Fenomena Astronomis September 2021 - Bagian Pertama

Oleh Andi Pangerang
30 Agustus 2021

Halo, Sahabat Edusainsa semua! Tidak terasa, ya, Sahabat. Kita sudah memasuki bulan September 2021. Fenomena astronomis apa saja yang akan terjadi di bulan tersebut? Berikut ulasannya:

Pekan Pertama

1 September: Puncak Hujan Meteor Aurigid (dapat disaksikan dengan mata biasa)

Aurigid adalah hujan meteor yang titik radian (asal ketampakan meteor)-nya pada arah konstelasi Auriga (dekat Taurus). Terbentuk dari sisa debu Komet Kiess (C/1911 N1) yang melintasi ekliptika. Hujan meteor ini sempat teramati empat kali dalam satu abad terakhir: 1935, 1986, 1994, dan 2007. Hujan meteor ini pertama kali diamati oleh Cuno Hoffmeister dan A. Teichgraeber pada malam 31 Agustus 1935.

Hujan meteor ini aktif sejak 28 Agustus hingga 5 September mendatang, dan intensitas meteor maksimumnya terjadi pada 1 September 2021 pukul 10.00 WIB / 11.00 WITA / 12.00 WIT. Sehingga, dapat disaksikan sejak pukul 01.30 hingga 05.30 waktu setempat dari arah Timur Laut hingga Utara-Timur Laut. Intensitas maksimum saat titik radiannya berada di zenit sebesar 6 meteor per jam. Mengingat ketinggian titik radian tertingginya di Indonesia berkisar 31°-48°, maka intensitas maksimumnya 3-4 meteor per jam. Kelajuannya mencapai 237.600 km/jam. Hujan meteor ini dapat disaksikan menggunakan mata biasa selama cuaca cerah, langit bersih, bebas polusi cahaya dan penghalang yang menghalangi medan pandang.

3 September :Konjungsi Bulan-Pollux (dapat disaksikan dengan mata biasa)

Pollux merupakan bintang utama di konstelasi Gemini. Bintang ini berkonjungsi dengan Bulan, puncaknya terjadi pada pukul 11.04 WIB / 12.04 WITA / 13.04 WIT dengan sudut pisah 3°. Akan tetapi, fenomena ini sudah dapat disaksikan sejak pukul 03.00 hingga 05.30 waktu setempat dari arah Timur Laut dengan sudut pisah 4,3°-3,7°. Bulan berfase sabit akhir dengan iluminasi 18,1%-17,5% sedangkan Pollux bermagnitudo +1,15.

5 September: Konjungsi Venus-Spica (dapat disaksikan dengan mata biasa)

Spica merupakan bintang utama di konstelasi Virgo. Bintang ini berkonjungsi dengan Venus, puncaknya terjadi pada 6 September 2021 pukul 03.53 WIB / 04.53 WITA / 05.53 WIT dengan sudut pisah 1,6°. Akan tetapi, fenomena ini sudah dapat disaksikan pada 5 September 2021 sejak pukul 18.30 hingga 20.30 waktu setempat dari arah Barat dengan sudut pisah 1,6°. Kecerlangan Venus sebesar −4,05 sedangkan Spica bermagnitudo +0,95.

6 September: Aphelion Merkurius (dapat disaksikan dengan mata biasa)

Aphelion secara umum adalah konfigurasi ketika planet berada di titik terjauh dari Matahari. Hal ini disebabkan oleh orbit planet yang berbentuk elips dengan Matahari terletak di salah satu dari kedua titik fokus orbit tersebut. Aphelion Merkurius terjadi setiap rata-rata 88 hari sekali atau dalam setahun setidaknya terjadi empat kali. Fenomena ini terjadi pada 6 September 2021 pukul 07.28 WIB / 08.28 WITA / 09.28 WIT dengan jarak 69.817.000 km dari Matahari.

