Fenomena Astronomis Juli 2020

Oleh Andi Pangerang
30 Juni 2020

Selamat datang di musim kering! Waktu ketika langit cenderung cerah setiap malamnya. Berikut ini fenomena astronomis di bulan Juli 2020.

1 Juli – Konjungsi Inferior Merkurius
Konjungsi Inferior Merkurius adalah waktu ketika Matahari, Merkurius dan Bumi berada pada satu garis lurus. Konjungsi inferior ini sama dengan fase Bulan Baru pada Bulan, sehingga Merkurius tidak dapat terlihat baik ketika senja maupun fajar. Konjungsi inferior Merkurius menandai pergantian ketampakan Merkurius yang semula dapat terlihat ketika senja, kemudian berubah menjadi ketika fajar. Posisi Merkurius berada di dekat Manzilah Alhena (Gamma Geminorium) di Konstelasi Gemini. Jarak Merkurius dengan Matahari sebesar 0,563 sa atau 84,2 juta km.

4 Juli – Aphelion Bumi
Aphelion adalah fenomena ketika Bumi berada pada titik terjauh dari Matahari. Hal ini disebabkan oleh orbit Bumi yang tidak lingkaran sempurna melainkan elips dengan kelonjongan 1/60 yang mana Matahari berada di salah satu dari kedua titik fokus elips tersebut. Sehingga, setiap tahunnya Bumi akan berada pada titik terdekat Bumi yang jatuh pada awal Januari dan titik terjauh Bumi yang jatuh pada awal Juli.
Aphelion tahun ini akan terjadi pada tanggal  4 Juli 2020 pukul 18.34 WIB pada jarak 152.095.295 km. Dampak ke Bumi tidaklah signifikan karena radiasi Matahari terdistribusi sempurna untuk semua belahan Bumi. Secara optis, diameter tampak Matahari akan lebih kecil 1,68% dari rata-rata yakni sebesar 15,73 menit busur.

5 Juli – Puncak Fase Purnama Rusa (Full Buck Moon)
Puncak fase purnama kali ini akan jatuh pada pukul 11.44.13 WIB. Itu artinya, kondisi Bulan sebelum terbenam ketika fajar dan setelah terbit ketika senja jika diamati dari Indonesia memiliki iluminasi yang sama. Hal ini dikarenakan puncak fase purnama terjadi berdekatan dengan tengah hari.
Ketika purnama, Bulan akan berjarak 379.148 km dari Bumi (pusat ke pusat) dengan diameter tampak sebesar 31,5 menit busur. Bulan terletak di antara Manzilah Na’aim (Teapot Asterism) dan Albaldah di Konstelasi Sagitarius.
Puncak fase purnama kali ini juga bertepatan dengan terjadinya gerhana Bulan Penumbra. Akan tetapi, gerhana Bulan penumbra kali ini tidak dapat terlihat di Indonesia dikarenakan Bulan sudah berada di bawah ufuk. Gerhana Bulan Penumbra kali ini terjadi mulai pukul 10.07.23 WIB hingga 12.52.21 WIB (selama 2 jam 45 menit) dengan puncak gerhana terjadi pada pukul 11.29.51 WIB dan magnitudo penumbra maksimum sebesar 0,354. Wilayah yang bisa mengamati gerhana Bulan penumbra kali ini adalah Kanada, Amerika Serikat, Meksiko dan Negara-negara di Kep. Karibia, Amerika Selatan, Inggris, Eropa bagian Barat serta Afrika (kecuali sebagian Mesir bagian Timur (termasuk Kairo, Alexandria dan Aswan), Sudan bagian Timur Laut, Eritrea, Djibouti, Somalia, Ethiopia bagian Timur, Kep. Seychelles, dan Kep. Mauritius)
Dalam almanak petani Amerika Serikat, purnama yang terjadi di bulan Juli disebut juga Purnama Rusa dikarenakan tanduk mulai tumbuh dari dahi rusa ketika bulan Juli. Purnama ini juga mempunyai nama lain diantaranya: Purnama Guntur (Full Thunder Moon) dikarenakan sering terjadi guntur di Amerika Serikat pada bulan Juli, Purnama Jerami (Full Hay Moon) dikarenakan para peternak di Inggris bersiap mengumpulkan jerami sebagai pakan ternak dan Purnama Nabeez (Full Wort Moon) karena di bulan Juli, malt (bahan dasar pembuatan bir) mulai direndam ke dalam air sebelum difermentasikan. Nabeez adalah bahasa Arab untuk infused water atau air rendaman buah-buahan (seperti kurma, mentimun, jeruk, dsb.), herbal (seperti kayu manis, seledri, biji pala, dsb.) atau biji-bijian/serealia (malt, beras, jelai, dsb.). Rendaman malt yang sudah terfermentasi menjadi bir dapat dinikmati ketika Hari Thanksgiving pada 31 Oktober.

