Fenomena Astronomis September 2021 - Bagian Ketiga

Oleh Andi Pangerang
30 Agustus 2021

Pekan Ketiga dan Keempat

16-19 September: Konjungsi Tripel Bulan-Jupiter-Saturnus (dapat disaksikan dengan mata biasa)

Fenomena ini berlangsung selama empat hari sejak 16 hingga 19 September mendatang. Dapat disaksikan sejak 20 menit setelah terbenam Matahari dari arah Timur-Tenggara hingga pukul 02.40 waktu setempat dari arah Barat-Barat Daya. Magnitudo Jupiter bervariasi antara -2,80 hingga -2,78 sedangkan magnitudo Saturnus bervariasi antara +0,43 hingga +0,45. Bulan berfase Benjol Awal atau Bulan Besar dengan iluminasi 78,1%-98,2%. Mula-mula, Bulan berada di konstelasi Sagitarius, sedangkan Jupiter dan Saturnus berada di konstelasi Kaprikornus. Keesokan harinya, Bulan berada di konstelasi Kaprikornus bersama-sama dengan Jupiter dan Saturnus selama dua hari berturut-turut. Bulan berkonjungsi dengan Saturnus terlebih dahulu sebelum berkonjungsi dengan Jupiter keesokan harinya. Kemudian, Bulan berpindah menuju konstelasi Akuarius meninggalkan Jupiter dan Saturnus yang masih berada di Kaprikornus.

20 September: Apoge Mars (tidak dapat disaksikan baik dengan mata biasa maupun alat bantu)

Mars akan berjarak paling jauh dari Bumi pada 20 September 2021 pukul 18.33 WIB / 19.33 WITA / 20.33 WIT sebesar 2,638 sa atau 394,7 juta km. Fenomena ini disebut juga Apoge Mars. Fenomena ini akan mengakibatkan Mars berukuran sangat kecil dan redup. Magnitudo Mars sebesar +1,69 dengan lebar sudut 3,55 detik busur. Dikarenakan sudut pisah Mars-Matahari yang cukup dekat yakni 5,86° dan terjadi berdekatan dengan konjungsi solar Mars 8 Oktober mendatang, Mars tidak dapat disaksikan sepanjang malam. Fenomena ini terjadi setiap dua tahun sekali, terakhir kali terjadi pada 5 Agustus 2017 dan 29 Agustus 2019. Fenomena ini akan terjadi kembali pada 18 Oktober 2023 dan 30 November 2025.

21 September: Fase Bulan Purnama (dapat disaksikan dengan mata biasa)

Fase Bulan purnama, atau disebut juga fase oposisi solar Bulan, adalah konfigurasi ketika Bulan terletak membelakangi Matahari dan segaris dengan Bumi dan Matahari. Mengingat orbit Bulan yang membentuk sudut 5,1° terhadap ekliptika, Bulan tidak selalu memasuki bayangan Bumi ketika fase Bulan purnama, sehingga setiap fase Bulan purnama tidak selalu beriringan dengan gerhana Bulan.

Puncak fase Bulan purnama di September 2021 ini terjadi pada 21 September pukul 06.54.37 WIB / 07.54.37 WITA / 08.54.37 WIT dengan jarak 389.984 km dari Bumi (geosentrik) dan terletak di konstelasi Pisces. Bulan purnama dapat disaksikan pada malam sebelumnya (20 September) sebelum terbenam Matahari dari arah Timur, kemudian berkulminasi keesokan harinya (21 September) sebelum tengah malam di sekitar Zenit untuk lintang 6°-7°LS dan terbenam ketika terbit Matahari di arah Barat.

