Bersiaplah! Fenomena Astronomis November 2021 - Bagian Pertama

Oleh Andi Pangerang – Pusrissa OR-PA BRIN
23 Oktober 2021

Halo, Sobat Antariksa semua. Dua bulan lagi tahun 2021 akan segera berakhir. Fenomena astronomis apa sajakah yang akan terjadi pada bulan November mendatang? Berikut ulasannya:

Pekan Pertama:
2 November – Konjungsi Merkurius-Spica

Puncak fenomena ini terjadi pada 2 November 2021 pukul 08.18 WIB / 09.18 WITA / 10.18 WIT dengan sudut pisah minimum 3,7°. Sehingga, fenomena ini sudah dapat disaksikan sejak awal fajar bahari (50 menit sebelum Matahari terbit) dari arah Timur dengan sudut pisah 4,1° selama 25 menit. Kecerlangan Merkurius sebesar -0,87, sedangkan kecerlangan Spica sebesar +0,95.


Gambar 1. Konjungsi Merkurius-Spica 2 November 2021. Sumber: Stellarium PC 0.21.2

3 November – Tengah Hari Lebih Cepat Dalam Setahun

Fenomena ini terjadi setiap tahun pada tanggal 3 November. Hal ini dikarenakan nilai perata waktu yang lebih besar sehingga Matahari akan transit lebih cepat dibandingkan dengan hari-hari biasanya dalam setahun. Perata waktu adalah selisih antara Waktu Matahari Sejati dengan Waktu Matahari Rata-Rata. Perata waktu dipengaruhi oleh dua faktor: kemiringan sumbu Bumi dan kelonjongan orbit Bumi.

 

Gambar 2. Grafik Perata Waktu terhadap Deklinasi Matahari sebagai Analema.
Sumber: Live Star Chart by Alcyone Software

 

Saat kemiringan sumbu bumi menjauhi titik setimbang menuju simpangan maksimumnya (September-Desember dan Maret-Juni), Matahari akan transit lebih cepat. Sedangkan saat kemiringan sumbu Bumi menjauhi simpangan maksimum menuju titik setimbang (Juni-September dan Desember-Maret), Matahari akan transit lebih lambat. Saat Bumi menjauhi titik perihelion menuju aphelion (Januari-Juli), Matahari akan transit lebih lambat. Sedangkan saat Bumi menjauhi titik aphelion menuju perihelion (Juli-Januari), Matahari akan transit lebih cepat. Hal ini membuat Matahari akan transit lebih cepat pada September-Desember dengan puncaknya pada awal November.

Nilai perata waktu ketika tengah hari di Indonesia adalah +16 menit 28 detik. Untuk menentukan kapan tengah hari dalam waktu lokal, dapat menggunakan rumus berikut:

Tengah Hari = 12 + Zona Waktu – Perata Waktu – Bujur/15

Contoh: Bandung (Bujur = 107°35’)
Tengah Hari = 12.00 + 7.00 – 00.16.28 – (107°35’/15°) = 11.33.12 WIB

Berikut waktu Matahari transit saat tengah hari di Indonesia pada 3 November 2021:

