarium PC 0.20.4

Mula-mula, sudut pisah Merkurius-Saturnus sebesar 4,99° sedangkan sudut pisah Merkurius-Jupiter sebesar 4,38°. Merkurius semakin menjauhi Jupiter dengan sudut pisah maksimum 4,68° pada tanggal 22 Februari, sementara Merkurius semakin mendekat ke Saturnus. Keesokan paginya (23 Februari), Merkurius mengalami konjungsi dengan Saturnus sejauh 4,63° sementara sudut pisah Merkurius-Jupiter mulai mengecil. Hingga akhir bulan, Merkurius semakin menjauhi Saturnus dengan sudut pisah 5,18° sementara Merkurius semakin mendekat ke Jupiter dengan sudut pisah 3,25°.

Kecerlangan Merkurius bervariasi cukup besar antara +1,09 hingga +0,2. Sementara, kecerlangan Jupiter bervariasi cukup kecil antara −1,96 hingga −1,97. Demikian halnya dengan Saturnus yang kecerlangannya bervariasi antara +0,68 hingga +0,71.

20 Februari – Fase Bulan Perbani Awal

Fase perbani awal adalah salah satu fase Bulan ketika konfigurasi antara Matahari, Bumi dan Bulan membentuk sudut siku-siku (90°) dan terjadi sebelum fase Bulan purnama.

Gambar 13 Fase Bulan Perbani Awal 19 Februari 2021. Sumber: Live Star Chart by Alcyone Software

Puncak fase perbani awal terjadi pada pukul 01.47.11 WIB / 02.47.11 WITA / 03.47.11 WIT. Sehingga, Bulan perbani awal ini baru dapat disaksikan ketika terbit 30 menit setelah tengah hari dari arah timur-timur laut, berkulminasi di arah utara menjelang terbenam Matahari dan kemudian terbenam di arah barat-barat laut 30 menit setelah tengah malam. Bulan berjarak 403.324 km dari Bumi (geosentrik) ketika puncak fase perbani awal dan berada di sekitar konstelasi Taurus.

20 Februari – Aphelion Venus

Aphelion secara umum adalah konfigurasi ketika planet berada di titik terjauh dari Matahari. Hal ini disebabkan oleh orbit planet yang berbentuk elips dengan Matahari terletak di salah satu dari kedua titik fokus orbit tersebut. Aphelion Venus terjadi setiap rata-rata 225 hari sekali atau dalam lima tahun terjadi delapan kali. Aphelion Venus kali ini terjadi pada 20 Februari 2021 pukul 15.36 WIB / 16.36 WITA / 17.36 WIT dengan jarak 108,9 juta kilometer dari Matahari. Aphelion Venus berikutnya akan terjadi pada 3 Oktober 2021, 15 Mei dan 26 Desember 2022.

Gambar 14. Aphelion Venus 20 Februari 2021. Sumber: Live Star Chart by Alcyone Software

Orbit Venus merupakan orbit yang paling mendekati lingkaran di tata surya karena kelonjongannya hanya 0,68%. Perbedaan jarak Venus ke Matahari antara perihelion dengan aphelion hanya terpaut 1,36% sehingga energi yang diterima hanya terpaut 2,74% antara perhelion dengan aphelion. Lebar sudut Venus jika diamati dari Bumi ketika aphelion bervariasi antara 0,16-1,09 menit busur, sedangkan untuk aphelion kali ini, lebar sudut Venus sebesar 0,165 menit busur. Venus baru dapat diamati di arah timur-tenggara dekat konstelasi Aquarius selama 30 menit sejak pertengahan fajar bahari hingga terbit Matahari.

23 Februari – Deklinasi Maksimum Utara Bulan

Deklinasi maksimum utara pada Bulan merupakan posisi Bulan yang terletak paling utara terhadap ekuator langit. Deklinasi maksimum utara dapat diibaratkan seperti solstis Juni pada Matahari. Mengingat orbit Bulan yang membentuk sudut 5,1° terhadap ekliptika, dan ekliptika yang membentuk sudut 23,4° terhadap ekuator langit, maka nilai deklinasi maksimum dapat bervariasi antara 18,3°–28,5° selama 18,6 tahun yang merupakan periode simpul Bulan mengelilingi Bumi.

Gambar 15 Deklinasi Maksimum Utara Bulan 23 Februari 2021. Sumber: Live Star Chart by Alcyone Software

Puncak deklinasi maksimum utara di bulan Februari 2021 ini terjadi pada 23 Februari pukul 07.12 WIB / 08.12 WITA / 09.12 WIT dengan deklinasi maksimum sebesar +25,1° dan memasuki fase benjol awal beriluminasi 79,4%. Sehingga ketinggian Bulan di Indonesia bervariasi antara 53,9°–70,9° di arah utara ketika kulminasi di sekitar pukul 21.00 waktu setempat. Bulan dapat disaksikan sejak terbit pukul 15.00 waktu setempat di arah timur-timur laut hingga terbenam keesokan paginya pukul 03.00 waktu setempat di arah barat-barat laut. Bulan terletak di konstelasi Gemini ketika deklinasi maksimum utara.

27-28 Februari – Fase Bulan Purnama

Fase Bulan purnama, atau disebut juga fase oposisi [solar] Bulan, adalah konfigurasi ketika Bulan terletak membelakangi Matahari dan segaris dengan Bumi dan Matahari. Mengingat orbit Bulan yang membentuk sudut 5,1° terhadap ekliptika, Bulan tidak selalu memasuki bayangan Bumi ketika fase Bulan purnama, sehingga setiap fase Bulan purnama tidak selalu beriringan dengan gerhana Bulan.

Gambar 16 Fase Bulan Purnama 27 Februari 2021. Sumber: Live Star Chart by Alcyone Software

Fase Bulan purnama di Februari 2021 ini terjadi pada 27 Februari pukul 15.17.11 WIB / 16.17.11 WITA / 17.17.11 WIT dengan jarak 370.595 km dari Bumi (geosentrik) dan terletak di konstelasi Leo. Secara tradisional, Bulan purnama di bulan Februari disebut juga Bulan Purnama Salju (Full Snow Moon) karena di belahan utara Bumi, hujan salju turun di sisa musim dingin. Bulan purnama dapat disaksikan sekitar pukul 18.30 waktu setempat dari arah timur-timur laut, kemudian berkulminasi keesokan harinya 30 menit setelah tengah malam (28 Februari) di arah utara dan terbenam sekitar pukul 06.30 waktu setempat di arah barat.

27-28 Februari – Konjungsi Mars-Pleiades

Mars akan mengalami konjungsi dengan Pleiades, salah satu gugus bintang yang terletak di konstelasi Taurus, sejak 27 Februari hingga 9 Maret mendatang. Fenomena ini dapat disaksikan dari arah barat laut ketika awal senja bahari hingga terbenam di arah barat-barat laut sekitar pukul 22.50 waktu setempat (setiap hari terbenam lebih cepat 4 menit). Kecerlangan Mars selama berkonjungsi dengan Pleiades bervariasi antara +1,05 hingga +1,20. Sedangkan kecerlangan Pleiades secara keseluruhan sebesar +1,20. Sudut pisah Mars-Pleiades pada 27 Februari sebesar 3,92° dan akan terus mengecil hingga mencapai sudut pisah minimum pada tanggal 3 dan 4 Maret sebelum akhirnya Mars dan Pleiades kembali menjauh.

Gambar 17 Konjungsi Mars-Pleiades 27-28 Februari 2021. Sumber: Live Star Chart by Alcyone Software

Comments