Bersiaplah, Fenomena Astronomis Mei 2021!

Oleh Andi Pangerang
22 April 2021

Halo, Sahabat Edusainsa semua! Tidak terasa sebentar lagi kita akan memasuki bulan Mei. Fenomena astronomis apa sajakah yang akan terjadi di bulan Mei mendatang? Berikut ulasannya:

1 Mei – Konjungsi [Solar] Uranus

Gambar 1. Orbit Uranus Ketika Berkonjungsi dengan Matahari. Sumber: in-the-sky.org

 

Konjungsi [solar] Uranus merupakan konfigurasi ketika Uranus, Matahari dan Bumi berada pada satu garis lurus dan Jupiter terletak sejajar dengan Matahari. Puncak konjungsi Jupiter terjadi pada 1 Mei pukul 02.44 WIB / 03.44 WITA / 04.44 WIT. Uranus berjarak 20,76 au atau 3,1 milyar kilometer dari Matahari dan bermagnitudo 5,89. Konsekuensi dari fenomena ini adalah Uranus tidak akan tampak lagi di langit malam karena sejajar dengan Matahari. Sudut pisah Uranus-Matahari hanya sebesar 0,4°. Konjungsi Uranus terjadi setiap tahunnya. Jika Uranus dapat diamati, maka akan tampak lebih redup dan berukuran sangat kecil sekitar 3,4 detik busur. Hal ini disebabkan karena jarak Uranus terhadap Bumi akan lebih jauh ketika Uranus mengalami konjungsi dengan Matahari.

 

 3-6 Mei – Konjungsi Tripel Bulan-Jupiter-Saturnus

Gambar 2. Konjungsi Tripel Bulan-Jupiter-Saturnus 3-6 Mei 2021. Sumber: Stellarium PC 0.21.0

 

Bulan akan mengalami konjungsi tripel dengan Jupiter dan Saturnus selama empat hari sejak 3 hingga 6 Mei 2021. Fenomena ini dapat disaksikan sejak pukul 2.00 waktu setempat hingga berakhirnya fajar bahari (20-24 menit sebelum terbit Matahari) dari arah Timur-Tenggara. Kecerlangan Jupiter ketika konjungsi tripel bervariasi dari -2,21 hingga -2,23. Sedangkan kecerlangan Saturnus bervariasi antara 0,65 hingga 0,64. Sementara itu, Bulan akan bercahaya dengan iluminasi antara 60,9% hingga 29,8%. Konjungsi tripel ini akan terulang lagi pada 30 Mei-3 Juni mendatang.

 

4 Mei – Fase Bulan Perbani Akhir

Gambar 3. Kondisi Bulan pada Puncak Fase Perbani Akhir. Sumber. Stellarium 0.21.0

 

Fase perbani akhir adalah salah satu fase Bulan ketika konfigurasi antara Matahari, Bumi dan Bulan membentuk sudut siku-siku (90°) dan terjadi setelah fase Bulan purnama. Puncak fase perbani akhir terjadi pada pukul 02.50.06 WIB / 03.50.06 WITA / 04.50.06. Sehingga, Bulan perbani akhir ini dapat disaksikan ketika terbit sekitar tengah malam dari arah timur-tenggara, berkulminasi di arah selatan setelah terbit Matahari dan kemudian terbenam di arah barat-barat daya setelah tengah hari. Bulan berjarak 383.017 km dari Bumi dan berada di sekitar konstelasi Capricornus.

 

6 Mei – Puncak Hujan Meteor Eta Aquarid

Gambar 4. Puncak Hujan Meteor Eta Aquarid. Sumber: Stellarium PC 0.21.0

 

Hujan Meteor Eta Aquarid aktif sejak 19 April hingga 28 Mei dan puncak aktivitasnya terjadi pada 6 Mei pukul 09.00 WIB / 10.00 WITA / 11.00 WIT. Hujan meteor ini dinamai berdasarkan titik radian (titik asal munculnya hujan meteor) yang terletak di konstelasi Aquarius. Hujan meteor Eta Aquarid berasal dari sisa debu komet Halley yang mengorbit Matahari setiap 76 tahun sekali. Selain Eta Aquarid, hujan meteor Orionid yang terjadi pada bulan Oktober juga berasal dari sisa debu komet Halley. Hujan meteor ini merupakan salah satu diantara beberapa hujan meteor lain yang dinantikan setiap tahun, selain Leonid, Geminid, Lyrid dan Perseid.

