Bersiaplah, Fenomena Astronomis Oktober 2020

Oleh Andi Pangerang
27 September 2020

Selamat datang di bulan Oktober, ketika Matahari sudah berada di selatan katulistiwa. Fenomena astronomis apa saja yang akan terjadi pada bulan ini? Berikut ulasannya:

Kamis-Selasa, 1-6 Oktober – Konjungsi Venus-Regulus

 

Gambar 1. Konjungsi Venus-Regulus pada tanggal 1-6 Oktober 2020. Sumber: Stellarium PC ver. 0.20.1

 

Selama sepekan berturut-turut sejak 30 September silam hingga 6 Oktober, Venus mengalami konjungsi dengan Regulus dan dapat disaksikan dari arah Timur-Timur Laut mulai pukul 04.00 WIB hingga 05.15 WIB selama kondisi langit cerah, bebas dari polusi cahaya dan maupun penghalang di sekitar medan pandang. Puncak Konjungsi Venus-Regulus terjadi pada 3 Oktober 2020 pukul 06.04 WIB dengan sudut pisah hanya 5 menit busur.

Kamis, 1 Oktober – Elongasi Timur Maksimum Merkurius

 

Gambar 2. Elongasi Timur Maksimum Merkurius pada tanggal 1 Oktober 2020.
Sumber: Live Star Chart by Alcyone Software

 

Merkurius akan mencapai elongasi timur maksimum pada tanggal 1 Oktober 2020 pukul 22.59 WIB. Merkurius terletak di 11 derajat sebelah selatan Matahari dengan ketinggian 22,5 derajat ketika terbenam Matahari dan elongasi 25,8 derajat. Merkurius dapat diamati dengan mata telanjang beberapa menit setelah terbenam Matahari dengan magnitudo visual +0,1 ; diameter sudut 6,7 detik busur dan terletak di konstelasi Virgo. Elongasi timur maksimum Merkurius terjadi rata-rata setiap 116 hari sekali, terakhir terjadi pada tanggal 5 Juni 2020 dan akan terjadi kembali pada 24 Januari 2021.

Jumat, 2 Oktober – Bulan Purnama Mikro

 

Gambar 3. Fase Bulan Purnama Mikro pada 2 Oktober 2020. Sumber: Alcyone Lunar Calculator 1.0

 

Puncak purnama kali ini akan terjadi pada pukul 04.05.10 WIB dengan jarak geosentris 405.146 km dan diameter sudut 29,5 menit busur. Purnama ini dinamakan juga purnama mikro karena jaraknya cukup berdekatan dengan titik apogee yang akan terjadi pada 4 Oktober lusa.

Pengamat di wilayah Indonesia bagian Timur tidak dapat menyaksikan puncak purnama kali ini karena Bulan sudah terbenam lebih dulu dan Matahari sudah terbit. Bulan purnama dapat diamati pada arah Timur hingga Barat dan terletak pada konstelasi Cetus.

Purnama ini dapat disebut juga sebagai Bulan Pemburu Penuh (Full Hunter’s Moon), Bulan Rumput Layu Penuh (Full Dying Grass Moon) dan Bulan Berdarah Penuh (Full Sanguine/Blood Moon) karena secara tradisional, orang-orang di belahan bumi Utara menghabiskan bulan Oktober untuk mempersiapkan musim dingin yang akan datang dengan berburu, menyembelih, dan mengawetkan daging untuk digunakan sebagai makanan.

Sabtu, 3 Oktober – Konjungsi Bulan-Mars

 

Gambar 4. Konjungsi Bulan-Mars pada tanggal 3 Oktober 2020. Sumber: Stellarium PC ver. 0.20.1

 

Puncak Konjungsi Bulan-Mars terjadi pada tanggal 3 Oktober 2020 pukul 11.20.38 WIB dengan sudut pisah 0,53 derajat. Akan tetapi, fenomena ini dapat disaksikan sejak tengah malam di dekat zenit arah Utara-Timur Laut hingga pukul 05.15 WIB di arah Barat dengan nilai elongasi yang bervariasi antara 5,45 hingga 3,63 derajat. Selain itu, fenomena ini juga dapat disaksikan ketika Bulan terbit di arah Timur pada pukul 19.00 WIB hingga tengah malam di dekat zenith arah Timur Laut dengan nilai elongasi yang bervariasi 4,99 hingga 6,89 derajat.

