Dua Puluh Bintang Paling Terang di Langit Malam – Bagian Kedua

Oleh Andi Pangerang
29 Desember 2020

Halo, Sahabat Edusainsa! Melanjutkan ulasan sebelumnya mengenai sepuluh bintang paling terang pertama di langit malam, berikut ini daftar sepuluh bintang paling terang kedua di langit malam.

Hadar (Agena) – Beta Centauri (β Cen)

Gambar 1.a. Posisi Hadar bersama dengan Rigel Kent dan Konstelasi Crux. Sumber: Earthsky

Hadar atau Agena merupakan bintang paling terang kesebelas setelah Betelgeuse dan terletak di konstelasi Centaurus. Nama “Hadar” berasal dari Bahasa Arab hadar (????) yang bermakna “hadir”, “bermukim” atau “area berpenghuni”. Sementara nama “Agena” diperkirakan berasal dari Bahasa Latin genua yang bermakna “lutut”, merujuk pada posisi bintang yang terletak di lutut kiri dari kaki depan manusia berbadan kuda (Centaur) di konstelasi Centaurus.

Gambar 1.b. Ilustrasi Artistik Sistem Bintang Tripel Hadar. Sumber: Wikimedia Commons

Hadar pada dasarnya adalah sistem bintang tripel yang terdiri dari tiga bintang: Beta Centauri Aa (kelas spektrum B1III, Variabel Beta Cephei atau SPB, slowly pulsating B-type star [bintang tipe B berdenyut lambat]) yang berukuran sembilan kali Matahari, Beta Centauri Ab (kelas spektrum B1III) yang juga berukuran sembilan kali Matahari, dan Beta Centauri B (kelas spektrum B1V) yang bermassa 4,6 kali Matahari (diperkirakan berukuran 3,4 kali Matahari). Kecerlangan gabungan dari sistem tripel ini adalah +0,61. Hadar berjarak 390 tahun cahaya dari Matahari. Bintang ini terletak di langit selatan dengan koordinat (Asensiorekta, Deklinasi) 14jam 03menit 49,40detik dan −60° 22′ 22,93″. Bintang ini tidak pernah terbenam bagi pengamat di lintang 30°LS atau lebih dan tidak pernah terbit bagi pengamat di lintang 30°LU atau lebih.

Altair – Alfa Aquilae (α Aql)

Gambar 2.a, Bagan Konstelasi Aquila (dengan Altair ditunjukkan dengan lingkaran merah)
Sumber: Constellation Guide

Altair merupakan bintang paling terang keduabelas setelah Hadar dan terletak di konstelasi Aquila (“burung elang”). Nama “Altair” berasal dari Bahasa Arab at-tair (??????) dengan nama lengkap an-nasr at-tair (????? ??????) yang bermakna “elang terbang”. Kecerlangan visualnya sebesar +0,76 dengan kelas spektrum A7V yang menandakan Altair merupakan bintang deret utama tipe-A. Altair termasuk bintang variabel Delta Scuti yang merupakan bintang muda berdenyut. Bintang ini berjarak 16,7 tahun dari Matahari dengan ukuran dua kali matahari (di ekuator, dan pepat di kedua kutubnya dengan jari-jari kutub lebih kecil 20% dibandingkan jari-jari ekuator). Bintang ini terletak di utara ekuator langit dengan koordinat (Asensiorekta, Deklinasi) 19jam 50menit 47,00detik dan +08° 52′ 05,96″.

Gambar 2.b. Pemodelan Bintang Berotasi Cepat dibandingkan dengan Citra Altair dari interferometer CHARA
Kredit: Ming Zhao (University of Michigan)

Acrux – Alfa Crucis (α Cru)

Gambar 3. Posisi Acrux di Konstelasi Crux (atas, Sumber: Earthsky)
dan Sistem Bintang Tripel Acrux (bawah, Sumber: David Darling)

