Bersiaplah, Fenomena Astronomis Oktober 2021

Oleh Andi Pangerang
25 September 2021

Halo, Sahabat Antariksa semua! Tiga bulan lagi, tahun 2021 akan berakhir. Fenomena astronomis apa sajakah yang akan terjadi di bulan Oktober mendatang? Berikut ulasannya:

Pekan Pertama

3 Oktober – Aphelion Venus (dapat disaksikan dengan mata biasa)

Aphelion secara umum adalah konfigurasi ketika planet berada di titik terjauh dari Matahari. Hal ini disebabkan oleh orbit planet yang berbentuk elips dengan Matahari terletak di salah satu dari kedua titik fokus orbit tersebut. Aphelion Venus terjadi setiap rata-rata 225 hari sekali atau dalam lima tahun terjadi delapan kali. Aphelion Venus kali ini terjadi pada 3 Oktober 2021 pukul 11.07 WIB / 12.07 WITA / 13.07 WIT dengan jarak 108.942.000 km dari Matahari. Aphelion Venus sebelumnya sudah terjadi pada 20 Februari 2021 dan akan terjadi kembali pada 15 Mei dan 26 Desember 2022.

Orbit Venus merupakan orbit yang paling mendekati lingkaran di tata surya karena kelonjongannya hanya 0,68%. Perbedaan jarak Venus ke Matahari antara perihelion dengan aphelion hanya terpaut 1,36% sehingga energi yang diterima hanya terpaut 2,74% antara perihelion dengan aphelion. Lebar sudut Venus jika diamati dari Bumi ketika aphelion bervariasi antara 0,16-1,09 menit busur, sedangkan untuk aphelion kali ini, lebar sudut Venus sebesar 0,32 menit busur. Venus dapat diamati di arah barat-barat daya dekat konstelasi Libra sejak awal senja bahari hingga terbenam selama 105 menit.

6 Oktober – Fase Bulan Baru (hanya dapat disaksikan ketika fajar dengan alat bantu)

Fase Bulan baru, disebut juga konjungsi solar Bulan, adalah konfigurasi ketika Bulan terletak di antara Matahari dan Bumi dan segaris dengan Matahari dan Bumi. Mengingat orbit Bulan yang membentuk sudut 5,1° terhadap ekliptika, bayangan Bulan tidak selalu jatuh di permukaan Bumi ketika fase Bulan baru, sehingga setiap fase Bulan baru tidak selalu beriringan dengan gerhana Matahari. Fase Bulan Baru kali ini terjadi pada 6 Oktober pukul 18.05.13 WIB / 19.05.13 WITA / 20.05.13 WIT dengan jarak 367.084 km dari Bumi dan terletak di konstelasi Virgo.

Kondisi langit pada 6 Oktober tengah malam, Saturnus dan Jupiter sudah berada di arah barat-barat daya. Dua jam kemudian, Saturnus terbenam terlebih dahulu di arah Barat-Barat Daya sementara Jupiter terbenam satu jam setelah Saturnus terbenam. Sedangkan, Mars dan Merkurius berada cukup dekat dengan Matahari, sehingga tidak dapat disaksikan sepanjang malam. Venus berada di arah barat-barat daya dan dapat disaksikan ketika awal senja bahari selama 2,5 jam.

Sementara itu, ketinggian Bulan di Indonesia ketika terbenam Matahari bervariasi antara −1,48° (Merauke) hingga +0,67° (Sabang) dengan sudut elongasi terhadap Matahari bervariasi antara 3,47° (Merauke) hingga 4,43° (Sabang) sehingga Bulan mustahil dapat diamati baik dengan maupun tanpa alat bantu. Meskipun demikian, Bulan masih bisa disaksikan ketika terbit Matahari dengan ketinggian bervariasi antara +2,35° (Pelabuhanratu) hingga +4,39° (Miangas) dengan sudut elongasi terhadap Matahari bervariasi antara 8,87° (Merauke) hingga 7,22° (Sabang).