Nama Kota

Waktu

Nama Kota

Waktu

Nama Kota

Waktu

Nama Kota

Waktu

Sabang

12.22.17 WIB

Bandarlampung

11.42.29 WIB

Pontianak

11.26.15 WIB

Miangas

11.17.13 WITA

Banda Aceh

12.22.13 WIB

Serang

11.38.56 WIB

Palangkaraya

11.07.53 WIB

Sofifi

12.13.18 WIT

Gunungsitoli

12.13.13 WIB

Jakarta

11.36.10 WIB

Banjarmasin

12.05.10 WITA

Ambon

12.10.49 WIT

Medan

12.08.53 WIB

Bandung

11.33.07 WIB

Samarinda

11.54.58 WITA

Bandanaira

12.03.57 WIT

Padang

12.02.08 WIB

Semarang

11.21.52 WIB

Tanjungselor

11.54.05 WITA

Tual

11.52.32 WIT

Pekanbaru

11.57.46 WIB

Yogyakarta

11.22.04 WIB

Majene

11.47.39 WITA

Sorong

11.58.30 WIT

Bengkulu

11.54.28 WIB

Surakarta

11.20.13 WIB

Makassar

11.45.49 WITA

Manokwari

11.47.17 WIT

Jambi

11.49.05 WIB

Surabaya

11.12.31 WIB

Palu

11.44.04 WITA

Biak

11.39.08 WIT

Tanjungpinang

11.45.43 WIB

Denpasar

12.02.41 WITA

Kendari

11.33.29 WITA

Mimika

11.35.46 WIT

Palembang

11.44.34 WIB

Mataram

11.59.05 WITA

Gorontalo

11.31.18 WITA

Merauke

11.21.58 WIT

Pangkalpinang

11.39.05 WIB

Kupang

11.29.07 WITA

Manado

11.24.09 WITA

Jayapura

11.20.40 WIT

 

4 November – Okultasi Merkurius oleh Bulan (tidak terjadi di Indonesia)

Okultasi Merkurius adalah fenomena astronomis ketika Merkurius terhalang oleh Bulan. Hal ini disebabkan oleh konfigurasi Merkurius, Bulan dan Bumi yang membentuk garis lurus sehingga Merkurius terhalang oleh Bulan. Puncak fenomena okultasi Merkurius kali ini terjadi pada 4 November 2021 pukul 01.39 WIB / 02.39 WITA / 03.39 WIT. Sayangnya, hanya orang-orang di sebagian Amerika Serikat dan sebagian Kanada saja yang dapat menyaksikan fenomena ini, sedangkan di Indonesia tidak mengalami okultasi Merkurius. Indonesia terakhir kali mengalami okultasi Merkurius pada 19 September 2017 dan 5 Februari 2019, serta akan mengalami kembali pada 1 Maret 2025 dan 12 Maret 2032 mendatang. Fenomena ini hanya dapat disaksikan melalui alat bantu, karena fenomena ini terjadi pada saat siang hari.

Gambar 3. Peta Visibilitas Okultasi Merkurius oleh Bulan 4 November 2021. Sumber: Occult v4.12.13.1

 

4 November – Konjungsi Bulan-Merkurius

Untuk wilayah yang tidak mengalami okultasi Merkurius oleh Bulan, tetap dapat mengalami Konjungsi Bulan-Merkurius. Puncak fenomena ini terjadi pada 4 November 2021 pukul pukul 01.39 WIB / 02.39 WITA / 03.39 WIT dengan sudut pisah minimum 1,2°. Oleh sebab itu, fenomena ini sudah dapat disaksikan sejak pertengahan fajar bahari (35 menit sebelum Matahari terbit) dari arah Timur dekat konstelasi Virgo dengan sudut pisah 2,6° selama 15 menit. Kecerlangan Merkurius sebesar −0,90 sedangkan Bulan berfase Sabit Akhir dengan iluminasi 1,3%.


Gambar 4. Konjungsi Bulan-Merkurius 4 November 2021. Sumber: Stellarium PC 0.21.2

5 November – Fase Bulan Baru

Fase Bulan baru, disebut juga konjungsi solar Bulan, adalah konfigurasi ketika Bulan terletak di antara Matahari dan Bumi dan segaris dengan Matahari dan Bumi. Mengingat orbit Bulan yang membentuk sudut 5,1° terhadap ekliptika, bayangan Bulan tidak selalu jatuh di permukaan Bumi ketika fase Bulan baru, sehingga setiap fase Bulan baru tidak selalu beriringan dengan gerhana Matahari. Fase Bulan Baru kali ini terjadi pada 5 November pukul 04.14.29 WIB / 05.14.29 WITA / 06.14.29 WIT dengan jarak 359.854 km dari Bumi dan terletak di konstelasi Libra.


