Fenomena Astronomis Juli 2021

Oleh Andi Pangerang
26 Juni 2021

Halo, Sahabat Edusainsa semuanya! Tidak terasa, kita sudah di pertengahan tahun. Fenomena astronomis apa sajakah yang akan terjadi pada bulan Juli ini? Berikut ulasannya:

Pekan Pertama

2 Juli – Fase Bulan Perbani Akhir

Fase perbani akhir adalah salah satu fase Bulan ketika konfigurasi antara Matahari, Bumi dan Bulan membentuk sudut siku-siku (90°) dan terjadi setelah fase Bulan purnama. Puncak fase perbani akhir terjadi pada pukul 04.10.36 WIB / 05.10.36 WITA / 06.10.36 WIT. Sehingga, Bulan perbani akhir ini sudah dapat disaksikan ketika terbit sebelum tengah malam dari arah Timur-Timur Laut, berkulminasi di arah Utara menjelang terbit Matahari dan kemudian terbenam di arah Barat-Barat Laut setelah tengah hari. Bulan berjarak 397.426 km dari Bumi (geosentrik) dan berada di sekitar konstelasi Cetus.

Bulan Juli ini terdapat dua kali puncak fase perbani akhir yakni pada tanggal 2 Juli dan 31 Juli.

5 Juli – Elongasi Barat Maksimum Merkurius

Puncak fenomena ini terjadi pada tanggal 5 Juli 2021 pukul 02.43 WIB, sehingga dapat disaksikan dari arah Timur-Timur Laut dekat konstelasi Taurus sejak pukul 04.30 WIB/WITA/WIT hingga terbit Matahari. Sudut elongasi Merkurius-Matahari sebesar 21,55°. Ketinggian Merkurius +21,28° ketika terbit Matahari; ketinggian maksimum yang dicapai setelah konjungsi inferior dan sebelum konjungsi superior. Merkurius berjarak 0,842 sa (126 juta km) dari Bumi. Kecerlangan Merkurius +0,5 dengan iluminasi 36,6% (sabit) dan lebar sudut 7,98”.

6 Juli – Apoge Bulan

Apoge Bulan adalah konfigurasi ketika Bulan terletak paling jauh dengan Bumi. Hal ini disebabkan oleh orbit Bulan yang berbentuk elips dengan Bumi terletak di salah satu titik fokus orbit tersebut. Perige Bulan terjadi setiap rata-rata 27,32 hari dengan interval dua apoge Bulan yang berdekatan bervariasi antara 26,98–27,90 hari. Rentang yang lebih sempit dibandingkan dengan perige disebabkan karena Bulan juga bersama-sama dengan Bumi mengelilingi Matahari. Sehingga, ketika perige, akan mengalami perturbasi lebih besar dengan Matahari dibandingkan ketika apoge.

Apoge Bulan di bulan Juli 2021 terjadi pada tanggal 5 Juli pukul 21.53.19 WIB / 22.53.19 WITA / 23.53.19 WIT. Sehingga, apoge Bulan ini baru dapat disaksikan dari arah Timur-Timur Laut dekat konstelasi Taurus sekitar pukul 02.45 WIB/WITA/WIT, berkulminasi di arah Utara pukul 08.45 WIB/WITA/WIT dan kemudian terbenam di arah Barat-Barat Laut pukul 14.45 WIB/WITA/WIT. Bulan berjarak 405.308 km dari Bumi (geosentrik) dengan iluminasi 17,3% (sabit tua) ketika apoge.

6 Juli – Aphelion Bumi

Aphelion adalah fenomena ketika Bumi berada pada titik terjauh dari Matahari. Hal ini disebabkan oleh orbit Bumi yang tidak lingkaran sempurna melainkan elips dengan kelonjongan 1/60 yang mana Matahari berada di salah satu dari kedua titik fokus elips tersebut. Sehingga, setiap tahunnya Bumi akan berada pada titik terdekat Bumi yang jatuh pada awal Januari dan titik terjauh Bumi yang jatuh pada awal Juli.

Aphelion tahun ini akan terjadi pada tanggal 6 Juli 2021 pukul 05.27 WIB / 06.27 WITA / 07.27 WIT pada jarak 152.100.527 km. Dampak ke Bumi tidaklah signifikan karena radiasi Matahari terdistribusi sempurna untuk semua belahan Bumi. Secara optis, diameter tampak Matahari akan lebih kecil 1,68% dari rata-rata yakni sebesar 15,73 menit busur.