8 Oktober – Konjungsi Solar Mars (tidak dapat disaksikan dengan alat optik apapun)

Konjungsi solar Mars merupakan konfigurasi ketika Mars, Matahari dan Bumi berada pada satu garis lurus dan Mars terletak sejajar dengan Matahari. Puncak konjungsi solar Mars terjadi pada 8 Oktober pukul 11.29 WIB/12.29 WITA/13.29 WIT. Mars berjarak 243.738.000 km dari Matahari dengan magnitudo +1,65.

Konsekuensi dari fenomena ini adalah Mars tidak akan tampak lagi di langit malam karena sejajar dengan Matahari. Sudut pisah Mars-Matahari hanya sebesar 0,65°. Konjungsi Mars terjadi setiap 25-26 bulan sekali, sebelumnya terjadi pada 27 Juli 2017 dan 2 September 2019. Fenomena ini akan terjadi kembali pada 18 November 2023 dan 9 Januari 2026. Konjungsi solar Mars menandai pergantian ketampakan Mars yang semula ketika senja menjadi fajar.

Jika Mars dapat diamati menggunakan teleskop, maka akan tampak lebih redup dan berukuran sangat kecil sebesar 3,56 detik busur. Hal ini disebabkan oleh jarak Mars terhadap Bumi akan lebih jauh ketika Mars mengalami konjungsi dengan Matahari. Mars dapat diamati kembali pada 17 November 2021 mendatang ketika fajar.

8 Oktober – Puncak Hujan Meteor Draconid (dapat disaksikan dengan mata biasa)

Hujan Meteor Draconid aktif sejak 6 hingga 10 Oktober dan puncaknya terjadi pada 8 Oktober pukul 16.00 WIB/17.00 WITA/18.00 WIT. Hujan meteor ini dinamai berdasarkan titik radian (titik asal munculnya hujan meteor) yang terletak di konstelasi Draco. Hujan meteor Draconid berasal dari sisa debu komet 21P/Giacobini-Zinner yang mengorbit Matahari setiap 6,6 tahun. Oleh karenanya, hujan meteor ini dikenal juga dengan nama Giancobinid. Meskipun hujan meteor ini sempat menjadi hujan meteor spektakuler sepanjang sejarah, sebagian besar pengamat langit menganggapnya sebagai salah satu hujan meteor yang kurang begitu menarik disaksikan.

Hujan meteor ini dapat disaksikan sejak awal senja bahari selama 3 jam dari arah utara-barat laut hingga barat laut dengan intensitas antara 4-6 meteor per jam jika cuaca cerah dan bebas polusi cahaya. Akan tetapi, bagi pengamat di area perkotaan hanya akan menyaksikan antara 1-2 meteor per jam. Ketampakan hujan meteor Draconid terbaik jika diamati dari belahan Bumi Utara.

Pekan Kedua

9 Oktober – Perige Bulan (dapat disaksikan dengan mata biasa)

Perige Bulan adalah konfigurasi ketika Bulan terletak paling dekat dengan Bumi. Hal ini disebabkan oleh orbit Bulan yang berbentuk elips dengan Bumi terletak di salah satu titik fokus orbitnya. Perige Bulan terjadi setiap rata-rata 271/3 hari dengan interval dua perige Bulan bervariasi antara 245/8 –28½ hari.

Perige Bulan di bulan Oktober 2021 terjadi tanggal 8 Oktober pukul 00.20.12 WIB / 01.20.12 WITA / 03.20.12 WIT dengan jarak 363.407 km dari Bumi (geosentrik), iluminasi 7,0% (Sabit Awal) dan berada di sekitar konstelasi Libra. Perige Bulan ini dapat disaksikan sejak pukul 08.00 waktu setempat dari arah Timur-Tenggara, berkulminasi di arah Selatan pukul 14.10 waktu setempat dan terbenam di arah Barat-Barat daya sekitar pukul 20.20 waktu setempat.