5-6 Juli – Konjungsi Bulan-Jupiter
Puncak fenomena ini sebenarnya terjadi pada 6 Juli 2020 pukul 07.00.57 WIB dengan jarak pisah 1,6°. Akan tetapi keduanya telah berada di bawah ufuk dan Matahari sudah di atas ufuk. Sehingga, waktu terbaik untuk mengamati fenomena ini adalah ketika fajar bahari/nautika (ketinggian Matahari -12°) yaitu sekitar jam 05.00 WIB (berlaku untuk Jawa Barat, Banten, DKI dan yang segaris terbit seperti Kalimantan Barat. Untuk daerah lain dapat menyesuaikan) dengan jarak pisah 2° dan posisi Jupiter berada di sebelah Utara (kanan) Bulan jika kita menghadap ke Barat. Hal ini karena seiring meningginya Matahari hingga Matahari mulai terbit, kecerlangan langit bertambah sementara Jupiter semakin redup sehingga tidak dapat diamati.
Sejak tanggal 5 Juli petang hari, Bulan dan Jupiter sudah berkonjungsi. Ketika keduanya sudah di atas ufuk pada pukul 18.30 WIB, jarak pisah keduanya masih cukup lebar, yakni 5,25° dengan posisi Jupiter berada di sebelah Timur (bawah) Bulan jika kita menghadap ke arah Timur. Seiring meningginya kedua benda tersebut, jarak pisah keduanya semakin mengecil hingga keduanya terbenam pada tanggal 6 Juli pukul 06.46 WIB, jarak pisah keduanya hanya 1,65°.

6-7 Juli – Konjungsi Bulan-Saturnus
Setelah Bulan berkonjungsi dengan Jupiter pada pagi hari, Bulan kemudian berkonjungsi dengan Saturnus. Puncak fenomena ini sebenarnya terjadi pada 6 Juli 2020 pukul 14.53.56 WIB. Akan tetapi keduanya masih di bawah ufuk sedangkan Matahari masih di atas ufuk dan tergelincir ke arah Barat. Sehingga waktu terbaik untuk dapat menikmati fenomena ini adalah ketika keduanya telah terbit di ufuk Barat pada pukul 19.00 WIB dengan jarak pisah 3,5° dan posisi Saturnus berada di Barat Daya (kiri atas) Bulan jika menghadap ke Timur. Seiring meningginya kedua benda tersebut, jarak pisah keduanya semakin membesar. Fenomena ini dapat disaksikan hingga Matahari terbit pada 7 Juli pukul 06.00 dengan jarak pisah 7,1° dan posisi Saturnus berada di Barat (bawah) Bulan jika menghadap ke Barat. Hal ini karena seiring meningginya Matahari hingga Matahari mulai terbit, kecerlangan langit bertambah sementara Saturnus semakin redup sehingga tidak dapat diamati.

12 Juli – Konjungsi Bulan-Mars
Puncak fenomena ini terjadi pada tanggal 12 Juli 2020 pukul 05.48.56 WIB dengan jarak pisah 1,25° dan posisi Mars berada di Barat (bawah) Bulan jika menghadap ke Barat Laut. Kondisi Bulan ketika berkonjungsi dengan Mars adalah memasuki fase Cembung Akhir dengan iluminasi 60% dengan jarak 403.726 km dari Bumi (pusat ke pusat). Sedangkan kondisi Mars ketika berkonjungsi dengan Bulan adalah berfase Cembung dengan iluminasi 85% dengan jarak 112,7 juta km dari Bumi dan 207,2 juta km dari Matahari.

