Fenomena Matahari Di Atas Ka’bah untuk Kedua Kalinya, Yuk Luruskan Kiblat Anda!

Oleh Andi Pangerang
12 Juli 2021


Diagram Siang dan Malam ketika Matahari di atas Ka’bah.
Sumber: https://in-the-sky.org/twilightmap.php

Halo, Sahabat Edusainsa sekalian! Tanggal 15 Juli mendatang merupakan hari dimana posisi Matahari tepat berada di atas Ka’bah, kiblat umat Islam di seluruh dunia. Fenomena ini terjadi pada pukul 9.26.42 Waktu Saudi atau 16.26.42 WIB / 17.26.42 WITA / 18.26.42 WIT, yakni tepat saat tengah hari di kota Mekkah al-Mukaromah. Fenomena ini mempunyai banyak sebutan di antaranya: Qibla Day atau Hari Kiblat, Istiwa’ul A’zham atau Great Culmination of Mecca atau Kulminasi Agung Mekkah, Global Rashdul Qibla atau Hari Meluruskan Kiblat Global dan Tropic of Mecca.

Fenomena ini merupakan yang kedua kalinya setelah sebelumnya terjadi pada 27 Mei. Mengapa hal ini bisa terjadi? Hal ini dikarenakan sumbu rotasi Bumi yang miring 66,6° terhadap orbit Bumi, sehingga mengalami pergerakan semu tahunan yang bervariasi antara 23,4° Lintang Utara pada 21 Juni hingga 23,4° Lintang Selatan pada 21 Desember. Secara geografis, Ka’bah terletak di 21,42° Lintang Utara dan 39,83° Bujur Timur sehingga ada waktu ketika Matahari terletak di atas Ka’bah ketika tengah hari.

Diagram Pergerakan Semu Matahari. Dokumentasi Pribadi

Fenomena ini dapat dimanfaatkan untuk meluruskan arah kiblat. Rasdul Qiblah secara harfiah bermakna “meluruskan kiblat”. Selain Rasdul Qiblah Global, ada juga Rasdul Qiblah Harian atau Lokal yang mana Matahari terletak pada jalur yang menghubungkan Ka’bah dengan tempat tersebut sehingga waktu terjadinya bisa berubah-ubah setiap hari.


Meluruskan Arah Kiblat Menggunakan Bayangan Matahari. Dokumentasi Pribadi

Menentukan arah kiblat menggunakan Kulminasi Agung ini terbilang amat mudah dan pastinya murah. Dan perlu diketahui pula bahwasannya hasilnya pun juga akurat, bahkan lebih akurat dibanding jika kita memakai alat bantu seperti halnya kompas dikarenakan kompas dipengaruhi oleh medan magnet alami maupun buatan sehingga dapat memengaruhi keakuratan pengukuran.

Berikut ini langkah-langkah dalam menentukan arah kiblat menggunakan Kuminasi Agung:

  1. Tentukan tempat yang akan diketahui arah kiblatnya, cari lokasi yang rata dan tentunya terkena cahaya matahari.
  2. Sediakan tongkat lurus atau jika tidak ada, gunakan benang berbandul.
  3. Siapkan jam yang sudah dikalibrasikan. (dapat merujuk ke http://jam.bmkg.go.id atau http://time.is)
  4. Tancapkan tongkat di atas permukaan tanah dan pastikan tongkat benar-benar tegak lurus (90° dari permukaan tanah), atau gantungkan benang berbandul tadi.
  5. Tunggulah hingga waktu Kulminasi Agung tiba, kemudian amati bayangan tongkat atau benang pada waktu tersebut. Tandai ujung bayangan, kemudian tariklah garis lurus dengan pusat bayangan (tongkat/bandul). Garis lurus yang menghadap dari ujung ke pusat bayangan merupakan arah kiblat untuk tempat tersebut.

