Bersiaplah, Fenomena Astronomis Maret 2021

Oleh Andi Pangerang
25 Februari 2021

Halo, Sahabat Edusainsa semua! Sebentar lagi kita akan menyongsong bulan Maret, bulan ketiga di tahun 2021 ini.

Fenomena astronomi apa saja yang akan terjadi di bulan Maret 2021? Berikut ulasannya:

  1. 1-9 Maret – Konjungsi Mars-Pleiades

Gambar 1. Konjungsi Mars-Pleiades. Sumber: Stellarium PC 0.24.0

Mars telah mengalami konjungsi dengan Pleiades, salah satu gugus bintang yang terletak di konstelasi Taurus, sejak 27 Februari lalu hingga 9 Maret mendatang. Fenomena ini dapat disaksikan dari arah barat laut ketika awal senja bahari hingga terbenam di arah barat-barat laut sekitar pukul 22.42 waktu setempat (setiap hari terbenam lebih cepat 4 menit).

Kecerlangan Mars selama berkonjungsi dengan Pleiades di awal Maret bervariasi antara +1,08 hingga +1,20. Sedangkan kecerlangan Pleiades secara keseluruhan sebesar +1,20. Sudut pisah Mars-Pleiades pada 1 Maret sebesar 3,31° dan akan terus mengecil hingga mencapai sudut pisah minimum pada tanggal 3 dan 4 Maret sebesar 2,70° dan 2,66°, sebelum akhirnya Mars dan Pleiades kembali menjauh.

 

  1. 1-17 Maret – Tripel Konjungsi Merkurius-Jupiter-Saturnus

Gambar 2. Tripel Konjungsi Merkurius-Jupiter-Saturnus. Sumber: Stellarium PC 0.24.0

Mulai awal Maret hingga 17 hari mendatang, Merkurius akan mengalami tripel konjungsi dengan Jupiter dan Saturnus. Mula-mula, sudut pisah Merkurius-Jupiter sebesar 2,78o kemudian semakin mengecil hingga ketika puncak konjungsi Merkurius-Jupiter, sudut pisahnya sebesar 0,41o. Beberapa hari setelahnya, Merkurius semakin menjauhi Jupiter.

Sementara itu, sudut pisah Jupiter-Saturnus secara gradual semakin membesar. Fenomena ini dapat disaksikan dari arah timur-tenggara ketika fajar astronomis (altitude Matahari -18o).

Kecerlangan Merkurius bervariasi antara +0,17 hingga -0,05. Sementara itu, kecerlangan Jupiter sedikit bervariasi antara -1,97 hingga -2,01; demikian halnya dengan Saturnus yang kecerlangannya antara +0,71 hingga +0,74.

 

  1. 2 Maret – Perige Bulan

Perige Bulan adalah konfigurasi ketika Bulan terletak paling dekat dengan Bumi. Hal ini disebabkan oleh orbit Bulan yang ­berbentuk elips dengan Bumi terletak di salah satu titik fokus orbit tersebut. Perige Bulan terjadi setiap rata-rata 27 1/3 hari dengan interval dua perige Bulan yang berdekatan bervariasi antara 24 5/8 –28½ hari.

Gambar 3. Perige Bulan 2 Maret 2021. Sumber: Live Star Chart by Alcyone Software

Perige Bulan di bulan Maret 2021 terjadi dua kali, yakni tanggal 2 Maret pukul 12.26.12 WIB / 13.26.12 WITA / 14.26.12 WIT dengan jarak 365.399 km dari Bumi (geosentrik), iluminasi 89,1% dan berada di sekitar konstelasi Virgo. Sedangkan perige Bulan yang kedua terjadi pada tanggal 30 Maret

Perige Bulan ini dapat disaksikan selama dua hari: sejak tanggal 1 Maret pukul 20.15 waktu setempat dari arah timur, berkulminasi di arah selatan keesokan harinya pukul 02.10 dan terbenam di arah barat sekitar pukul 08.10 waktu setempat; dan sejak tanggal 2 Maret pukul 21.00 waktu setempat dari arah timur, berkulminasi di arah selatan keesokan harinya pukul 03.00 waktu setempat dan terbenam di arah barat sekitar pukul 09.00 waktu setempat.

