Fenomena Astronomis September 2021 - Bagian Kedua

Oleh Andi Pangerang
30 Agustus 2021

Pekan Kedua

9 September: Puncak Hujan Meteor Perseid September (dapat disaksikan dengan mata biasa)

Perseid September adalah hujan meteor yang titik radian (asal ketampakan meteor)-nya pada arah konstelasi Perseus. Perbedaannya dengan hujan meteor Perseid pada bulan Agustus silam adalah  Perseid September terbentuk dari sisa debu komet berperiode lama yang belum diketahui dan diduga mengorbit Matahari selama ribuan tahun dengan arah yang berlawanan, sedangkan Perseid berasal dari komet Swift-Tuttle. Hujan meteor ini pertama kali diamati oleh G. Zezioli pada antara tahun 1867 hingga 1870.

Hujan meteor ini aktif sejak 5 September hingga 21 September mendatang, dan intensitas meteor maksimumnya terjadi pada 9 September 2021 pukul 18.00 WIB / 19.00 WITA / 20.00 WIT. Sehingga, hujan meteor ini dapat disaksikan sejak pukul 22.00 waktu setempat hingga 20 menit sebelum terbit Matahari keesokan harinya (10/9) dari arah Timur Laut hingga Utara-Barat Laut. Intensitas maksimum saat titik radiannya berada di zenit sebesar 5 meteor per jam. Mengingat ketinggian titik radian tertingginya di Indonesia berkisar 24°-25°, maka intensitas maksimumnya 2 meteor per jam. Kelajuan hujan meteor ini mencapai 230.400 km/jam. Hujan meteor ini dapat disaksikan menggunakan mata biasa selama cuaca cerah, langit bersih, bebas polusi cahaya dan penghalang yang menghalangi medan pandang.

9 September: Konjungsi Bulan-Merkurius (dapat disaksikan dengan mata biasa)

Bulan akan berkonjungsi dengan Merkurius pada 9 September 2021 pukul 03.18 WIB / 04.18 WITA / 05.18 WIT dengan sudut pisah 6,5°. Akan tetapi, fenomena ini baru dapat disaksikan 20 menit setelah terbenam Matahari selama 75 menit dari arah Barat. Sudut pisah Bulan-Merkurius bervariasi antara 7,1° hingga 7,5°. Bulan berfase sabit awal dengan iluminasi 7,2% hingga 7,5% sedangkan magnitudo Merkurius cenderung konstan sebesar +0,13. Di dekat Merkurius, terdapat Venus dan Spica yang tampak berkonjungsi dengan sudut pisah 4,4° sehingga fenomena ini disebut juga konjungsi kuartet Bulan-Merkurius-Venus-Spica.

9-11 September: Merkurius di Titik Tertinggi Ketika Senja (dapat disaksikan dengan mata biasa)

Sejak bulan Agustus silam, Merkurius sudah muncul ketika senja. Hal ini ditandai dengan konjungsi superior Merkurius yakni ketika Merkurius berada di belakang Matahari jika diamati dari Bumi. Ketampakan senja ini akan berakhir pada bulan Oktober, yang ditandai oleh konjungsi inferior Merkurius yakni ketika Merkurius berada di depan Matahari jika diamati dari Bumi. Ketampakan Merkurius ketika senja ini akan mencapai titik tertinggi selama tiga hari sejak tanggal 9-11 September 2021 untuk seluruh wilayah Indonesia. Fenomena ini dapat disaksikan dari arah Barat sejak 20 menit setelah terbenam Matahari selama 75 menit. Fenomena ini terjadi sebelum Merkurius mencapai elongasi timur maksimum, yakni ketika posisi Merkurius berada paling timur jika ditinjau dari sumbu Z bidang ekliptika.

Tabel 1. Ketampakan Merkurius saat di titik tertinggi untuk seluruh Indonesia

9 September 2021

10 September 2021

11 September 2021

Kota

Tinggi
Maks.

Kota

Tinggi
Maks.

Kota

Tinggi
Maks.

Kota

Tinggi
Maks.

Kota

Tinggi
Maks.