Minggu, 4 Oktober – Apogee Bulan

 

Gambar 5. Apogee Bulan pada 4 Oktober 2020. Sumber: Alcyone Lunar Calculator 1.0

 

Bulan akan berada pada titik terjauh Bumi (apogee) pada pukul 00.09.10 WIB dengan jarak geosentris 406.306 km, iluminasi 96,87% (fase benjol akhir) dan lebar sudut 28,5 menit busur. Bulan terletak di konstelasi Pisces ketika apogee akan tetap baru dapat disaksikan mulai pukul 20.00 WIB di arah Timur-Timur Laut dan terbenam keesokan harinya pada pukul 07.30 WIB.

Selasa, 6 Oktober – Fase Dikotomi Merkurius

 

Gambar 6. Fase Dikotomi Merkurius pada 6 Oktober 2020. Sumber: Stellarium PC ver. 0.20.1

 

Dikotomi adalah nama lain dari fase perbani atau kuartir atau kuadratur. Secara umum, dikotomi adalah konfigurasi Bumi, planet dan Matahari yang membentuk sudut siku-siku (90 derajat). Hal ini membuat bagian planet (yakni Merkurius) yang teramati dari Bumi akan tampak bercahaya 50% dari luas seluruh piringan. Berbeda dengan Venus yang mana fase dikotomi selalu bertepatan dengan elongasi maksimum, Merkurius mengalami fase dikotomi antara 1-6 hari sebelum atau sesudah elongasi maksimum. Hal ini dikarenakan bentuk orbit Merkurius yang lebih lonjong dibandingkan Venus.

Fase Dikotomi Merkurius terakhir terjadi pada tanggal 29 Mei dan 26 Juli 2020, dan akan terjadi kembali pada tanggal 8 November 2020 dan 25 Januari 2021.

Kamis, 8 Oktober – Puncak Hujan Meteor Draconid

 

Gambar 7. Puncak Hujan Meteor Draconid pada 8 Oktober 2020. Sumber: Stellarium PC ver. 0.20.1

 

Hujan Meteor Draconid aktif sejak 6 hingga 10 Oktober dan puncaknya terjadi pada 8 Oktober. Hujan meteor ini dinamai berdasarkan titik radian (titik asal munculnya hujan meteor) yang terletak di konstelasi Draco. Hujan meteor Draconid berasal dari sisa debu komet 21P/Giacobini-Zinner yang mengorbit Matahari setiap 6,6 tahun sekali. Oleh karenanya, hujan meteor ini dikenal juga dengan nama Giancobinid. Meskipun hujan meteor ini sempat menjadi hujan meteor spektakuler sepanjang sejarah, sebagian besar pengamat langit menganggapnya sebagai salah satu hujan meteor yang kurang begitu menarik disaksikan.

Hujan meteor ini dapat disaksikan sejak pukul 18.15 WIB hingga 21.30 WIB dengan intensitas antara 4 (untuk Kupang) hingga 6 meteor (untuk Banda Aceh) per jam jika cuaca cerah dan bebas polusi cahaya. Akan tetapi, bagi pengamat di area perkotaan hanya akan menyaksikan antara 1-2 meteor per jam. Ketampakan hujan meteor Draconid terbaik jika diamati dari belahan Bumi Utara.

Jumat, 9 Oktober – Deklinasi Maksimum Utara Bulan

 

Gambar 8. Deklinasi Maksimum Utara Bulan pada 9 Oktober 2020. Sumber: Alcyone Lunar Calculator 1.0

 

Bulan akan berada pada deklinasi maksimum Utara pada pukul 20.06.33 WIB dengan jarak geosentris 391.311 km, iluminasi 54,90% dan lebar sudut 16,8 menit busur. Deklinasi maksimum Utara bermakna Bulan terletak pada posisi paling utara dari ekuator langit (sebagaimana solstis Juni pada Matahari). Deklinasi Bulan ketika mencapai maksimum bervariasi antara 18,3° hingga 28,6°. Hal ini disebabkan oleh orbit Bulan yang memiliki kemiringan 5,15° terhadap ekliptika dan sumbu rotasi Bumi yang memiliki kemiringan 23,45°