  1. 5 Maret – Oposisi Solar Vesta

Gambar 4.a. Citra Asteroid Vesta. Kredit: NASA/Dawn Mission

 

Vesta adalah objek terbesar kedua di sabuk asteroid, dengan diameter sebesar 530 kilometer dan diperkirakan memiliki massa 9% dari massa seluruh sabuk asteroid. Asteroid ini ditemukan oleh astronom Jerman Heinrich Wilhelm Olbers pada tanggal 29 Maret 1807. Nama Vesta diambil dari nama dewi perawan dalam mitologi Romawi, yang merupakan dewi pelindung untuk rumah dan perapian. Vesta mengorbit Matahari selama 3,63 tahun.

Gambar 4.b. Lintasan Vesta di sekitar oposisi 5 Maret 2021. Sumber: in-the-sky.org

 

Vesta akan mengalami oposisi solar pada pukul 06.58 WIB dengan jarak 1,355 sa (202,7 juta km) dan terletak di konstelasi Leo. Oposisi solar adalah konfigurasi dimana objek berada di sisi yang berlawanan dengan Matahari, sebagaimana ketika fase Bulan purnama. Konfigurasi ini membuat Vesta akan tampak lebih terang jika diamati dari Bumi karena berjarak lebih dekat dengan Bumi.

Vesta dapat diamati menggunakan binokuler maupun teleskop 10cm sejak malam sebelumnya (4 Maret) pukul 20.00 waktu setempat dari arah timur-timur laut, berkulminasi pada pukul 00.20 waktu setempat di arah utara dan terbenam pukul 04.45 waktu setempat di arah barat-barat laut. Kecerlangan Vesta ketika oposisi solar sebesar +6,18.

  1. 6 Maret – Fase Bulan Perbani Akhir di Simpul Menurun

Gambar 5.a. Fase Bulan Perbani Akhir. Sumber: Live Star Chart by Alcyone Software

 

Fase perbani akhir adalah salah satu fase Bulan ketika konfigurasi antara Matahari, Bumi dan Bulan membentuk sudut siku-siku (90°) dan terjadi setelah fase Bulan purnama. Puncak fase perbani akhir terjadi pada pukul 08.30.06 WIB / 09.30.06 WITA / 10.30.06 WIT. Sehingga, Bulan perbani akhir ini baru dapat disaksikan ketika terbit sekitar tengah malam dari arah timur-tenggara, berkulminasi di arah selatan menjelang terbit Matahari dan kemudian terbenam di arah barat-barat daya sekitar tengah hari. Bulan berjarak 372.081 km dari Bumi (geosentrik) dan berada di sekitar konstelasi Ophiuchus.

Gambar 5.b. Ilustrasi Orbit Bulan ketika Fase Perbani Akhir di Simpul Menurun. Dokumentasi Pribadi

Fase Bulan perbani kali ini beriringan dengan ketika Bulan berada di simpul menurun (descending node) yang telah terjadi sebelumnya pada pukul 07.55.40 WIB / 08.55.40 WIB / 09.55.40 WIB. Simpul menurun adalah perpotongan antara orbit Bulan dengan ekliptika yang mana Bulan bergerak menuju ke selatan ekliptika. Fenomena ini akan berulang setiap 18,6 tahun sekali yang merupakan periode simpul orbit Bulan.

