Fenomena Aurora, Apakah itu ?

Oleh Christine Widianingrum
19 November 2020

Aurora merupakan fenomena alam berupa pendaran cahaya yang tampak seperti menari-nari di langit malam. Menurut Fitri Nuraeni, Peneliti Pusat Sains Antariksa LAPAN, aurora sering muncul di daerah kutub dan lintang tinggi. Aurora yang terlihat di lingkar kutub utara disebut aurora borealis dan di lingkar kutub selatan disebut aurora australis.

Nuraeni menambahkan bahwa aurora terjadi karena atmosfer Bumi berinteraksi dengan partikel bermuatan yang dipancarkan dari Matahari. Pada saat aktivitas Matahari meningkat, partikel bermuatan dari Matahari dapat memasuki magnetosfer dan mempengaruhi sistem arus di dalamnya, akibatnya dapat terjadi badai geomagnet dan gangguan pada ionosfer, kemudian partikel bermuatan yang memasuki atmosfer Bumi ini berinteraksi dengan partikel ionosfer, sehingga menghasilkan pendaran cahaya yang berwarna seperti hijau, biru, ungu dan merah, disebut aurora.

“Warna-warni aurora disebabkan oleh komposisi atmosfer atas yang terdiri dari berbagai macam atom dan molekul seperti Oksigen dan Nitrogen. Warna aurora yang sering muncul adalah hijau karena partikel matahari pada umumnya bertumbukan dengan atmosfer atas pada ketinggian 90 hinggal 130 km di mana terdapat konsentrasi Oksigen yang tinggi, sehingga akan membangkitkan aurora dengan gradasi warna hijau” jelasnya.

Sumber foto : pixabay.com

Disampaikan juga bahwa warna biru dan ungu tidak terlalu sering terlihat, akan muncul ketika aktivitas Matahari tinggi, terjadi pada ketinggian kurang dari 90 km ketika partikel Matahari bertumbukan dengan Nitrogen. Warna merah pun tidak terlalu sering tampak, kemunculannya disebabkan oleh tumbukan partikel dari Matahari dengan Oksigen pada ketinggian di atas 240 km.

Apakah fenomena aurora ini bisa terlihat di Indonesia? Menurut Emanuel Sungging Mumpuni, Koordinator Bidang Diseminasi Pusat Sains Antariksa LAPAN, fenomena aurora ini tidak  pernah terjadi, dan tidak bisa dilihat dari Indonesia karena Indonesia berdasarkan koordinat geomagnetnya terletak di daerah lintang rendah, kecuali ada fenomena sangat ekstrim di Matahari yang melontarkan partikel bermuatan yang sangat kuat, dan ketika gangguannya bisa mencapai Bumi, gangguan yang ditimbulkannya di Bumi sangat besar hingga dapat menjangkau daerah lintang rendah. Peristiwa aurora yang dapat terlihat ke daerah lintang rendah, tercatat sampai bisa diamati di Hawaii dan selatan Jepang, terjadi pada tahun 1859 yang dikenal sebagai “The Carrington Event”.

Comments