12 Juli – Konjungsi Venus-Aldebaran
Puncak fenomena ini sebenarnya terjadi pada tanggal 12 Juli 2020 pukul 07.23.11 WIB dengan jarak pisah hanya 57,4 menit busur (0,95°). Mengingat waktu tersebut Matahari sudah berada di atas ufuk dan kedua cahaya baik Venus maupun Aldebaran meredup akibat kecerlangan langit yang meningkat, maka waktu terbaik mengamati fenomena ini adalah ketika fajar nautika/bahari (ketinggian Matahari -12°) yaitu sekitar jam 05.00 WIB (berlaku untuk Jawa Barat, Banten, DKI dan yang segaris terbit seperti Kalimantan Barat. Untuk daerah lain dapat menyesuaikan) dengan jarak pisah 57,7 menit busur (0,96°) dan posisi Aldebaran berada di sebelah Selatan (kanan) Venus jika menghadap ke Timur.
Kecerlangan Venus saat itu sebesar -4,69 sedangkan Aldebaran kecerlangannya +0,85. Venus memasuki fase sabit dengan iluminasi 28,4% pada jarak 69 juta kilometer dari Bumi dan 108,9 juta kilometer dari Matahari. Sementara itu, Aldebaran adalah bintang paling terang di konstelasi Taurus berjarak 66,6 tahun cahaya.

13 Juli – Apogee Bulan
Bulan akan berada pada posisi terjauh dari Bumi dengan jarak 404158 km dari Bumi (pusat ke pusat) pada pukul 02.26.23 WIB. Diameter tampak Bulan ketika apogee kali ini sebesar 29,56 menit busur dengan iluminasi 51,8%. Bulan terletak di konstelasi Pisces dan dapat diamati dengan mata telanjang pada ketinggian 39,3° di atas ufuk dari arah Timur (tepatnya 80,3°).

13 Juli – Fase Perbani Akhir
Fase perbani atau kuartir akhir adalah posisi ketika Bulan, Bumi dan Matahari membentuk sudut 90°. Bulan akan terbit ketika tengah malam dan berkulminasi ketika Matahari terbit, sehingga dapat diamati bahkan ketika pagi hari hingga terbenam ketika tengah hari. Fase perbani akhir di bulan Juli 2020 terjadi pada tanggal 13 Juli 2020 pukul 06.28.51 WIB. Bulan dapat diamati dengan mata telanjang pada ketinggian 75,3° di atas ufuk dari arah Barat Laut (tepatnya 316,85°) meskipun langit sudah terang dikarenakan Matahari juga sudah di atas ufuk. Jarak Bulan dari Bumi (pusat ke pusat) sebesar 404140 km, sehingga diameter tampak Bulan ketika perbani akhir sebesar 29,56 menit busur.

14 Juli – Oposisi Jupiter
Oposisi Jupiter adalah waktu ketika Jupiter, Bumi dan Matahari berada pada satu garis lurus. Oposisi pada Jupiter sama dengan fase oposisi Bulan atau purnama, sehingga Jupiter dapat terlihat paling terang jika teramati dari Bumi. Puncak oposisi Jupiter terjadi pada pukul 15.03 WIB dengan magnitudo tampak sebesar -2,8. Diameter tampak Jupiter ketika oposisi sebesar 47,58 detik busur dengan jarak 4,139 sa atau 619,2 juta kilometer dari Matahari. Sayangnya, Jupiter masih di bawah ufuk ketika terjadi oposisi jika diamati di Indonesia, sehingga hanya bisa diamati ketika Jupiter telah terbit beriringan dengan terbenamnya Matahari hingga terbenamnya Jupiter.

15 Juli - Matahari di Atas Ka'bah
Fenomena ini disebut juga Istiwa'ul A'zham (Great Culmination). Fenomena ini terjadi ketika deklinasi Matahari bernilai sama dengan lintang geografis Ka'bah, sehingga ketika tengah hari, Matahari tepat berada di atas Ka'bah. Dapat digunakan untuk mengecek arah kiblat di Indonesia (kecuali Sebagian Propinsi Maluku mulai dari Kabupaten Maluku Tengah, Kabupaten Seram Bagian Timur, Kabupaten Kep. Tanimbar, Kabupaten Kep. Kei), Kota Tual, Kabupaten Maluku Barat Daya (minus Pulau Wetar) dan Kabupaten Kep. Aru, ditambah dengan Propinsi Papua Barat serta Propinsi Papua). Puncak fenomena ini terjadi pada pukul 16.26.45 WIB atau 17.26.45 WITA atau 18.26.45 WIT.