 

  1. 6 Maret – Elongasi Barat Maksimum Merkurius

Gambar 6. Elongasi Barat Maksimum Merkurius. Sumber: Live Star Chart by Alcyone Software

Elongasi Barat Maksimum adalah konfigurasi dimana sudut yang dibentuk antara Bumi, Matahari dan Merkurius mencapai nilai maksimalnya. Puncak elongasi barat maksimum Merkurius terjadi pada 6 Maret 2021 pukul 17.59 WIB. Akan tetapi, elongasi barat maksimum Merkurius baru dapat disaksikan keesokan paginya (7 Maret) sejak Merkurius terbit pada pukul 04.10 WIB dekat konstelasi Capricornus di arah Selatan-Tenggara dan akan berada pada ketinggian 25,2o ketika Matahari terbit pada pukul 06.00 waktu setempat. Sudut elongasi Merkurius-Matahari sebesar 27,3o dengan magnitudo visual +0,2 membuat Merkurius tampak paling terang dibandingkan hari-hari lainnya.

 

  1. 10-12 Maret – Kuartet Konjungsi Bulan-Saturnus-Jupiter-Merkurius

Setelah Merkurius membentuk konfigurasi tripel konjungsi dengan dua planet gas raksasa paling terang, Jupiter dan Saturnus sejak awal bulan, Bulan pun turut menghampiri ketiga planet ini sehingga membentuk konfigurasi kuartet konjungsi Bulan-Jupiter-Merkurius-Saturnus.  Fenomena ini dapat disaksikan ketika fajar bahari (22 menit sebelum terbit Matahari) dari arah timur-tenggara.


Gambar 7. Kuartet Konjungsi Bulan-Merkurius-Jupiter-Saturnus 10-12 Maret. Sumber: Stellarium PC 0.24.0

Konfigurasi ini juga disebut sebagai “Keris Langit” karena menyerupai keris yang mana pada tanggal 10 Maret mengarah ke nadir sedangkan pada tanggal 11 dan 12 Maret mengarah ke atas. Kejadian ini pernah terjadi juga selama tanggal 14-17 April 2020 dengan konfigurasi Bulan-Mars-Jupiter-Saturnus dan akan terulang kembali pada 25/28 April 2022 dan 4/7 Mei 2024.

Kecerlangan masing-masing planet sebagai berikut: Merkurius +0,02 hingga +0,01 ; Jupiter −1,99 hingga −2,00; Saturnus +0,73 hingga +0,74. Sedangkan kondisi Bulan sudah memasuki fase sabit akhir dengan iluminasi 12,7% dan kecerlangan −8,76 pada tanggal 10 Maret; iluminasi 6,7% dan kecerlangan −7,68 pada tanggal 11 Maret; dan iluminasi 2,5% dan kecerlangan −6,08 pada tanggal 12 Maret.

 

  1. 11 Maret – Konjungsi Solar Neptunus

Konjungsi solar Neptunus merupakan konfigurasi ketika Neptunus, Matahari dan Bumi berada pada satu garis lurus dan Neptunus terletak sejajar dengan Matahari. Puncak konjungsi solar Neptunus terjadi pada 11 Maret pukul 07.28 WIB / 08.28 WITA / 09.28 WIT. Neptunus berjarak 30,919 sa atau 1,64 milyar kilometer dari Matahari dan bermagnitudo +8,0.

Gambar 7. Konjungsi Solar Neptunus. Sumber: Live Star Chart by Alcyone Software

Konsekuensi dari fenomena ini adalah Neptunus tidak akan tampak lagi di langit malam karena sejajar dengan Matahari. Sudut pisah Neptunus-Matahari hanya sebesar 1°04'. Konjungsi Neptunus terjadi setiap tahunnya, lebih tepatnya setiap 367 hari sekali.

Jika Neptunus dapat diamati menggunakan teleskop, maka akan tampak lebih redup dan berukuran sangat kecil, yakni 2,36 detik busur. Hal ini disebabkan karena jarak Neptunus terhadap Bumi akan lebih jauh ketika Neptunus mengalami konjungsi dengan Matahari. Neptunus akan kembali tampak setelah beberapa bulan kemudian dan sekitar 6 bulan setelah konjungsi solar, Neptunus mengalami oposisi solar dan dapat diamati sepanjang malam.