Deklinasi Maksimum Utara Bulan kali ini adalah 24,6° dengan ketinggian Bulan di Indonesia ketika kulminasi bervariasi antara 54,4° (Pulau Rote) hingga 71,4° (Pulau Weh). Ketika kulminasi , Bulan terletak di arah Utara 45 menit sebelum terbit Matahari (pukul 05.00 WIB). Bulan terletak di konstelasi Gemini dan berada di atas ufuk sejak pukul 23.15 WIB malam sebelumnya hingga pukul 10.46 WIB dari arah Timur-Timur Laut hingga Barat-Barat Laut.

Sabtu, 10 Oktober – Fase Perbani Akhir

 

Gambar 9. Fase Perbani Akhir pada 10 Oktober 2020. Sumber: Alcyone Lunar Calculator 1.0

 

Puncak fase perbani akhir akan terjadi pada 10 September 2020 pukul 07.39.29 WIB. Bulan berjarak 388.699 km dari Bumi (geosentris) dan terletak pada konstelasi Gemini. Bulan akan terbit di sekitar tengah malam dari arah Timur-Timur Laut, kemudian berkulminasi di arah Utara ketika terbit Matahari dan terbenam dari arah Barat-Barat Laut menjelang tengah hari.

Rabu, 14 Oktober – Oposisi Mars

 

Gambar 10. Oposisi Mars pada tanggal 14 Oktober 2020. Sumber: Live Star Chart by Alcyone Software

 

Oposisi Mars adalah konfigurasi ketika Mars, Bumi dan Matahari terletak pada satu garis lurus. Sebagaimana fase oposisi atau purnama pada Bulan, Mars akan tampak lebih terang jika teramati dari Bumi. Puncak oposisi Mars terjadi pada pukul 06.40 WIB dengan magnitudo visual -2,6 dan diameter sudut 22,33 detik busur. Jarak Mars ketika Oposisi sangat dekat dengan Bumi yakni sebesar 0,419 SA atau 62,7 juta kilometer sehingga Mars akan tampak lebih besar dan lebih terang dibandingkan biasanya. Mars dapat disaksikan sejak malam sebelumnya mulai pukul 18.15 WIB dari arah Timur hingga keesokan harinya pada pukul 05.15 WIB dari arah Barat dan terletak di konstelasi Pisces. Oposisi Mars terjadi setiap rata-rata dua tahun sekali, terakhir terjadi pada 22 Mei 2016 dan 27 Juli 2018, dan akan terjadi kembali pada 8 Desember 2022 dan 16 Januari 2025.

Rabu, 14 Oktober – Konjungsi Bulan-Venus

 

 

Gambar 11. Konjungsi Bulan-Venus pada 14 Oktober 2020. Sumber: Stellarium PC ver. 0.20.1

 

Puncak Konjungsi Bulan-Venus terjadi pada pukul 12.52.28 WIB dengan sudut pisah sebesar 4,05 derajat. Akan tetapi, fenomena ini dapat diamati sejak pukul 03.45 WIB hingga 05.30 WIB dari arah Timur-Timur Laut. Venus terletak di sebelah selatan Bulan yang berfase Sabit Akhir dengan iluminasi 12,7% dan lebar sudut 4,1 menit busur. Konjungsi Bulan-Venus terletak dekat konstelasi Leo.

Jumat, 16 Oktober – Ketampakan Terakhir Bulan Sabit Tua

 

Gambar 12. Bulan Sabit Tua pada 16 September 2020. Sumber: Alcyone Lunar Calculator 1.0

 

Bulan sabit tua dapat disaksikan terakhir kali dengan mata telanjang pada 16 Oktober 2020 sejak pukul 5.00 WIB hingga terbit Matahari (5.30 WIB) dengan jarak toposentris 357.201 km, iluminasi 1,37% dan lebar sudut 0,46 menit busur. Bulan sabit tua kali ini berumur 28 hari 11,5 jam, elongasi 13,7° dan terbit dari arah Timur di konstelasi Virgo.