Banda Aceh

+20°

Palangkaraya

+23°

Bengkulu

+23°

Surabaya

+23°

Denpasar

+24°

Medan

+21°

Samarinda

+22°

Palembang

+23°

Banjarmasin

+23°

Mataram

+24°

Padang

+22°

Tarakan

+21°

Lampung

+23°

Majene

+23°

Kupang

+24°

Pekanbaru

+22°

Palu

+22°

Serang

+23°

Makassar

+22°

 

 

Tanjung Pinang

+22°

Gorontalo

+22°

Jakarta

+23°

Kendari

+23°

 

 

Jambi

+22°

Manado

+21°

Bandung

+23°

Ambon

+23°

 

 

Pangkalpinang

+23°

Sofifi

+22°

Semarang

+23°

Jayapura

+22°

 

 

Pontianak

+22°

Sorong

+22°

Yogya

+24°

 

 

 

 

 10 September: Konjungsi Bulan-Venus (dapat disaksikan dengan mata biasa)

Puncak konjungsi Bulan-Venus terjadi pada pukul 12.17 WIB / 13.17 WITA / 14.17 WIT dengan sudut pisah 4,3°; sehingga fenomena ini baru dapat disaksikan dari arah Barat-Barat Daya sekitar 20 menit setelah Matahari terbenam selama 135 menit. Ketika konjungsi, Bulan berfase Sabit Awal dengan iluminasi 14,3%-15,0% sementara magnitudo Venus sebesar −4,08. Sudut pisah Bulan-Venus bervariasi antara 4,2° hingga 4,9°. Di dekat Venus, terdapat Spica dan Merkurius yang tampak berkonjungsi dengan sudut pisah 9,7° sehingga fenomena ini disebut juga konjungsi kuartet Bulan-Merkurius-Venus-Spica.

11 September: Perige Bulan (dapat disaksikan dengan mata biasa)

Perige Bulan adalah konfigurasi ketika Bulan terletak paling dekat dengan Bumi. Hal ini disebabkan oleh orbit Bulan yang berbentuk elips dengan Bumi terletak di salah satu titik fokus orbitnya. Perige Bulan terjadi setiap rata-rata 271/3 hari dengan interval dua perige Bulan bervariasi antara 245/8 –28½ hari.

Perige Bulan di bulan September 2021 terjadi tanggal 21 September pukul 16.54.49 WIB / 17.54.49 WITA / 18.54.49 WIT dengan jarak 368.495 km dari Bumi (geosentrik), iluminasi 23,3% (Sabit Awal) dan berada di sekitar konstelasi Libra. Perige Bulan ini dapat disaksikan sejak pukul 09.00 waktu setempat dari arah Timur-Tenggara, berkulminasi di arah Selatan pukul 15.20 waktu setempat dan terbenam di arah Barat-Barat daya sekitar pukul 21.40 waktu setempat.

11 September: Konjungsi Kuartet Bulan-Venus-Merkurius-Spica (dapat disaksikan dengan mata biasa)

Hari ini adalah hari ketiga Bulan mengalami konjungsi kuartet dengan Venus, Merkurius dan Spica setelah sebelumnya terjadi tanggal 9 dan 10 September 2021 silam. Fenomena ini dapat disaksikan sejak 20 menit setelah terbenam Matahari dari arah Barat selama 75–210 menit hingga keempatnya terbenam seluruhnya. Sudut pisah Bulan-Venus bervariasi antara 16,11°–17,04°. Sudut pisah Venus-Spica dan Spica-Merkurius masing-masing sebesar 6,6° dan 8,65°. Magnitudo Venus, Merkurius dan Spica masing-masing sebesar −4,09; +0,18 dan +0,95. Bulan berfase sabit awal dengan iluminasi antara 23,4%–24,6%.