Hujan Meteor Orionid dapat disaksikan di seluruh Indonesia dengan intensitas antara 33-34 meteor per jam mulai pukul 01.30 waktu setempat hingga fajar bahari dari arah timur dan ketinggian titik radian ketika akhir fajar bahari bervariasi antara 55° hingga 60°.

 

12 Mei – Konjungsi Tripel Aldebaran-Merkurius-Venus

Gambar 5. Konjungsi Tripel Aldebaran-Merkurius-Venus. Sumber: Stellarium 0.21.0

 

Aldebaran (Alfa Tauri, Paricilium) merupakan bintang di konstelasi Taurus yang paling terang di antara bintang penyusun konstelasi Taurus lainnya. Aldebaran akan mengalami konjungsi tripel dengan Merkurius dan Venus pada 12 Mei dan dapat diamati sejak awal senja bahari setelah Matahari terbenam. Konjungsi tripel ini akan membentuk segitiga berukuran 5° dan dapat diamati dari arah Barat-Barat Laut ketika Bulan sabit muda (hilal) mulai terbenam.

Kecerlangan Aldebaran ketika konjungsi tripel sebesar +0,85. Sedangkan kecerlangan Merkurius dan Venus berturut-turut sebesar -0,04 dan -3,90. Konjungsi Tripel ini akan terulang kembali pada 16-19 Mei mendatang.

12 Mei – Fase Bulan Baru Mikro (Micro New Moon)

Gambar 6. Fase Bulan Baru Mikro 12 Mei 2021. Sumber: Stellarium PC 0.21.0

 

Bulan Baru Mikro adalah fase Bulan Baru yang waktu kejadiannya berdekatan dengan Apoge Bulan. Bulan Baru kali ini terjadi pada pukul 01.59.01 WIB sedangkan Perigee Bulan terjadi tiga jam setelahnya yakni pada pukul 05.09.09 WIB. Jarak geosentrik Bulan ketika fase Bulan Baru adalah 406.507 km dengan diameter sudut menit 29,39 menit busur. Sementara, jarak geosentrik Bulan ketika Perigee adalah 406.512 km dengan diameter sudut 29,39 menit busur.

Ketika tengah malam, Sahabat dapat menyaksikan Jupiter dan Saturnus berada di arah Timur-Tenggara dan terpisah sejauh 16,34°. Sementara itu, ketika senja, Merkurius dan Venus berada di arah Barat-Barat Laut bersama Aldebaran di ufuk rendah. Sedangkan Mars berada di arah Barat Laut dengan ketinggian 25° dekat konstelasi Gemini dan terbenam sekitar pukul 21.00 waktu setempat.

Bulan Baru Mikro adalah fenomena tahunan, terakhir terjadi pada tanggal 24 Maret 2020, dan akan terjadi kembali pada 29 Juni 2022.

 

13-14 Mei – Konjungsi Kuartet Aldebaran-Merkurius-Venus-Bulan


Gambar 7. Konjungsi Kuartet Aldebaran-Merkurius-Venus-Bulan 13-14 Mei 2021.
Sumber: Stellarium PC 0.21.0

 

Empat benda langit: Aldebaran, Merkurius, Venus dan Bulan akan mengalami konjungsi kuartet pada 13 dan 14 Mei 2021. Fenomena ini dapat disaksikan ketika awal senja bahari dari arah Barat-Barat Laut. Bulan sabit berumur 1,5 hari berada di dalam segitiga Aldebaran-Merkurius-Venus pada 13 Mei, sedangkan keesokan harinya Bulan telah meninggi dan berada di luar segitiga Aldebaran-Merkurius-Venus.