Acrux merupakan bintang paling terang ketigabelas setelah Altair dan terletak di konstelasi Crux (“Salib Selatan”). Nama “Acrux” sendiri sebenarnya diturunkan dari nama Alfa Crucis, sesuai dengan sistem penamaan Bayer yang menamai bintang dalam sebuah konstelasi berdasarkan kecerlangan visual bintang tersebut. Secara kasat mata, Acrux tampak seperti sebuah bintang tunggal. Akan tetapi, Acrux terdiri dari 3 pasang bintang ganda spektroskopis yang jika diamati menggunakan teleskop optis hanya tampak sebagai sistem bintang tripel, yakni: Acrux A atau α1 Crucis, Acrux B atau α2 Crucis, dan Acrux C atau HR 4729. Acrux A dan Acrux B berjarak 320 tahun cahaya dari Matahari dengan kecerlangan masing-masing +1,33 dan +1,75. Kelas spektrum untuk Acrux A dan Acrux B berturut-turut adalah B0,5IV dan B1V dengan ukuran masing-masing 7,8 dan 5,4 kali Matahari. Sedangkan Acrux C berjarak 310 tahun cahaya Matahari dengan kecerlangan +4,79 dan kelas spektrum B5V. Acrux terletak di langit selatan dengan koordinat (Asensiorekta, Deklinasi) 12jam 26menit 35,89detik dan −63° 05′ 56,73″. Bintang ini tidak pernah terbenam bagi pengamat di lintang 27°LS atau lebih dan tidak pernah terbit bagi pengamat di lintang 27°LU atau lebih.

Aldebaran – Alfa Tauri (α Tau)

Gambar 4. Posisi Aldebaran, Pleiades dan Sabuk Orion sebagai penujuk posisi (kiri, sumber: Earthsky)
besertas Citra Bintang Aldebaran dan Gugus Pleiades (kanan, sumber: Star Facts)

Aldebaran merupakan bintang paling terang keempatbelas setelah Acrux dan terletak di konstelasi Taurus. Nama “Aldebaran” berasal dari Bahasa Arab al-Dabaran yang bermakna “sang pengintai/pengikut” merujuk pada ketampakan bintang yang mengikuti Gugus Pleiades (Messier 45). Kecerlangan visualnya bervariasi antara +0,75 hingga +0,95 dengan kecerlangan rata-rata +0,86. Aldebaran dikelompokkan ke dalam kelas spektrum K5III yang menandakan bahwa bintang ini merupakan bintang raksasa merah. Aldebaran berjarak 65 tahun cahaya dari Matahari dengan ukuran 44 kali Matahari akan tetapi bermassa 16% lebih besar dibandingkan Matahari. Aldebaran terletak di utara ekuator langit dengan koordinat (Asensiorekta, Deklinasi) 04jam 35menit 55,24detik dan +16° 30′ 33,49″.

Antares – Alfa Scorpii (α Sci)

Gambar 5.a. Posisi Antares di Konstelasi Scorpius. Sumber: Earthsky

Antares merupakan bintang paling terang kelimabelas setelah Aldebaran dan terletak di konstelasi Scorpius. Nama “Antares” berasal dari Bahasa Yunani Kuno Antares yang bermakna “berlawanan dari Ares (Mars)” (anti-ares). Penamaan ini karena rona kemerahan yang mirip dengan planet Mars. Kemiripan ini sudah diketahui oleh para astronom sejak era Mesopotamia.

Gambar 5.b. Sistem Bintang Ganda Antares. Sumber: Constellation Guide

Antares sendiri sebenarnya adalah bintang ganda yang terdiri dari dua bintang: Alfa Scorpii A dan Alfa Scorpii B. Alfa Scorpii A merupakan bintang variabel iregular lambat yang kecerlangan visualnya bervariasi antara +0,6 hingga +1,6 dan digolongkan ke dalam kelas spektrum M1,5Iab-Ib yang menandakan bahwa bintang ini adalah maharaksasa merah. Alfa Scorpii A berukuran 680 kali Matahari (dengan variasi +/- 19%) dengan massa bervariasi antara 11 hingga 14,3 kali massa Matahari. Sementara itu, Alfa Scorpii B merupakan bintang deret utama tipe B yang kecerlangan visualnya +5,5 dan digolongkan ke dalam kelas spektrum B2,5V. Alfa Scorpii B berukuran 5,2 kali Matahari dengan massa 7,2 kali massa Matahari.

