Bersiaplah! Fenomena Astronomis November 2021 - Bagian Kedua

Oleh Andi Pangerang – Pusrissa OR-PA BRIN
28 Oktober 2021

Halo, Sobat Antariksa semua. Dua bulan lagi, tahun 2021 akan segera berakhir. Fenomena astronomis apa sajakah yang akan terjadi pada bulan November mendatang? Berikut ulasannya:

(sambungan dari bagian pertama)

Pekan Ketiga:

18-19 November – Puncak Hujan Meteor Leonid

Leonid adalah hujan meteor yang titik radiantnya (titik asal munculnya meteor)-nya berada di konstelasi Leo. Hujan meteor ini aktif sejak 6 November hingga 30 November dan intensitas maksimumnya terjadi pada 19 November pukul 04.15 WIB / 05.15 WITA / 06.15 WIT. Leonid berasal dari sisa debu komet 55P/Temple-Tuttle yang mengorbit Matahari dengan periode 33,3 tahun dan merupakan salah satu di antara beberapa hujan meteor lain yang dinantikan setiap tahun, selain Geminid, Lyrid, Perseid dan Orionid.

 


Gambar 1. Puncak Hujan Meteor Leonid 18-19 November 2021. Sumber: Stellarium PC 0.21.2

 

Leonid dapat disaksikan sejak pukul 00.30 waktu setempat hingga akhir fajar bahari (25 menit sebelum terbit Matahari) dari arah timur-timur laut hingga utara-timur laut. Intensitas maksimum hujan meteor ini berkisar 11-14 meteor per jam untuk wilayah Indonesia dikarenakan ketinggian titik radian saat transit bervariasi mulai 52°-69°. Pastikan medan pandang bebas dari penghalang, polusi cahaya dan awan saat mengamati hujan meteor ini. Tidak perlu menggunakan alat bantu apapun kecuali jika ingin merekamnya, dapat menggunakan kamera all-sky dengan medan pandang 360° yang diarahkan ke zenit. Leonid akan terganggu oleh intensitas cahaya Bulan hampir purnama (iluminasi 99,6%-99,7%) di sepanjang pengamatannya sehingga intensitas Leonid akan berkurang dari intensitas maksimumnya.

19 November – Gerhana Bulan Sebagian

Sebagian wilayah Indonesia akan mengalami gerhana Bulan sebagian yang puncaknya akan terjadi pada pukul 16.02.56 WIB / 17.02.56 WITA / 18.02.56 WIT. Puncak gerhana terjadi beberapa menit setelah puncak fase Purnama yang terjadi pada pukul 15.57.30 WIB / 16.57.30 WITA / 18.57.30 WIT. Magnitudo gerhana kali ini sebesar 0,9785 atau han 97,85% diameter Bulan tertutup piringan umbra Bumi. Fase gerhana penumbra dimulai pada pukul 13.00.23 WIB / 14.00.23 WITA / 15.00.23 WIT, kemudian fase gerhana sebagian dimulai pada pukul 14.18.24 WIB / 15.18.24 WITA / 16.18.24 WIT. Fase gerhana sebagian berakhir pada pukul 17.47.26 WIB / 18.47.26 WITA / 19.47.26 WIT sedangkan fase gerhana penumbra berakhir pada pukul 19.05.31 WIB / 20.05.31 WITA / 21.05.31 WIT. Sehingga, durasi parsialitas gerhana kali ini selama 3 jam 29 menit 2 detik. Sedangkan durasi penumbralitas gerhana selama 6 jam 5 menit 8 detik.

 

Gambar 2. Peta Visibilitas Gerhana Bulan Sebagian 19 November 2021. Dokumentasi Pribadi dan Linspektor 1.13

 

Fase puncak gerhana hingga akhir penumbra dialami oleh provinsi Papua Barat (kecuali Kab. Raja Ampat), provinsi Papua, dan sebagian provinsi Maluku (Kep. Kei dan Kep. Aru). Fase akhir sebagian hingga akhir penumbra dialami oleh sebagian provinsi Papua Barat (Kab. Raja Ampat), provinsi Maluku Utara, sebagian provinsi Maluku (kecuali Kep. Kai dan Kep. Aru), seluruh Sulawesi, Nusa Tenggara, Kalimantan, Bali, provinsi Jawa Timur, provinsi Jawa Tengah, provinsi DIY, sebagian provinsi Jawa Barat (kecuali Kota Bekasi, Kab. Bekasi, Kota Depok, Kota Bogor, Kab. Bogor, Kota Sukabumi, Kab. Sukabumi, Kab. Cianjur, Kota Bandung, Kota Cimahi dan Kab. Bandung Barat), sebagian provinsi Kep. Riau (Kab. Kep. Anambas dan Kab. Kep. Natuna) serta sebagian provinsi Bangka Belitung (kecuali kab. Bangka Barat). Sedangkan fase akhir penumbra saja dialami oleh seluruh Sumatera, sebagian provinsi Kep. Riau (kec. Kab. Kep. Anambas dan Kab. Kep. Natuna), sebagian provinsi Bangka Belitung (kab. Bangka Barat), provinsi Banten, provinsi DKI Jakarta dan sebagian provinsi Jawa Barat (Kota Bekasi, Kab. Bekasi, Kota Depok, Kota Bogor, Kab. Bogor, Kota Sukabumi, Kab. Sukabumi, Kab. Cianjur, Kota Bandung, Kota Cimahi dan Kab. Bandung Barat).

