Fenomena Astronomis Agustus 2021

Oleh Andi Pangerang
24 Juli 2021

Halo, Sahabat Edusainsa semua! Tidak terasa, kita sudah menyongsong bulan kemerdekaan Republik Indonesia. Fenomena astronomis apa sajakah yang akan terjadi bulan mendatang? Yuk simak ulasannya, Sahabat!

Pekan Pertama

1 Agustus – Konjungsi Superior Merkurius

Konjungsi superior adalah konfigurasi yang berlaku khusus pada Merkurius dan Venus, yakni ketika Merkurius, Matahari dan Bumi terletak pada satu garis lurus dan Merkurius membelakangi Matahari. Konjungsi superior ini menandai pergantian ketampakan Merkurius yang semula ketika fajar menjadi senja. Fenomena ini terjadi pada pukul 21.29 WIB / 22.29 WITA / 23.29 WIT.

 

Gambar 1. Orbit Merkurius dan Bumi ketika Konjungsi Superior Merkurius. Sumber: http://in-the-sky.org

 

Fase Merkurius ketika konjungsi superior sama dengan fase purnama pada Bulan maupun oposisi pada planet luar (Mars hingga Neptunus). Bagian permukaan Merkurius yang menghadap Bumi tersinari seluruhnya oleh Matahari. Akan tetapi, karena Merkurius membelakangi Matahari, Merkurius akan tampak berdekatan dengan Matahari dan jarak Merkurius terhadap Bumi menjadi sangat jauh, sehingga Merkurius akan tampak berukuran lebih kecil dan cukup sulit diamati.

Jarak Merkurius ke Bumi mencapai 1,342 sa atau 200,8 juta kilometer dengan magnitudo tampak -2,0 dan diameter sudut 1/12 menit busur. Sudut pisah Merkurius-Matahari sebesar 1,69°. Konjungsi superior Merkurius sebelumnya terjadi pada 19 April 2021. Sedangkan, konjungsi superior berikutnya akan terjadi pada 29 November 2021, 3 April, 17 Juli dan 8 November 2022.

2 Agustus – Oposisi Saturnus

Oposisi Saturnus adalah waktu ketika Saturnus, Bumi dan Matahari berada pada satu garis lurus. Oposisi pada Saturnus sama dengan fase oposisi Bulan atau purnama, sehingga Saturnus dapat terlihat paling terang jika diamati dari Bumi. Puncak oposisi Saturnus terjadi pada pukul 13.23 WIB dengan magnitudo tampak sebesar −0,2. Lebar sudut Saturnus ketika oposisi sebesar 0,31 detik busur dengan jarak 8,935 sa atau 1,337 milyar kilometer dari Bumi. Sayangnya, Saturnus masih di bawah ufuk saat oposisi jika diamati di Indonesia, sehingga baru dapat diamati dari arah Timur-Tenggara hingga Barat-Barat Daya sejak setelah Matahari terbenam hingga sebelum Matahari terbit.

 

Gambar 2. Orbit Saturnus dan Bumi ketika Oposisi Saturnus. Sumber: http://in-the-sky.org

 

2 Agustus – Apoge Bulan

Apoge Bulan adalah konfigurasi ketika Bulan terletak paling jauh dengan Bumi. Hal ini disebabkan oleh orbit Bulan yang ­berbentuk elips dengan Bumi terletak di salah satu titik fokus orbit tersebut. Perige Bulan terjadi setiap rata-rata 27,32 hari dengan interval dua apoge Bulan yang berdekatan bervariasi antara 26,98–27,90 hari. Rentang yang lebih sempit dibandingkan dengan perige disebabkan karena Bulan juga bersama-sama dengan Bumi mengelilingi Matahari. Sehingga, ketika perige, akan mengalami perturbasi lebih besar dengan Matahari dibandingkan ketika apoge.

Apoge Bulan di bulan Agustus 2021 ini terjadi dua kali, yang pertama terjadi pada 2 Agustus pukul 14.38.00 WIB / 15.38.00 WITA / 16.38.00 WIT. Sehingga, apoge Bulan ini baru dapat disaksikan ketika terbit sekitar pukul 00.40 waktu setempat dari arah timur-timur laut, berkulminasi di arah utara sekitar pukul 06.40 waktu setempat dan kemudian terbenam di arah barat-barat laut sekitar pukul 12.40 waktu setempat. Bulan berjarak 404.370 km dari Bumi dan berada di sekitar konstelasi Taurus dengan iluminasi 33,6% (sabit akhir) ketika apoge. Apoge Bulan selanjutnya terjadi pada 30 Agustus yang bertepatan dengan fase Bulan Perbani Akhir di titik Simpul Menaik.