 

  1. 13 Maret – Fase Bulan Baru

Fase Bulan baru, disebut juga konjungsi solar Bulan, adalah konfigurasi ketika Bulan terletak di antara Matahari dan Bumi dan segaris dengan Matahari dan Bumi. Mengingat orbit Bulan yang membentuk sudut 5,1° terhadap ekliptika, bayangan Bulan tidak selalu jatuh di permukaan Bumi ketika fase Bulan baru, sehingga setiap fase Bulan baru tidak selalu beriringan dengan gerhana Matahari.

Fase Bulan baru di Maret 2021 ini terjadi pada 13 Maret pukul 17.21.01 WIB / 18.21.01 WITA / 19.21.01 WIT dengan jarak 396.124 km dari Bumi (geosentrik) dan terletak di konstelasi Aquarius.

Gambar 9. Fase Bulan Baru 13 Maret 2021. Sumber: Live Star Chart by Alcyone Software

Kondisi langit pada 13 Maret: sejak pukul 3 dini hari waktu setempat, Saturnus dapat dilihat hingga fajar bahari berakhir. Sedangkan, Jupiter dan Merkurius dapat diamati sejak awal fajar astronomis hingga fajar bahari berakhir. Letak Venus yang cukup dekat dengan Matahari membuat Venus sulit diamati bahkan ketika menjelang Matahari terbit.

 

Sementara itu, ketinggian Bulan di Indonesia ketika terbenam Matahari bervariasi antara 0° (Miangas) hingga 1,35° (Pelabuhan Ratu dan Enggano) dengan sudut elongasi terhadap Matahari bervariasi antara 4,45° hingga 4,76° sehingga, Bulan mustahil dapat diamati baik menggunakan alat bantu maupun tanpa alat bantu dan baru dapat diamati dengan mudah tanpa alat bantu keesokan harinya (selama tidak ada awan yang menghalangi). Sedangkan, Mars sudah condong ke arah barat-barat laut dengan ketinggian 50o ketika awal senja bahari, kemudian terbenam di arah barat-barat laut sekitar pukul 22.30 waktu setempat.

 

  1. 14 Maret – Aphelion Merkurius

Aphelion secara umum adalah konfigurasi ketika planet berada di titik terjauh dari Matahari. Hal ini disebabkan oleh orbit planet yang berbentuk elips dengan Matahari terletak di salah satu dari kedua titik fokus orbit tersebut. Aphelion Merkurius terjadi setiap rata-rata 88 hari sekali atau dalam setahun terjadi empat kali. Aphelion Merkurius kali ini terjadi pada 14 Maret 2021 pukul 08.45 WIB / 09.45 WITA / 10.45 WIT dengan jarak 69.863.000 kilometer dari Matahari. Aphelion Venus berikutnya akan terjadi pada 10 Juni, 6 September dan 3 Desember 2021.

Gambar 10. Aphelion Merkurius 14 Maret. Sumber: Live Star Chart by Alcyone Software

Ketika aphhelion, Merkurius akan menerima energi setengah kali dibandingkan dengan ketika berada di perielion. Lebar sudut Merkurius jika diamati dari Bumi ketika aphelion 26,6% lebih kecil dibandingkan ketika aphelion, meskipun perbedaannya tidak begitu signifikan ketika diamati melalui teleskop karena lebar sudut Merkurius bervariasi antara 0,106-0,134 menit busur. Merkurius baru dapat diamati di arah timur-tenggara dekat konstelasi Aquarius sejak terbit selama 75 menit hingga akhir senja bahari.

 

  1. 14-15 Maret – Puncak Hujan Meteor Gamma Normid

Hujan meteor Gamma Normid adalah hujan meteor yang titk radian (titik awal kemunculan hujan meteor) terletak di konstelasi Norma, di antara kontelasi Scorpius dan Centaurus. Hujan meteor ini aktif sejak 25 Februari hingga 28 Maret. Puncaknya terjadi pada 14 Maret pukul 23.00 WIB atau 15 Maret pukul 00.00 WITA / 01.00 WIT.