Antares berjarak sekitar 550 tahun cahaya dari Matahari dan terletak di selatan ekuator langit dengan koordinat (Asensiorekta, Deklinasi) 16jam 29menit 24,46detik dan −26° 25′ 55,21″. Bintang ini tidak pernah terbenam bagi pengamat di lintang 63,5°LS atau lebih dan tidak pernah terbit bagi pengamat di lintang 63,5°LU atau lebih.

Spica – Alfa Virginis (α Vir)

Gambar 6.a. Citra Bintang Spica. Sumber: Astro Pixels - Fred Espenak

Spica merupakan bintang paling terang keenambelas setelah Antares dan terletak di konstelasi Virgo. Nama “Spica” merupakan kependekan dari frase dalam Bahasa Latin spica virginis yang bermakna “tunas gandum”. Nama alternatif untuk Spica adalah Azimech yang diturunkan dari frase berbahasa Arab as-simak al-a’zal (?????? ??????) yang bermakna “yang tak terlindungi” dan Sumbalet yang juga diturunkan dari Bahasa Arab sumbulatun (?????‎) yang bermakna “tunas gandum”.

Gambar 6.b. Citra Spektroskopis Bintang Spica yang merupakan Bintang Ganda Variabel. Sumber: Earthsky

Spica pada dasarnya adalah bintang ganda spektroskopis yang mana bintang pertamanya merupakan bintang variabel Beta Cephei dan bintang keduanya merupakan bintang variabel ellipsoid berotasi. Kecerlangan visual bintang ini bervariasi antara +0,97 hingga +1,04 dengan kecerlangan maksimum +0,97. Bintang pertama dalam sistem Spica tergolong ke dalam kelas spektrum B1III-IV atau raksasa biru dengan ukuran 7,5 kali Matahari, sedangkan bintang kedua tergolong ke dalam kelas spektrum B2V atau deret utama tipe-B dengan ukuran 3,75 kali Matahari. Spica berjarak sekitar 250 tahun cahaya dari Matahari dan terletak di selatan ekuator langit dengan koordinat (Asensiorekta, Deklinasi) 13jam 25menit 11,58detik dan −11° 09′ 40,75″.

Pollux – Beta Geminorium (β Gem)

Gambar 7.a. Citra Bintang Pollux, Castor dan Procyon. Sumber: Sky and Telescope

Pollux merupakan bintang paling terang ketujuhbelas setelah Spica dan terletak di konstelasi Gemini. Nama “Pollux” berasal dari mitologi Yunani yakni sepasang laki-laki kembar bernama Castor dan Pollux. Kecerlangan visualnya sebesar +1,14 dengan kelas spectral K0III sehingga digolongkan sebagai bintang raksasa merah. Pollux berjarak 34 tahun cahaya dari Matahari dengan ukuran sembilan kali Matahari dan massa dua kali Matahari. Bintang terletak di selatan ekuator langit dengan koordinat (Asensiorekta, Deklinasi) 07jam 45menit 18,95detik dan +28° 01′ 34,32″. Pollux tidak pernah terbenam bagi pengamat di lintang 62°LU atau lebih dan tidak pernah terbit bagi pengamat di lintang 62°LS atau lebih.

Gambar 7.b. Thestias (Pollux b) adalah Planet dalam Sistem Keplanetan Pollux. Sumber: Wikipedia

Pollux adalah bintang paling terang pertama di langit malam yang memiliki sistem keplanetan seperti di tatasurya. Planet yang baru ditemukan di sistem keplanetan Pollux adalah Pollux b (kemudian dinamai Thestias, merujuk pada nama ayah dari Leda (ibunda Pollux) yang bernama Thestius, mengingat nama Leda sudah digunakan sebagai nama asteroid (38 Leda) dan satelit Jupiter (Jupiter XIII atau Leda)). Thestias bermassa setidaknya 2,3 kali Jupiter dengan periode orbit selama 590 hari di Bumi.

