Fenomena Astronomis Juni 2021

Oleh Andi Pangerang
31 Mei 2021

Halo, Sahabat Edusainsa semua! Sebentar lagi, bulan Juni sudah di penghujung mata. Fenomena astronomis apa sajakah yang akan terjadi di sepanjang bulan Juni mendatang? Berikut ulasannya:

30 Mei-3 Juni : Konjungsi Tripel Bulan-Jupiter-Saturnus

Gambar 1. Konjungsi Tripel Bulan-Jupiter-Saturnus 30 Mei-3 Juni 2021. Sumber: Stellarium PC 0.21

Fenomena ini berlangsung selama lima hari sejak 30 Mei silam hingga 3 Juni mendatang. Dapat disaksikan sejak tengah malam hingga fajar bahari dari arah Timur-Tenggara hingga Barat-Barat Daya. Kecerlangan Jupiter bervariasi antara -2,39 hingga -2,42 sedangkan kecerlangan Saturnus bervariasi antara +0,55 hingga +0,53. Mula-mula, Bulan berada di Konstelasi Sagitarius, sedangkan Jupiter dan Saturnus masing-masing berada di Konstelasi Capricornus dan Aquarius. Kemudian, Bulan berpindah menuju Capricornus bersama Saturnus selama dua hari dan berpindah menuju Aquarius bersama Jupiter selama dua hari berikutnya.  Fenomena ini akan terjadi kembali pada 26-29 Juni mendatang.

 

2 Juni : Fase Bulan Perbani Akhir

Fase perbani akhir adalah salah satu fase Bulan ketika konfigurasi antara Matahari, Bumi dan Bulan membentuk sudut siku-siku (90°) dan terjadi setelah fase Bulan purnama. Puncak fase perbani akhir terjadi pada pukul 14.24.20 WIB / 15.24.20 WITA / 16.24.20 WIT. Sehingga, Bulan perbani akhir ini sudah dapat disaksikan ketika terbit sebelum tengah malam dari arah Timur-Tenggara, berkulminasi di arah Selatan menjelang terbit Matahari dan kemudian terbenam di arah Barat-Barat Daya setelah tengah hari. Bulan berjarak 390.438 km dari Bumi (geosentrik) dan berada di sekitar konstelasi Aquarius.


Gambar 2. Fase Bulan Perbani Akhir 2 Juni 2021. Sumber: Stellarium PC 0.21

 

3 Juni : Ketampakan Terakhir Merkurius Ketika Senja


Gambar 3. Ketampakan Terakhir Merkurius Ketika Senja 3 Juni 2021. Sumber: Stellarium PC 0.21

 

Menjelang konjungsi inferior Merkurius pada 11 Juni mendatang, Merkurius dapat disaksikan terakhir kalinya sejak senja bahari (ketinggian Matahari -6°) selama 24 menit dari arah Barat-Barat Laut dekat konstelasi Taurus dengan kecerlangan +3,69. Merkurius dapat disaksikan kembali ketika fajar pada 22 Juni mendatang.

 

7 Juni : Puncak Hujan Meteor Arietid


Gambar 4. Hujan Meteor Arietid 7 Juni 2021. Sumber: Stellarium PC 0.21.

 

Hujan Meteor Arietid adalah hujan meteor yang titik radian (awal kemunculan meteor)-nya terletak di konstelasi Aries tepatnya dekat bintang Botein (Delta Arietis). Hujan meteor ini merupakan satu-satunya hujan meteor yang dapat disaksikan ketika siang hari. Aktif sejak 14 Mei silam hingga 24 Juni mendatang. Puncaknya terjadi pada tanggal 7 Juni dengan intensitas 50 meteor per jam ketika di zenit, sehingga untuk wilayah Indonesia intensitasnya berkurang menjadi 19-20 meteor per jam. Dapat disaksikan dari arah Timur-Timur Laut sebelum fajar astronomis, berkulminasi di arah Utara pada pukul 10.00 waktu setempat dan terbenam di arah Barat-Barat Laut pada pukul 16.00 waktu setempat. Hujan meteor ini diduga berasal dari sisa debu asteroid Icarus dan komet periodik 96P/Machholz meskipun sumber utamanya tidak dapat diketahui dengan pasti.