12 September: Konjungsi Tripel Venus-Merkurius-Spica (dapat disaksikan dengan mata biasa)

Setelah Bulan berkonjungsi dengan Venus, Merkurius dan Spica selama tiga hari sejak 9 September silam, Bulan meninggalkan ketiga objek langit tersebut dan menyisakan konjungsi tripel untuk ketiga objek tersebut pada tanggal 12 September. Fenomena ini dapat disaksikan sejak 20 menit setelah terbenam Matahari dari arah Barat selama 75–135 menit hingga ketiga objek tersebut terbenam seluruhnya. Sudut pisah Venus-Spica sebesar 7,8° sedangkan sudut pisah Spica-Merkurius sebesar 7,6°. Magnitudo Venus dan Merkurius masing-masing −4,09 dan +0,18 sedangkan magnitudo Spica sebesar +0,95.

13 September: Konjungsi Bulan-Antares (dapat disaksikan dengan mata biasa)

Puncak konjungsi Bulan-Antares terjadi pada 13 September 2021 pukul 06.59 WIB / 07.59 WITA / 08.59 WIT. Sehingga, fenomena ini dapat disaksikan sejak 20 menit setelah terbenam Matahari dari arah Barat Daya, kemudian terbenam di arah Barat-Barat Daya pukul 23.00 waktu setempat. Sudut pisah Bulan-Antares bervariasi antara 6,3° hingga 8,4°. Magnitudo Antares sebesar +1,05 sedangkan Bulan berfase sabit awal dengan iluminasi bervariasi antara 45,4% hingga 47,1%.

14 September: Fase Bulan Perbani Awal (dapat disaksikan dengan mata biasa)

Fase perbani awal adalah salah satu fase Bulan ketika konfigurasi antara Matahari, Bumi dan Bulan membentuk sudut siku-siku (90°) dan terjadi sebelum fase Bulan purnama. Puncak fase perbani awal terjadi pada pukul 03.39.21 WIB / 04.39.21 WITA / 05.39.21 WIT. Sehingga, Bulan perbani awal ini sudah dapat disaksikan ketika terbit ketika tengah hari dari arah Timur-Tenggara, berkulminasi di arah Selatan ketika terbenam Matahari dan kemudian terbenam di arah Barat-Barat Daya ketika tengah malam. Bulan berjarak 370.469 km dari Bumi ketika puncak fase perbani awal dan berada di sekitar konstelasi Ofiukus.

14 September: Elongasi Timur Maksimum Merkurius (dapat disaksikan dengan mata biasa)

Elongasi timur maksimum Merkurius adalah konfigurasi Merkurius berada paling timur jika ditinjau dari sumbu Z bidang ekliptika atau garis penghubung Bumi-Matahari. Puncak fenomena ini terjadi pada tanggal 14 September 2021 pukul 11.11 WIB / 12.11 WITA / 13.11 WIT, sehingga dapat disaksikan dari arah Barat-Barat Daya dekat konstelasi Taurus sejak 20 menit setelah terbenam Matahari selama 75 menit. Sudut elongasi Merkurius-Matahari sebesar 23,4°. Ketinggian Merkurius di Indonesia bervariasi antara +20° hingga +24° ketika terbenam Matahari, merupakan ketinggian maksimum yang dicapai setelah konjungsi superior dan sebelum konjungsi inferior. Merkurius berjarak 0,962 sa (144 juta km) dari Bumi. Magnitudo Merkurius sebesar +0,2 dengan iluminasi 57,0% (benjol) dan lebar sudut 6,94 detik busur.

14 September: Oposisi Neptunus (dapat disaksikan dengan alat bantu)

Oposisi Neptunus adalah konfigurasi ketika Neptunus, Bumi dan Matahari berada pada satu garis lurus. Oposisi Neptunus sama dengan fase oposisi Bulan atau Purnama, sehingga Neptunus dapat terlihat paling terang jika diamati dari Bumi. Puncak oposisi Neptunus terjadi pada pukul 16.28 WIB / 17.28 WITA / 18.28 WIT dengan magnitudo +7,8 dan lebar sudut 2,53 detik busur. Neptunus berjarak 28,917 sa atau 4,326 milyar km dari Bumi. Neptunus dapat disaksikan dari arah Timur hingga Barat dekat konstelasi Akuarius sejak 20 menit setelah terbenam Matahari hingga 20 menit sebelum terbit Matahari keesokan harinya.

(bersambung di bagian ketiga)

Comments