Akan tetapi, ada beberapa wilayah di Indonesia yang tidak dapat memanfaatkan fenomena ini untuk meluruskan arah kiblat diantaranya: Sebagian Propinsi Maluku mulai dari Kabupaten Maluku Tengah, Kabupaten Seram Bagian Timur, Kabupaten Maluku Tenggara Barat (kini Kabupaten Kepulauan Tanimbar), Kabupaten Maluku Tenggara (kini Kabupaten Kepulauan Kei), Kota Tual, Kabupaten Maluku Barat Daya (minus Pulau Wetar) dan Kabupaten Kepulauan Aru, ditambah dengan Propinsi Papua Barat serta Propinsi Papua. Kesembilan wilayah ini dapat meluruskan arah kiblat ketika Matahari berada di titik balik atau Nadir Ka’bah (disebut juga sebagai Antipoda Ka’bah) yakni pada 29 November pukul 0.09 Waktu Saudi atau 6.09 Waktu Indonesia Timur, serta 14 Januari pukul 0.30 Waktu Saudi atau 6.30 Waktu Indonesia Timur.

Secara umum, langkah dalam menentukan arah Kiblat dengan Antipoda Ka’bah sama dengan ketika menggunakan Kulminasi Agung Mekkah. Akan tetapi terdapat perbedaan dengan Kulminasi Agung Mekkah yakni penentuan arah kiblat pada bayangan; jika Kulminasi Agung arah kiblat adalah dari ujung ke pusat bayangan, sebaliknya jika Matahari berada di Antipoda Ka’bah arah kiblat adalah dari pusat ke ujung bayangan. Untuk lebih lengkapnya, dapat melihat tulisan ini.

Tanggal maupun jam terjadinya Kulminasi Agung Mekkah ini tidak tetap setiap tahunnya, hal ini dikarenakan gerak semu tahunan Matahari yang relatif berubah-ubah jika mengacu pada kalender Masehi yang kita gunakan saat ini. Akan tetapi, tanggal fenomena ini masih dalam rentang tanggal 27-28 Mei maupun 15-16 Juli setidaknya sampai tahun 2071 mendatang. Hal ini dipengaruhi juga oleh perubahan kemiringan sumbu Bumi yang berfluktuasi antara 24,1° pada tahun 7530 SM hingga 22,7° pada tahun 12030 M. Kemiringan sumbu Bumi yang semakin mengecil mengakibatkan fenomena ini akan terjadi lebih lambat pada bulan Mei atau lebih cepat pada bulan Juli jika dibandingkan dengan saat ini. Bahkan, ketika Solstis Juni bergeser dikarenakan presisi apsidal, Kulminasi Agung Mekkah juga akan mengalami pergeseran sebagaimana Solstis Juni.

Berikut ini tanggal dan jam terjadinya Kulminasi Agung Mekkah selama 100 tahun untuk abad ke-21:

Jika cuaca di tempat Sahabat kurang bersahabat, meluruskan kiblat tidak harus dilakukan pada puncak fenomena, melainkan dapat dilakukan dua hari sebelum hingga dua hari sesudah puncak fenomena (untuk jam yang sama) atau 30 menit sebelum hingga 30 menit sesudah puncak fenomena (untuk hari yang sama). Misalkan, jika tahun ini tanggal 15 Juli ternyata berawan, pengamatan dapat dilakukan pada tanggal 13-14 Juli atau 16-17 Juli pukul 16.26.47 WIB, atau bisa juga dilakukan pada tanggal 15 Juli antara pukul 15.56.47 WIB hingga 16.56.47 WIB. Toleransi sekaligus tingkat ketelitian pengukuran kiblat ini dapat mencapai 0,5° yang merupakan setengah skala terkecil pengukuran kiblat jika dibantu menggunakan busur derajat yang skala terkecilnya sebesar 1°.

Misalkan, arah kiblat untuk kota Bandung adalah 295,2° dari Utara. Maka untuk tanggal 15 Juli pukul 15.56.47 WIB, Matahari akan berada pada posisi 295,7° sedangkan pada pukul 16.56.47 WIB, Matahari akan berada pada posisi 294,7° yang artinya masih berada dalam batas toleransi pengukuran. Demikian juga ketika mengamati pada tanggal 13 Juli pukul 16.26.47 WIB, Matahari akan berada pada posisi 295,7° sedangkan pada tanggal 17 Juli pukul 16.26.47 WIB, Matahari akan berada pada posisi 294,7° yang artinya masih berada dalam batas toleransi pengukuran. 

Demikian penjelasan mengenai fenomena ini. Semoga bermanfaat bagi Sahabat Edusainsa semuanya. Selamat Meluruskan Kiblat! #SemogaCuacaCerah

Comments