Sabtu, 17 Oktober 2020 – Bulan Baru Super (Super New Moon)

 

Gambar 13. Bulan Baru dan Perigee Bulan pada 17 Oktober 2020. Sumber: Alcyone Lunar Calculator 1.0

 

Bulan Baru Super adalah fase Bulan Baru yang waktu kejadiannya berdekatan dengan Perigee Bulan. Bulan Baru kali ini terjadi pada pukul 02.50.31 WIB sedangkan Perigee Bulan terjadi empat jam setelahnya yakni pada pukul 06.40.47 WIB. Jarak geosentrik Bulan ketika fase Bulan Baru adalah 356.946 km dengan diameter sudut 33,4775 menit busur. Sementara, jarak geosentrik Bulan ketika Perigee adalah 356.916 km dengan diameter sudut 33,4800 menit busur.

Ketika dini hari, kalian dapat menyaksikan Mars bertengger dekat zenit dan setelah Mars terbenam dari arah Barat, Venus mulai terbit dari arah Timur. Sementara itu, ketika senja, Merkurius hadir di arah Barat-Barat Daya hingga akhirnya terbenam seiring terbitnya Mars dari arah Timur dan bertenggernya Jupiter dan Saturnus di dekat zenit.

Bulan Baru Super adalah fenomena tahunan, terakhir terjadi pada tanggal 30 Agustus dan 29 September 2019, dan akan terjadi kembali pada 14 November, 5 November dan 4 Desember.

Sabtu, 17 Oktober 2020 – Ketampakan Pertama Bulan Sabit Muda

 

Gambar 14. Bulan Sabit Muda pada 17 September 2020. Sumber: Alcyone Lunar Calculator 1.0

 

Bulan sabit muda di Kota Bandung dan sekitarnya dapat disaksikan pertama kali dengan alat bantu optik pada 17 September 2020 sejak terbenam Matahari (17.45 WIB) hingga 18.20 WIB ketika Bulan terbenam, dengan jarak toposentris 356.192 km, iluminasi 0,73% dan lebar sudut 0,41 menit busur. Bulan sabit muda kali ini berumur 15,2 jam, elongasi 9,8° dan terbenam dari arah Barat di konstelasi Virgo.

Secara umum, ketinggian hilal (bulan sabit muda) di Indonesia pada 17 Oktober petang hari sudah mencapai 6,5 hingga 8,25 derajat dengan sudut elongasi Bulan-Matahari antara 7,5 hingga 9,25 derajat. Umur hilal di Indonesia bervariasi antara 13 hingga 16 jam.

Rabu, 21 Oktober – Puncak Hujan Meteor Orionid

 

Gambar 15. Puncak Hujan Meteor Orionid pada 21 Oktober 2020. Sumber: Stellarium PC ver. 0.20.1

 

Hujan Meteor Orionid aktif sejak 2 Oktober hingga 7 Oktober dan puncaknya terjadi pada 21 Oktober. Hujan meteor ini dinamai berdasarkan titik radian (titik asal munculnya hujan meteor) yang terletak di konstelasi Orion. Hujan meteor Orion berasal dari sisa debu komet Halley yang mengorbit Matahari setiap 76 tahun sekali. Selain Orionid, hujan meteor Eta Aquarid yang terjadi di awal bulan Mei juga berasal dari sisa debu komet Halley. Hujan meteor ini merupakan salah satu diantara beberapa hujan meteor lain yang dinantikan setiap tahun, selain Leonid, Geminid, Lyrid dan Perseid.

Hujan Meteor Orionid dapat disaksikan baik di belahan Bumi Utara maupun belahan Bumi Selatan dengan intensitas antara 13-14 meteor per jam mulai tanggal 20 Oktober pukul 23.00 WIB hingga 21 Oktober pukul 05.00 WIB.