Gerhana Bulan Sebagian pernah terjadi pada 4 Juni 2012, 8 Agustus 2017 dan 17 Juli 2019. Gerhana Bulan Sebagian berikutnya akan terjadi kembali pada 29 Oktober 2023, 7 Juli 2028 dan 16 Juni 2030 mendatang.

19-20 November –  Fase Bulan Purnama dekat Simpul Menaik dan Gugus Pleiades

Setelah Bulan mengalami gerhana sebagian di awal senja, Bulan berkonjungsi dengan Gugus Pleiades (Messier 44) pada pukul 19.21 WIB / 20.21 WITA / 21.21 WIT dengan sudut pisah 4,5° dan kemudian berada di dekat Simpul Menaik keesokan harinya (20 November) pukul 00.59.06 WIB / 01.59.06 WITA / 02.59.06 WIT pada jarak 405.665 km dari Bumi. Simpul menaik adalah perpotongan antara orbit Bulan dengan ekliptika yang mana Bulan bergerak menuju ke utara ekliptika. Fenomena ini dapat disaksikan dari arah timur-timur laut hingga barat-barat laut ketika Bulan terbenam setelah Matahari terbit. Gugus Pleiades bermagnitudo +1,20 dan magnitudo Bulan saat purnama sebesar −12,83 hingga −12,58.


Gambar 3. Fase Bulan Purnama dekat Simpul Menaik dan Gugus Pleiades. Dokumentasi Pribadi

 

20-21 November – Apoge Bulan

Apoge Bulan adalah konfigurasi ketika Bulan terletak paling jauh dengan Bumi. Hal ini disebabkan oleh orbit Bulan yang berbentuk elips dengan Bumi terletak di salah satu titik fokus orbit tersebut. Perige Bulan terjadi setiap rata-rata 27,32 hari dengan interval dua apoge Bulan yang berdekatan bervariasi antara 26,98–27,90 hari. Rentang yang lebih sempit dibandingkan dengan perige disebabkan karena Bulan juga bersama-sama dengan Bumi mengelilingi Matahari. Sehingga, Bulan akan mengalami perturbasi lebih besar dengan Matahari ketika perige jika dibandingkan dengan ketika apoge.

Gambar 4. Apoge Bulan 20-21 November 2021. Sumber: Live Star Chart by Alcyone Software

 

Apoge Bulan kali ini terjadi tanggal 21 November 2021 pukul 08.57.28 WIB / 09.57.28 WITA / 10.57.28 WIT. Oleh sebab itu, apoge Bulan ini sudah dapat disaksikan pada malam sebelumnya (20 November) sejak pertengahan senja astronomis (satu jam setelah Matahari terbenam) dari arah Timur-Timur laut, transit di arah Utara pukul 01.00 waktu setempat dan kemudian terbenam pada arah Barat-Barat laut satu jam setelah Matahari terbit. Bulan berjarak 406.266 km dari Bumi (geosentrik) dengan iluminasi 97,4% (Bulan susut/benjol akhir) ketika apoge dan berada di Taurus.

21-22 November – Puncak Hujan Meteor Alfa Monocerotid

Alfa Monocerotid adalah hujan meteor yang titik radian (titik asal munculnya meteor)-nya berada di dekat bintang Alfa Monocerotis. Hujan meteor ini aktif sejak 15 November hingga 25 November dan intensitas maksimumnya terjadi pada 22 November pukul 02.30 WIB / 03.30 WITA / 04.30 WIT. Alfa Monocerotid berasal dari sisa debu komet C/1917 F1 (Mellish).