8 Juli – Konjungsi Bulan-Merkurius

Puncak konjungsi Bulan-Merkurius di bulan ini jatuh pada pukul 11.38 WIB / 12.38 WITA / 13.38 WIT dengan elongasi 3,7°. Sehingga, fenomena ini dapat disaksikan dari arah Timur-Timur Laut dekat konstelasi Taurus sejak pukul 04.30 WIB/WITA/WIT selama 60 menit. Waktu terbaik fenomena ini pada pukul 05.00 WIB/WITA/WIT. Kecerlangan Merkurius +0,1 dengan lebar sudut 7,29” sedangkan iluminasi Bulan 3,3% (sabit tua).

 

Pekan Kedua

10 Juli – Fase Bulan Baru

Fase Bulan Baru kali ini terjadi pada 10 Juli pukul 08.16.33 WIB / 09.16.33 WITA / 10.16.33 dengan jarak 404.245 km dari Bumi (geosentrik) dan terletak di konstelasi Taurus.

Kondisi langit pada 10 Juli ketika senja, Venus dan Mars sudah condong ke arah Barat hingga kemudian terbenam di arah Barat masing-masing pada pukul 19.45 dan 19.50 WIB/WITA/WIT. Merkurius terlihat sejak pukul 04.30 WIB/WITA/WIT selama 60 menit dari arah Timur-Timur Laut.

Sementara itu, ketinggian Bulan di Indonesia ketika terbenam Matahari bervariasi antara +2,36° hingga +4,26° dengan sudut elongasi terhadap Matahari bervariasi antara 4,25° hingga 5,35° sehingga Bulan cukup sulit diamati meskipun dengan alat bantu.

Sedangkan, Saturnus baru dapat dilihat sejak pukul 19.20 WIB/WITA/WIT, kemudian menyusul Jupiter yang baru terbit pada pukul 20.45 WIB/WITA/WIT dan kedua planet raksasa ini dapat disaksikan hingga 05.30 WIB/WITA/WIT keesokan harinya.

11-13 Juli – Konjungsi Tripel Bulan-Mars-Venus

Fenomena ini terjadi tiga hari sejak tanggal 11 hingga 13 Juli 2021. Dapat disaksikan sejak pukul 18.40 WIB/WITA/WIT dari arah Barat-Barat Laut selama 60 menit. Kecerlangan Mars bervariasi antara +1,85 hingga +1,83 sementara kecerlangan Venus cenderung tetap sebesar -3,89. Iluminasi Bulan bervariasi antara 2,0% hingga 11,6% (sabit muda). Awalnya, Mars dan Venus terpisah sejauh 1,3° pada tanggal 11, sementara Bulan terpisah dengan Venus sejauh 12,56°. Bulan semakin mendekat ke Venus dengan sudut pisah 3,16° pada tanggal 12; demikian halnya dengan Mars yang semakin mendekat ke Venus dengan sudut pisah 0,79°. Akhirnya, Bulan menjauhi Mars dan Venus dengan sudut pisah 11,61° terhadap Venus pada tanggal 13 sedangkan Mars berkonjungsi dengan Venus dan terpisah sejauh 0,47°

13 Juli – Aphelion Mars

Mars akan mencapai titik terjauh dengan Matahari (aphelion) pada pukul 08.36 WIB / 09.36 WITA / 10.36 WIT dengan jarak 1,67 sa (249,2 juta km). Mars baru dapat diamati sejak pukul 18.40 WIB/WITA/WIT dari arah Barat-Barat Laut dekat konstelasi Leo selama 60 menit dengan magnitudo +1,83. Orbit Mars yang lebih lonjong dibandingkan orbit Bumi membuat aphelion Mars lebih panjang 10,5% terhadap jarak rata-rata Mars ke Matahari. Aphelion Mars terjadi rata-rata setiap 687 hari sekali.