Fomalhaut – Beta Piscis Austrini (β PsA)

Gambar 8.a. Posisi Fomalhaut, Fomalhaut B dan Fomalhaut C dalam konstelasi Piscis Austrinus
Sumber: Sky and Telescope

Fomalhaut merupakan bintang paling terang kedelapanbelas setelah Pollux dan terletak di konstelasi Piscis Austrinus (“Ikan Selatan”). Nama “Fomalhaut” berasal dari Bahasa Arab fam al-hut (?? ?????) yang bermakna “mulut ikan”. Fomalhaut pada dasarnya adalah sistem bintang ganda yang terdiri dari Fomalhaut A atau Fomalhaut, TW Piscis Austrini atau Fomalhaut B, dan kemudian bersama bintang LP 876-10 atau Fomalhaut C membentuk sistem bintang tripel. Jika diamati dari Bumi, Fomalhaut A dan B terpisah sejauh 2 derajat sedangkan Fomalhaut A dan C terpisah sejauh 6 derajat. Meskipun demikian, Fomalhaut C berjarak 3,2 tahun cahaya dari Fomalhaut B dan 2,5 tahun cahaya dari Fomalhaut A. Hal ini dipengaruhi oleh gravitasi ketiga bintang ini yang mendominasi galaksi kita, Bimasakti.

Gambar 8.b. Ilustrasi Artistik Sistem Keplanetan Fomalhaut (kanan) dan Fomalhaut C (kiri).
Sumber: Herschel Space Observatory

Fomalhaut berjarak 25,1 tahun cahaya dari Matahari dengan kelas spektrum A3V (bintang deret utama tipe-A) dan berukuran 84% lebih besar dibandingkan Matahari. Fomalhaut B berjarak 24,8 tahun cahaya Matahari dengan kelas spektrum K5Vp (bintang deret utama tipe-K) dan berukuran 34% lebih kecil dibandingkan Matahari. Sedangkan, Fomalhaut C berjarak 25 tahun cahaya dari Matahari dengan kelas spektrum M4V (bintang katai merah) dan bermassa seperlima kali Matahari.

Gambar 8.c. Sistem Bintang Tripel Fomalhaut. Sumber: Sky and Telescope

Fomalhaut sebagai bintang utama di konstelasi Piscis Austrinus memiliki kecerlangan +1,16 sementara Fomalhaut B dan C masing-masing memiliki kecerlangan +6,48 dan +12,62. Ketiganya sama-sama terletak di selatan ekuator langit dengan koordinat Fomalhaut A (Asensiorekta, Deklinasi) sebesar 22jam 57menit 39,05detik dan −29° 37′ 20,05″; koordinat Fomalhaut B sebesar 22jam 56menit 24,05detik dan −31° 33′ 56,03″ ; dan koordinat Fomalhaut C sebesar 22jam 48menit 04,47detik dan −24° 22′ 07,50″. Fomalhaut A tidak pernah terbenam bagi pengamat di lintang 60,4°LS atau lebih dan tidak pernah terbit bagi pengamat di lintang 60,4°LU atau lebih.

Gambar 8.d. Piringan Debu Awan dalam Sistem Keplanetan Fomalhaut.
Sumber: HubbleSite - Hubble Space Telescope (atas),
Herschel Space
Observatory (kiri bawah) dan ALMA Telescope (kanan bawah)

Fomalhaut merupakan planet paling terang kedua di langit malam setelah Pollux yang mempunyai sistem keplanetan seperti di tatasurya. Planet yang baru ditemukan di sistem keplanetan Fomalhaut adalah Fomalhaut b (kemudian dinamai Dagon). Fomalhaut b mengorbit bintang induknya selama kurang lebih 1700 tahun di Bumi dengan kemiringan orbit −55° dan kelonjongan orbit mencapai 0,8.

Deneb – Alfa Cygni (α Cyg)

Gambar 9.a. Posisi Deneb di Konstelasi Cygnus. Sumber: Earthsky

Deneb merupakan bintang paling terang kesembilanbelas setelah Fomalhaut dan terletak di konstelasi Cygnus (“angsa”). Nama “Deneb” terambil dari frase berbahasa Arab zanab al-dajajah (??? ???????) yang bermakna “ekor angsa”. Kecerlangan bintang ini bervariasi antara +1,21 hingga +1,29 dengan kecerlangan rata-rata +1,25. Deneb digolongkan ke dalam kelas spektrum A2Ia yang menandakan bahwa Deneb merupakan bintang maharaksasa kebiru-biruan. Deneb berjarak 2.615 tahun cahaya dari Matahari, jarak paling jauh untuk bintang bermagnitudo pertama dan kedua. Sebagai bintang maharaksasa, Deneb berukuran 203 kali Matahari dengan massa 19 kali Matahari.