Kecerlangan Aldebaran dan Venus masing-masing sebesar +0,85 dan -3,90. Sedangkan kecerlangan Merkurius bervariasi antara +0,05 hingga +0,14. Sementara itu, Bulan akan bercahaya dengan iluminasi antara 2,2% hingga 5,9%.

 

15 Mei – Parade Langit (Aldebaran-Venus-Merkurius-Bulan-Mars-Pollux Segaris)

Gambar 8. Parade Langit 15 Mei 2021. Sumber: Stellarium PC 0.21.0

 

Pertengahan Mei kali ini menjadi momen yang dinantikan karena beberapa benda langit akan tampak segaris dan membentang dari arah Barat-Barat Laut hingga ke arah Barat Laut ketika akhir senja bahari. Fenomena ini disebut juga sebagai “Parade Langit”. Benda-benda langit yang akan memeriahkan parade langit kali ini antara lain: Aldebaran (kecerlangan +0,85); Venus (kecerlangan -3,90); Merkurius (kecerlangan +0,24); Elnath (kecerlangan +1,65); Bulan (iluminasi 11,3%); Mars (kecerlangan +1,59); Pollux/Hercules (kecerlangan +1,15) dan Castor/Apollo (kecerlangan +1,90).

 

16 Mei – Konjungsi Mars-Bulan


Gambar 9. Konjungsi Mars-Bulan 16 Mei 2021. Sumber: Stellarium PC 0.21.0

 

Puncak konjungsi Bulan-Mars pada pukul 09.13 WIB / 10.13 WITA / 11.13 WIT dengan sudut pisah 1,67°. Akan tetapi, baru dapat diamati ketika awal senja bahari dari arah Barat Laut dengan sudut pisah 2,89°. Keduanya akan berada di atas ufuk selama 3 jam sebelum akhirnya terbenam di arah Barat-Barat Laut dengan sudut pisah 3,69°. Konjungsi Bulan-Mars telah terjadi pada 20 Maret 2021 dan 17 April 2021 (sebagai okultasi Mars oleh Bulan) dan akan terjadi kembali pada 14 Juni dan 12 Juli 2021 mendatang.

 

16-19 Mei – Konjungsi Tripel Aldebaran-Merkurius-Venus


Gambar 10. Konjungsi Tripel Aldebaran-Merkurius-Venus 16-19 Mei 2021. Sumber: Stellarium PC 0.21.0

 

Setelah mengalami konjungsi tripel pada 12 Mei, konjungsi kuartet Bersama Bulan pada 13 dan 14 Mei, serta parade langit pada 15 Mei, Aldebaran kembali mengalami konjungsi tripel dengan Merkurius selama empat hari sejak 16 hingga 19 Mei 2021. Fenomena ini dapat disaksikan ketika awal senja bahari di arah Barat-Barat Laut. Kecerlangan Aldebaran dan Venus masing-masing besar +0,85 dan -3,90. Sedangkan kecerlangan Merkurius bervariasi antara +0,33 hingga +0,63.

Sudut pisah Aldebaran-Venus mula-mula 5,84° dan mencapai minimum pada 17 Mei sebesar 5,80° kemudian membesar menjadi 6,44° pada 19 Mei. Sedangkan sudut pisah Merkurius-Venus semakin mengecil mulai 8,86° hingga 7,88°.

 

17 Mei – Konjungsi Bulan-Pollux


Gambar 11. Konjungsi Bulan-Pollux 17 Mei 2021. Sumber: Stellarium PC 0.21.0

 

Bulan akan mengalami konjungsi dengan Pollux, bintang utama di konstelasi Gemini, pada pukul 07.32 WIB dengan sudut pisah 3,17°. Akan tetapi, fenomena ini baru dapat disaksikan ketika awal senja bahari (ketinggian Matahari –6°) dari arah barat laut dengan sudut pisah 5,46°. Bulan berada pada fase sabit awal dengan iluminasi 26,4% sementara Pollux memiliki kecerlangan +1,15. Kejadian ini terakhir terjadi pada 23 Maret dan 20 April, serta akan kembali terjadi pada 13 Juni dan 7 Agustus.