Kamis, 22 Oktober – Deklinasi Maksimum Selatan Bulan

 

Gambar 16. Deklinasi Maksimum Selatan Bulan pada 22 Oktober 2020.
Sumber: Alcyone Lunar Calculator 1.0

 

Bulan akan berada pada deklinasi maksimum Selatan pada pukul 09.00.09 WIB dengan jarak geosentris 377.119 km, iluminasi 34,48% (fase sabit awal) dan lebar sudut 10,9 menit busur. Deklinasi maksimum Selatan bermakna Bulan terletak pada posisi paling Selatan dari ekuator langit (sebagaimana solstis Desember pada Matahari). Deklinasi Bulan ketika mencapai maksimum bervariasi antara 18,3° hingga 28,6°. Hal ini disebabkan oleh orbit Bulan yang memiliki kemiringan 5,15° terhadap ekliptika dan sumbu rotasi Bumi yang memiliki kemiringan 23,45°

Deklinasi Maksimum Selatan Bulan kali ini adalah 24,7° dengan ketinggian Bulan di Indonesia ketika kulminasi bervariasi antara 59,3° (Pulau Weh) hingga 76,3° (Pulau Rote). Bulan berada di arah Selatan ketika kulminasi yang terjadi sekitar 40 menit sebelum terbenam Matahari (pukul 17.00 WIB). Bulan terletak di konstelasi Sagitarius dan berada di atas ufuk sejak pukul 11.00 WIB hingga pukul 23.00 WIB dari arah Timur Menenggara hingga Barat-Barat Daya.

Kamis-Jumat, 22-23 Oktober – Tripel Konjungsi Bulan-Jupiter-Saturnus

 

Gambar 17.a. Tripel Konjungsi Bulan-Jupiter-Saturnus pada tanggal 22-23 Oktober 2020.
Sumber: Stellarium PC ver. 0.20.1

 

Selama dua hari berturut-turut pada 22 dan 23 Oktober 2020, Bulan akan mengalami tripel konjungsi dengan Jupiter dan Saturnus di dekat konstelasi Sagitarius arah Tenggara. Fenomena ini dapat disaksikan sejak pukul 18.00 WIB hingga terbenam Bulan menjelang tengah malam. Mula-mula Jupiter diapit oleh Saturnus di sebelah Selatan-Menenggara dan Bulan di arah Tenggara, kemudian terbenam pada pukul 23.15 WIB di arah Barat-Barat Daya. Keesokan harinya, Saturnus diapit oleh Bulan yang terletak di Selatan dan Jupiter di arah Tenggara, kemudian terbenam pada pukul 23.15 WIB di arah Barat-Barat Daya.

Gambar 17.b. Tripel Konjungsi Bulan-Jupiter-Saturnus ketika terbenam pada tanggal 22-23 Oktober 2020.  Sumber: Stellarium PC ver. 0.20.1

 

Jumat, 23 Oktober – Fase Perbani Awal

 

Gambar 18. Fase Bulan Perbani Awal pada 23 Oktober 2020. Sumber: Alcyone Lunar Calculator 1.0

 

Puncak fase perbani awal akan terjadi pada 23 Oktober 2020 pukul 20.22.55 WIB. Bulan berjarak 385.895 km dari Bumi (geosentris) dengan diameter sudut 31 menit busur dan terletak pada konstelasi Capricornus. Bulan akan terbit di sekitar tengah hari dari arah Timur Menenggara, kemudian berkulminasi  di arah Selatan setelah terbenam Matahari dan Bulan terbenam dari arah Barat-Barat Daya setelah tengah malam.

Senin, 26 Oktober – Konjungsi Inferior Merkurius

 

Gambar 19. Konjungsi Inferior Merkurius pada 26 Oktober 2020.
Sumber: Live Star Chart by Alcyone Software

 

Konjungsi Inferior Merkurius adalah konfigurasi ketika Bumi, Merkurius dan Matahari berada pada satu garis lurus. Konjungsi inferior ini sama seperti fase Bulan Baru pada Bulan, sehingga Merkurius tidak tampak baik ketika senja maupun fajar. Konjungsi inferior Merkurius menandai pergantian ketampakan Merkurius dari senja ke fajar. Posisi Merkurius berada di konstelasi Virgo bersama dengan Matahari. Konjungsi inferior terjadi setiap 116 hari sekali, terjadi terakhir kali pada tanggal 1 Juli 2020 dan akan terjadi kembali pada tanggal 8 Februari, 11 Juni dan 10 Oktober 2021. Jarak Merkurius dari Matahari sejauh 0,671 SA atau 100,4 juta km