Gambar 11. Hujan Meteor Gamma Normid. Sumber: Stellarium PC 0.24.0

Hujan meteor Gamma Normid dapat disaksikan sejak pukul 21.45 waktu setempat dari arah tenggara, kemudian berkulminasi pada pukul 04.00 keesokan harinya dari arah selatan dan tidak dapat disaksikan ketika fajar bahari berakhir.

Intensitas hujan meteor ini sekitar 4 meteor per jam. Tidak perlu menggunakan alat bantu apapun untuk mengamati hujan meteor ini.

 

  1. 18 Maret – Apoge Bulan

Apoge Bulan adalah konfigurasi ketika Bulan terletak paling jauh dengan Bumi. Hal ini disebabkan oleh orbit Bulan yang ­berbentuk elips dengan Bumi terletak di salah satu titik fokus orbit tersebut. Perige Bulan terjadi setiap rata-rata 27 1/3 hari dengan interval dua apoge Bulan yang berdekatan bervariasi antara 26,98–27,90 hari. Rentang yang lebih sempit dibandingkan dengan perige disebabkan karena Bulan juga bersama-sama dengan Bumi mengelilingi Matahari. Sehingga, ketika perige, akan mengalami perturbasi lebih besar dengan Matahari dibandingkan ketika apoge.

Gambar 12. Apoge Bulan 18 Maret 2021. Sumber: Live Star Chart by Alcyone Software

Apoge Bulan di bulan Maret 2021 terjadi pada pukul 12.09.51 WIB / 13.09.51 WITA / 14.09.51 WIT. Sehingga, apogee Bulan ini baru dapat disaksikan ketika terbit sekitar pukul 09.30 waktu setempat dari arah timur-timur laut, berkulminasi di arah utara sekitar pukul 15.30 waktu setempat dan kemudian terbenam di arah barat-barat laut sekitar pukul 21.30 waktu setempat. Bulan berjarak 405.283 km dari Bumi (geosentrik) ketika apoge Bulan dan berada di sekitar konstelasi Aries dengan iluminasi 19,9%.

  1. 19 Maret – Tripel Konjungsi Bulan-Mars-Aldebaran

Gambar 13. Tripel Konjungsi Bulan-Mars-Aldebaran. Sumber: Stellarium PC 0.24.0

Puncak konjungsi Bulan-Mars terjadi pada tanggal 20 Maret pukul 02.18.52 WIB dengan sudut pisah 1,94°. Akan tetapi, Bulan dan Mars baru dapat disaksikan pada tanggal 19 Maret sejak akhir senja bahari (42 menit setelah terbenam Matahari) dari arah barat laut dengan ketinggian Bulan sebesar 45° dan sudut pisah 3,97°.

Bulan juga berkonjungsi dengan Aldebaran dengan sudut pisah 7,04° sehingga membentuk konjungsi segitiga antara Bulan, Mars dan Aldebaran. Ketampakan terakhir terjadi di arah barat-barat laut pada pukul 22.20 waktu setempat dengan sudut pisah Bulan-Mars sebesar 3,00° dan sudut pisah Bulan-Pleiades sebesar 6,18°. Berselang 20 menit kemudian, ketiga benda langit ini sudah berada di bawah ufuk.

 

  1. 20 Maret – Ekuinoks Maret

Ekuinoks Maret merupakan salah satu dari dua ekuinoks yang selalu terjadi setiap tahunnya. Ekuinoks Maret merupakan titik perpotongan ekliptika dan ekuator langit yang dilewati Matahari dalam perjalanan semu tahunan Matahari dari langit belahan Selatan menuju ke langit belahan Utara. Ekuinoks Maret dikenal juga sebagai Ekuinoks Musim Semi (vernal equinox) di belahan Utara dan Ekuinoks Musim Gugur (autumnal equinox) di belahan Selatan.