 

17 Mei – Elongasi Timur Maksimum Merkurius


Gambar 12. Elongasi Timur Maksimum Merkurius. Sumber: Live Star Chart by Alcyone Software

 

Elongasi timur maksimum Merkurius adalah konfigurasi Matahari, Bumi dan Merkurius ketika sudut elongasi Merkurius bernilai maksimum dan mengarah ke timur. Elongasi maksimum pada Merkurius dapat bernilai antara 18°–28°, hal ini disebabkan oleh orbit Merkurius paling lonjong dibandingkan dengan planet lainnya, dan jarak perihelion hanya 52% dari jarak aphelionnya.  Elongasi timur maksimum Merkurius dapat beriringan antara 1-4 hari dengan terjadinya fase dikotomi (perbani / kuadratur Merkurius), yakni ketika konfigurasi Matahari, Merkurius dan Bumi membentuk sudut siku-siku (90°)

Elongasi timur maksimum kali ini terjadi pada 17 Mei pukul 12.46 WIB / 13.46 WITA / 14.46 WIT dengan elongasi maksimum sebesar 22°01’; magnitudo +0,5 dan berjarak 0,834 sa atau 124,8 juta kilometer dari Bumi. Fenomena ini dapat disaksikan setelah terbenam Matahari dari arah barat-barat laut dengan ketinggian Merkurius bervariasi di Indonesia antara 18,3°–20,6°. Elongasi timur maksimum Merkurius rata-rata terjadi setiap empat bulan sekali, terakhir kali terjadi pada 24 Januari silam dan akan kembali terjadi pada 5 Juli dan 14 September mendatang.

 

19 Mei – Fase Perbani Awal


Gambar 13. Fase Perbani Awal 19 Mei 2021. Sumber: Stellarium PC 0.21.0

 

Fase perbani awal adalah salah satu fase Bulan ketika konfigurasi antara Matahari, Bumi dan Bulan membentuk sudut siku-siku (90°) dan terjadi sebelum fase Bulan purnama. Puncak fase perbani akhir terjadi pada 20 Mei pukul 02.12.31 WIB / 03.12.31 WITA / 04.12.31 WIT. Sehingga, Bulan perbani awal ini baru dapat disaksikan ketika terbit pada tanggal 19 Mei setelah tengah hari dari arah timur-timur laut, berkulminasi di arah utara setelah terbenam Matahari dan kemudian terbenam di arah barat-barat laut setelah tengah malam. Bulan berjarak 383.721 km dari Bumi (geosentrik) ketika puncak fase perbani awal dan berada di sekitar konstelasi Leo.

 

20 Mei-3 Juni – Konjungsi Merkurius-Venus


Gambar 14. Konjungsi Merkurius-Venus 20 Mei-3 Juni 2021. Sumber: Stellarium PC 0.21.0

 

Merkurius akan mengalami konjungsi dengan Venus selama dua pekan sejak tanggal 20 Mei dan berakhir pada 3 Juni. Sudut pisah Merkurius-Venus awalnya sebesar 7,41° kemudian mengecil hingga mencapai 0,55° ketika puncak konjungsi (29 April senja hari) dan keesokan harinya, sudut pisah Merkurius-Venus membesar hingga 7,40°.


Gambar 14.b. Orbit Merkurius dan Venus ketika Puncak Konjungsi Merkurius-Venus. Sumber: in-the-sky.org

 

Fenomena ini dapat disaksikan dari arah Barat-Barat Laut ketika pertengahan fajar bahari (ketinggian Matahari -9°). Magnitudo Merkurius bervariasi antara +0,74 hingga +3,69 sedangkan magnitude Venus sedikit bervariasi antara -3,90 hingga -3,89. Dikarenakan Merkurius cukup redup saat di ufuk rendah, disarankan dapat mengamati Merkurius menggunakan alat bantu seperti binokuler.