Aphelion Merkurius sebelumnya pernah terjadi pada 14 Maret dan 10 Juni 2021, dan akan terjadi pada 3 Desember 2021 mendatang. Ketika aphelion, Merkurius akan menerima separuh dari energi yang diterima ketika perihelion. Lebar sudut Merkurius jika diamati dari Bumi lebih kecil 26,6% dibandingkan ketika perihelion. Perbedaan ini tidak terlalu signifikan jika diamati lewat teleskop karena lebar sudutnya bervariasi antara 0,106-0,304 menit busur. Merkurius dapat diamati sejak pukul 18.30-19.30 waktu setempat dari arah Barat dekat konstelasi Virgo dengan magnitudo +0,08.

7 September: Fase Bulan Baru (dapat disaksikan dengan alat bantu)

Fase Bulan baru, disebut juga konjungsi solar Bulan, adalah konfigurasi ketika Bulan terletak di antara Matahari dan Bumi dan segaris dengan Matahari dan Bumi. Mengingat orbit Bulan yang membentuk sudut 5,1° terhadap ekliptika, bayangan Bulan tidak selalu jatuh di permukaan Bumi ketika fase Bulan baru, sehingga setiap fase Bulan baru tidak selalu beriringan dengan gerhana Matahari.

Fase Bulan Baru kali ini terjadi pada 7 September pukul 07.51.38 WIB / 08.51.38 WITA / 09.51.38 WIT dengan jarak 377.022 km dari Bumi dan terletak di konstelasi Leo.

Kondisi langit pada 7 Agustus tengah malam, Saturnus dan Jupiter masih bertengger di ufuk tinggi di arah Barat-Barat Daya. Saturnus terbenam pukul 04.00 dan Jupiter menyusul terbenam satu jam kemudian.

Sementara itu, ketinggian Bulan di Indonesia ketika terbenam Matahari bervariasi antara +3,97° hingga +5,77° dengan sudut elongasi terhadap Matahari bervariasi antara 5,57° hingga 6,61°. Sehingga, Bulan kemungkinan dapat diamati meskipun menggunakan hanya alat bantu. Awal bulan Safar 1443 H diperkirakan jatuh pada 8 September 2021.

Sedangkan, Mars berada di ufuk rendah arah Barat ketika 20 menit setelah Matahari terbenam dan terlihat selama 15 menit. Di waktu dan arah yang sama, Merkurius bertengger cukup tinggi selama 75 menit. Venus berada di arah Barat-Barat Daya bersama Spica dan berada di atas ufuk selama 135 menit.

7 September: Konjungsi Bulan-Mars (dapat disaksikan dengan alat bantu)

Puncak konjungsi Bulan-Mars terjadi pada 8 September pukul 02.36 WIB / 03.36 WITA / 04.36 WIT dengan sudut pisah 3,8°. Sehingga fenomena ini sudah dapat disaksikan sejak malam sebelumnya dari arah Barat sekitar 15 menit setelah Matahari terbenam selama 5 menit. Ketika konjungsi, Bulan berfase Sabit Awal dengan iluminasi 0,3%. Sedangkan Mars bermagnitudo +1,68. Sudut pisah Bulan-Mars sebesar 6,66°-6,61°.

8 September: Konjungsi Tripel Bulan-Mars-Merkurius (dapat disaksikan dengan mata biasa)

Fenomena ini dapat disaksikan dari arah Barat sekitar 20 menit setelah Matahari terbenam. Saat konjungsi tripel, Bulan berfase sabit awal dengan iluminasi 2,5%-2,6%. Magnitudo Mars bervariasi antara +1,69 hingga +1,68. Sedangkan, magnitudo Merkurius cenderung konstan sebesar +0,18. Sudut pisah Merkurius Merkurius-Bulan sebesar 10,3° sedangkan sudut pisah Bulan-Mars sebesar 8,5°. Mars terbenam lebih dahulu pada pukul 18.30 waktu setempat, disusul Bulan yang terbenam 30 menit kemudian. Merkurius terbenam paling terakhir yakni sekitar pukul 19.30 waktu setempat.

(bersambung di bagian kedua)

Comments


  • 01 September 2021 | 19:33 Yanuar Budiharto

    Benarkah bahwa cahaya bintang yang tampak dari bumi saat ini adalah posisi jutaan tahun cahaya yang telah berlalu