Gambar 5. Fase Bulan Baru 5 November 2021. Sumber: Live Star Chart by Alcyone Software

Kondisi langit pada 5 November tengah malam, Saturnus sudah terbenam sedangkan Jupiter berada di ufuk rendah (ketinggian < 15°) arah barat dan mulai terbenam satu jam kemudian. Jupiter dan Saturnus dapat disaksikan kembali sejak awal senja bahari (25 menit setelah Matahari terbenam) hingga tengah malam keesokan harinya. Sementara itu, Mars berada cukup dekat dengan Matahari sehingga tidak dapat disaksikan sepanjang malam. Merkurius dapat disaksikan sejak awal fajar bahari (50 menit sebelum Matahari terbit) selama 25 menit dari arah timur. Venus dapat disaksikan selama 3 jam sejak awal senja bahari di arah barat-barat daya.

Sementara itu, ketinggian Bulan di Indonesia ketika terbenam Matahari bervariasi antara +4,94° (Jayapura) hingga +6,28° (Pelabuhanratu) dengan sudut elongasi terhadap Matahari bervariasi antara 5,63° (Jayapura) hingga 7,32° (Sabang) sehingga Bulan dapat diamati menggunakan alat bantu.

5 November – Oposisi [Solar] Uranus

Oposisi [Solar] Uranus adalah konfigurasi ketika Uranus, Bumi dan Matahari berada pada satu garis lurus. Oposisi pada Uranus sama seperti fase oposisi atau purnama pada Bulan, sehingga Uranus dapat terlihat paling terang jika diamati dari Bumi. Puncak oposisi Uranus terjadi pada pukul 07.08 WIB / 08.08 WITA / 09.09 WIT dengan magnitudo visual sebesar +5,7. Untuk dapat melihat Uranus, diperlukan teleskop berdiameter lensa kecil (< 25 cm) dan dengan kondisi cuaca yang cerah, bebas dari polusi cahaya dan penghalang apapun di sekitar medan pandang. Ketika oposisi, Uranus berada di bawah ufuk arah barat-barat laut dan berjarak 18,74 sa atau 2,81 milyar km dengan diameter sudut 3,66 detik busur. Uranus dapat disaksikan sejak awal senja bahari (25 menit setelah Matahari terbenam) dari arah timur-timur laut hingga keesokan harinya saat akhir fajar bahari (25 menit sebelum Matahari terbit) dari arah barat-barat laut dan terletak diantara konstelasi Aries dan Cetus. Tidak terdapat interferensi cahaya dari Bulan yang dapat mengurangi intensitas cahaya Uranus karena Bulan masih berfase Bulan Baru.

Gambar 6. Oposisi [Solar] Uranus 5 November 2021. Sumber: Live Star Chart by Alcyone Software

 

5-6 November – Puncak Hujan Meteor Taurid Selatan

Hujan Meteor Taurid Selatan adalah hujan meteor yang titik radian (titik asal munculnya meteor)-nya berada di konstelasi Taurus bagian selatan dekat konstelasi Cetus. Hujan meteor ini aktif sejak 25 September hingga 25 November dan intensitas maksimumnya terjadi pada 6 November 10.35 WIB / 11.35 WITA / 12.35 WIT. Hujan Meteor Taurid Selatan berasal dari sisa debu komet Encke yang mengorbit Matahari dengan periode 3,3 tahun sebagaimana asteroid 2004 TG10 yang merupakan objek induk hujan meteor Taurid Utara. Pemisahan hujan meteor Taurid menjadi Taurid Utara dan Selatan disebabkan oleh perturbasi atau perubahan interaksi gravitasi khususnya pada planet Jupiter.

Gambar 7. Puncak Hujan Meteor Taurid Selatan 5-6 November 2021. Sumber: Stellarium PC 0.21.2

Hujan Meteor Taurid Selatan dapat disaksikan sejak pukul 18.30 waktu setempat pada malam sebelumnya (5 November) dari arah timur-timur laut hingga pukul 04.30 waktu setempat keesokan paginya (6 November) dari arah barat-barat laut. Intensitas maksimum hujan meteor ini berkisar 4 meteor per jam untuk wilayah Indonesia dikarenakan ketinggian titik radiant ketika transit bervariasi antara 64°-81°. Pastikan medan pandang bebas dari penghalang, polusi cahaya dan awan saat mengamati hujan meteor ini. Tidak perlu menggunakan alat bantu apapun kecuali jika ingin merekamnya, dapat menggunakan kamera all-sky dengan medan pandang 360° yang diarahkan ke zenit.

