Mata Sahara, Pusaran Raksasa di Barat Laut Afrika

Oleh Andi Pangerang
12 April 2021

Halo, Sahabat Edusainsa semua! Pernahkah Sahabat mendengar tentang Mata Sahara?

Mata Sahara atau dikenal juga sebagai Struktur Richat (Qalb ar-Risyat) adalah  sebuah struktur geologis unik berbentuk melingkar dengan diameter 40 km yang terletak di Dataran Tinggi Adrar, Mauritania, di bagian barat laut benua Afrika. Struktur melingkar seperti ini lazim disebut “kubah” karena terdiri dari lipatan sedimen magma yang menyembul naik ke permukaan Bumi. Lipatan ini disebut juga sebagai “antiklin”. Antiklin pada Mata Sahara ini sangat simetris dan terkikis membentuk lingkaran sempurna, sehingga struktur ini sempat diduga merupakan bekas tabrakan meteorit. Jacques Richard-Molard di tahun 1948 mempertimbangkan struktur ini sebagai hasil dari thrust (gaya naik) yang mendorong magma ke permukaan Bumi, yang disebut juga thrust lakolit.

Penelitian terakhir dari Guillaume Matton di tahun 2005 dan 2008 mengonfirmasi kesimpulan pada penelitian terdahulu selama dekade 1950-an hingga 1960-an bahwa struktur ini bukan merupakan bekas tabrakan meteorit ataupun deformasi (perubahan bentuk muka Bumi) yang berasal dari benda luar bumi yang bergerak dengan kecepatan sangat tinggi dan menabrak permukaan Bumi.

Mineral koesit (silisium oksida) yang merupakan indikator terjadinya tabrakan meteorit, pada awalnya dilaporkan terkandung dalam sampel batuan dari Mata Sahara, yang kemudian batuan tersebut ternyata mengandung mineral barit (barium sulfat) yang disalahidentifikasi sebagai koesit. Kubah pada Mata Sahara saat ini sudah lenyap akibat terkikis oleh angin dan air, proses ini disebut juga sebagai alterasi hidrotermal, sehingga hanya menyisakan lapisan batuan yang rata. Ketika era Pleistosen hingga pertengahan Holosen (sekitar 15000 hingga 8000 tahun silam), lipatan pada lapisan ini membentuk kedalaman antara 3-4 meter sebelum akhirnya terkikis.

Struktur ini diduga terbentuk sejak 98 juta tahun lalu berdasarkan penanggalan Argon, salah satu penanggalan geologis yang berdasarkan peluruhan kadar Argon di dalam batuan. Berarti, Mata Sahara sudah muncul sejak periode Kapur (cretaceous) akhir, ketika benua besar Pangea terpisah menjadi beberapa benua yang ada seperti saat ini (kecuali India yang belum menyatu dengan Asia dan Australia yang masih menyatu dengan Antartika). Bagian tengah Mata Sahara merupakan lapisan tertua dikarenakan magma telah naik lebih dahulu dan kemudian mengeras. Sedangkan, semakin ke tepi, lapisan tersebut berumur semakin muda.

Citra Pertama Mata Sahara. Kredit: NASA/JPL.
Sumber: https://www.flickr.com/photos/projectapolloarchive/21911744765/

 

Mata Sahara pertama kali diabadikan dari luar angkasa melalui wahana Apollo 9 pada 10 Maret 1969 atau 52 tahun silam. Namun, keindahannya tetap memukau mata hingga saat ini, termasuk juga bagi para angkasawan yang berkesempatan menyaksikannya dari Stasiun Luar Angkasa Internasional / ISS.

Mata Sahara merupakan salah satu fenomena alam yang menakjubkan dan tidak terkait dengan konspirasi apapun di dalamnya, termasuk juga mengenai Atlantis. Oleh karenanya, Sahabat tidak perlu menanggapi kabar apapun yang mengaitkan fenomena ini dengan hal-hal konspiratif. Semoga, Sahabat berkesempatan untuk menyaksikan struktur unik ini dari dekat.

Comments