Gambar 14.a. Orbit Bumi pada Empat Titik Musim. Sumber: http://timeanddate.com

Jika ditinjau dari pengamat Tata Surya di luar Bumi, posisi sumbu rotasi Bumi tegak lurus terhadap arah sinar Matahari ke Bumi. Hal ini mengakibatkan batas siang-malam berimpit dengan garis bujur di setiap permukaan Bumi, sehingga panjang siang dan malam nyaris sama (walau kenyataannya tidak tepat 12 jam karena dipengaruhi oleh refraksi atmosfer)

 Gambar 14.b. Posisi Bumi ketika Ekuinoks Maret. Sumber: http://timeanddate.com

Tahun ini, Ekuinoks Maret terjadi pada tanggal 20 Maret pukul 16.37.25 WIB / 17.37.25 WITA / 18.37.25 WIT. Bagi pengamat yang berada di garis katulistiwa, kalian akan mendapat Matahari akan tepat di atas kepala ketika tengah hari. Sedangkan untuk tempat yang lain, Matahari akan condong ke Utara atau Selatan sejauh lintang tempat kalian berada. Tidak hanya itu, ketika ekuinoks, Matahari akan terbit nyaris tepat di arah Timur dan terbenam nyaris tepat di arah Barat. Hal ini karena perpotongan ekuator langit dengan horizon (ufuk) adalah titik Barat dan Timur tempat kalian mengamati Matahari.

Gambar 14.c. Analema dan Orbit Bumi ketika Ekuinoks. Sumber: Live Star Chart by Alcyone Software

 

Gambar 14.d. Posisi Matahari pada Bola Langit di Belahan Utara dan Selatan ketika Ekuinoks

 

  1. 21 Maret – Fase Bulan Perbani Awal

Fase perbani awal adalah salah satu fase Bulan ketika konfigurasi antara Matahari, Bumi dan Bulan membentuk sudut siku-siku (90°) dan terjadi sebelum fase Bulan purnama.

Gambar 15. Fase Bulan Perbani Awal 21 Maret 2021. Sumber: Live Star Chart by Alcyone Software

Puncak fase perbani awal terjadi pada pukul 21.40.22 WIB / 22.40.22 WITA / 23.40.22 WIT. Sehingga, Bulan perbani awal ini dapat disaksikan sejak terbit ketika tengah hari dari arah timur-timur laut, berkulminasi di arah utara menjelang terbenam Matahari dan kemudian terbenam di arah barat-barat laut sekitar tengah malam. Bulan berjarak 398.531 km dari Bumi (geosentrik) ketika puncak fase perbani awal dan berada di sekitar konstelasi Taurus.

 

  1. 23 Maret – Konjungsi Bulan-Pollux

Gambar 16. Konjungsi Bulan-Pollux. Sumber: Stellarium PC 0.24.0

Bulan akan mengalami konjungsi dengan Pollux, bintang utama di konstelasi Gemini, pada pukul 17.26 WIB dengan sudut pisah 3,5o. Akan tetapi, fenomena ini baru dapat disaksikan ketika akhir senja bahari (ketinggian Matahari –12o) dari arah utara dengan sudut pisah 3,08o dan ketampakan terakhir pada keesokan harinya (24 Maret) pukul 01.20 waktu setempat dari arah barat-barat laut dengan sudut pisah 4,67o. Bulan berada pada fase benjol awal atau Bulan besar dengan iluminasi 68,5% sementara Pollux memiliki kecerlangan +1,15.

 

  1. 25-26 Maret – Konjungsi Bulan-Regulus

Gambar 17. Konjungsi Bulan-Regulus. Sumber: Stellarium PC 0.24.0

 Bulan akan mengalami konjungsi dengan Regulus, bintang utama di konstelasi Leo, pada tanggal 26 Maret pukul 07.17 WIB dengan sudut pisah 4,7o. Akan tetapi, fenomena ini sudah dapat disaksikan sejak malam sebelumnya (25 Maret) ketika akhir senja bahari (ketinggian Matahari –12o) dari arah timur-timur laut dengan sudut pisah 9,9o. Ketampakan terakhir pada keesokan harinya (26 Maret) pukul 03.25 waktu setempat dari arah barat-barat laut dengan sudut pisah 6,6o. Bulan berada pada fase benjol awal atau Bulan besar dengan iluminasi 86,1% sementara Pollux memiliki kecerlangan +1,35.

