Jika di Amerika Serikat ada Manhattanhenge, di Jakarta ada Warakashenge

Oleh Andi Pangerang
26 Juni 2021

Halo, Sahabat Edusainsa semua!

Pernahkah Sahabat mendengar Manhattanhenge?

Istilah ini pertama kali dipopulerkan pada tahun 2002 oleh Neil deGrasse Tyson, salah seorang astrofisikawan berkebangsaan Amerika Serikat. Manhattanhenge (terkadang disebut juga Solstis Manhattan) adalah fenomena astronomis ketika arah terbenam Matahari sejajar dengan jalan-jalan utama di distrik Manhanttan, New York City, Amerika Serikat. Jalan-jalan utama tersebut didesain miring 29° ke Utara terhadap arah Barat, sesuai dengan Commisioner Plan of 1811. Dengan kata lain, arah hadap jalan-jalan utama di distrik Manhattan sebesar 299° dari arah Utara searah jarum jam. Manhattanhenge terjadi dua kali setahun yakni pada 29-30 Mei dan 11-12 Juli. Deklinasi Matahari ketika Manhattanhenge dapat dicari dengan menggunakan rumus berikut:

sin δ = sin φ sin h - cos φ cos h cos A

Dimana:

δ = Deklinasi Matahari, diukur terhadap ekuator langit (derajat)
φ = Lintang Geografis, diukur terhadap ekuator Bumi (derajat)
h = Ketinggian Matahari, diukur terhadap ufuk (derajat)
A = Azimut Matahari, secara astronomis diukur terhadap titik selatan (derajat)

Sedangkan Bujur Ekliptika Matahari dapat dicari dengan rumus berikut:

sin λ = sin δ / sin ε

Dimana:

λ = Bujur Ekliptika Matahari, diukur terhadap Aries/Hamal (derajat)
δ = Deklinasi Matahari, diukur terhadap ekuator langit (derajat)
ε = Kemiringan Ekliptika terhadap Ekuator = Kemiringan Sumbu Bumi

Jika Manhattan terletak di 40°47'00,34''LU, sementara ketinggian Matahari (ketika masih terlihat separo piringan) sebesar +22 menit busur (tanpa koreksi pembiasan/refraksi atmosfer) dan azimut Matahari sebesar -119° (dari arah Selatan berlawanan jarum jam), maka deklinasi Matahari sekitar +21°47'36,65'' atau +21,7935°. Jika kemiringan sumbu Bumi saat ini 23°26'14,3'', maka Matahari terletak pada bujur ekliptika 68°58'26,66'' dan 111°01'33,34''. Ini berarti Matahari berada di sekitar 21° dari Solstis Juni. Jarak dari Ekuinoks Matahari ke Solstis Juni dan dari Solstis Juni ke Ekuinoks September rata-rata 93 hari. Sehingga, Manhattanhenge terjadi sekitar 21°/90° x 93 hari ≈ 21,7 hari sebelum dan sesudah Solstis Juni. Jika Solstis Juni tahun ini terjadi pada tanggal 21 Juni tengah malam waktu New York, maka Manhattanhenge tahun ini terjadi pada tanggal 29 Mei dan 12 Juli. Hasil ini diperoleh dari 21 Juni − 21,7 hari + 31 (jumlah hari dalam bulan Mei) = 30,3 Mei (lebih dekat ke 29,84 Mei) dan 21 Juni + 21,7 hari − 30 hari (jumlah hari dalam bulan Juni) = 12,7 Juli (lebih dekat ke 12,84 Juli). 0,84 adalah fraksi/pecahan hari ketika terbenamnya Matahari di Manhattan dihitung sejak tengah malam.

Jika ketinggian Matahari (ketika masih terlihat seluruh piringan) sebesar +38 menit busur (tanpa koreksi pembiasan/refraksi atmosfer), maka deklinasi Matahari sekitar +21°58'49,10'' atau +21,9803°. Jika kemiringan sumbu Bumi saat ini 23°26'14,3'', maka Matahari terletak pada bujur ekliptika 70°13'27,15'' dan 109°46'32,85''. Ini berarti Matahari berada di sekitar 19,8° dari Solstis Juni. Jarak dari Ekuinoks Matahari ke Solstis Juni dan dari Solstis Juni ke Ekuinoks September rata-rata 93 hari. Sehingga, Manhattanhenge terjadi sekitar 19,8°/90° x 93 hari ≈ 20,5 hari sebelum dan sesudah Solstis Juni. Jika Solstis Juni tahun ini terjadi pada tanggal 21 Juni tengah malam waktu New York, maka Manhattanhenge tahun ini terjadi pada tanggal 30 Mei dan 11 Juli. Hasil ini diperoleh dari 21 Juni − 20,5 hari + 31 (jumlah hari dalam bulan Mei) = 31,5 Mei (lebih dekat ke 30,84 Mei) dan 21 Juni + 20,5 hari − 30 hari (jumlah hari dalam bulan Juni) = 11,5 Juli (lebih dekat ke 11,84 Juli). 0,84 adalah fraksi/pecahan hari ketika terbenamnya Matahari di Manhattan dihitung sejak tengah malam.

Secara ringkas, Manhattanhenge dapat disaksikan pada tanggal 29 Mei pukul 20.12 Waktu Musim Panas New York (UT4), 30 Mei pukul 20.11 Waktu Musim Panas New York, 11 Juli pukul 20.20 Waktu Musim Panas New York dan 12 Juli pukul 20.19 Waktu Musim Panas New York.