9-10 Oktober – Konjungsi Inferior Merkurius (tidak dapat disaksikan dengan alat optik apapun)

Konjungsi Inferior adalah konfigurasi ketika Bumi, Merkurius dan Matahari berada pada satu garis lurus. Konjungsi inferior sama seperti fase Bulan baru pada Bulan, sehingga Merkurius tidak tampak baik ketika senja maupun fajar. Konjungsi inferior Merkurius menandai pergantian ketampakan Merkurius dari senja ke fajar. Selain itu, konjungsi inferior merupakan titik tengah dari siklus retrograd Merkurius yang menandai titik balik gerak semu Merkurius (jika diamati dari Bumi) sebelum Merkurius kembali melakukan gerak prograde.

Konjungsi inferior kali ini terjadi pada tanggal 9 Oktober 2021 pukul 23.11 WIB atau  10 Oktober 2021 pukul 00.11 WITA / 01.11 WIT dengan sudut pisah 1,9°. Fenomena ini terjadi setiap 116 hari sekali, terakhir kali terjadi pada 8 Februari dan 11 Juni 2021. Fenomena ini terjadi kembali pada 23 Januari 2022. Ketika konjungsi inferior, jarak Merkurius dari Bumi sejauh 0,662 sa atau 99 juta kilometer.

9-10 Oktober – Konjungsi Tripel Bulan-Venus-Antares (dapat disaksikan dengan mata biasa)

Bulan mengalami konjungsi dengan Venus dan Antares, bintang utama di konstelasi Skorpius selama dua hari sejak tanggal 9 Oktober 2021. Dapat disaksikan dari arah barat-barat daya sejak 20 menit setelah terbenam Matahari selama 2,5 jam. Mula-mula, Bulan berkonjungsi dengan Venus dengan sudut pisah 6,3°-5,4° sedangkan sudut pisah Venus-Antares sebesar 8,1°. Keesokan harinya, Bulan meninggalkan Venus dan berkonjungsi dengan Antares dengan sudut pisah 3,7°-4,4°. Sedangkan sudut pisah Venus-Antares sebesar 7,1°. Magnitudo Venus sebesar −4,30 sedangkan magnitudo Antares sebesar +1,05. Bulan berfase Sabit Awal dengan iluminasi 11,8%-20,6%.

10 Oktober – Konjungsi Merkurius-Mars (tidak dapat disaksikan dengan alat optik apapun)

Puncak konjungsi Merkurius-Mars terjadi pada tanggal 10 Oktober 2021 pukul 05:38 WIB / 06.38 WITA / 07.38 WIT dengan sudut pisah 2,45° dan terletak di dekat konstelasi Virgo. Magnitudo Merkurius dan Mars berturut-turut +5,99 dan +1,64. Dikarenakan Mars dan Merkurius memiliki sudut pisah yang cukup dekat dengan Matahari, sehingga Merkurius dan Mars tidak dapat disaksikan baik menggunakan ataupun tanpa alat bantu.

13 Oktober – Fase Bulan Perbani Awal (dapat disaksikan dengan mata biasa)

Fase perbani awal adalah salah satu fase Bulan ketika konfigurasi antara Matahari, Bumi dan Bulan membentuk sudut siku-siku (90°) dan terjadi sebelum fase Bulan purnama. Puncak fase perbani awal terjadi pada pukul 10.25.09 WIB / 11.25.09 WITA / 12.25.09 WIT. Sehingga, Bulan perbani awal ini sudah dapat disaksikan ketika terbit ketika tengah hari dari arah Timur-Tenggara, berkulminasi di arah Selatan ketika terbenam Matahari dan kemudian terbenam di arah Barat-Barat Daya setelah tengah malam. Bulan berjarak 370.469 km dari Bumi ketika puncak fase perbani awal dan berada di sekitar konstelasi Sagitarius.