 

Gambar 5. Puncak Hujan Meteor Alfa Monocerotid 21-22 November 2021. Sumber: Stellarium PC 0.21.2

Alfa Monocerotid dapat disaksikan sejak pukul 21.30 waktu setempat pada malam sebelumnya (21 November) hingga akhir fajar bahari (25 menit sebelum terbit Matahari) keesokan harinya (22 November) dari arah timur hingga barat-barat laut. Intensitas maksimum hujan meteor ini berkisar 4-5 meteor per jam untuk wilayah Indonesia dikarenakan ketinggian titik radian saat transit bervariasi mulai 78°-90°. Pastikan medan pandang bebas dari penghalang, polusi cahaya dan awan saat mengamati hujan meteor ini. Tidak perlu menggunakan alat bantu apapun kecuali jika ingin merekamnya, dapat menggunakan kamera all-sky dengan medan pandang 360° yang diarahkan ke zenit. Alfa Monocerotid akan terganggu oleh intensitas cahaya Bulan Susut (Benjol Akhir) di sepanjang pengamatannya sehingga intensitas Leonid akan berkurang dari intensitas maksimumnya.

Pekan Keempat:

23-24 November – Konjungsi Bulan-Pollux

Pollux merupakan bintang utama di konstelasi Gemini. Bintang ini berkonjungsi dengan Bulan, dengan puncaknya terjadi pada 24 November 2021 pukul 10.22 WIB / 11.22 WITA / 12.22 WIT dengan sudut pisah 2,5°. Akan tetapi, fenomena ini sudah dapat disaksikan sejak pukul 21.30 malam sebelumnya (23 November) hingga akhir fajar bahari (25 menit sebelum terbit Matahari) dari arah timur-timur laut hingga barat laut dengan sudut pisah antara 5,9°-3,7°. Bulan berfase Benjol Akhir (Bulan Susut) dengan iluminasi 84,3%-83,0% sedangkan Pollux bermagnitudo +1,15.

Gambar 6. Konjungsi Bulan-Pollux 23-24 November 2021. Sumber: Stellarium PC 0.21.2

 

27-28 November – Fase Bulan Perbani Akhir

Fase perbani akhir adalah salah satu fase Bulan ketika konfigurasi antara Matahari, Bumi dan Bulan membentuk sudut siku-siku (90°) dan terjadi setelah fase Bulan purnama. Puncak fase perbani akhir terjadi pada 27 November 2021 pukul 19.27.35 WIB / 20.27.35 WITA / 21.27.35 WIT. Sehingga, Bulan perbani akhir ini sudah dapat disaksikan sejak terbit saat tengah malam dari arah timur-timur laut, transit di arah utara saat terbit Matahari dan kemudian terbenam di arah barat-barat laut saat tengah hari. Dikarenakan puncak fase Perbani Akhir terjadi setelah antitransit (saat Bulan berada di ketinggian minimumnya), maka Bulan dapat disaksikan juga keesokan harinya (28 November) satu jam setelah tengah malam dari arah timur, transit di arah utara satu jam setelah terbit Matahari dan kemudian terbenam di arah barat-barat laut satu jam setelah tengah hari. Bulan berjarak 388.355 km dari Bumi (geosentrik) dan berada di sekitar konstelasi Leo.

Gambar 7. Fase Bulan Perbani Akhir 27-28 November 2021. Sumber: Live Star Chart by Alcyone Software

 

28-29 November – Puncak Hujan Meteor Orionid November

Orionid November adalah hujan meteor yang titik radian (titik asal munculnya meteor)-nya berada di konstelasi Orion. Perbedaan dengan Orionid di bulan Oktober adalah Orionid November merupakan hujan meteor minor dikarenakan intensitas maksimumnya saat di zenit hanya 3 meteor per jam. Sumber hujan meteor ini juga belum diketahui dengan pasti. Sedangkan Orionid bersumber dari komet Halley, termasuk ke dalam hujan meteor utama dan intensitas maksimumnya mencapai 15 meteor per jam.  Hujan meteor ini aktif sejak 14 November hingga 6 Desember dan intensitas maksimumnya terjadi pada 28 November pukul 22.30 WIB / 23.30 WITA / 00.30 WIT.

Gambar 8. Puncak Hujan Meteor Orionid November 28-29 November 2021. Sumber: Stellarium PC 0.21.2

 

Orionid November dapat disaksikan sejak pukul 19.30 waktu setempat pada malam sebelumnya (28 November) hingga akhir fajar bahari (25 menit sebelum terbit Matahari) keesokan harinya (29 November) dari arah timur-timur laut hingga barat-barat laut. Intensitas maksimum hujan meteor ini berkisar 2-3 meteor per jam untuk wilayah Indonesia dikarenakan ketinggian titik radian saat transit bervariasi mulai 63°-80°. Pastikan medan pandang bebas dari penghalang, polusi cahaya dan awan saat mengamati hujan meteor ini. Tidak perlu menggunakan alat bantu apapun kecuali jika Anda ingin merekamnya, kamera all-sky dengan medan pandang 360° yang diarahkan ke zenit dapat juga digunakan. Orionid November akan terganggu oleh intensitas cahaya Bulan Sabit Akhir sejak pukul 01.00 waktu setempat hingga akhir fajar bahari, sehingga intensitas Orionid November akan berkurang dari intensitas maksimumnya.