6 November – Konjungsi Bulan-Antares dan Perige Bulan di Simpul Menurun

Antares adalah bintang utama di konstelasi Scorpius dan termasuk ke dalam bintang maharaksasa merah. Antares berkonjungsi dengan Bulan pada 6 November pukul 22.29 WIB / 23.29 WITA / 00.29 WIT dan terpisah sejauh 3,9°. Pada hari yang sama, Bulan juga berada di titik terdekat dari Bumi atau Perige pada pukul 05.11.32 WIB / 06.11.32 WITA / 07.11.32 WIT dengan jarak 358.855 km. Fenomena ini juga beriringan ketika Bulan berada di titik Simpul Menurun pada pukul 10.37.56 WIB / 11.37.56 WITA / 12.37.56 WIT. Titik simpul menurun adalah perpotongan antara orbit Bulan dengan ekliptika yang mana Bulan bergerak menuju ke selatan ekliptika.  Sehingga, konjungsi Bulan-Antares dapat disaksikan sejak awal senja bahari (25 menit setelah Matahari terbenam) dari arah barat-barat daya selama satu jam. Sudut pisah Bulan-Antares bervariasi antara 5,60°-5,21° ketika berkonjungsi. Magnitudo Antares sebesar +1,05 sedangkan Bulan berfase Sabit Awal dengan iluminasi 3,5%-3,7%


Gambar 8. Konjungsi Bulan-Antares dan Perige Bulan di Simpul Menurun 6 November 2021. Dokumentasi Pribadi

 

Pekan Kedua:
8 November – Okultasi Venus oleh Bulan (tidak terjadi di Indonesia)

Okultasi Venus adalah fenomena astronomis ketika Venus terhalang oleh Bulan. Hal ini disebabkan oleh konfigurasi Venus, Bulan dan Bumi yang membentuk garis lurus sehingga Venus terhalang oleh Bulan. Puncak fenomena okultasi Venus kali ini terjadi pada 8 November 2021 pukul 12.21 WIB / 13.21 WITA / 14.21 WIT. Sayangnya, hanya di Jepang, Korea Utara, Korea Selatan, sebagian Tiongkok dan sebagian Rusia saja yang dapat menyaksikan fenomena ini. Sedangkan di Indonesia tidak mengalami okultasi Venus. Indonesia terakhir kali mengalami okultasi Venus pada 19 Juli 2015 dan 18 September 2017, serta akan mengalami kembali pada 27 Mei 2022 dan 14 September 2026 mendatang. Fenomena ini hanya dapat disaksikan melalui alat bantu, dikarenakan fenomena ini terjadi saat siang hari.

Gambar 9. Peta Visibilitas Okultasi Venus oleh Bulan 8 November 2021. Sumber: Occult v4.12.13.1

 

8 November – Konjungsi Bulan-Venus

Untuk wilayah yang tidak mengalami okultasi Venus oleh Bulan, tetap dapat mengalami Konjungsi Bulan-Venus. Puncak fenomena ini terjadi pada 8 November 2021 pukul pukul 12.21 WIB / 13.21 WITA / 14.21 WIT dengan sudut pisah minimum 1,1°. Oleh sebab itu, fenomena ini sudah dapat disaksikan sejak awal senja bahari (25 menit setelah Matahari terbenam) dari arah barat-barat daya dekat konstelasi Sagitarius dengan sudut pisah 2,7°-4,1° selama 3 jam. Kecerlangan Venus sebesar −4,63 sedangkan Bulan berfase Sabit Awal dengan iluminasi 17,4%-18,4%.

