Bulan Merah Super Tersingkat ketika Hari Raya Waisak

Oleh Andi Pangerang
18 Mei 2021

Halo, Sahabat Edusainsa semua! Sepekan lagi, kita akan menyongsong salah satu fenomena astronomis yang ditunggu-tunggu di tahun 2021 ini. Apakah itu? Betul, Gerhana Bulan Total (GBT) yang akan terjadi pada 26 Mei mendatang. Tidak berhenti di situ saja, GBT kali ini sangat spesial. Mengapa? Karena, gerhana Bulan kali ini beriringan dengan terjadinya Perige, yakni ketika Bulan berada di jarak terdekatnya dengan Bumi. Puncak gerhana terjadi pada pukul 18.18.43 WIB / 19.18.43 WITA / 20.18.43 WIT dengan jarak 357.464 kilometer dari Bumi, sementara itu puncak Perige terjadi pada pukul 08.57.46 WIB / 09.57.46 WITA / 10.57.46 WIT dengan jarak 357.316 kilometer dari Bumi. Oleh karenanya, gerhana Bulan kali ini juga dapat disebut sebagai Bulan Merah Super mengingat lebar sudutnya yang lebih besar 13,77% dibandingkan dengan ketika berada di titik terjauhnya (apoge) dan kecerlangannya 15,6% lebih terang dibandingkan dengan rata-rata atau 29,1% lebih terang dibandingkan dengan ketika apoge. Selain itu, durasi fase total gerhana kali ini cukup singkat, yakni 14 menit 30 detik.


Gambar 1. Letak Bulan pada setiap fase gerhana. Sumber: LInspektor 1.14

 

GBT kali ini juga terjadi bertepatan dengan Detik-Detik Waisak yakni pada 15 suklapaksa (paroterang) Waisaka 2565 Era Buddha yang jatuh pada 26 Mei pukul 18.13.30 WIB / 19.13.30 WITA / 20.13.30 WIT dengan jarak 357.461 kilometer dari Bumi. Pada dasarnya, detik-detik Waisak terjadi ketika Purnama Waisak atau disebut juga Waisaka Purnima yang selalu jatuh pada tanggal 15 suklapaksa di bulan Waisaka. Pada saat bulan purnama, Matahari dan Bulan akan berada dalam satu garis lurus, sedemikian rupa sehingga cahaya Matahari dapat menerangi permukaan Bulan secara maksimal, dengan bumi berada di antara keduanya. Karena cahaya Matahari menerangi permukaan Bulan secara maksimal, maka bulan nampak bulat sempurna dipandang dari Bumi.

Kedudukan membentuk garis lurus seperti itu dikenal dengan istilah oposisi [solar] atau istiqbal. Jadi Matahari dan Bulan membentuk sudut 180° satu sama lain dalam peredarannya. Saat kedua benda langit tersebut tepat membentuk sudut 180° di hari Waisak dikenal sebagai "detik-detik Waisak." Dengan kata lain, detik-detik Waisak merupakan puncak bulan purnama pada bulan Waisaka menurut penanggalan India yang didasari oleh peredaran Bulan. Keputusan merayakan Trisuci ini diatur dalam Konferensi World Fellowship of Buddhists (WFB).

 


Gambar 2. Peta Visibilitas Gerhana Bulan Total 26 Mei 2021 secara global. Sumber: Dokumentasi Pribadi

 


Gambar 3. Peta Visibilitas Gerhana Bulan Total 26 Mei 2021 di Indonesia. Sumber: Dokumentasi Pribadi

 

Secara global, GBT kali ini dapat disaksikan oleh Asia Timur, Asia Tenggara, Australia, Selandia Baru, Oseania, dan sebagian besar benua Amerika kecuali Kanada bagian Timur, Kepulauan Virgin sampai dengan Trinidad-Tobago, Brazil bagian timur, Guyana, Suriname dan Guyana Prancis.

GBT kali ini dapat disaksikan di seluruh Indonesia dari arah Timur-Tenggara (hingga Tenggara untuk Indonesia bagian Timur) tanpa menggunakan alat bantu optik apapun. GBT kali ini terletak di dekat konstelasi Scorpius. Berikut jadwal GBT untuk wilayah di Indonesia (Delta T = 69 detik):

Fase
Gerhana

WIB
(UT+7)

WITA
(UT+8)

WIT
(UT+9)

Wilayah di Indonesia yang
Dapat Menyaksikan

Awal Penumbra

15.46.12

16.46.12

17.46.12


Papua, Kep. Aru

Awal Sebagian

16.44.37

17.44.37

18.44.37

Papua, Papua Barat, Maluku (kecuali kep. Aru), Maluku Utara, Sulawesi Utara, sebagian Gorontalo, sebagian Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, NTT

Awal Total

18.09.29

19.09.29

20.09.29

Seluruh Indonesia kecuali:

Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, sebagian Riau

Puncak Gerhana

18.18.43

19.18.43

20.18.43

Seluruh Indonesia kecuali:

Aceh, Pulau Nias, sebagian Sumatera Utara

Akhir Total

18.27.57

19.27.57

20.27.57


Seluruh Indonesia

Akhir Sebagian

19.52.49

20.52.49

21.52.49


Seluruh Indonesia

Akhir Penumbra

20.51.16

21.51.16

22.51.16


Seluruh Indonesia

 

GBT yang beriringan dengan Hari Raya Waisak dalam seabad terakhir pernah terjadi pada 24 Mei 1910*, 14 Mei 1938, 14 Mei 1957, 25 Mei 1975*, dan 16 Mei 2003*. Fenomena ini akan terjadi kembali pada 26 Mei 2040, 7 Mei 2050, 6 Mei 2069, 17 Mei 2087 dan 29 Mei 2106.

Bahkan, 16 Mei 2003 merupakan salah satu diantara dua Bulan Super Merah yang terjadi ketika Hari Raya Waisak di abad ke-21 selain 26 Mei 2021. Bulan Super Merah yang beriringan dengan Hari Raya Waisak pernah terjadi sebanyak empat kali pada abad ke-19, yakni pada 10 Mei 1808*, 21 Mei 1826, 1 Juni 1844 dan 21 Mei 1845. Untuk dua siklus saros berturut-turut (1 siklus saros = 18 tahun 11 hari), fenomena ini berulang setiap 195 tahun sekali dan akan terjadi kembali pada 10 Mei 2199, 21 Mei 2217 dan 16 Mei 2394.

Jangan sampai Sahabat melewatkan momen ini ya! Sampai jumpa di momen astronomi yang tidak kalah menarik lainnya. Salam Edusainsa!

 

(*Indonesia tidak dapat menyaksikan karena seluruh fase gerhana terjadi di siang hari)

Comments