Gambar 3. Kondisi Bulan ketika Apoge. Sumber: Stellarium PC 0.21.0

 

7 Agustus – Konjungsi Bulan-Pollux

Bulan akan mengalami konjungsi dengan Pollux, bintang utama di konstelasi Gemini, pada pukul 02.42 WIB dengan sudut pisah 3,1°. Akan tetapi, fenomena ini baru dapat disaksikan 45 menit sebelum Matahari terbit dari arah Timur-Timur Laut dengan sudut pisah 3,65°. Bulan dalam fase sabit akhir dengan iluminasi 2,8% sementara Pollux memiliki kecerlangan +1,22. Kejadian ini terakhir terjadi pada 13 Juni dan akan kembali terjadi pada 3 September dan 30 September.

Gambar 4. Kondisi Bulan ketika Berkonjungsi dengan Pollux. Sumber: Stellarium PC 0.21.0

 

8 Agustus – Fase Bulan Baru

Fase Bulan baru, disebut juga konjungsi solar Bulan, adalah konfigurasi ketika Bulan terletak di antara Matahari dan Bumi dan segaris dengan Matahari dan Bumi. Mengingat orbit Bulan yang membentuk sudut 5,1° terhadap ekliptika, bayangan Bulan tidak selalu jatuh di permukaan Bumi ketika fase Bulan baru, sehingga setiap fase Bulan baru tidak selalu beriringan dengan gerhana Matahari.

Fase Bulan Baru kali ini terjadi pada 8 Agustus pukul 20.50.06 WIB / 21.50.06 WITA / 22.50.06 WIT dengan jarak 387.822 km dari Bumi dan terletak di konstelasi Cancer.

Gambar 5. Kondisi Bulan ketika Fase Bulan Baru Sumber: Stellarium PC 0.21.0

 

Kondisi langit pada 8 Agustus tengah malam, Saturnus dan Jupiter masih bertengger di ufuk tinggi masing-masing dari arah Selatan-Barat Daya dan Timur-Tenggara. Lima puluh menit kemudian, Jupiter berkulminasi di arah Selatan, dan 15 menit sebelum Matahari terbit, Saturnus sudah terbenam terlebih dahulu di arah Barat-Barat Daya sementara Jupiter terbenam satu jam setelah Matahari terbit. Tiga puluh menit sebelum Matahari terbenam, Saturnus sudah terbit dari arah Timur-Tenggara sedangkan Jupiter baru terbit 45 menit setelah Matahari terbenam.

Sementara itu, ketinggian Bulan di Indonesia ketika terbenam Matahari bervariasi antara −0,18° hingga −3,06° dengan sudut elongasi terhadap Matahari bervariasi antara 4,63° hingga 5,55° sehingga Bulan mustahil dapat diamati baik menggunakan apalagi tanpa alat bantu. Meskipun demikian, Bulan masih bisa disaksikan ketika terbit Matahari dengan ketinggian bervariasi antara +3,36° hingga +5,53° dengan sudut elongasi terhadap Matahari bervariasi antara 8,95° hingga 7,70°.

Sedangkan, Mars berada di arah Barat-Barat Laut ketika 20 menit setelah Matahari terbenam dan terlihat selama satu jam. Di waktu dan arah yang sama, Merkurius berada di ufuk rendah dan berada di atas ufuk selama 10 menit. Venus berada di arah timur dan berada di atas ufuk selama dua jam.

Pekan Kedua

9 Agustus – Konjungsi Tripel Bulan-Merkurius-Regulus

Puncak konjungsi Bulan-Merkurius terjadi pada pukul 13.30.34 WIB / 14.30.34 WITA / 15.30.34 WIT, sedangkan puncak konjungsi Bulan-Regulus terjadi pada pukul 22.52.28 WIB / 23.52.28 WITA / 00.52.28 WIT.  Sehingga, Bulan akan mengalami konjungsi tripel dengan Merkurius dan Regulus. Fenomena ini baru dapat disaksikan dari arah Barat-Barat Laut sekitar 20 menit setelah Matahari terbenam selama 12 menit. Ketika konjungsi tripel, Bulan berfase Sabit Awal dengan iluminasi 0,9%; sementara magnitudo Merkurius dan Regulus berturut-turut −1,19 dan +1,35. Sudut pisah Bulan-Merkurius sebesar 3,5° sedangkan sudut pisah Bulan-Regulus sebesar 5,3°.