Dalam almanak petani Amerika Serikat, purnama yang terjadi di bulan September disebut juga Purnama Panen (Full Harvest Moon) dikarenakan berdekatan dengan Ekuinoks September yang terjadi pada 23 September mendatang. Para petani akan memanen hasil tanaman mereka sejak terbit Bulan hingga sepanjang malam. Purnama Panen ini menjadi signifikan secara astronomis, mengingat selang waktu terbit Bulan menjadi lebih singkat dibandingkan dengan hari-hari lainnya bagi pengamat di belahan utara Bumi. Purnama di bulan September juga disebut sebagai Purnama Jagung (Full Corn Moon) dan Purnama Jelai (Full Barley Moon) karena di saat inilah tanaman jagung dan jelai sebagai makanan pokok di Eropa maupun Amerika Serikat mulai dipanen. Istilah ini tidak terkait dengan Purnama Panen yang mana hanya dikhususkan bagi Purnama yang terjadi berdekatan degan Ekuinoks September.

23 September: Ekuinoks September (dapat disaksikan dengan mata biasa)

Ekuinoks September merupakan salah satu dari dua ekuinoks yang selalu terjadi setiap tahunnya. Ekuinoks September merupakan titik perpotongan ekliptika dan ekuator langit yang dilewati Matahari dalam perjalana semu tahunan Matahari dari langit belahan Utara menuju ke langit belahan Selatan. Ekuinoks September dikenal juga sebagai Ekuinoks Musim Gugur (autumnal equinox) di belahan Utara dan Ekuinoks Musim Semi (vernal equinox) di belahan Selatan.

Jika ditinjau dari pengamat Tata Surya di luar Bumi, posisi sumbu rotasi Bumi tegak lurus terhadap arah sinar Matahari ke Bumi. Hal ini mengakibatkan batas siang-malam di setiap permukaan Bumi akan berimpit dengan garis bujur Bumi, sehingga panjang siang dan malam nyaris sama (walau kenyataannya tidak tepat 12 jam karena dipengaruhi oleh pembiasan atmosfer).

Tahun ini, Ekuinoks September terjadi tanggal 23 September 2021 pukul 02.20.59 WIB / 03.20.59 WITA / 04.20.59 WIT. Bagi pengamat yang berada di garis katulistiwa, Matahari akan tampak berada tepat di atas kepala saat tengah hari. Sedangkan, untuk tempat yang lainnya, bayangan Matahari akan condong ke Utara atau ke Selatan sesuai dengan lintang tempat pengamat. Ketika ekuinoks, Matahari akan terbit nyaris tepat di arah Timur dan terbenam nyaris tepat di arah Barat. Hal ini dikarenakan perpotongan antara ekuator langit dengan ufuk adalah titik Timur dan Barat.

27 September: Retrograd Merkurius (dapat disaksikan dengan mata biasa)

Retrograd adalah gerak semu planet yang tampak berlawanan arah (dari Barat ke Timur) dibandingkan dengan gerak normalnya (dari Timur ke Barat) jika diamati dari Bumi. Retrograd Merkurius dimulai pada 27 September 2021 pukul 12.30 WIB / 13.30 WITA / 14.30 WIT, puncaknya adalah ketika konjungsi inferior di tanggal 9 Oktober dan berakhir pada 18 Oktober pukul 09.38 WIB / 10.38 WITA / 11.38 WIT.

Retrograd Merkurius kali ini berdurasi selama 21 hari dan terletak di konstelasi Virgo. Retrograd Merkurius selalu terjadi setiap tiga kali setahun. Fenomena ini sebelumnya telah terjadi pada 30 Januari (21 hari) dan 30 Mei 2021 (24 hari), serta akan terjadi kembali pada 14 Januari 2022 (21 hari). Selama retrograd, Merkurius masih bisa diamati hingga 30 September 2021. Keesokan harinya (1 Oktober), Merkurius tidak dapat diamati selama 16 hari dikarenakan sudut pisah yang cukup kecil dengan Matahari. Merkurius baru dapat diamati kembali pada 17 Oktober 2021 ketika fajar, sehari sebelum retrograd berakhir.