Kamis-Jumat, 29-30 Oktober – Konjungsi Bulan-Mars

 

 

Gambar 20. Konjungsi Bulan-Mars pada tanggal 29-30 Oktober 2020. Sumber: Stellarium PC ver. 0.20.1

 

Bulan dan Mars kembali mengalami konjungsi pada tanggal 29-30 Oktober 2020 dengan puncak konjungsi terjadi pada tanggal 30 Oktober pukul 03.18.54 WIB dengan sudut pisah 2,25 derajat (lebih lebar dibandingkan ketika tanggal 3 Oktober).

Bulan dan Mars dapat diamati sejak tanggal 29 Oktober 2020 pukul 18.00 WIB dari arah Timur dengan sudut pisah 4,27 derajat dan ketinggian 25 derajat di atas ufuk, hingga terbenam pada tanggal 30 Oktober 2020 pukul 04.10 WIB dari arah Barat demgan sudut pisah 2,29 derajat. Keduanya terletak di konstelasi Pisces.

Sabtu, 31 Oktober – Oposisi Uranus

 

Gambar 21. Oposisi Uranus pada 31 Oktober 2020. Sumber: Live Star Chart by Alcyone Software

 

Oposisi Uranus adalah konfigurasi ketika Uranus, Bumi dan Matahari berada pada satu garis lurus. Oposisi pada Uranus sama seperti fase oposisi atau purnama pada Bulan, sehingga Uranus dapat terlihat paling terang jika diamati dari Bumi. Puncak oposisi Uranus terjadi pada pukul 23.03 WIB dengan magnitudo visual sebesar +5,7. Untuk dapat melihat Uranus, diperlukan teleskop berdiameter lensa kecil (< 25 cm) dan dengan kondisi cuaca yang cerah, bebas dari polusi cahaya dan penghalang apapun. Ketika oposisi, Uranus berada di dekat zenit arah Utara-Timur Laut dan berjarak 18,79 sa atau 2,81 milyar km dengan diameter sudut 3,65 detik busur. Uranus dapat disaksikan sejak pukul 19.00 WIB dari arah Timur-Timur Laut hingga keesokan harinya pukul 04.00 dari arah Barat-Barat Laut dan terletak diantara konstelasi Aries dan Cetus. Perhatikan juga posisi Bulan Purnama yang berkonjungsi dengan Uranus ketika Oposisi Uranus sehingga dapat mengurangi intensitas cahaya Uranus.

Sabtu, 31 Oktober – Bulan Purnama Biru Mikro

 

Gambar 22. Fase Bulan Purnama Biru dan Apogee Bulan pada 31 Oktober 2020.
Sumber: Alcyone Lunar Calculator 1.0

 

Puncak purnama kali ini akan terjadi pada pukul 21.49.11 WIB dengan jarak geosentris 406.165 km, berdiameter sudut 29,40 menit busur dan terletak di konstelasi Aries. Sedangkan apogee Bulan terjadi pada pukul 01.29.47 WIB dengan jarak geosentrik 406.398 km, berdiameter sudut 29,42 menit busur dan terletak di konstelasi Pisces. Sehingga, purnama ini dinamakan juga purnama mikro karena jaraknya cukup berdekatan dengan titik apogee.

Bulan purnama mikro dapat diamati pada arah Timur-Timur Laut sebelum terbenam Matahari hingga Barat-Barat Laut setelah terbit Matahari

Bulan purnama ini juga disebut sebagai Bulan Biru (Blue Moon) karena merupakan Bulan purnama kedua yang terjadi dalam satu bulan yang mengandung dua kali Bulan purnama. Bulan Biru terjadi setiap 2-3 tahun sekali, yang mana terjadi terakhir kali pada 31 Juli 2015 dan 31 Januari 2018; serta akan terjadi kembali pada 31 Agustus 2023 dan 31 Mei 2026.

Bulan purnama biru mikro terjadi terakhir kali pada 31 Maret 1980 dan 30 April 1999; serta akan terjadi kembali pada 31 Mei 2026 dan 30 November 2039.

 

Comments