15 Juli – Matahari di Atas Ka’bah Kedua Kali

Setelah Matahari berada di atas Ka’bah pada 27 Mei silam, bulan ini Matahari Kembali berada di atas Ka’bah. Fenomena ini disebut juga Istiwa'ul A'zham (Great Culmination). Fenomena ini terjadi ketika deklinasi Matahari bernilai sama dengan lintang geografis Ka'bah, sehingga ketika tengah hari, Matahari tepat berada di atas Ka'bah. Dapat digunakan untuk mengecek arah kiblat di Indonesia (kecuali Sebagian Propinsi Maluku mulai dari Kabupaten Maluku Tengah, Kabupaten Seram Bagian Timur, Kabupaten Kep. Tanimbar, Kabupaten Kep. Kei), Kota Tual, Kabupaten Maluku Barat Daya (minus Pulau Wetar) dan Kabupaten Kep. Aru, ditambah dengan Propinsi Papua Barat serta Propinsi Papua). Puncak fenomena ini terjadi pada pukul 16.26.42 WIB / 17.26.42 WITA / 18.26.42 WIT.

 

Pekan Ketiga

17 Juli – Fase Bulan Perbani Awal

Fase perbani awal adalah salah satu fase Bulan ketika konfigurasi antara Matahari, Bumi dan Bulan membentuk sudut siku-siku (90°) dan terjadi sebelum fase Bulan purnama.

Puncak fase perbani awal terjadi pada pukul 17.10.39 WIB / 18.10.39 WITA / 19.10.39 WIT. Sehingga, Bulan perbani awal ini baru dapat disaksikan ketika terbit sebelum tengah hari dari arah Timur, berkulminasi di dekat Zenit (untuk lintang 6°-7°LS) ketika terbenam Matahari dan kemudian terbenam di arah Barat ketika tengah malam. Bulan berjarak 372.377 km dari Bumi (geosentrik) ketika puncak fase perbani awal dan berada di sekitar konstelasi Virgo.

17-31 Juli – Konjungsi Tripel Mars-Venus-Regulus

Fenomena ini dapat disaksikan selama 15 hari sejak tanggal 17 Juli hingga 31 Juli mendatang dari arah Barat-Barat laut sejak pukul 18.20 WIB/WITA/WIT selama 80 menit. Kecelangan Regulus sebesar +1,35. Sementara, kecerlangan Mars bervariasi antara +1,81 hingga +1,75. Kecerlangan Venus bervariasi antara -3,90 hingga -3,92.

Mula-mula, Regulus terpisah dengan Venus sejauh 5,71° sedangkan Mars terpisah dengan Venus sejauh 2,32°. Empat hari kemudian (21 Juli), Regulus berkonjungsi dengan Venus dengan sudut pisah 1,35° sedangkan Mars terpisah dengan Venus sejauh 4,60°. Empat hingga lima hari kemudian (24-25 Juli), Regulus berada diantara Venus dan Mars dengan sudut pisah masing-masing 3° dan 3,56° untuk 24 Juli, serta 4,14° dan 2,94° untuk 25 Juli. Regulus kemudian berkonjungsi dengan Mars pada tanggal 29 Juli dengan sudut pisah 0,73°; sedangkan Regulus terpisah dengan Venus sejauh 8,85°. Di penghujung bulan Juli, Regulus semakin menjauhi Venus dan Mars dengan sudut pisah masing-masing 11,23° dan 1,09°.

20 Juli – Konjungsi Bulan-Antares

Puncak konjungsi Bulan-Antares terjadi pada 20 Juli 2021 pukul 19.06 WIB / 20.06 WITA / 21.06 WIT. Sehingga, fenomena ini sudah dapat disaksikan sejak pukul 18.10 WIB/WITA/WIT dari arah Timur-Tenggara, berkulminasi di arah Selatan pada pukul 20.30 WIB/WITA/WIT, kemudian terbenam di arah Barat-Barat Daya pukul 02.30 WIB/WITA/WIT. Sudut pisah bervariasi antara 4,72° hingga 4,90°. Magnitudo Antares sebesar +1,05; sedangkan Fraksi Iluminasi Bulan bervariasi antara 82,9% hingga 84,9% (Bulan Besar/Benjol Awal).

21 Juli – Perige Bulan

Perige Bulan adalah konfigurasi ketika Bulan terletak paling dekat dengan Bumi. Hal ini disebabkan oleh orbit Bulan yang berbentuk elips dengan Bumi terletak di salah satu titik fokus orbit tersebut. Perige Bulan terjadi setiap rata-rata 27 1/3 hari dengan interval dua perige Bulan yang berdekatan bervariasi antara 245/8 –28½ hari.