13-16 Oktober – Konjungsi Tripel Bulan-Jupiter-Saturnus (dapat disaksikan dengan mata biasa)

Fenomena ini berlangsung selama empat hari sejak 13 hingga 16 Oktober mendatang. Dapat disaksikan sejak 20 menit setelah terbenam Matahari dari arah Timur-Tenggara hingga pukul 00.45 waktu setempat dari arah Barat-Barat Daya. Magnitudo Jupiter bervariasi antara −2,62 hingga −2,60 sedangkan magnitudo Saturnus bervariasi antara +0, 55 hingga +0,57. Bulan berfase Benjol Awal atau Bulan Besar dengan iluminasi 53,7%-84,7%. Mula-mula, Bulan berada di konstelasi Sagitarius, sedangkan Jupiter dan Saturnus berada di konstelasi Kaprikornus. Keesokan harinya, Bulan berada di konstelasi Kaprikornus bersama-sama dengan Jupiter dan Saturnus selama dua hari berturut-turut. Bulan berkonjungsi dengan Saturnus terlebih dahulu sebelum berkonjungsi dengan Jupiter keesokan harinya. Kemudian, Bulan berpindah menuju konstelasi Akuarius meninggalkan Jupiter dan Saturnus yang masih berada di Kaprikornus.

Pekan Ketiga

16 Oktober – Konjungsi Venus-Antares (dapat disaksikan dengan mata biasa)

Antares merupakan bintang utama di konstelasi Skorpius. Bintang ini berkonjungsi dengan Venus, puncaknya terjadi pada 16 Oktober 2021 pukul 20.24 WIB / 21.24 WITA / 22.24 WIT dengan sudut pisah 1,4°. Fenomena ini sudah dapat disaksikan sejak 20 menit setelah terbenam Matahari selama 2,5. Kecerlangan Venus sebesar −4,36 sedangkan Antares bermagnitudo +1,05.

17 Oktober – Penampakan Pertama Merkurius Ketika Fajar (dapat disaksikan dengan alat bantu)

Setelah Merkurius mengalami ketampakan terakhir ketika senja dan konjungsi inferior, Merkurius teramati kembali ketika fajar sejak tanggal 17 Oktober. Merkurius dapat disaksikan saat awal fajar bahari dari arah timur selama 20 menit dan terletak dekat konstelasi Virgo. Magnitudo Merkurius sebesar +1,16 dan Merkurius berjarak 46.460.000 km dari Matahari.

18-19 Oktober – Puncak Hujan Meteor Epsilon Geminid (dapat disaksikan dengan mata biasa)

Epsilon Geminid adalah hujan meteor yang titik radian (asal kemunculan meteor)-nya terletak di konstelasi Gemini dekat bintang Epsilon Geminorium. Berbeda dari hujan meteor Geminid yang terbentuk dari sisa debu asteroid 3200 Phaethon, hujan meteor Epsilon Geminid terbentuk dari sisa debu komet C/1964 N1 (Ikeya). Hujan meteor ini aktif sejak 14 hingga 27 Oktober mendatang, dan intensitas meteor maksimumnya terjadi pada 19 Oktober 2021 pukul 05.00 WIB / 06.00 WITA / 07.00 WIT. Sehingga, hujan meteor ini sudah dapat disaksikan sejak malam sebelumnya (18/10) pukul 23.00 hingga 05.00 waktu setempat dari arah timur-timur laut hingga utara. 

Intensitas maksimum saat titik radiannya berada di zenit adalah sebesar 3 meteor per jam. Mengingat ketinggian titik radian tertingginya di Indonesia berkisar 52°-68°, maka intensitas maksimumnya hanya 2 meteor/jam. Kelajuan hujan meteor ini mencapai 252.000 km/jam. Epsilon Geminid dapat disaksikan menggunakan mata biasa selama cuaca cerah, langit bersih, bebas polusi cahaya dan penghalang yang membatasi medan pandang.