 

23 Mei – Retrograd Saturnus


Gambar 15. Lintasan Saturnus ketika Retrograd 23 Mei 2021. Sumber: in-the-sky.org

 

Retrograd adalah gerak semu planet yang tampak berlawanan arah (dari Timur ke Barat) dibandingkan dengan gerak normalnya (dari Barat ke Timur) jika diamati dari Bumi. Retrograd Saturnus dimulai pada 23 Mei pukul 16.27 WIB / 17.27 WITA / 18.27 WIT, puncaknya adalah ketika oposisi di tanggal 2 Agustus dan berakhir pada 11 Oktober pukul 09.38 WIB / 10.38 WITA / 11.38 WIT. Sehingga, retrograd Saturnus kali ini berdurasi selama 141 hari. Retrograd Saturnus kali ini terletak di konstelasi Capricornus. Retrograd Saturnus selalu terjadi setiap tahun dengan selang waktu 377 hari. Retrograd Saturnus sebelumnya telah terjadi pada 11 Mei 2020 (141 hari) dan akan terjadi kembali pada 5 Juni 2022 (140 hari).   

 

26 Mei – Gerhana Bulan Total Perige (Super Blood Moon)


Gambar 16. Gerhana Bulan Total Perige 26 Mei 2021. Sumber: Linspektor 1.14.0.0

 

Setelah gerhana Bulan total terjadi pada 2019 silam dan tidak terjadi sepanjang 2020, di tahun 2021 ini Bulan akan mengalami gerhana Bulan total. Gerhana ini terjadi akibat konfigurasi Bulan, Bumi dan Matahari yang membentuk satu garis lurus dan Bulan berada di sekitar simpul orbitnya (perpotongan antara orbit Bulan dengan ekliptika) sehingga Bulan memasuki bayangan umbra Bumi.

Gerhana ini akan berlangsung dengan durasi parsialitas selama 3 jam 8 menit 12 detik dan durasi totalitas yang cukup singkat, yakni selama 18 menit 28 detik. Puncak gerhana akan terjadi pada pukul 18.18.43 WIB / 19.18.43 WITA / 20.18.43 WIT (delta T = 69 detik) dengan magnitudo umbra 1,0153 dan magnitude penumbra 1,9787. Gerhana kali ini dapat disaksikan ketika Bulan terbit dari arah Timur-Tenggara hingga Tenggara dekat konstelasi Scorpius.

Gambar 16.b. Peta Ketampakan Gerhana Bulan Total Perige 26 Mei 2021. Dokumentasi Pribadi

 

Bagi Propinsi Papua, akan mengalami seluruh fase gerhana sejak P1 (awal penumbra) hingga P4 (akhir penumbra). Sedangkan bagi Propinsi Maluku Utara, Maluku, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo bagian Timur, Sulawesi Tengah bagian Timur, Kepulauan Selayar dan Sulawesi Tenggara hanya dapat menyaksikan fase U1 (awal sebagian) hingga P4. Sementara itu, Propinsi Aceh, Pulau Nias bagian Utara dan sebagian kecil Sumatera Utara bagian Barat hanya bisa menyaksikan fase P3 (akhir sebagian) hingga P4. Sebagian besar Sumatera Utara termasuk Pulau Nias bagian Selatan dan Kepulauan Batu, Sumatera Barat dan Riau bagian Barat hanya bisa menyaksikan fase U3 (akhir total) hinggga P4 dikarenakan Bulan sudah mengalami gerhana total ketika terbit. Selebihnya, wilayah dari Riau bagian Timur hingga Lampung dan Kepulauan Riau, pulau Jawa, pulau Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Gorontalo bagian Barat hingga Sulawesi Selatan dapat menyaksikan fase U2 (awal total) hingga P4 dikarenakan Bulan sudah mengalami gerhana sebagian ketika terbit

 

27 Mei – Fase Bulan Purnama dekat Antares


Gambar 17. Konjungsi Bulan Purnama dengan Antares 27 Mei 2021. Sumber: Stellarium PC 0.21.0

 

Setelah Bulan mengalami gerhana ketika terbit, Bulan akan berkonjungsi dengan Antares yang puncaknya terjadi pada 27 Mei pukul 02.53.03 WIB / 03.53.03 WITA / 04.53.03 WIT. Fenomena ini dapat disaksikan dari arah Barat-Barat Daya sekitar ketinggian 49,6° hingga 14,6° hingga Bulan terbenam menjelang Matahari Terbit. Kecerlangan Antares sebesar +1,05 sedangkan kecerlangan Bulan maksimum mencapai -13,12 atau 42% lebih terang dibandingkan dengan rata-rata. Hal ini dikarenakan Bulan berada di titik terdekat Bumi pada pukul 08.57.46 WIB / 09.57.46 WITA / 10.57.46 WIT.