17 Juli – Konjungsi Bulan-Venus
Puncak fenomena ini sebenarnya terjadi pada pukul 15.58.41 WIB dengan jarak pisah 3,3°. Akan tetapi, Bulan dan Venus sama-sama berada di bawah ufuk sehingga fenomena ini baru bisa disaksikan ketika keduanya telah berada di atas ufuk (sekitar pukul 03.15 WIB untuk kota Bandung dan sekitarnya, untuk daerah lain dapat menyesuaikan) hingga menjelang Matahari terbit.
Ada yang cukup unik dengan konjungsi Bulan-Venus kali ini, karena selain Bulan berkonjungsi dengan Venus, juga berkonjungsi dengan bintang paling terang di konstelasi Taurus, yakni Aldebaran. Konfigurasi ini membentuk tripel konjungsi Bulan-Venus-Aldebaran yang menyerupai segitiga siku-siku dengan sudut siku-siku yang terletak di Aldebaran.
Tidak cukup sampai disitu keunikan Konjungsi Bulan-Venus, keduanya juga membentuk garis lurus dengan Pleiades (Messier-44) yang terletak di Barat Laut (kiri atas) Bulan dan Venus dengan jarak pisah antara Pleiades dengan Bulan sebesar 10,25°.
Elongasi Bulan-Venus sebesar 4,9° ketika keduanya telah terbit dan semakin mengecil seiring meningginya kedua benda langit tersebut, hingga ketika waktu terbaik untuk mengamati fenomena ini (pada pukul 05.15) jarak pisah mereka hanya 4,5°. Ketika Matahari terbit, jarak pisah keduanya sebesar 4,3° dan tidak dapat diamati karena kecerlangan keduanya kalah dengan kecerlangan langit.
Ketika Bulan berkonjungsi dengan Venus, Bulan memasuki fase Sabit Akhir (waning crescent) dengan iluminasi antara 16,1% (ketika Bulan dan Venus terbit) hingga 15,2% (ketika Matahari terbit) dan jarak dari Bumi (pusat ke pusat) bervariasi antara 394700 km (ketika Bulan dan Venus terbit) hingga 394175 km (ketika Matahari terbit).
Sedangkan, Venus berfase sabit dengan iluminasi 32,4% dan berjarak 108,9 juta kilometer dari Matahari serta berjarak 74,5 juta kilometer dari Bumi ketika berkonjungsi dengan Bulan.

19 Juli – Konjungsi Bulan-Merkurius
Puncak fenomena ini sebenarnya terjadi pada pukul 13.40.11 WIB dengan jarak pisah 4,3°. Akan tetapi, Bulan dan Merkurius sama-sama tidak terlihat akibat kecerlangan langit yang lebih terang sehingga fenomena ini baru bisa disaksikan ketika keduanya terbit ketika fajar astronomis dimulai (sekitar pukul 04.45 WIB untuk kota Bandung dan sekitarnya, untuk daerah lain dapat menyesuaikan) hingga menjelang Matahari terbit.
Waktu terbaik untuk mengamati fenomena ini adalah ketika fajar sipil (civil dawn) yakni ketika ketinggian Matahari sebesar -6° sekitar pukul 05.30 WIB (untuk kota Bandung dan sekitarnya, untuk daerah lain dapat menyesuaikan). Jarak pisah keduanya 4,45° dan terletak di “kaki” konstelasi Gemini.
Ketika Bulan berkonjungsi dengan Merkurius, Bulan terletak pada jarak 385.000 km dari Bumi dengan diameter tampak sebesar 31 menit busur dan memasuki fase Sabit Akhir dengan iluminasi 3,8%.
Sedangkan Merkurius berjarak 57,1 juta km dari Matahari dan 117,2 juta km dari Bumi ketika berkonjungsi dengan Bulan. Selain itu, Merkurius memilik diameter tampak sebesar 8,6 detik busur dengan iluminasi 27,2%.

21 Juli – Fase Bulan Baru
Fase Bulan baru kali ini terjadi pada pukul 00.32.44 WIB pada jarak 377192 kilometer dari pusat Bulan. Diameter tampak Bulan sebesar 31,67 menit busur dan terletak diantara konstelasi Cancer dan Gemini. Ketinggian Bulan di Indonesia ketika petang hari bervariasi antara 6,5° hingga 8,5° dengan sudut elongasi Bulan-Matahari bervariasi antara 7,5° hingga 9,5°. Hilal dapat diamati menggunakan alat bantu seperti binokular dan teleskop. Baik sebelum Matahari terbit maupun setelah Bulan terbenam, kalian dapat menikmati keindahan langit malam bertabur bintang, planet serta galaksi Bimasakti.