Gambar 6. Kondisi Bulan ketika Konjungsi Tripel Bulan-Regulus-Merkurius Sumber: Stellarium PC 0.21.0

 

10 Agustus – Konjungsi Bulan-Mars

Puncak konjungsi Bulan-Mars terjadi pada pukul 07.42 WIB / 08.42 WITA / 09.42 WIT dengan sudut pisah 4,3°; sehingga fenomena ini baru dapat disaksikan dari arah Barat-Barat Laut sekitar 20 menit setelah Matahari terbenam selama 50 menit. Ketika konjungsi, Bulan berfase Sabit Awal dengan iluminasi 3,9%-4,1%; sementara magnitudo Mars sebesar +1,82. Sudut pisah Bulan-Mars sebesar 4,90°-5,13°.

Gambar 7. Kondisi Bulan ketika Berkonjungsi dengan Mars Sumber: Stellarium PC 0.21.0

 

11 Agustus – Konjungsi Bulan-Venus

Puncak konjungsi Bulan-Venus terjadi pada pukul 14.00 WIB / 15.00 WITA / 16.00 WIT dengan sudut pisah 4,3°; sehingga fenomena ini baru dapat disaksikan dari arah Barat sekitar 20 menit setelah Matahari terbenam selama dua jam. Ketika konjungsi, Bulan berfase Sabit Awal dengan iluminasi 9,2%-9,7%; sementara magnitudo Venus sebesar −3,95. Sudut pisah Bulan-Mars sebesar 3,73°-3,64°.


Gambar 8. Kondisi Bulan ketika Berkonjungsi dengan Venus. Sumber: Stellarium PC 0.21.0

12-13 Agustus – Puncak Hujan Meteor Perseid

Hujan Meteor Perseid aktif sejak tanggal 17 Juli hingga 24 Agustus dan puncaknya terjadi pada tanggal 12-13 Agustus 2020. Hujan meteor ini dinamai berdasarkan titik radian (titik asal munculnya hujan meteor) yang terletak di konstelasi Perseus, Hujan meteor ini berasal dari sisa-sisa debu komet 109P/Swift-Tuttle. Hujan meteor ini dapat disaksikan dari arah Utara-Barat Laut hingga Utara mulai tengah malam waktu setempat hingga 20 menit sebelum Matahari terbit. Intensitas maksimum hujan meteor ini untuk di Indonesia mencapai 60-90 meteor tiap jam dengan kelajuan meteor mencapai 212.400 km/jam. Hujan meteor ini tidak terganggu oleh Bulan fase Sabit Awal berumur 4 hari dikarenakan sudah terbenam sebelum tengah malam.

Gambar 9. Puncak Hujan Meteor Perseid. Sumber: Stellarium PC 0.21.0

 

15 Agustus – Fase Bulan Perbani Awal

Fase perbani awal adalah salah satu fase Bulan ketika konfigurasi antara Matahari, Bumi dan Bulan membentuk sudut siku-siku (90°) dan terjadi sebelum fase Bulan purnama.


Gambar 10. Kondisi Bulan ketika Fase Perbani Awal Sumber: Stellarium PC 0.21.0

Puncak fase perbani awal terjadi pada pukul 22.20.39 WIB / 23.20.39 WITA / 00.20.39 WIT. Sehingga, Bulan perbani awal ini sudah dapat disaksikan ketika terbit pukul 11.00 waktu setempat dari arah Timur-Tenggara, berkulminasi di dekat Zenit (untuk lintang 2°-3°LU) sekitar 30 menit sebelum terbenam Matahari dan kemudian terbenam di arah Barat-Barat Laut ketika tengah malam. Bulan berjarak 370.068 km dari Bumi ketika puncak fase perbani awal dan berada di sekitar konstelasi Libra.