 

8 Juni : Apoge Bulan


Gambar 5. Apoge Bulan 8 Juni 2021. Sumber: Stellarium PC 0.21

 

Apoge Bulan adalah konfigurasi ketika Bulan terletak paling jauh dengan Bumi. Hal ini disebabkan oleh orbit Bulan yang ­berbentuk elips dengan Bumi terletak di salah satu titik fokus orbit tersebut. Perige Bulan terjadi setiap rata-rata 27,32 hari dengan interval dua apoge Bulan yang berdekatan bervariasi antara 26,98–27,90 hari. Rentang yang lebih sempit dibandingkan dengan perige disebabkan karena Bulan juga bersama-sama dengan Bumi mengelilingi Matahari. Sehingga, ketika perige, akan mengalami perturbasi lebih besar dengan Matahari dibandingkan ketika apoge.

Apoge Bulan di bulan Juni 2021 terjadi pada pukul 09.38.51 WIB / 10.38.51 WITA / 11.38.51 WIT. Sehingga, apoge Bulan ini baru dapat disaksikan ketika terbit sekitar pukul 4.30 waktu setempat dari arah timur-timur laut, berkulminasi di arah utara sekitar pukul 10.30 waktu setempat dan kemudian terbenam di arah barat-barat laut sekitar pukul 16.30 waktu setempat. Bulan berjarak 406.209 km dari Bumi (geosentrik) dan berada di sekitar konstelasi Aries dengan iluminasi 4,0% (sabit awal) ketika apoge. 

 

10 Juni : Gerhana Matahari Cincin dan Fase Bulan Baru


Gambar 6. Peta Visibilitas Gerhana Matahari Cincin 10 Juni 2021. Sumber: Dokumentasi Pribadi.

 

Fase Bulan Baru kali ini terjadi pada 10 Juni pukul 17.52.33 WIB / 18.52.33 WITA / 19.52.33 dengan jarak 404.245 km dari Bumi (geosentrik) dan terletak di konstelasi Taurus. Bulan tidak hanya membentuk konjungsi dengan Matahari melainkan juga dengan Merkurius sehingga dapat disebut juga Konjungsi Tripel Bulan-Merkurius-Matahari, meskipun tidak dapat diamati secara kasat mata mengingat kecerlangannya yang rendah. Fenomena ini juga bertepatan dengan Gerhana Matahari Cincin yang hanya dapat disaksikan di Pulau Ellesmere dan Baffin (Kanada) serta Kawasan Siberia (Rusia) dengan ketampakan maksimum terjadi pada pukul 17.43.05 WIB / 18.43.05 WITA / 19.43.05 WIT. Sementara itu, wilayah seperti Greenland, Islandia, Eropa, Rusia, negara-negara Asia Tengah dan Tiongkok bagian Barat dapat menyaksikan Gerhana Matahari Sebagian.

Kondisi langit pada 10 Juni ketika senja, Venus dan Mars sudah condong ke arah barat-barat laut hingga kemudian terbenam di arah barat-barat laut masing-masing pada pukul 19.00 dan 20.30 wakut setempat. Merkurius tidak dapat terlihat sepanjang malam dan berada di atas ufuk bersama-sama dengan Matahari dan Bulan.

Sementara itu, ketinggian Bulan di Indonesia ketika terbenam Matahari bervariasi antara -0,55° hingga -2,1° dengan sudut elongasi terhadap Matahari bervariasi antara 0,29° hingga 1,94° sehingga Bulan tidak dapat diamati meskipun dengan alat bantu.

Sedangkan, Saturnus baru dapat dilihat sejak pukul 21.30 waktu setempat dari arah Timur, kemudian menyusul Jupiter yang baru terbit pada pukul 22.45 waktu setempat dan kedua planet raksasa ini dapat disaksikan hingga fajar bahari berakhir keesokan harinya.

 

11 Juni : Konjungsi Inferior Merkurius

Gambar 7. Konjungsi Inferior Merkurius 11 Juni 2021. Sumber: Stellarium PC 0.21

 

Konjungsi Inferior adalah konfigurasi ketika Bumi, Merkurius dan Matahari berada pada satu garis lurus. Konjungsi inferior sama seperti fase Bulan baru pada Bulan, sehingga Merkurius tidak tampak baik ketika senja maupun fajar. Konjungsi inferior Merkurius menandai pergantian ketampakan Merkurius dari senja ke fajar. Selain itu, konjungsi inferior merupakan titik tengah dari siklus retrograd Merkurius yang menandai titik balik gerak semu Merkurius (jika diamati dari Bumi) sebelum Merkurius kembali melakukan gerak prograde.