 

27 Mei – Matahari di Atas Ka’bah


Gambar 18. Matahari di Atas Ka’bah. Dokumentasi Pribadi

 

Fenomena ini disebut juga Istiwa'ul A'zham (Great Culmination). Fenomena ini terjadi ketika deklinasi Matahari bernilai sama dengan lintang geografis Ka'bah, sehingga ketika tengah hari, Matahari tepat berada di atas Ka'bah. Sehingga setiap bayangan yang terbentuk pada saat tersebut akan mengarah ke Ka’bah. Dapat digunakan untuk mengecek arah kiblat di Indonesia (kecuali Sebagian Propinsi Maluku mulai dari Kabupaten Maluku Tengah, Kabupaten Seram Bagian Timur, Kabupaten Kep. Tanimbar, Kabupaten Kep. Kei), Kota Tual, Kabupaten Maluku Barat Daya (minus Pulau Wetar) dan Kabupaten Kep. Aru, ditambah dengan Propinsi Papua Barat serta Propinsi Papua). Puncak fenomena ini terjadi pada pukul 16.17.52 WIB / 17.17.52 WITA / 18.17.52 WIT. Terlebih dahulu, kalibrasikan jam menggunakan jam.bmkg.go.id. Gunakan tongkat atau bandul untuk menandai bayangan, pastikan tegak lurus, dan amati bayangan pada jam yang telah ditentukan.

 

 30 Mei – Retrograd Merkurius


Gambar 19. Lintasan Merkurius ketika Retrograd 30 Mei 2021. Sumber: in-the-sky.org

 

Retrograd adalah gerak semu planet yang tampak berlawanan arah (dari Timur ke Barat) dibandingkan dengan gerak normalnya (dari Barat ke Timur) jika diamati dari Bumi. Retrograd Merkurius dimulai pada 30 Mei pukul 05.45 WIB / 06.45 WITA / 07.45 WIT, puncaknya adalah ketika konjugsi inferior di tanggal 11 Juni dan berakhir pada 23 Juni pukul 01.45 WIB / 06.15 WITA / 07.15 WIT. Sehingga, retrograd Merkurius kali ini berdurasi selama 24 hari. Retrograd Merkurius kali ini terletak di konstelasi Taurus. Dalam satu tahun, dapat terjadi tiga kali retrograd Merkurius. Retrograd Merkurius sebelumnya telah terjadi pada 30 Januari (21 hari) dan akan terjadi kembali pada 27 September (21 hari).   

 

30 Mei-3 Juni – Konjungsi Tripel Bulan-Jupiter-Saturnus


Gambar 20. Konjungsi Tripel Bulan-Jupiter-Saturnus 30 Mei-3 Juni 2021. Sumber: Stellarium PC 0.21.0

 

Setelah Bulan mengalami konjungsi tripel dengan Jupiter dan Saturnus pada 3-6 Mei silam, Bulan akan kembali mengalami konjungsi tripel dengan Jupiter dan Saturnus selama lima hari sejak 30 Mei hingga 3 Juni. Fenomena ini dapat disaksikan setelah tengah malam waktu setempat hingga berakhirnya fajar bahari (20-24 menit sebelum terbit Matahari) dari arah Timur-Tenggara. Kecerlangan Jupiter ketika konjungsi tripel bervariasi dari -2,39 hingga -2,42. Sedangkan kecerlangan Saturnus bervariasi antara +0,55 hingga +0,53. Sementara itu, Bulan akan bercahaya dengan iluminasi antara 85,0% hingga 45,3%. Fenomena ini akan terjadi kembali pada 27-30 Juni mendatang.

Comments