Pekan Ketiga dan Keempat

17 Agustus – Konjungsi Bulan-Antares dan Perige Bulan

Tepat di hari kemerdekaan Indonesia, puncak konjungsi Bulan-Antares terjadi pada pukul 01.34 WIB / 02.34 WITA / 03.34 WIT dengan sudut pisah 4,5°. Di hari yang sama, Bulan juga berada di titik terdekat dari Bumi atau Perige pada pukul 16.23 WIB / 17.23 WITA / 18.23 WIT. Sehingga, Bulan dapat disaksikan pukul 13.00 waktu setempat dari arah Timur-Tenggara, berkonjungsi dengan Antares dari arah Tenggara sekitar 20 menit setelah terbenam Matahari, berkulminasi pukul 19.20 waktu setempat dari arah Selatan dan terbenam pukul 01.45 waktu setempat dari arah Barat-Barat Daya. Sudut pisah Bulan-Antares bervariasi antara 9,67°-11,96° ketika berkonjungsi. Magnitudo Antares sebesar +1,05 sedangkan Bulan berfase Bulan Besar (Benjol Awal) dengan iluminasi 70,8%-73,0%

 

17-18 Agustus – Puncak Hujan Meteor Kappa Cygnid

Hujan Meteor Kappa Cygnid aktif sejak tanggal 3 hingga 25 Agustus dan puncaknya terjadi pada tanggal 18 Agustus pukul 07.00 WIB / 08.00 WITA / 09.00 WIT. Hujan meteor ini dinamai berdasarkan titik radian (titik asal munculnya hujan meteor) yang terletak di bintang Kappa Cygni konstelasi Cygnus. Hujan meteor ini berasal dari sisa-sisa debu asteroid (361861) 2008 ED69. Hujan meteor ini dapat disaksikan dari arah Utara-Timur Laut sejak 20 menit setelah Matahari terbenam hingga pukul 02.20 waktu setempat keesokan harinya. Intensitas maksimum hujan meteor ini untuk di Indonesia mencapai 1 meteor tiap jam dengan kelajuan meteor mencapai 90.000 km/jam. Hujan meteor ini akan terganggu secara signifikan oleh intensitas cahaya Bulan fase Benjol Awal berumur 9 hari.

Gambar 12. Puncak Hujan Meteor Kappa Cygnid. Sumber: Stellarium PC 0.21.0

 

19 Agustus – Konjungsi Merkurius-Mars

Puncak konjungsi Merkurius-Mars terjadi pada pukul 10.17 WIB / 11.17 WITA / 12.17 WIT dengan sudut pisah 0,07°. Fenomena ini baru dapat disaksikan dari arah Barat di ketinggian 10,6° sejak 20 menit setelah Matahari terbenam selama 45 menit. Sudut pisah Merkurius-Mars bervariasi antara 0,35°-0,38°. Magnitudo Merkurius sebesar −0,50 sedangkan magnitude Mars bervariasi antara +0,78 hingga +0,80. Keduanya terletak di konstelasi Leo.

Gambar 13. Konjungsi Merkurius-Mars Sumber: Stellarium PC 0.21.0

19-23 Agustus – Konjungsi Tripel Bulan-Saturnus-Jupiter

Fenomena ini berlangsung selama lima hari sejak 19 hingga 23 Agustus mendatang. Dapat disaksikan dari arah Timur-Tenggara sejak 20-45 menit setelah Matahari terbenam hingga pukul 3.00-4.30 waktu setempat dari arah Barat-Barat Daya. Kecerlangan Jupiter konstan di −2,87 sedangkan kecerlangan Saturnus bervariasi antara +0,31 hingga +0,33. Bulan berfase Bulan Besar (Benjol Awal) hingga Bulan Susut (Benjol Akhir) ketika berkonjungsi dengan Jupiter dan Saturnus.

Mula-mula, Bulan berada di konstelasi Sagitarius, sedangkan Jupiter dan Saturnus berada di konstelasi Capricornus. Keesokan harinya, Bulan berpindah menuju Capricornus bersama Jupiter dan Saturnus selama dua hari berturut-turut. Kemudian, Bulan berpindah menuju Aquarius meninggalkan Jupiter dan Saturnus selama dua hari berturut-turut.

20 Agustus – Oposisi Jupiter


Gambar 15. Orbit Jupiter dan Bumi ketika Oposisi Jupiter. Sumber: http://in-the-sky.org

Oposisi Jupiter adalah waktu ketika Jupiter, Bumi dan Matahari berada pada satu garis lurus. Oposisi pada Jupiter sama dengan fase oposisi Bulan atau purnama, sehingga Jupiter dapat terlihat paling terang jika teramati dari Bumi. Puncak oposisi Jupiter terjadi pada pukul 07.53 WIB / 08.53 WITA / 09.53 WIT dengan magnitudo tampak sebesar -2,9. Lebar sudut Jupiter ketika oposisi sebesar 0,82 menit busur dengan jarak 4,013 sa atau 600,3 juta kilometer dari Bumi. Sayangnya, Jupiter masih di bawah ufuk saat oposisi jika diamati di Indonesia, sehingga baru dapat diamati dari arah Timur-Tenggara hingga Barat-Barat Daya sejak sebelum Matahari terbenam hingga setelah Matahari terbit.