21 Juli – Oposisi Saturnus
Oposisi Jupiter adalah waktu ketika Saturnus, Bumi dan Matahari berada pada satu garis lurus. Oposisi pada Saturnus sama dengan fase oposisi Bulan atau purnama, sehingga Saturnus dapat terlihat paling terang jika diamati dari Bumi. Puncak oposisi Saturnus terjadi pada pukul 05.33 WIB dengan magnitudo tampak sebesar -0,3. Diameter tampak Saturnus ketika oposisi sebesar 18,53 detik busur dengan jarak 8,995 sa atau 1,346 milyar kilometer dari Matahari. Oposisi Saturnus dapat diamati dari wilayah Indonesia Barat dari arah Barat (tepatnya azimut 250°) selama Matahari belum terbit, sedangkan untuk wilayah Indonesia Tengah dan Timur hanya bisa mengamati oposisi Saturnus pada waktu terbaik ketika fajar nautika/bahari sekitar pukul 05.00 waktu setempat. 

23 Juli – Elongasi Barat Maksimum Merkurius
Puncak fenomena ini terjadi pada tanggal 22 Juli 2020 pukul 22.03 WIB, namun dapat diamati sejak terbitnya Merkurius (untuk kota Bandung pada pukul 04.39 Waktu Indonesia Barat) hingga terbitnya Matahari. Sudut elongasi antara Merkurius dengan Matahari sebesar 20,1 derajat. Ketika Matahari terbit, Merkurius berada di ketinggian 18,8 derajat di atas ufuk dan merupakan ketinggian maksimum jika dibandingkan hari-hari yang lain setelah terjadinya konjungsi inferior dan sebelum konjungsi superior. Posisi Merkurius berada di dekat Manzilah Alhena (Gamma Geminorium) di Konstelasi Gemini. Merkurius akan berada pada jarak 0,866 sa atau 129,6 juta kilometer dari Bumi. Magnitudo tampak Merkurius sebesar +0,3 dengan iluminasi 37,8% (sabit) dan berdiameter tampak 7,71 detik busur.

25 Juli – Perigee Bulan
Bulan akan berada pada posisi terdekat dari Bumi dengan jarak 368397 km dari Bumi (pusat ke pusat) pada pukul 11.53.38 WIB. Diameter tampak Bulan ketika perigee kali ini sebesar 32,43 menit busur dengan iluminasi 24,4% dan memasuki fase sabit awal (waxing crescent). Bulan terletak di Manzilah Auva (terdiri dari 5 bintang: Vindemiatrix, Auva, Porrima, Zaniah dan Zavijah) konstelasi Virgo dan cukup sulit diamati dengan mata telanjang. Posisi Bulan ketika Perigee (jika diamati di kota Bandung) pada ketinggian 27,75° di atas ufuk dari arah Timur (tepatnya 81,4°).

27 Juli – Fase Perbani Awal
Fase perbani atau kuartir awal adalah posisi ketika Bulan, Bumi dan Matahari membentuk sudut 90°. Bulan akan terbit ketika tengah hari dan berkulminasi ketika Matahari terbenam, sehingga dapat diamati bahkan ketika siang hingga sore hari. Fase perbani awal di bulan Juli 2020 terjadi pada tanggal 27 Juli 2020 pukul 19.33.51 WIB. Bulan dapat diamati dengan mata telanjang pada ketinggian 62,5° di atas ufuk dari arah Barat (tepatnya 263,25°) setelah senja terbenam. Jarak Bulan dari Bumi (pusat ke pusat) sebesar 370180 km, sehingga diameter tampak Bulan ketika perbani akhir sebesar 32,28 menit busur.

28-29 Juli – Puncak Hujan Meteor Delta Aquariid
Fenomena astronomis di bulan Juli ditutup dengan hujan meteor Delta Aquariid yang puncaknya terjadi pada 28 Juli malam hari hingga 29 Juli sebelum Matahari terbit. Hujan meteor ini terbentuk dari sisa debu komet 96P/Machholz dengan intensitas maksimum 16 meteor/jam dan kelajuan meteor hingga mencapai 147.600 km/jam. Komet ini dinamai berdasarkan titik radian (titik awal kemunculan hujan meteor) yang terletak di bintang Delta Aquarii (Skat) konstelasi Aquarius. Delta Aquariid aktif mulai 12 Juli hingga 23 Agustus dan ketampakan terbaik terjadi ketika sebelum fajar astronomis (sekitar pukul 03.00 – 04.00 waktu setempat).
Fenomena ini dapat dilihat dengan mata telanjang, dengan kondisi cuaca yang cerah tanpa halangan apapun di sekitar medan pandang. Butuh kesabaran untuk menantikan hujan meteor ini mengingat intensitas yang relatif sedikit.

Comments