29 November – Konjungsi Superior Merkurius

Konjungsi superior adalah konfigurasi yang berlaku khusus pada Merkurius dan Venus, yakni ketika Merkurius, Matahari dan Bumi terletak pada satu garis lurus dan Merkurius membelakangi Matahari. Konjungsi superior ini menandai pergantian ketampakan Merkurius yang semula ketika fajar menjadi senja. Fenomena ini terjadi pada pukul 12.05 WIB / 13.05 WITA / 14.05 WIT.

Fase Merkurius ketika konjungsi superior sama dengan fase purnama pada Bulan maupun oposisi pada planet luar (Mars hingga Neptunus). Bagian permukaan Merkurius yang menghadap Bumi tersinari seluruhnya oleh Matahari. Akan tetapi, karena Merkurius membelakangi Matahari, Merkurius akan tampak berdekatan dengan Matahari dan jarak Merkurius terhadap Bumi menjadi sangat jauh, sehingga Merkurius akan tampak berukuran lebih kecil dan cukup sulit diamati.


Gambar 9. Konjungsi Superior Merkurius 29 November 2021. Sumber: Live Star Chart by Alcyone Software

 

Jarak Merkurius ke Bumi mencapai 1,451 sa atau 217 juta kilometer dengan magnitudo tampak –1,2 dan diameter sudut 4,60 detik busur. Sudut pisah Merkurius-Matahari sebesar 0,72°. Konjungsi superior Merkurius sebelumnya terjadi pada 19 April dan 1 Agustus 2021. Sedangkan, konjungsi superior berikutnya akan terjadi pada 3 April, 17 Juli dan 8 November 2022.

29 November – Nadir Ka’bah (Ketika Matahari Tepat di Bawah Ka’bah)

Nadir Ka’bah adalah fenomena astronomis ketika Matahari berada tepat di nadir (titik terbawah) saat tengah malam bagi pengamat yang berlokasi di Ka’bah.  Karena bentuk Bumi yang bulat, maka Matahari akan berada tepat di atas titik antipode Ka’bah (titik yang terletak di belahan Bumi yang berlawanan terhadap Ka’bah) ketika tengah hari. Sehingga, ujung bayangan Matahari yang mengalami pagi, siang dan sore akan mengarah ke kiblat.

Gambar 11. Ilustrasi Bayangan Matahari Ketika Nadir Ka’bah. Dokumentasi Pribadi.

 

Fenomena ini berlangsung dua kali dalam setahun. Untuk tahun 2021 ini sudah terjadi pada 13 Januari pukul 00.29 Waktu Arab Saudi (06.29 WIT) dan akan terjadi kembali pada 29 November pukul 00.09 Waktu Arab Saudi (06.09 WIT). Penggunaan Nadir Ka’bah dalam meluruskan arah kiblat hanya dapat digunakan bagi wilayah ketika Matahari berada di atas ufuk: Propinsi Maluku (kecuali Pulau Buru), Propinsi Papua Barat, Propinsi Papua, Timor Leste (kecuali distrik Oecussi), Papua Nugini, Selandia Baru, sebagian besar Australia, negara-negara di Oseania, Amerika Serikat, sebagian besar Kanada, Amerika Tengah dan Amerika Selatan.

Gambar 12. Nadir Ka’bah (Ketika Matahari Tepat di Bawah Ka’bah) 29 November 2021.
Sumber: https://www.timeanddate.com/worldclock/sunearth.html

 

Pastikan tiga hal ini sebelum melakukan pengukuran kiblat: Tegak Lurus (tongkat maupun bandul diletakkan tegak lurus permukaan Bumi), Rata (tempat meletakkan benda maupun jatuhnya bayangan Matahari harus rata), Tepat Waktu (penunjuk waktu harus terkalibrasi dengan baik dan pengukuran dilakukan pada waktu yang ditentukan). Meskipun demikian, pengukuran dapat dilakukan 40 menit sebelum dan sesudah waktu yang ditentukan  dengan toleransi ½ derajat jika cuaca kurang mendukung.

Demikian ulasan fenomena astronomis di bulan November 2021 kali ini. #SemogaCuacaCerah agar dapat menyaksikan dan mengabadikan fenomena tersebut. Salam Antariksa!

Comments