22 Agustus – Fase Bulan Purnama

Fase Bulan purnama, atau disebut juga fase oposisi solar Bulan, adalah konfigurasi ketika Bulan terletak membelakangi Matahari dan segaris dengan Bumi dan Matahari. Mengingat orbit Bulan yang membentuk sudut 5,1° terhadap ekliptika, Bulan tidak selalu memasuki bayangan Bumi ketika fase Bulan purnama, sehingga setiap fase Bulan purnama tidak selalu beriringan dengan gerhana Bulan.

 

Gambar 16. Kondisi Bulan ketika Fase Bulan Purnama Sumber: Stellarium PC 0.21.0

Puncak fase Bulan purnama di Agustus 2021 ini terjadi pada 22 Agustus pukul 19.01.58 WIB / 20.01.58 WITA / 21.01.58 WIT dengan jarak 379.229 km dari Bumi dan terletak di konstelasi Aquarius. Bulan purnama dapat disaksikan dari arah Timur-Tenggara ketika terbenam Matahari, berkulminasi di dekat Zenit (untuk lintang 1°-2°LU), dan terbenam di arah Barat-Barat Daya sebelum terbit Matahari.

 

30 Agustus – Apoge Bulan di Simpul Menaik, Fase Bulan Perbani Akhir dan Konjungsi Bulan-Pleaides

Fase perbani akhir adalah salah satu fase Bulan ketika konfigurasi antara Matahari, Bumi dan Bulan membentuk sudut siku-siku (90°) dan terjadi setelah fase Bulan purnama. Puncak fase perbani akhir terjadi pada pukul 14.13.14 WIB / 15.13.14 WITA / 16.13.14 WIT. Sehingga, fenomena ini dapat disaksikan ketika terbit pukul 23.30 waktu setempat malam sebelumnya dari arah Timur-Timur Laut, berkulminasi di arah Utara sekitar 45 menit sebelum terbit Matahari dan kemudian terbenam di arah Barat-Barat Laut pukul 11.20 waktu setempat. Bulan berjarak 404.033 km dari Bumi dan berkonjungsi dengan Pleiades, salah satu gugus bintang di konstelasi Taurus bermagnitudo +1,20; dengan sudut pisah 4,74°-4,81°.

Gambar 17. Kondisi Bulan ketika Apoge sekaligus Fase Perbani Akhir di Simpul Menaik dan berkonjungsi dengan Pleiades. Sumber: Stellarium 0.21.0

 

Fase Bulan perbani akhir kali ini beriringan dengan ketika Bulan berada di Simpul Menaik (Ascending Node) yang sebelumnya terjadi pada pukul 12.13.53 WIB / 13.13.53 WITA / 14.13.53 WIT dengan jarak 404.049 km dari Bumi. Selain itu, Bulan perbani akhir juga beriringan dengan apoge Bulan yang sebelumnya terjadi pada pukul 09.22.08 WIB / 10.22.08 WITA / 11.22.08 WIT dengan jarak 404.059 km dari Bumi.

Apoge Bulan adalah konfigurasi ketika Bulan terletak paling jauh dengan Bumi. Hal ini disebabkan oleh orbit Bulan yang ­berbentuk elips dengan Bumi terletak di salah satu titik fokus orbit tersebut. Perige Bulan terjadi setiap rata-rata 27,32 hari dengan interval dua apoge Bulan yang berdekatan bervariasi antara 26,98–27,90 hari. Rentang yang lebih sempit dibandingkan dengan perige disebabkan karena Bulan juga bersama-sama dengan Bumi mengelilingi Matahari. Sehingga, ketika perige, akan mengalami perturbasi lebih besar dengan Matahari dibandingkan ketika apoge.

Gambar 18. Ilustrasi Apoge yang bertepatan dengan Fase Perbani Akhir dan terletak di Simpul Menaik. Dokumentasi Pribadi

 

Sedangkan, Simpul Menaik adalah perpotongan antara orbit Bulan dengan ekliptika yang mana Bulan bergerak menuju ke utara ekliptika. Fenomena ini akan berulang setiap 18,6 tahun sekali yang merupakan periode simpul orbit Bulan.

Comments