Gambar 10. Konjungsi Bulan-Venus 8 November 2021. Sumber: Stellarium PC 0.21.2

9-10 November – Puncak Hujan Meteor Andromedid

Andromedid adalah hujan meteor yang titik radiannya berada di dekat konstelasi Andromeda dan bersumber dari sisa debu komet 3D/Biela. Hujan meteor ini pertama kali teramati pada 6 Desember 1741 di kota Sanit-Petersburg. Intensitas terkuatnya dialami pada tahun 1798, 1825, 1830, 1838 dan 1847. Titik radian saat itu masih terletak di konstelasi Cassiopeia. Sedangkan, saat komet Biela pecah di tahun 1846, Andromedid dapat menghasilkan intensitas hingga ribuan meteor per jam beberapa dekade setelahnya di tahun 1872 and 1885. Setelah pecahnya komet Biela, titik radian bergeser dari Cassiopeia ke Andromeda. Sejak abad ke-20, intensitas Andromedid hanya 3 meteor per jam saat di zenit, meskipun pernah tercatat hingga 30-50 per jam saat di zenit pada tahun 2008, 2011 dan 2013.

Gambar 11. Puncak Hujan Meteor Andromedid 9-10 November 2021. Sumber: Stellarium PC 0.21.2

 

Andromedid aktif sejak 25 September hingga 6 Desember mendatang dan intensitas maksimumnya terjadi pada 9 November pukul 08.45 WIB / 09.45 WITA / 10.45 WIT. Sehingga, dapat sejak awal senja bahari (25 menit setelah Matahari terbenam) hingga awal fajar astronomis (75 menit sebelum Matahari terbit) keesokan harinya dari arah timur laut hingga barat laut. Ketinggian maksimum titik radian Andromedid di Indonesia antara 42°-59° sehingga intensitas maksimumnya hanya 2 meteor per jam saja. Andromedid akan sedikit terganggu oleh intensitas cahaya Bulan Sabit Awal sejak awal senja bahari hingga pukul 22.30 waktu setempat. Pastikan medan pandang bebas dari penghalang, polusi cahaya dan awan saat mengamati hujan meteor ini. Tidak perlu menggunakan alat bantu apapun kecuali jika ingin merekamnya, dapat menggunakan kamera all-sky dengan medan pandang 360° yang diarahkan ke zenit.

9 November – Konjungsi Kuartet Bulan-Venus-Jupiter-Saturnus

Setelah fenomena Konjungsi Bulan-Venus di malam sebelumnya, Bulan akan tampak segaris dengan Venus, Jupiter dan Saturnus pada 9 November. Fenomena ini disebut juga Konjungsi Kuartet Bulan-Venus-Jupiter-Saturnus. Fenomena ini dapat disaksikan sejak awal senja bahari (25 menit setelah terbenam Matahari) selama 3 jam dari arah selatan memanjang hingga barat-barat daya. Keempat benda langit ini seluruhnya terbenam setelah tengah malam. Magnitudo Jupiter sebesar −2,41; sedangkan magnitudo Venus dan Saturnus masing-masing sebesar −4,64 dan +0,66. Bulan berfase Sabit Awal dengan iluminasi antara 27,3%-28,9%. Bulan dan Venus terletak di dekat konstelasi Sagitarius sedangkan Jupiter dan Saturnus terletak di dekat konstelasi Kaprikornus. Keesokan harinya, Bulan meninggalkan Venus dan berkonjungsi tripel bersama dengan Jupiter dan Saturnus selama tiga hari.

Gambar 12. Konjungsi Kuartet Bulan-Venus-Jupiter-Saturnus 9 November 2021. Sumber: Stellarium PC 0.21.2

 

10-12 November – Konjungsi Tripel Bulan-Jupiter-Saturnus

Fenomena ini berlangsung selama tiga hari sejak 10 hingga 12 November mendatang. Dapat disaksikan sejak awal senja bahari (25 menit setelah terbenam Matahari) dari arah selatan hingga pukul 23.00 waktu setempat dari arah Barat-Barat Daya. Magnitudo Jupiter bervariasi antara −2,61 hingga −2,59 sedangkan magnitudo Saturnus konstan sebesar +0,67. Bulan berfase Sabit Awal hingga Benjol Awal (Bulan Besar) dengan iluminasi 38,2%-61,5%. Mula-mula, Bulan berada di konstelasi Kaprikornus bersama-sama dengan Jupiter dan Saturnus selama dua hari. Bulan berkonjungsi dengan Saturnus terlebih dahulu sebelum kemudian berkonjungsi dengan Jupiter keesokan harinya. Kemudian, Bulan berpindah menuju konstelasi Akuarius meninggalkan Jupiter dan Saturnus yang masih berada di Kaprikornus.