Perige Bulan di bulan Juli 2021 terjadi pada tanggal 21 Juli pukul 17.34.28 WIB / 18.34.28 WITA / 19.34.28 WIT dengan jarak 364.546 km dari Bumi (geosentrik), iluminasi 90,4% (Bulan Besar/Benjol Awal) dan berada di sekitar konstelasi Ofiukus.

Perige Bulan ini dapat disaksikan sejak pukul 15.00 WIB/WITA/WIT dari arah Timur-Tenggara, berkulminasi di arah Selatan keesokan harinya pukul 21.30 WIB/WITA/WIT dan terbenam keesokan harinya di arah Barat-Barat daya sekitar pukul 04.00 WIB/WITA/WIT.

 

Pekan Keempat

23-24 Juli – Fase Bulan Purnama

Fase Bulan purnama, atau disebut juga fase oposisi solar Bulan, adalah konfigurasi ketika Bulan terletak membelakangi Matahari dan segaris dengan Bumi dan Matahari. Mengingat orbit Bulan yang membentuk sudut 5,1° terhadap ekliptika, Bulan tidak selalu memasuki bayangan Bumi ketika fase Bulan purnama, sehingga setiap fase Bulan purnama tidak selalu beriringan dengan gerhana Bulan.

Puncak fase Bulan purnama di Juni 2021 ini terjadi pada 24 Juni pukul 09.36.46 WIB / 10.36.46 WITA / 11.36.46 WIT dengan jarak 364.546 km dari Bumi (geosentrik) dan terletak di konstelasi Capricornus.

Bulan purnama dapat disaksikan selama dua hari berturut-turut, yakni pada malam sebelumnya (23 Juni) sebelum terbenam Matahari dari arah Timur-Tenggara, kemudian berkulminasi keesokan harinya (24 Juni) sebelum tengah malam di arah Selatan dan terbenam sebelum terbit Matahari di arah Barat-Barat Daya. Selain itu, Bulan purnama dapat disaksikan pada 24 Juni malam hari setelah terbenam Matahari dari arah Timur-Tenggara, kemudian berkulminasi keesokan harinya (25 Juni) sebelum tengah malam di arah Selatan dan terbenam sebelum terbit Matahari di arah Barat-Barat Daya.

Dalam almanak petani Amerika Serikat, purnama yang terjadi di bulan Juli disebut juga Purnama Rusa dikarenakan tanduk mulai tumbuh dari dahi rusa ketika bulan Juli. Purnama ini juga mempunyai nama lain diantaranya: Purnama Guntur (Full Thunder Moon) dikarenakan sering terjadi guntur di Amerika Serikat pada bulan Juli, Purnama Jerami (Full Hay Moon) dikarenakan para peternak di Inggris bersiap mengumpulkan jerami sebagai pakan ternak dan Purnama Wort (Full Wort Moon) karena di bulan Juli, malt (bahan dasar pembuatan bir) mulai direndam ke dalam air sebelum difermentasikan. Wort merupakan rendaman malt yang dicampur oleh buah hops sebagai penguat rasa. Rendaman malt yang sudah terfermentasi menjadi bir dapat dinikmati ketika Hari Thanksgiving pada 31 Oktober.

23-27 Juli – Konjungsi Tripel Bulan-Jupiter-Saturnus

Fenomena ini berlangsung selama lima hari sejak 23 hingga 27 Juni mendatang. Dapat disaksikan sejak pukul 20.00-21.00 WIB/WITA/WIT dari arah Timur-Tenggara hingga pukul 05.30 WIB/WITA/WIT dari arah Barat-Barat Daya. Kecerlangan Jupiter bervariasi antara -2,79 hingga -2,81 sedangkan kecerlangan Saturnus bervariasi antara +0,28 hingga +0,25. Mula-mula , Bulan berada di konstelasi Sagitarius, sedangkan Jupiter dan Saturnus berada di konstelasi Capricornus dan Aquarius. Keesokan harinya, Bulan berpindah menuju Capricornus bersama Jupiter selama dua hari berturut-turut. Kemudian, Bulan berpindah menuju Aquarius Bersama Saturnus selama dua hari berturut-turut.