Konjungsi inferior kali ini terjadi pada tanggal 11 Juni pukul 08.05 WIB. Fenomena ini terjadi setiap 116 hari sekali, terakhir kali terjadi pada 8 Februari dan akan terjadi kembali pada 10 Oktober 2021 dan 23 Januari 2022. Ketika konjungsi inferior, jarak Merkurius dari Bumi sejauh 0,551 sa atau 82,4 juta kilometer.

 

12-14 Juni : Konjungsi Kuartet Bulan-Venus-Pollux-Mars

Fenomena ini terjadi selama tiga hari sejak 12 hingga 14 Juni 2021. Dapat diamati ketika senja astronomis dari arah Barat-Barat Laut dan terbenam seluruhnya pada pukul 20.30-21.00 waktu setempat.

Kecerlangan Pollux sebesar +1,15 sedangkan kecerlangan Venus sebesar -3,89. Kecerlangan Mars bervariasi antara +1,73 hingga +1,77. Bulan berada pada fase sabit awal dengan iluminasi antara 3, 6% hingga 14,5%.

Puncak Konjungsi Bulan-Venus terjadi pada 12 Juni pukul 16.12.46 WIB sehingga Bulan akan tampak lebih dekat dengan Venus ketika senja di tanggal yang sama.

Puncak Konjungsi Bulan-Pollux terjadi pada 13 Juni pukul 13.02.55 WIB sehingga Bulan akan tampak lebih dekat dengan Pollux ketika senja di tanggal yang sama.

Puncak Konjungsi Bulan-Mars terjadi pada 14 Juni pukul 03.17.55 WIB sehingga Bulan akan tampak lebih dekat dengan Mars ketika senja sebelumnya (13 Juni).

 


Gambar 8. Konjungsi Kuartet Bulan-Venus-Pollux-Mars

 

Awalnya, Bulan bersama-sama dengan Venus, Pollux dan Mars berada di Konstelasi Gemini pada 12 Juni. Kemudian, Bulan meninggalkan ketiganya dan berpindah menuju Konstelasi Cancer pada 13 dan 14 Juni.

 

18 Juni : Fase Bulan Perbani Awal

Fase perbani awal adalah salah satu fase Bulan ketika konfigurasi antara Matahari, Bumi dan Bulan membentuk sudut siku-siku (90°) dan terjadi sebelum fase Bulan purnama.

Puncak fase perbani awal terjadi pada pukul 10.54.14 WIB / 11.54.14 WITA / 12.54.14 WIT. Sehingga, Bulan perbani awal ini baru dapat disaksikan ketika terbit setelah tengah hari dari arah Timur, berkulminasi di arah Utara setelah terbenam Matahari dan kemudian terbenam di arah Barat sebelum tengah malam. Bulan berjarak 377.104 km dari Bumi (geosentrik) ketika puncak fase perbani awal dan berada di sekitar konstelasi Virgo.


Gambar 9. Fase Bulan Perbani Awal 18 Juni 2021. Sumber: Stellarium PC 0.21

 

19-20 Juni : Hujan Meteor Ofiukid


Gambar 10. Puncak Hujan Meteor Ofiukid 19 Juni 2021. Sumber: Stellarium PC 0.21.

 

Hujan meteor Ofiukid adalah hujan meteor yang titik radian (awal kemunculan meteor)-nya terletak di konstelasi Ofiukus. Hujan meteor Ofiukid termasuk ke dalam hujan meteor anthelion yakni hujan meteor yang titik radiannya berlawanan dengan posisi Matahari, sekitar 15° sebelah timur dari titik anthelion. Selain itu, intensitas maksimumnya ketika di zenit hanya 5 meteor per jam. Hujan meteor ini dapat disaksikan dari arah Timur-Tenggara setelah terbenam Matahari, berkulminasi sebelum tengah malam di arah Selatan dan terbenam di arah Barat-Barat Daya sebelum terbit Matahari.

 

20 Juni : Retrograd Jupiter


Gambar 11. Lintasan Jupiter ketika Retrograd. Sumber: Stellarium PC 0.21

 

Retrograd adalah gerak semu planet yang tampak berlawanan arah (dari Barat ke Timur) dibandingkan dengan gerak normalnya (dari Timur ke Barat) jika diamati dari Bumi. Retrograd Jupiter dimulai pada 20 Juni pukul 22.11 WIB / 23.11 WITA atau 21 Juni pukul 01.11 WIT, puncaknya adalah ketika oposisi di tanggal 20 Agustus dan berakhir pada 18 November pukul 09.38 WIB / 10.38 WITA / 11.38 WIT. Sehingga, retrograd Jupiter kali ini berdurasi selama 120 hari. Retrograd Jupiter kali ini terletak di konstelasi Aquarius. Retrograd Jupiter selalu terjadi setiap tahun dengan selang waktu 404 hari. Retrograd Jupiter sebelumnya telah terjadi pada 14 Mei 2020 (122 hari) dan akan terjadi kembali pada 29 Juni 2022 (118 hari).   