 

  1. 26 Maret – Konjungsi Superior Venus

Konjungsi superior Venus adalah waktu ketika Venus, Matahari dan Bumi berada pada satu garis lurus. Ketika Venus membelakangi Matahari dan Bumi, maka seluruh cahaya dari Matahari dipantulkan Venus ke Bumi sehingga Venus seluruhnya bercahaya seperti pada fase Bulan Purnama.

Akan tetapi, Venus memiliki jarak terjauh dari Bumi sehingga sudut diameter Venus akan lebih kecil dibandingkan waktu-waktu lainnya. Dengan kata lain, Venus akan tampak lebih redup dibandingkan waktu-waktu lainnya. Konjungsi superior menandai pergantian ketampakan Venus yang semula dapat terlihat ketika fajar, berubah menjadi ketika senja.

Gambar 18. Konjungsi Superior Venus 26 Maret 2021. Sumber: Live Star Chart by Alcyone Software

Puncak konjungsi superior Venus terjadi pada pukul 14.16 WIB / 15.16 WITA / 16.16 WIT dengan sudut pisah sebesar 1,35o dengan Matahari dan berjarak 1,723 sa (257.761.000 km) dari Bumi. Jika Venus dapat diamati, lebar sudutnya hanya 9,76 detik busur dengan kecerlangan -3,91.

Konjungsi superior Venus terjadi setiap 584 hari sekali, terakhir terjadi pada 14 Agustus 2019 dan akan terjadi kembali pada 23 Oktober 2022, 4 Juni 2024 dan 6 Januari 2026.

 

  1. 27 Maret – Kampanye Earth Hour

Kampanye Earth Hour adalah kegiatan global yang diadakan oleh World Wide Fund for Nature (WWF) pada hari Sabtu terakhir di bulan Maret setiap tahunnya. Tahun ini, Earth Hour dilaksanakan pada tanggal 27 Maret. Kegiatan ini pertama kali dilakukan pada tahun 2007 dan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan perlunya tindakan serius menghadapi perubahan iklim. Kegiantan ini berupa pemadaman lampu yang tidak diperlukan bauk di rumah maupun perkantoran selama satu jam dari pukul 20.30 hingga 21.30 waktu setempat.

Gambar 19. Logo Earth Hour dan WWF

Meskipun kampanye ini memiliki tujuan berbeda dengan kampanye langit malam gelap, akan tetapi, kampanye Earth Hour dapat dilakukan juga bersamaan dengan kampanye langit malam gelap, dengan harapan masyarakat dapat lebih sadar tentang pentingnya langit malam gelap bagi kehidupan sehari-hari, selain dengan mengenalkan rasi bintang maupun galaksi yang tidak pernah terlihat dengan mata kepala dikarenakan polusi cahaya, juga dapat menjaga ekosistem biota laut yang hidup secara nokturnal.

 

  1. 27-28 Maret – Oposisi Solar Makemake

Citra Planet Katai Makemake. Kredit: Hubble Space Telescope NASA

Makemake (atau 136472 Makemake, 2005 FY9) adalah planet kerdil transneptunus di Tata Surya yang terletak di sabuk Kuiper. Planet katai ini berukuran sekitar tiga per empat Pluto dan mengorbit Matahari selama 306 hari. Sejak awal ditemukan di tanggal 31 Maret 2005, Makemake tidak memiliki satelit. Akan tetapi, sejak April 2015, Makemake diketahui memiliki satelit yang dinamakan MK2 atau S/2015 (136472) 1 yang dipotret melalui teleskop luar angkasa Hubble. Rata-rata suhu yang sangat rendah (sekitar 30 K) di planet tersebut menunjukkan bahwa lapisan Makemake terdiri dari metana, etana dan kemungkinan es nitrogen. Nama Makemake berasal dari nama dewa pencipta dan kesuburan di Pulau Paskah.