24 Juli – Perihelion Merkurius

Perihelion secara umum adalah konfigurasi ketika planet berada di titik terdekat dari Matahari. Hal ini disebabkan oleh orbit planet yang berbentuk elips dengan Matahari terletak di salah satu dari kedua titik fokus orbit tersebut. Perihelion Merkurius terjadi setiap rata-rata 88 hari sekali atau dalam setahun terjadi empat kali. Perihelion Merkurius di bulan Juli 2021 terjadi pada 24 Juli 2021 pukul 08.04 WIB / 09.04 WITA / 10.04 WIT dengan jarak 46 juta kilometer dari Matahari. Perihelion Merkurius sebelumnya sudah terjadi pada 29 Januari dan 27 April dan seri berikutnya akan terjadi pada 20 Oktober 2021.

Ketika perihelion, Merkurius akan menerima energi dua kali lebih besar dibandingkan dengan ketika berada di aphelion. Lebar sudut Merkurius jika diamati dari Bumi ketika perihelion 26,6% lebih besar dibandingkan ketika aphelion, meskipun perbedaannya tidak begitu signifikan ketika diamati melalui teleskop karena lebar sudut Merkurius bervariasi antara 0,106-0,134 menit busur. Merkurius cukup sulit di amati ketika awal fajar bahari karena berada di ufuk rendah, sehingga cenderung lebih redup.

28-29 Juli – Puncak Hujan Meteor Delta Aquarid dan Capricornid

Puncak hujan meteor ini terjadi pada 28 Juli pukul 10.00 WIB / 11.00 WITA / 12.00 WIT, sehingga dapat disaksikan sejak 28 Juli pukul 19.45 WIB/WITA/WIT dari arah Timur-Tenggara hingga 29 Juli pukul 05.30 WIB/WITA/WIT dari arah Barat-Barat Daya dengan intensitas maksimum 14-15 meteor/jam dan kelajuan mencapai 147.600 km/jam. Hujan meteor ini diduga terbentuk dari sisa debu komet 96P/Machholz. Komet ini dinamai berdasarkan titik radian (titik awal kemunculan hujan meteor) yang terletak di bintang Delta Aquarii (Skat) konstelasi Aquarius. Delta Aquariid aktif mulai 12 Juli hingga 23 Agustus dan ketampakan terbaik saat sebelum fajar astronomis (sekitar pukul 03.00 – 04.00 WIB/WITA/WIT).

Puncak hujan meteor Delta Aquarid juga bersamaan dengan puncak hujan meteor Capricornid yang sudah aktif sejak 3 Juli silam dan berakhir pada 15 Agustus mendatang. Hujan meteor Capricornid terbentuk dari sisa debu komet 169P/NEAT. Kelajuan komet Capricornid lebih lambat dari Delta Aquarid yakni sebesar 86.400 km/jam. Intenstias maksimum hujan meteor ini juga lebih kecil, hanya 5 meteor/jam

Fenomena ini dapat dilihat dengan mata telanjang, dengan kondisi cuaca yang cerah tanpa halangan apapun di sekitar medan pandang. Butuh kesabaran untuk menantikan hujan meteor ini mengingat intensitas yang relatif sedikit. Selain itu, cahaya Bulan dapat mengganggu pengamatan kedua hujan meteor ini dikarenakan masih memasuki fase Bulan Susut (Benjol Akhir).

31 Juli-1 Agustus – Fase Bulan Perbani Akhir

Fase perbani akhir adalah salah satu fase Bulan ketika konfigurasi antara Matahari, Bumi dan Bulan membentuk sudut siku-siku (90°) dan terjadi setelah fase Bulan purnama. Fase perbani akhir kali ini merupakan yang kedua di bulan ini setelah terjadi pada 2 Juli silam. Puncak fase perbani akhir terjadi pada pukul 20.16.07 WIB / 21.16.07 WITA / 22.16.07 WIT. Sehingga, Bulan perbani akhir ini baru dapat disaksikan saat terbit ketika tengah malam tanggal 1 Agustus dari arah Timur-Timur Laut, berkulminasi di arah Utara menjelang terbit Matahari dan kemudian terbenam di arah Barat-Barat Laut ketika tengah hari. Bulan berjarak 402.423 km dari Bumi (geosentrik) dan berada di sekitar konstelasi Aries.

Comments