 

21 Juni : Titik Balik Matahari (Solstis) Juni


Gambar 12. Diagram Titik Balik Matahari (Solstis) Juni. Sumber: Dokumentasi Pribadi

 

Solstis Juni atau Titik Balik Utara Matahari adalah posisi ketika Matahari berada paling Utara terhadap ekuator langit jika diamati oleh pengamat di permukaan Bumi. Sedangkan, jika diamati dari sembarang titik di luar angkasa, belahan Bumi bagian Utara akan terlihat “mendekat” ke arah Matahari. Oleh karenanya, pengamat yang berada di Garis Balik Utara (Tropic of Cancer 23,40 LS) akan melihat Matahari tepat berada di atas kepala ketika tengah hari.

Bagi pengamat yang berada di belahan Bumi bagian Selatan, akan merasakan malam yang lebih panjang dibandingkan hari-hari lainnya. Bahkan, Matahari tidak pernah terbit di Kutub Selatan ketika solstis Juni. Sebaliknya, pengamat yang berada di belahan Bumi bagian Utara, akan merasakan siang yang lebih panjang dibandingkan hari-hari lainnya. Bahkan, Matahari tidak pernah terbenam di Kutub Utara ketika solstis Utara.

Puncak solstis Juni tahun ini terjadi pada tanggal 21 Juni pukul 10.31.57 WIB. Baik pengamat di belahan Bumi bagian Utara maupun Selatan, akan mendapati Matahari terbit dari arah Timur-Timur Laut dan terbenam dari arah Barat-Barat Laut. Bagi daerah berlintang tinggi di belahan Selatan, akan mendapat Matahari terbit dari arah Timur-Timur Laut dan terbenam dari arah Barat-Barat Laut.

 

22 Juni : Ketampakan Awal Merkurius Ketika Fajar


Gambar 13. Ketampakan Pertama Merkurius Ketika Fajar 22 Juni 2021. Sumber: Stellarium PC 0.21.

 

Setelah konjungsi inferior Merkurius pada 11 Juni silam, Merkurius dapat disaksikan pertama kalinya selama 40 menit hingga fajar bahari (ketinggian Matahari -6°) dari arah Timur-Timur Laut dekat konstelasi Taurus dengan kecerlangan +2,46. Merkurius dapat disaksikan selama 33 hari hingga 25 Juli 2021 sebelum akhirnya tidak dapat diamati kembali sampai terjadinya konjungsi superior.

 

23 Juni : Konjungsi Bulan-Antares

Puncak konjungsi Bulan-Antares terjadi pada 23 Juni 2021 pukul 12.06.40 WIB / 13.06.40 WITA / 14.06.40 WIT. Sehingga, fenomena ini sudah dapat disaksikan sejak senja bahari dari arah Timur-Tenggara, berkulminasi di arah Selatan sebelum tengah malam, kemudian terbenam di arah Barat-Barat Daya sebelum fajar astronomis. Sudut pisah bervariasi antara 6,44° hingga 9,74°. Magnitudo Antares sebesar +1,05; sedangkan Fraksi Iluminasi Bulan bervariasi antara 97,7% hingga 98,6% (Bulan Besar/Cembung Awal).

 


Gambar 14. Konjungsi Bulan-Antares 23 Juni 2021. Sumber: Stellarium PC 0.21.

 

23 Juni : Perige Bulan


Gambar 15. Puncak Perige Bulan 23 Juni 2021. Sumber: Stellarium PC 0.21.

 

Perige Bulan adalah konfigurasi ketika Bulan terletak paling dekat dengan Bumi. Hal ini disebabkan oleh orbit Bulan yang ­berbentuk elips dengan Bumi terletak di salah satu titik fokus orbit tersebut. Perige Bulan terjadi setiap rata-rata 27 1/3 hari dengan interval dua perige Bulan yang berdekatan bervariasi antara 24 5/8 –28½ hari.

Perige Bulan di bulan Juni 2021 terjadi pada tanggal 23 Juni pukul 17.03.58 WIB / 18.03.58 WITA / 19.03.58 WIT dengan jarak 359.972 km dari Bumi (geosentrik), iluminasi 97,5% dan berada di sekitar konstelasi Ofiukus.

