Mengapa Komet Neowise Tidak Tampak di Indonesia Ketika Fajar?

Oleh Andi Pangerang
14 Juli 2020

Komet Neowise atau C/2020 F3 adalah komet yang pertama kali diamati oleh wahana antariksa NEOWISE (Near Earth Object Wide-field Infrared Survey Explorer) milik NASA pada 27 Maret 2020 silam. Komet ini mencapai perhelion pada 3 Juli 2020 malam hari dengan magnitudo visual mencapai +1,06. Komet ini berhasil diamati dan diabadikan oleh astrografer (sebutan bagi fotografer antariksa) yang berada di belahan utara ketika fajar bahari, yang merupakan waktu minimum dalam pengamatan komet.

Hal ini boleh jadi membuat pengamat di belahan selatan menjadi "iri" karena tidak dapat menyaksikan komet ini sebelum mentari menyingsing di ufuk timur. Mungkin diantara para pembaca sekalian bertanya-tanya, mengapa komet Neowise tidak dapat disaksikan ketika fajar sebagaimana pengamat di belahan utara?

Jawaban sederhananya ada dua. Pertama, komet Neowise berada di bawah ufuk ketika fajar bahari terbit di ufuk timur. Sekedar informasi, fajar bahari (nautical dawn) adalah fajar yang terjadi ketika ketinggian Matahari berada pada 12 derajat di bawah ufuk. Pada waktu ini, bintang-bintang yang tampak paling terang (magnitudo kurang dari +3) dapat terlihat dan kita memerlukan penerangan buatan (seperti lampu, dsb.) untuk melihat sekeliling dengan jelas. Wilayah yang berada di selatan khatulistiwa seperti Jakarta jika dihitung ketinggian kometnya, maka akan berada di bawah ufuk. Bahkan, ketinggian komet tertinggi di Jakarta hanya sebesar -0,21 derajat pada tanggal 5 Juli, sehari setelah perihelion komet ini.

Diagram Posisi Komet Neowise ketika Fajar Bahari di Jakarta. Dokumentasi Pribadi.
Latar Belakang Gambar diambil dari Stellarium 0.20.2 dan data diperoleh dari https://ssd.jpl.nasa.gov/horizon.cgi.
Data diplot menggunakan Microsoft Excel 365

Semakin ke selatan, seperti Bandung dan Pameungpeuk, ketinggian komet tertinggi ketika fajar bahari berturut-turut hanya -0,23 dan -0,32 derajat di tanggal yang sama. Bahkan, di Kupang sendiri ketinggian komet tertinggi ketika fajar bahari hanya -0,78. Padahal magnitudo visual komet pada tanggal 5 Juli sebesar +1,09 yang berarti masih dapat diamati tanpa alat bantu optik apapun. Hal ini dapat disimpulkan bahwa komet Neowise tidak dapat diamati oleh pengamat di belahan selatan Indonesia karena berada di bawah ufuk. Bagaimana dengan pengamat di khatulistiwa dan belahan utara?

Ini juga menjawab pertanyaan mengapa komet Neowise tidak bisa disaksikan di Indonesia ketika fajar. Kedua, komet Neowise dibawah ketinggian minimum komet yang dapat teramati baik dengan mata telanjang maupun alat bantu optik. Shanklin (1995) dalam Journal of the British Astronomical Association, vol.105, no.6, hlm.292 merumuskan hubungan antara magnitudo visual terhadap ketinggian minimum komet yang dapat teramati, yakni:

ketinggian minimum = 1,501 . e^(0,2303 . magnitudo) ... (pers. 1)

Dimana e adalah bilangan Euler (~2,718281828...)

Ketinggian komet tertinggi ketika fajar bahari di Pare-Pare berdasarkan https://ssd.jpl.nasa.gov/horizon.cgi dicapai pada tanggal 5 Juli 2020 sebesar +0,24 derajat. Sedangkan, pada tanggal yang sama ketinggian komet tertinggi di Pontianak mencapai +0,96 derajat. Dengan memasukkan nilai magnitudo pada pers. 1, maka diperoleh ketinggian minimum komet sebesar +1,93 derajat. Meskipun komet sudah di atas ufuk, akan tetapi ketinggian komet masih di bawah ketinggian minimum komet yang dapat teramati, sehingga komet secara praktis tidak dapat teramati.

Diagram Posisi Komet Neowise ketika Fajar Bahari di Pontianak. Dokumentasi Pribadi.
Latar Belakang Gambar diambil dari Stellarium 0.20.2 dan data diperoleh dari https://ssd.jpl.nasa.gov/horizon.cgi.
Data diplot menggunakan Microsoft Excel 365

 

Lantas bagaimana dengan dua titik paling utara di Indonesia seperti Sabang dan pulau Miangas?

Berdasarkan data dari https://ssd.jpl.nasa.gov/horizon.cgi, ketinggian komet tertinggi dicapai pada keesokan harinya, yakni pada tanggal 6 Juli sebesar +1,89 untuk Sabang dan +1,90 untuk Miangas. Ketinggian komet ini nyaris menyentuh ketinggian minimum komet yang disyaratkan pada pers. 1. Meskipun demikian, secara praktis, komet Neowise di kedua tempat ini (Sabang dan Miangas) tetap tidak dapat teramati.

Diagram Posisi Komet Neowise ketika Fajar Bahari di Sabang. Dokumentasi Pribadi.
Data diperoleh dari https://ssd.jpl.nasa.gov/horizon.cgi dan diplot menggunakan Microsoft Excel 365

Diagram Posisi Komet Neowise ketika Fajar Bahari di Miangas. Dokumentasi Pribadi.
Data diperoleh dari https://ssd.jpl.nasa.gov/horizon.cgi dan diplot menggunakan Microsoft Excel 365

Berdasarkan pemaparan penjelasan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa secara umum, komet Neowise tidak dapat diamati di Indonesia ketika fajar dengan dua alasan sebagai berikut: Pertama, komet berada di bawah ufuk ketika fajar dan Kedua, komet berada di bawah ketinggian minimum komet yang disyaratkan.

Meskipun komet Neowise tidak bisa diamati ketika fajar, akan tetapi komet ini tetap dapat diamati ketika senja mulai 19 Juli (di belahan utara, 20 dan 21 Juli di belahan selatan) hingga 4 Agustus nanti dimana magnitudo visual akan bervariasi antara +3 hingga +6,5. Dengan catatan, mulai tanggal 26 Juli, komet akan sulit diamati pada tempat yang berpolusi cahaya tinggi (yang ditandai dengan hanya terlihat dua bintang terang di langit malam).

Referensi:

Shanklin, J.D. 1995. Comet Analyses. Journal of the British Astronomical Association, vol.105, no.6, hlm.291-294
https://ui.adsabs.harvard.edu/abs/1995JBAA..105..291S

Comments