20 Oktober – Perihelion Merkurius (dapat disaksikan dengan mata biasa)

Perihelion secara umum adalah konfigurasi ketika planet berada di titik terdekat dari Matahari. Hal ini disebabkan oleh orbit planet yang berbentuk elips dengan Matahari terletak di salah satu dari kedua titik fokus orbit tersebut. Perihelion Merkurius terjadi setiap rata-rata 88 hari sekali atau dalam setahun terjadi empat kali. Perihelion Merkurius terjadi pada 20 Oktober 2021 pukul 06.51 WIB / 07.51 WITA / 08.51 WIT dengan jarak 46 juta kilometer dari Matahari. Perihelion Merkurius sebelumnya sudah terjadi pada 29 Januari, 27 April dan 24 Juli 2021. Fenomena ini akan terjadi kembali pada 16 Januari, 14 April, 11 Juli dan 7 Oktober 2021.

Ketika perihelion, Merkurius akan menerima energi dua kali lebih besar dibandingkan dengan ketika berada di aphelion. Lebar sudut Merkurius jika diamati dari Bumi ketika perihelion 26,6% lebih besar dibandingkan ketika aphelion, meskipun perbedaannya tidak begitu signifikan ketika diamati melalui teleskop karena lebar sudut Merkurius bervariasi antara 0,106-0,134 menit busur. Merkurius dapat diamati ketika awal fajar bahari dari arah timur-tenggara dekat konstelasi Virgo selama 20 menit. Magnitudo Merkurius bervariasi antara +0,47 hingga +0,46.

20 Oktober – Fase Bulan Purnama (dapat disaksikan dengan mata biasa)

Fase Bulan purnama, atau disebut juga fase oposisi Bulan, adalah konfigurasi ketika Bulan terletak membelakangi Matahari dan segaris dengan Bumi dan Matahari. Mengingat orbit Bulan yang membentuk sudut 5,1° terhadap ekliptika, Bulan tidak selalu memasuki bayangan Bumi ketika fase Bulan purnama, sehingga setiap fase Bulan purnama tidak selalu beriringan dengan gerhana Bulan.

Puncak fase Bulan purnama kali ini terjadi pada 21 September pukul 21.56.38 WIB / 22.56.38 WITA / 23.56.38 WIT dengan jarak 399.416 km dari Bumi (geosentrik) dan terletak di konstelasi Pisces. Bulan purnama dapat disaksikan dari arah timur ketika terbenam Matahari, kemudian berkulminasi setelah tengah malam di arah utara dan terbenam di arah barat setelah terbit Matahari.

21-22 Oktober – Puncak Hujan Meteor Orionid (dapat disaksikan dengan mata biasa)

Hujan Meteor Orionid aktif sejak 2 Oktober hingga 7 Oktober dan puncaknya terjadi pada 21 Oktober 2021 pukul 18.00 WIB / 19.00 WITA / 20.00 WIT. Hujan meteor ini dinamai berdasarkan titik radian (titik asal munculnya hujan meteor) yang terletak di konstelasi Orion. Hujan meteor Orion berasal dari sisa debu komet Halley yang mengorbit Matahari setiap 76 tahun sekali. Selain Orionid, hujan meteor Eta Aquarid yang terjadi di awal bulan Mei juga berasal dari sisa debu komet Halley. Hujan meteor ini merupakan salah satu diantara beberapa hujan meteor lain yang dinantikan setiap tahun, selain Leonid, Geminid, Lyrid dan Perseid.

Dengan ketinggian titik radian saat kulminasi antara 63°-79° untuk Indonesia dan intensitas maksimum 15 meteor per jam di zenit, hujan meteor Orionid dapat disaksikan di seluruh Indonesia dengan intensitas antara 13-14 meteor per jam sejak malam sebelumnya (20/10) pukul 23.00 hingga pukul 05.00 waktu setempat dari arah timur-timur laut hingga utara-barat laut.