Makemake akan mengalami oposisi solar pada 27 Maret pukul 21.47 WIB dengan jarak 51,72 sa (7,74 milyar km) dan terletak di konstelasi Coma Berenices. Oposisi solar adalah konfigurasi dimana objek berada di sisi yang berlawanan dengan Matahari, sebagaimana ketika fase Bulan purnama. Konfigurasi ini membuat Makemake akan tampak lebih terang jika diamati dari Bumi karena berjarak lebih dekat dengan Bumi. Kecerlangan maksimumnya +17,15.

Meskipun demikian, Makemake cukup jauh dari Bumi sehingga hanya tampak seperti setitik bintang dan hanya dapat diamati menggunakan teleskop seperti Hubble. Ketampakan Makemake dimulai sejak pukul 20.30 waktu setempat dari arah timur laut, berkulminasi keesokan harinya (28 Maret) pada pukul 00.50 waktu setempat di arah utara dan terbenam pukul 05.00 waktu setempat di arah barat laut. Oposisi solar Makemake terjadi setiap 366-367 hari sekali.

 

  1. 28-29 Maret – Fase Bulan Purnama

Fase Bulan purnama, atau disebut juga fase oposisi solar Bulan, adalah konfigurasi ketika Bulan terletak membelakangi Matahari dan segaris dengan Bumi dan Matahari. Mengingat orbit Bulan yang membentuk sudut 5,1° terhadap ekliptika, Bulan tidak selalu memasuki bayangan Bumi ketika fase Bulan purnama, sehingga setiap fase Bulan purnama tidak selalu beriringan dengan gerhana Bulan.

Gambar 21. Fase Bulan Purnama 29 Maret 2021. Sumber: Live Star Chart by Alcyone Software

Fase Bulan purnama di Maret 2021 ini terjadi pada 29 Maret pukul 01.47.54 WIB / 02.47.54 WITA / 03.47.54 WIT dengan jarak 362.173 km dari Bumi (geosentrik) dan terletak di konstelasi Virgo. Secara tradisional, Bulan purnama di bulan Februari disebut juga Bulan Purnama Cacing (Full Worm Moon) karena di belahan utara Bumi, cacing muncul ke permukaan tanah ketika cuaca sudah menghangat pertanda berakhirnya musim dingin dan memasuki musim semi.

Bulan purnama dapat disaksikan pada malam sebelumnya (28 Maret) sekitar pukul 17.45 waktu setempat dari arah timur, kemudian berkulminasi keesokan harinya (29 Maret) sekitar tengah malam di sekitar zenit dan terbenam setelah Matahari terbit sekitar pukul 06.30 waktu setempat di arah barat.

 

  1. 30 Maret – Perige Bulan

Perige Bulan adalah konfigurasi ketika Bulan terletak paling dekat dengan Bumi. Hal ini disebabkan oleh orbit Bulan yang ­berbentuk elips dengan Bumi terletak di salah satu titik fokus orbit tersebut. Perige Bulan terjadi setiap rata-rata 27 1/3 hari dengan interval dua perige Bulan yang berdekatan bervariasi antara 24 5/8 –28½ hari.

Gambar 22. Perige Bulan 30 Maret 2021. Sumber: Live Star Chart by Alcyone Software

Perige Bulan di bulan Maret 2021 terjadi dua kali, yakni tanggal 2 Maret dan yang kedua pada tanggal 30 Maret pukul 13.23.33 WIB / 14.23.33 WITA / 15.23.33 WIT dengan jarak 360.294 km dari Bumi (geosentrik), iluminasi 96,8% dan berada di sekitar konstelasi Virgo.

Perige Bulan ini dapat disaksikan selama dua hari: sejak tanggal 29 Maret pukul 18.40 waktu setempat dari arah timur, berkulminasi di sekitar zenit keesokan harinya pukul 00.50 dan terbenam di arah barat sekitar pukul 07.00 waktu setempat; dan sejak tanggal 30 Maret pukul 19.30 waktu setempat dari arah timur, berkulminasi di arah selatan keesokan harinya pukul 01.45 waktu setempat dan terbenam di arah barat-barat daya sekitar pukul 08.00 waktu setempat.

Comments