27 September: Apoge Bulan (dapat disaksikan dengan mata biasa)

Apoge Bulan adalah konfigurasi ketika Bulan terletak paling jauh dengan Bumi. Hal ini disebabkan oleh orbit Bulan yang ­berbentuk elips dengan Bumi terletak di salah satu titik fokus orbit tersebut. Perige Bulan terjadi setiap rata-rata 27,32 hari dengan interval dua apoge Bulan yang berdekatan bervariasi antara 26,98–27,90 hari. Rentang yang lebih sempit dibandingkan dengan perige disebabkan karena Bulan juga bersama-sama dengan Bumi mengelilingi Matahari. Sehingga, Bulan akan mengalami perturbasi lebih besar dengan Matahari ketika perige jika dibandingkan dengan ketika apoge.

Apoge Bulan kali ini terjadi tanggal 27 September 2021 pukul 04.40.27 WIB / 05.40.27 WITA / 06.40.27 WIT. Sehingga, apoge Bulan ini sudah dapat disaksikan pada malam sebelumnya ketika terbit pukul 22.00 waktu setempat dari arah Timur-Timur laut, berkulminasi di arah Utara pukul 04.00 waktu setempat dan kemudian terbenam di arah Barat-Barat laut pukul 10.00 waktu setempat. Bulan berjarak 404.603 km dari Bumi (geosentrik) dengan iluminasi 70,1% (Bulan susut/benjol akhir) ketika apoge dan berada di Taurus.

28 September: Puncak Hujan Meteor Sextantid (dapat disaksikan dengan mata biasa)

Sextantid adalah hujan meteor yang titik radian (asal ketampakan meteor)-nya pada arah konstelasi Sextans (diantara konstelasi Draco dan Leo). Terbentuk dari sisa debu asteroid 2005 UD. Hujan meteor ini aktif sejak 9 September hingga 9 Oktober mendatang, dan intensitas meteor maksimumnya terjadi pada 27 September 2021 pukul 19.00 WIB / 20.00 WITA / 21.00 WIT. Sehingga, hujan meteor ini baru dapat disaksikan keesokan harinya (28/9) sejak pukul 03.30 hingga 05.00 waktu setempat dari arah Timur.  Intensitas maksimum saat titik radiannya berada di zenit sebesar 5 meteor per jam. Mengingat ketinggian titik radian tertingginya di Indonesia berkisar 24°-25°, maka intensitas maksimumnya hanya 2 meteor/jam.

Kelajuan hujan meteor ini mencapai 115.200 km/jam. Sextantid dapat disaksikan menggunakan mata biasa selama cuaca cerah, langit bersih, bebas polusi cahaya dan penghalang yang menghalangi medan pandang. Hujan meteor ini juga dapat disaksikan ketika siang hari, dengan titik radiannya berkulminasi sekitar pukul 09.30 waktu setempat dan terbenam sekitar pukul 15.30 waktu setempat. Oleh karenanya, hujan meteor ini disebut juga Daytime Sextantid. Sextantid akan sedikit terganggu dikarenakan Bulan berfase benjol akhir yang sudah terbit sebelum tengah malam dan berkulminasi sebelum terbit Matahari.

29 September: Fase Bulan Perbani Akhir (dapat disaksikan dengan mata biasa)

Fase perbani akhir adalah salah satu fase Bulan ketika konfigurasi antara Matahari, Bumi dan Bulan membentuk sudut siku-siku (90°) dan terjadi setelah fase Bulan purnama. Puncak fase perbani akhir terjadi pada pukul 08.57.01 WIB / 09.57.01 WITA / 10.57.01 WIT. Sehingga, Bulan perbani akhir ini sudah dapat disaksikan ketika terbit setelah tengah malam dari arah Timur-Timur Laut, berkulminasi di arah Utara setelah terbit Matahari dan kemudian terbenam di arah Barat-Barat Laut sebelum tengah hari. Bulan berjarak 401.656 km dari Bumi (geosentrik) dan berada di sekitar konstelasi Gemini.

Demikianlah ulasan mengenai fenomena astronomis sepanjang bulan September 2021. Semoga cuaca cerah agar dapat menyaksikan fenomena astronomis selama bulan mendatang. Tetap sehat dan tetap semangat, Sahabat! Salam Edusainsa!

Comments