Gambar 13. Konjungsi Tripel Bulan-Jupiter-Saturnus 10-12 November 2021. Sumber: Stellarium PC 0.21.2

 

10 November – Konjungsi Merkurius-Mars

Puncak konjungsi Merkurius-Mars terjadi pada tanggal 10 November 2021 pukul 19.57.25 WIB / 20.57.25 WITA / 21.57.25 WIT dengan sudut pisah 0,97° dan terletak di dekat konstelasi Virgo. Magnitudo Merkurius dan Mars berturut-turut −0,94 dan +1,05. Mars dan Merkurius sudah terbit di arah timur-tenggara sejak pertengahan fajar bahari (35 menit sebelum Matahari terbit) dan berada di ufuk rendah saat akhir fajar bahari (25 menit sebelum Matahari terbit), sehingga Merkurius dan Mars cukup sulit disaksikan baik menggunakan ataupun tanpa alat bantu. Fenomena ini akan terjadi kembali pada 29 Oktober 2023 dan 20 Oktober 2025 mendatang.

Gambar 14. Konjungsi Merkurius-Mars 10 November 2021. Sumber: Live Star Chart by Alcyone Software

 

11 November – Fase Bulan Perbani Awal

Fase perbani awal adalah salah satu fase Bulan ketika konfigurasi antara Matahari, Bumi dan Bulan membentuk sudut siku-siku (90°) dan terjadi sebelum fase Bulan purnama. Puncak fase perbani awal terjadi pada pukul 19.46.01 WIB / 20.46.01 WITA / 21.46.01 WIT. Sehingga, Bulan perbani awal ini sudah dapat disaksikan sejak terbit saat tengah hari dari arah Timur-Tenggara, transit di arah Selatan setelah terbenam Matahari dan kemudian terbenam di arah Barat-Barat Daya setelah tengah malam. Bulan berjarak 379.201 km dari Bumi saat puncak fase perbani awal dan berada di sekitar konstelasi Kaprikornus.


Gambar 15. Fase Bulan Perbani Awal 11 November 2021. Sumber: Live Star Chart by Alcyone Software

 

12-13 November – Puncak Hujan Meteor Taurid Utara

Hujan Meteor Taurid Utara adalah hujan meteor yang titik radian (titik asal munculnya meteor)-nya berada di konstelasi Taurus bagian utara dekat gugus Pleiades. Hujan meteor ini aktif sejak 25 September hingga 25 November dan intensitas maksimumnya terjadi pada 13 November pukul 07.25 WIB / 08.25 WITA / 09.25 WIT. Hujan Meteor Taurid Utara berasal dari sisa debu asteroid 2004 TG10 yang mengorbit Matahari dengan periode 3,3 tahun sebagaimana komet Encke yang merupakan objek induk hujan meteor Taurid Selatan. Pemisahan hujan meteor Taurid menjadi Taurid Utara dan Selatan disebabkan oleh perturbasi atau perubahan interaksi gravitasi khususnya pada planet Jupiter.

Gambar 16. Puncak Hujan Meteor Taurid Utara 12-13 November 2021. Sumber: Stellarium PC 0.21.2

Hujan Meteor Taurid Utara dapat disaksikan sejak pukul 18.30 waktu setempat pada malam sebelumnya (12 November) dari arah timur-timur laut hingga pukul 04.30 waktu setempat keesokan paginya (13 November) dari arah barat-barat laut. Intensitas hujan meteor ini berkisar 3-4 meteor per jam untuk wilayah Indonesia dikarenakan ketinggian titik radian ketika transit bervariasi antara 57°-74°. Pastikan medan pandang bebas dari penghalang, polusi cahaya dan awan saat mengamati hujan meteor ini. Tidak perlu menggunakan alat bantu apapun kecuali jika ingin merekamnya, dapat menggunakan kamera all-sky dengan medan pandang 360° yang diarahkan ke zenit.

(Bersambung di bagian kedua)

Comments