Gambar 9.b. Segitiga Musim Panas yang terdiri dari Deneb, Vega dan Altair. Sumber: Earthsky

Deneb terletak di langit utara dengan koordinat (Asensiorekta, Deklinasi) 20jam 41menit 25,90detik dan +45° 16′ 49″ sehingga, bintang ini tidak pernah terbenam bagi pengamat di lintang 45°LU atau lebih dan tidak pernah terbit bagi pengamat di lintang 45°LS atau lebih. Deneb bersama-sama dengan Vega dan Altair membentuk asterisma Segitiga Musim Kemarau bagi pengamat di sekitar garis khatulistiwa dan Segitiga Musim Panas bagi pengamat di belahan utara.

Gambar 9.c. Citra Setiap Bintang Pembentuk Segitiga Musim Kemarau.
Sumber: Astronomy Picture of the Day (APOD) NASA

Mimosa (Becrux) – Beta Crucis (α Cru)

Gambar 10.a. Citra Bintang Mimosa dalam Konstelasi Crux. Kredit: Yuri Belestky (ESO) untuk Space.com

Mimosa atau Becrux merupakan bintang paling terang keduapuluh setelah Deneb dan terletak di konstelasi Crux. Nama “Mimosa” diperkirakan berasal dari nama ilmiah marga/genus tumbuhan, Mimosa, yang gerakan daunnya “meniru” kepekaan rangsangan pada hewan (Yunani mimos: menirukan gerakan, berakting) seperti pada Mimosa pudica atau tumbuhan putri malu yang akan mengatupkan daunnya ketika terkena sentuhan. Nama “Becrux” sendiri terambil dari penamaan Bayer, Beta Crucis.

Gambar 10.b. Citra Sistem Bintang Ganda Mimosa dan Gugus NGC 4755. Kredit: Eder Ivan

Mimosa merupakan sistem bintang ganda yang terdiri dari Becrux A (kelas spektrum B0,5III ; bintang raksasa biru) dan Becrux B (kelas spektrum B2V, bintang deret utama tipe-B). Kecerlangan gabungannya bervariasi antara +1,23 hingga +1,31 dengan kecerlangan gabungan rata-rata sebesar +1,25 ; mengingat sistem bintang ganda ini juga merupakan variabel Beta Cephei. Becrux A berukuran 8,4 kali Matahari dengan massa 16 kali Matahari, sedangkan Becrux B bermassa 10 kali Matahari (diperkirakan berukuran 6,3 kali Matahari).

Gambar 10.c. Penggunaan Mimosa (kotak biru) dan Konstelasi Crux (kotak kuning) pada Bendera Negara
Sumber: The Encyclopedia of New Zealand (kiri) dan Wikipedia (kanan)

Mimosa terletak di langit selatan dengan koordinat (Asensiorekta, Deklinasi) 12jam 47menit 43,27detik dan −59° 41′ 19,58″ sehingga, bintang ini tidak pernah terbenam bagi pengamat di lintang 30,3°LS atau lebih dan tidak pernah terbit bagi pengamat di lintang 30,3°LU atau lebih. Mimosa beserta Acrux dan tiga bintang lainnya dalam konstelasi Crux digunakan sebagai lambang pada bendera Australia, Selandia Baru, Samoa dan Papua Nugini. Lebih spesifik lagi, Mimosa juga digunakan dalam bendera Brazil, bersama 26 bintang lainnya, yang mana setiap bintang menyatakan negara bagian di Brazil. Mimosa mewakili negara bagian Rio de Janeiro.

Dengan mengetahui keduapuluh bintang paling terang di langit malam, Sahabat tentu akan lebih mudah mengenali dan membidik objek-objek tersebut agar dapat menjadi buah karya Sahabat sekalian. Pastikan cuaca di tempat Sahabat betul-betul cerah, bebas dari polusi cahaya alami seperti Bulan maupun polusi cahaya buatan seperti sorot lampu, serta medan pandang yang bebas dari penghalang seperti bangunan, pepohonan, pegunungan dan awan tipis. Selamat berburu dua puluh bintang paling terang!

Comments