Mengapa Venus Tampak Lebih Terang Akhir-Akhir Ini?

Oleh Andi Pangerang
04 Agustus 2020

Halo, Sahabat EduSainsa semua!

Pernahkah Sahabat menyadari, ketika Sahabat melihat langit timur sebelum Matahari terbit, ada satu benda langit yang sangat terang di antara benda langit lainnya? Ya, itulah Venus si Bintang Fajar. Planet terpanas di Tata Surya ini tampak lebih terang dibandingkan biasanya. Mengapa bisa terjadi demikian?

Venus ketika fajar bahari pada 8 Juli 2020 dipotret dengan ponsel berkamera. Dokumentasi Pribadi

Venus, yang dianggap sebagai “kembaran” Bumi karena ukuran, kedekatan jarak ke Matahari, kelonjongan planet dan komposisi pembentuk planet yang hampir menyerupai Bumi, justru diselimuti oleh atmosfer yang komposisinya didominasi oleh karbon dioksida (96,5%) dan nitrogen (mencapai 3,5%). Sedangkan unsur-unsur penyusun atmosfer Venus kurang dari 0,02%. Hal ini menyebabkan perbandingan intensitas cahaya yang dipantulkan dan dihamburkan kembali ke luar angkasa terhadap intensitas cahaya yang datang dari Matahari (disebut juga Albedo) lebih besar dibandingkan planet-planet lainnya termasuk Bumi. Awan tebal yang kaya asam sulfat di atas lapisan atmosfer sarat karbon dioksida juga turut meningkatkan kecerlangan Venus karena memantulkan dan menghamburkan kembali 90% cahaya Matahari yang diterima permukaan Venus ke angkasa.

(a) Perbandingan Ukuran Venus dan Bumi Sesuai Skala
(b) Citra Awan Venus oleh wahana Akatsuki JAXA
(c) Citra Venus oleh wahana Mariner 10 dengan peningkatan kontras. Sumber: Wikipedia

Selain aspek fisis pada planet Venus itu sendiri, kecerlangan Venus juga turut dipengaruhi oleh dua faktor lain yakni: seberapa dekat jarak Venus dengan Bumi, dan sudut fase Venus itu sendiri. Venus mengalami fase? Betul, kok. Venus juga mengalami fase sebagaimana Bulan; mulai dari fase baru, sabit, perbani, benjol, penuh, kemundian menyusut hingga kembali ke fase baru. Sudut fase pada Venus dipengaruhi oleh posisi relatif Venus terhadap Bumi dan Matahari. Ketika Venus terletak di antara Matahari dan Bumi (disebut juga konjungsi inferior), maka tidak ada cahaya dari Matahari yang dapat dipantulkan oleh Venus ke Bumi, sehingga Venus menjadi gelap seperti pada fase Bulan Baru. Ketika konjungsi inferior inilah, Venus memiliki jarak terdekat dengan Bumi sehingga sudut diameter Venus akan lebih besar dibandingkan waktu-waktu lainnya. Konjungsi inferior menandai pergantian ketampakan Venus yang semula dapat terlihat ketika senja, berubah menjadi ketika fajar.

Sebaliknya, ketika Venus membelakangi Matahari dan Bumi (disebut juga konjungsi superior), maka seluruh cahaya dari Matahari dipantulkan Venus ke Bumi sehingga Venus seluruhnya bercahaya seperti pada fase Bulan Purnama. Akan tetapi, Venus memiliki jarak terjauh dari Bumi sehingga sudut diameter Venus akan lebih kecil dibandingkan waktu-waktu lainnya. Dengan kata lain, Venus akan tampak lebih redup dibandingkan waktu-waktu lainnya. Konjungsi superior menandai pergantian ketampakan Venus yang semula dapat terlihat ketika fajar, berubah menjadi ketika senja.

Ketika Venus mengalami elongasi maksimum, yakni ketika sudut pisah antara Venus dengan Matahari bernilai maksimum, sudut siku-siku akan terbentuk antara Bumi, Venus dan Matahari. Sehingga, sebagian piringan Venus yang menghadap Bumi akan terkena cahaya Matahari. Inilah yang disebut sebagai dikotomi atau fase perbani, yang mana mirip dengan fase perbani pada Bulan. Elongasi maksimum dibagi menjadi dua; elongasi maksimum timur, yakni ketika ketampakan Venus saat senja dan elongasi maksimum barat, yakni ketampakan Venus saat fajar.

Diagram Orbit Planet dan Fase-fasenya. Sumber: Wikipedia, dengan penyuntingan seperlunya.

Venus akan tampak paling terang beberapa hari setelah elongasi maksimum timur hingga beberapa hari sebelum konjungsi inferior dan beberapa hari setelah konjungsi inferior hingga beberapa hari sebelum elongasi maksimum barat, ketika kurang dari separo bagian dari piringan Venus bercahaya. Dengan kata lain, Venus akan tampak paling terang ketika memasuki fase sabit. Puncak kecerlangan Venus dicapai ketika seperempat bagian dari piringan Venus bercahaya, untuk tahun ini sudah terjadi pada tanggal 29 April dan 8 Juli silam. Sementara, fase dikotomi pada tahun 2020 ini sudah terjadi pada tanggal 24 Maret silam dan akan terjadi pada 8 Agustus mendatang. Sedangkan konjungsi inferior Venus terjadi pada 4 Juni silam. Oleh karenanya, Sahabat mungkin mendapati di sepanjang bulan April hingga pertengahan Mei dan pertengahan Juni hingga pertengahan Agustus mendatang, Venus akan tampak lebih terang dibandingkan hari-hari lainnya. Kondisi ini akan berulang setiap 584 hari atau 1,6 tahun sekali, yakni periode sinodis Venus terhadap Bumi. Artinya, tahun depan (2021) Venus akan tampak lebih redup dan kembali lebih terang pada awal 2022 mendatang.

Diagram Ketampakan Venus pada tahun 2020. Sumber Grafik: http://in-the-sky.org dengan penyuntingan seperlunya

Planet urutan kedua di Tata Surya ini dapat terlihat dengan mata telanjang karena magnitudonya mencapai -4,5 ketika paling terang, sehingga menjadi objek alami kedua paling terang ketika malam setelah Bulan. Bahkan, Venus dapat terlihat ketika siang hari. Tentunya dengan kondisi cuaca yang cukup bagus dan bebas dari penghalang apapun.

Selamat berburu Venus, Sahabat EduSainsa sekalian!

Comments