Perige Bulan ini dapat disaksikan sejak pukul 16.30 waktu setempat dari arah timur-tenggara, berkulminasi di arah selatan keesokan harinya pukul 22.45 waktu setempat dan terbenam keesokan harinya di arah barat-barat daya sekitar pukul 05.00 waktu setempat.

 

24-25 Juni : Fase Bulan Purnama


Gambar 16. Puncak Fase Bulan Purnama 25 Juni 2021. Sumber: Stellarium PC 0.21.

 

Fase Bulan purnama, atau disebut juga fase oposisi solar Bulan, adalah konfigurasi ketika Bulan terletak membelakangi Matahari dan segaris dengan Bumi dan Matahari. Mengingat orbit Bulan yang membentuk sudut 5,1° terhadap ekliptika, Bulan tidak selalu memasuki bayangan Bumi ketika fase Bulan purnama, sehingga setiap fase Bulan purnama tidak selalu beriringan dengan gerhana Bulan.

Puncak fase Bulan purnama di Juni 2021 ini terjadi pada 25 Juni pukul 01.39.33 WIB / 02.39.33 WITA / 03.39.33 WIT dengan jarak 361.561 km dari Bumi (geosentrik) dan terletak di konstelasi Sagitarius. Secara tradisional, Bulan purnama di bulan Juni disebut juga Bulan Purnama Stroberi (Full Strawbery Moon) karena di belahan utara Bumi, buah stroberi menjadi matang dan siap untuk dipanen.

Bulan purnama dapat disaksikan pada malam sebelumnya (24 Juni) sebelum terbenam Matahari dari arah timur-tenggara, kemudian berkulminasi keesokan harinya (25 Juni) sekitar tengah malam di arah selatan dan terbenam setelah terbit Matahari di arah barat-barat daya.

 

26-29 Juni : Konjungsi Tripel Bulan-Jupiter-Saturnus


Gambar 17. Konjungsi Tripel Bulan-Jupiter-Saturnus 26-29 Juni 2021. Sumber: Stellarium PC 0.21

 

Fenomena ini berlangsung selama empat hari sejak 26 hingga 29 Juni mendatang. Dapat disaksikan sejak tengah malam hingga fajar bahari dari arah Timur-Tenggara hingga Barat-Barat Daya. Kecerlangan Jupiter bervariasi antara -2,60 hingga -2,62 sedangkan kecerlangan Saturnus bervariasi antara +0,42 hingga +0,40. Mula-mula, Bulan berada di konstelasi Capricornus bersama Saturnus selama dua hari, sedangkan Jupiter berada di konstelasi Aquarius. Kemudian, Bulan berpindah menuju Aquarius bersama Jupiter selama dua hari berikutnya. Fenomena ini akan terjadi pada 24-28 Juli mendatang.

 

27 Juni : Hujan Meteor Bootid


Gambar 18. Hujan Meteor Bootid 27 Juni 2021. Sumber: Stellarium PC 0.21.

 

Hujan Meteor Bootid adalah hujan meteor yang titik radian (awal kemunculan meteor)-nya terletak di konstelasi Bootes. Aktif sejak 22 Juni silam hingga 2 Juli mendatang. Puncaknya terjadi pada tanggal 27 Juni dengan intensitas bervariasi antara 0-100 meteor per jam ketika di zenit. Dapat disaksikan dari arah Timur Laut ketika senja bahari, berkulminasi di arah Utara pada pukul 20.30 waktu setempat dan terbenam di arah Barat Laut pada pukul 02.00 waktu setempat. Hujan meteor ini berasal dari sisa debu komet periodik 7P/Pons-Winnecke.

 

27 Juni : Hujan Meteor Scutid


Gambar 19. Hujan Meteor Scutid 27 Juni 2021. Sumber: Stellarium PC 0.21.

 

Hujan Meteor Scutid adalah hujan meteor yang titik radian (awal kemunculan meteor)-nya terletak di konstelasi Scutum di sekitar bintang Eta Serpentis (Tejat). Aktif sejak 2 Juni silam hingga 29 Juli mendatang. Puncaknya terjadi pada tanggal 27 Juni dengan intensitas bervariasi antara 2-4 meteor per jam ketika di zenit. Dapat disaksikan dari arah Timur ketika awal senja bahari, berkulminasi di sekitar zenit ketika tengah malam dan terbenam di arah Barat ketika fajar bahari berakhir. Hujan meteor ini diduga berasal dari sisa debu asteroid 2004 CL (331876).

Comments