Fenomena Langka, Malam Tanpa Bayangan Bulan di Ka’bah Jumat Lusa, Meluruskan Kiblat Bisa Menggunakan Bulan Purnama!

Oleh Andi Pangerang
27 Januari 2021

Malam Tanpa Bayangan Bulan (MTBB) adalah malam dimana ketika Bulan memasuki fase purnama, posisi Bulan berada tepat di atas zenit (secara awam, posisi Bulan tepat berada di atas kepala kita), sehingga seolah-olah tidak ada bayangan yang terbentuk. MTBB dapat diketahui apabila nilai deklinasi Bulan sama dengan lintang geografis pengamat, sebagaimana ketika HTBM (Hari Tanpa Bayangan Matahari).

Bagi orang-orang yang berada di Masjid Al-Haram, Mekkah, Arab Saudi, fenomena ini akan terjadi pada pertengahan bulan Jumadal Akhirah 1442 Hijriah yang bertepatan dengan hari Jumat, 29 Januari 2021 pukul 00.43.33 Waktu Saudi atau pukul 04.43.33 WIB atau 05.43.33 WITA dengan ketinggian 89o57’18,64” (89,955 derajat) dan jarak 381.112,35 km dari Bumi. Fenomena ini terjadi 147 menit setelah puncak fase purnama yang terjadi pada pukul 22.16.10 Waktu Saudi, sehingga piringan Bulan yang menghadap Bumi akan bercahaya dengan luasan 99,87% dan diameter sudut 0,52 derajat.

Fenomena ini dapat digunakan untuk meluruskan arah kiblat bagi belahan dunia yang mengalami malam hari selama Bulan belum terbenam. Hal ini dikarenakan ketika Bulan terletak tepat di atas Ka’bah-kiblat umat Muslim di seluruh dunia, posisi Bulan akan mengarah ke Ka’bah bagi pengamat di luar Ka’bah. Untuk Indonesia sendiri, bagi orang-orang yang berada di sebagian provinsi Maluku, Papua Barat dan Papua, fenomena ini tidak dapat digunakan untuk meluruskan arah kiblat mengingat posisi Bulan yang sudah terbenam lebih dahulu. Untuk pulau Halmahera, pulau Timor, pulau Rote, pulau Buru, pulau Seram bagian barat, Kepulauan Sula bagian timur, dan Kepulauan Lembata, Bulan dan Matahari akan bersama-sama di atas ufuk ketika MTBB di Ka’bah atau disebut juga sebagai selenelion (selena (Bulan) + helion (Matahari)).

Gambar 1. Peta Ketampakan Bulan dan Matahari ketika MTBB di Ka’bah. Sumber: timeanddate.com

Fenomena MTBB di Ka’bah atau Bulan purnama di atas Ka’bah pernah terjadi pada pertengahan bulan Zulhijjah 1394 Hijriah yang bertepatan dengan hari Minggu, tanggal 29 Desember 1974 pukul 00.05.28 Waktu Saudi atau pukul 04.05.28 WIB atau 05.05.28 WITA dengan ketinggian 89o57’32,34” (89,96 derajat) dan jarak 365.387,26 km dari Bumi. Selain itu, fenomena ini pernah terjadi juga pada pertengahan bulan Muharram 1335 Hijriah yang bertepatan dengan hari Jumat, tanggal 10 November 1916 pukul 00.00.34 Waktu Saudi atau pukul 04.00.34 WIB atau 05.00.34 WITA dengan ketinggian 89o59’16,60” (89,99 derajat) dan jarak 388.249,15 km dari Bumi.

Fenomena ini akan terjadi kembali pada pertengahan bulan Zulhijjah 1459 Hijriah yang bertepatan dengan hari Kamis, tanggal 21 Januari 2038 pukul 00.17.16 Waktu Saudi pukul 04.17.16 WIB atau 05.17.16 WITA dengan ketinggian 89o57’38,00” (89,96 derajat) dan jarak 373.630,99 km dari Bumi. Selain itu, fenomena ini akan kembali terjadi pada pertengahan bulan Rajab 1479 Hijriah yang bertepatan dengan hari Minggu, 21 Januari 2057 pukul 00.36.45 Waktu Saudi atau pukul 04.36.45 WIB atau 05.36.45 WITA dengan ketinggian 89o59’30,15” (89,99 derajat) dan jarak 394.513,57 km dari Bumi.

Fenomena MTBB di Ka’bah atau purnama di atas Ka’bah relatif lebih jarang terjadi, mengingat orbit Bulan yang miring 5,1 derajat terhadap ekliptika. Selain itu, siklus purnama yang rata-rata terjadi setiap 29,5 hari sekali atau lebih panjang 2,2 hari dibandingkan dengan siklus ketika Bulan berada di atas Ka’bah yang rata-rata terjadi setiap 27,3 hari sekali. Sehingga, tidak setiap purnama bertepatan dengan ketika Bulan berada di atas Ka’bah, bahkan seluruh fase bulan sejak sabit muda hingga sabit tua berpeluang berada di atas Ka’bah selama nilai deklinasi Bulan sama dengan lintang geografis Ka’bah.

Sementara itu, HTBM Ka’bah atau Matahari tepat berada di atas Ka’bah terjadi setiap tahunnya sebanyak dua kali, untuk tahun 2021 ini terjadi pada tanggal 27 Mei pukul 16.17.52 WIB dan 15 Juli pukul 16.26.43 WIB. Fenomena inilah yang disebut juga sebagai Rasydulqiblah Global atau Rasydulqiblah yang digunakan oleh umat Islam di seluruh dunia yang jauh dari Masjid Al-Haram untuk meluruskan kembali arah kiblat di masjid, langgar/surau maupun kediaman mereka masing-masing.

Ketika cuaca berawan bagi belahan dunia yang mengalami siang/sore hari, umat Muslim yang terletak jauh dari Masjid Al-Haram dapat mengandalkan posisi Bulan yang mengarah ke Ka’bah ketika malam hari untuk meluruskan atau mengecek ulang arah kiblat mereka masing-masing. Tingkat akurasi arah kiblat yang diukur dengan posisi Bulan ketika MTBB Ka’bah sama dengan arah kiblat yang diukur dengan posisi Matahari ketika HTBM Ka’bah, bahkan menyamai tingkat akurasi pada aplikasi di dalam gawai pintar.

Mengukur arah kiblat menggunakan posisi Bulan pada dasarnya sama ketika menggunakan bayangan Matahari, yakni memenuhi tiga prinsip: tegak lurus, rata dan tepat waktu. Akan tetapi, mengingat intensitas cahaya Bulan yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan Matahari, maka, cukup dengan menghadapkan badan dan mengarahkan pandangan ke Bulan di waktu yang sudah ditentukan. Atau, jika ingini lebih presisi, dapat menggunakan teodolit ataupun tongkat berbentuk L terbalik. Khusus untuk fase Bulan antara dua hari sebelum dan dua hari setelah purnama (luas piringan yang bercahaya 95,5% dengan kecerlangan 87,5% atau 7/8 kali kecerlangan Bulan purnama), ketika cuaca cerah dan tidak ada polusi cahaya buatan di sekeliling pengamat (seperti sorot lampu, dsb), Bulan akan menghasilkan bayangan meskipun tidak setajam bayangan benda oleh sinar Matahari. Bayangan Bulan ini akan mengarah ke kiblat ketika Bulan terletak di atas Ka’bah.

Selamat mengukur arah kiblat!

Comments