23 Oktober – Konjungsi Bulan-Pleiades (dapat disaksikan dengan mata biasa)

Bulan akan berkonjungsi dengan Pleiades, salah satu gugus bintang yang terletak di konstelasi Taurus dan puncaknya terjadi pada 23 Oktober 2021 pukul 12.45 WIB / 13.45 WITA / 14.45 WIT dengan sudut pisah 4,8°. Akan tetapi, fenomena ini baru dapat disaksikan sejak pukul 20.00 waktu setempat dari arah timur-timur laut hingga keesokan harinya (24/10) pukul 05.00 waktu setempat dari arah barat-barat laut. Bulan berfase Benjol Akhir (Bulan Susut) dengan iluminasi bervariasi antara 91,9%-90,7%. Sedangkan magnitudo total gugus Pleiades sebesar +1,20. Sudut pisah Bulan-Pleiades bervariasi antara 5,4°-7,4° ketika diamati.

Pekan Keempat

24-25 Oktober – Apoge Bulan (dapat disaksikan dengan mata biasa)

Apoge Bulan adalah konfigurasi ketika Bulan terletak paling jauh dengan Bumi. Hal ini disebabkan oleh orbit Bulan yang berbentuk elips dengan Bumi terletak di salah satu titik fokus orbit tersebut. Perige Bulan terjadi setiap rata-rata 27,32 hari dengan interval dua apoge Bulan yang berdekatan bervariasi antara 26,98–27,90 hari. Rentang yang lebih sempit dibandingkan dengan perige disebabkan karena Bulan juga bersama-sama dengan Bumi mengelilingi Matahari. Sehingga, Bulan akan mengalami perturbasi lebih besar dengan Matahari ketika perige jika dibandingkan dengan ketika apoge.

Apoge Bulan kali ini terjadi tanggal 24 Oktober 2021 pukul 22.20.32 WIB / 23.20.32 WITA atau 24 Oktober 2021 pukul 00.20.32 WIT. Oleh sebab itu, apoge Bulan ini sudah dapat disaksikan pada malam sebelumnya ketika terbit pukul 20.15 waktu setempat dari arah Timur-Timur laut, berkulminasi pada arah Utara pukul 02.15 waktu setempat dan kemudian terbenam pada arah Barat-Barat laut pukul 08.15 waktu setempat. Bulan berjarak 405.586 km dari Bumi (geosentrik) dengan iluminasi 86,0% (Bulan susut/benjol akhir) ketika apoge dan berada di Taurus.

25 Oktober – Elongasi Barat Maksimum Merkurius (dapat disaksikan dengan mata biasa)

Elongasi barat maksimum Merkurius adalah konfigurasi ketika sudut apit yang dibentuk antara Merkurius, Bumi dan Matahari bernilai maksimum dan Merkurius terletak di sebelah barat Matahari. Puncak fenomena ini terjadi pada tanggal 25 Oktober 2021 pukul 12.22 WIB / 13.22 WITA / 14.22 WIT, sehingga dapat disaksikan dari arah Timur-Timur Laut dekat konstelasi Taurus sejak pukul 04.30 WIB/WITA/WIT hingga terbit Matahari. Sudut elongasi Merkurius-Matahari sebesar 18,4° dan ketinggian Merkurius +14,5° ketika terbit Matahari. Merkurius berjarak 0,980 sa (146,6 juta km) dari Bumi. Kecerlangan Merkurius −0,5 dengan iluminasi 55,8% (benjol awal) dan lebar sudut 6,82” ketika puncak fenomena berlangsung. Elongasi barat maksimum Merkurius terjadi rata-rata setiap 116 hari sekali, terakhir terjadi pada tanggal 6 Maret dan 5 Juli 2021, serta akan terjadi kembali pada 17 Februari dan 17 Juni 2022.

25 Oktober – Puncak Hujan Meteor Leonis Minorid (dapat disaksikan dengan mata biasa)

Leonis Minorid adalah hujan meteor yang titik radian (asal kemunculan meteor)-nya terletak di konstelasi Leo Minor, yan terletak di dekat konstelasi Leo. Hujan meteor ini berasal dari sisa debu komet C/1739 K1. Hujan meteor ini aktif sejak 19 hingga 27 Oktober mendatang, dan intensitas meteor maksimumnya terjadi pada 25 Oktober 2021 pukul 09.00 WIB / 10.00 WITA / 11.00 WIT. Dengan demikian hujan meteor ini dapat disaksikan dari arah Timur Laut sejak pukul 03.00 waktu setempat hingga 20 menit sebelum terbit Matahari. Intensitas maksimum saat titik radiannya berada di zenit sebesar 3 meteor per jam.