Tidak hanya ketika Matahari terbenam, Manhattanhenge juga dapat disaksikan ketika Matahari terbit sejajar dengan jalan-jalan utama di Manhattan, yakni ketika Matahari berada di arah 119° dari arah Utara searah jarum jam. Hal ini akan terjadi pada tanggal 5 Desember 2021 pukul 07.05 Waktu New York (UT−5) dan 8 Januari 2022 pukul 07.20 Waktu New York.

Jika di New York City terdapat Manhattanhenge, maka di Indonesia tepatnya di Daerah Khusus Ibukota Jakarta terdapat fenomena yang mirip yakni Warakashenge yakni, fenomena astronomis ketika arah terbit Matahari sejajar dengan gang-gang yang berada di Kelurahan Warakas, Kecamatan Tanjung Priok, Kota Administrasi Jakarta Utara. Fenomena ini terjadi pada tanggal 31 Juli 2021 pukul 06.10 WIB. Hal ini dikarenakan gang-gang yang terdapat di Kelurahan Warakas dibuat miring 28,3° ke Barat terhadap arah Utara-Selatan sejati. Dengan kata lain, arah hadap gang-gang di Kelurahan Warakas sebesar 71,7° dari arah Utara searah jarum jam. Fenomena ini sebelumnya telah terjadi pada 12 Mei 2021 pukul 06.00 WIB.


Gambar 1. Diagram Arah Terbit Matahari dari Kelurahan Warakas, Jakarta Utara ketika Warakashenge. Sumber: Sun Surveyor apk

Tidak hanya ketika Matahari terbit, Warakashenge juga dapat disaksikan ketika Matahari terbenam sejajar dengan gang-gang di Kelurahan Warakas, yakni ketika Matahari berada di arah 251,7° dari arah Utara searah jarum jam. Hal ini akan terjadi pada tanggal 10 November 2021 pukul 17.41 WIB dan 29 Januari 2022 pukul 18.10 WIB.


Gambar 2. Diagram Arah Terbenam Matahari dari Kelurahan Warakas, Jakarta Utara ketika Warakashenge. Sumber: Sun Surveyor apk

Fenomena yang serupa terjadi di kota-kota lain dengan penataan susunan jalan yang seragam sebagaimana di Manhattan maupun di Warakas. Fenomena ini dapat beriringan dengan Ekuinoks Maret dan Ekuinoks September jika dan hanya jika penataan jalannya diatur tepat mengarah ke Utara-Selatan dan Timur-Barat, dan sejajar sempurna dengan utara sejati, bukan utara magnet. Fenomena di Baltimore, Maryland nyaris sama; Matahari terbit sejajar tanggal 25 Maret dan 18 September dan Matahari terbenam tanggal 12 Maret dan 29 September sehingga disebut juga Baltimorehenge. Sementara di Chicago, Illinois, Matahari terbenam sejajar dengan tata jalan pada tanggal 25 September dan dijuluki Chicagohenge. Kita menyebrang ke daerah Toronto, Ontario, Canada, dimana Matahari terbenam sejajar dengan jalan Timur-Barat pada tanggal 25 Oktober dan 16 Februari dan dijuluki Torontohenge. Di Montreal, Quebec, Kanada, terjadi juga Montrealhenge setiap tahun pada tanggal 12 Juli. Secara umum, fenomena ini dapat disebut sebagai Cityhenge yang merupakan lakuran (portmanteau) dari City (kota) dan Stonehenge (salah satu situs tertua di Inggris sebagai penanda fenomena astronomis seperti Solstis/Titik Balik Matahari dan Lunar Standstill/Titik Balik Bulan).

Tidak hanya di perkampungan seperti Warakas, di beberapa perumahan yang memang disusun teratur juga dapat mengalami Cityhenge. Seperti misalkan di Kabupaten Bandung terdapat Perumahan Griya Bandung Indah yang mana susunan jalannya dibuat tepat mengarah ke Utara-Selatan dan Timur-Barat, sehingga dapat mengalami Cityhenge yang bertepatan dengan Ekuinoks Maret dan Ekuinoks September.

Demikian juga dengan beberapa perumahan di Kota Semarang, seperti yang ditampilkan pada tabel berikut:

Nama Perumahan Tanggal dan Waktu Terjadinya Cityhenge

Azimut
Matahari

Ketika Matahari Terbit Ketika Matahari Terbenam
Bumi Tlogosari 6 November
05.15 WIB
5 Februari
05.47 WIB
3 Mei
17.25 WIB

9 Agustus
17.32 WIB

286,0°
106,0°

Bumi Pucanggading 2 Desember
05.18 WIB
11 Januari
05.36 WIB
30 Mei
17.23 WIB

13 Juli
17.30 WIB

292,0°
112,0°

Plamongan Indah 21 November
05.16 WIB
21 Januari
05.42 WIB
19 Mei
17.24 WIB
24 Juli
17.31 WIB
290,0°
110,0°

 Bagi Sahabat yang menemukan susunan jalan yang teratur di kota tempat Sahabat tinggal saat ini, semoga dapat menyaksikan fenomena serupa ya! Sahabat dapat menggunakan aplikasi Sun Surveyor untuk menentukan kapan terjadinya Cityhenge di kota kalian. Selamat menyongsong Cityhenge dan Salam Edusainsa!

Comments