Mengingat ketinggian titik radian tertingginya di Indonesia berkisar 24°-25°, maka intensitas maksimumnya 2 meteor per jam. Kelajuan hujan meteor ini mencapai 223.200 km/jam. Leonis Minorid dapat disaksikan menggunakan mata biasa selama cuaca cerah, langit bersih, bebas polusi cahaya dan penghalang yang menghalangi medan pandang. Wilayah terbaik untuk mengamati hujan meteor ini adalah belahan utara Bumi seperti Sumatera bagian utara, Kep. Riau Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo dan Maluku Utara.

28 Oktober – Konjungsi Bulan-Pollux (dapat disaksikan dengan mata biasa)

Pollux merupakan bintang utama di konstelasi Gemini. Bintang ini berkonjungsi dengan Bulan, puncaknya terjadi pada pukul 03.40 WIB / 04.40 WITA / 05.40 WIT dengan sudut pisah 2,1°. Akan tetapi, fenomena ini sudah dapat disaksikan dari arah timur laut hingga utara sejak tengah malam hingga 20 menit sebelum terbit Matahari dengan sudut pisah 2,1°-2,5°. Bulan berfase sabit akhir dengan iluminasi 60,2%-59,4% sedangkan Pollux bermagnitudo +1,15.

29 Oktober – Fase Bulan Perbani Akhir (dapat disaksikan dengan mata biasa)

Fase perbani akhir adalah salah satu fase Bulan ketika konfigurasi antara Matahari, Bumi dan Bulan membentuk sudut siku-siku (90°) dan terjadi setelah fase Bulan purnama. Puncak fase perbani akhir terjadi pada pukul 03.05.05 WIB / 04.05.05 WITA / 05.05.05 WIT. Sehingga, Bulan perbani akhir ini sudah dapat disaksikan ketika terbit setelah tengah malam dari arah Timur-Timur Laut, berkulminasi di arah Utara setelah terbit Matahari dan kemudian terbenam di arah Barat-Barat Laut sebelum tengah hari. Bulan berjarak 395.909 km dari Bumi (geosentrik) dan berada di sekitar konstelasi Cancer.

30 Oktober – Elongasi Timur Maksimum Venus (dapat disaksikan dengan mata biasa)

Elongasi timur maksimum Venus adalah konfigurasi ketika sudut apit yang dibentuk antara Venus, Bumi dan Matahari bernilai maksimum dan Venus terletak di sebelah timur Matahari. Puncak fenomena ini terjadi pada tanggal 30 Oktober 2021 pukul 03.52 WIB / 04.52 WITA / 05.52 WIT, sehingga dapat disaksikan dari arah Barat-Barat Daya dekat konstelasi Ofiukus sejak 20 menit setelah terbenam Matahari selama 2,5 jam. Sudut elongasi Venus-Matahari sebesar 47,0° dan ketinggian Venus +43,5° ketika terbenam Matahari. Venus berjarak 0,667 sa (99,8 juta km) dari Bumi. Kecerlangan Venus −4,4 dengan iluminasi 49,4% (kuadratur/dikotomi) dan lebar sudut 25,20” ketika puncak fenomena berlangsung. Elongasi timur maksimum Venus terjadi rata-rata setiap 584 hari sekali, terakhir terjadi pada tanggal 17 Agustus 2017 dan 24 Maret 2021, serta akan terjadi kembali pada 5 Juni 2023 dan 10 Januari 2025.

Demikianlah ulasan mengenai fenomena astronomis sepanjang bulan Oktober 2021. Semoga cuaca cerah agar dapat menyaksikan fenomena astronomis selama bulan mendatang. Tetap sehat dan tetap semangat, Sahabat! Salam Edusainsa!

 

Comments