Mengenal Aram, Senja dan Fajar

Oleh Andi Pangerang
17 Oktober 2020

Halo, Sahabat Edusainsa semua! Mungkin di antara para Sahabat ada yang memperhatikan langit setelah terbenam Matahari dan sebelum terbit Matahari. Ketika dua waktu tersebut, langit belum benar-benar gelap. Fenomena ini disebut sebagai aram, atau aram temaram atau lembayung atau sabur limbur. Dalam Bahasa Inggris, dikenal sebagai twilight dan dalam Bahasa Sunda dikenal sebagai layung (dari kata inilah, “lembayung” diturunkan). Aram adalah masa waktu ketika masih ada cahaya alami yang dipancarkan di langit yang langsung menerima sinar Matahari dan memantulkannya sebagian ke permukaan Bumi pada waktu senja dan fajar sedangkan Matahari sudah/masih berada di bawah pandangan cakrawala/ufuk. Warna langit ketika aram cenderung keunguan sehingga dari sinilah istilah lembayung berasal.

Aram dibagi menjadi dua, yakni senja dan fajar. Yang membedakan antara senja dan fajar adalah waktu terjadinya. Senja terjadi setelah terbenam Matahari hingga langit benar-benar gelap. Sedangkan fajar terjadi ketika muncul cahaya kemerah-merahan di langit sebelah timur hingga langit sudah terang dan Matahari mulai terbit.

Baik senja maupun fajar dapat dibagi lagi menjadi tiga. Pembagian ini berdasarkan sudut kerendahan ufuk Matahari.

  • Pembagian Senja:
    • Senja Ugahari (Sipil) adalah waktu di mana Matahari berada pada 6 derajat di bawah cakrawala ketika malam hari. Pada waktu ini, objek-objek yang berada di cakrawala masih dapat dibedakan serta beberapa planet dan bintang terlihat dengan mata telanjang.
    • Senja Bahari (Nautika) adalah waktu di mana Matahari setinggi 12 derajat di bawah cakrawala ketika malam hari. Pada waktu ini, benda tidak bisa lagi dibedakan dan cakrawala tak dapat dilihat dengan mata telanjang.
    • Senja Astronomis adalah waktu di mana Matahari setinggi 18 derajat di bawah cakrawala ketika malam hari. Pada waktu ini, Matahari tak lagi menerangi langit, dan dapat melakukan pengamatan astronomis.
  • Pembagian Fajar
    • Fajar Astronomis adalah periode waktu di mana muncul cahaya kemerah-merahan di arah timur sehingga langit tidak gelap total, dapat didefinisikan sebagai waktu di mana Matahari berada 18 derajat di bawah cakrawala ketika pagi hari.
    • Fajar Bahari (Nautika) adalah waktu di mana terdapat cukup cahaya Matahari untuk membedakan antara cakrawala dan objek-objek yang berada di cakrawala, dapat didefinisikan sebagai waktu di mana Matahari berada pada 12 derajat di bawah cakrawala ketika pagi hari.
    • Fajar Ugahari (Sipil) adalah waktu di mana terdapat cahaya Matahari yang cukup untuk membedakan objek-objek sehingga manusia dapat melakukan aktivitas luar rumah, dapat didefinisikan sebagai waktu di mana Matahari berada pada 6 derajat di bawah cakrawala ketika pagi hari.

 

Dalam agama Islam, fajar dapat dibagi menjadi dua: fajar palsu/semu (kazib) dan fajar sejati (sadiq). Fajar semu dalam Bahasa Inggris dikenal juga sebagai zodiacal light (secara harfiah berarti cahaya zodiak). Fajar semu adalah cahaya keputih-putihan berbentuk segitiga yang tampak memanjang dari arah Matahari di sepanjang ekliptika dan terjadi beberapa saat sebelum fajar sejati muncul. Ketampakan terbaik fajar semu di belahan utara Bumi dapat disaksikan menjelang ekuinoks Maret, sedangkan ketampakan terbaik cahaya zodiak di belahan selatan Bumi dapat disaksikan menjelang ekuinoks September setelah senja astronomis berakhir.

Fajar semu maupun cahaya zodiak pada umumnya disebabkan oleh debu antarplanet di tata surya yang membaurkan cahaya Matahari. Debu antarplanet ini bersumber dari tabrakan asteroid, debu komet dan zat antara (medium) antarbintang (interstellar medium, ISM) yang mengisi tata surya. Fajar semu ini meredup ketika polusi cahaya alami (seperti cahaya Bulan) dan buatan di suatu tempat muncul sehingga sulit teramati. Sehingga, fajar semu hanya dapat disaksikan ketika langit malam bebas dari polusi cahaya.

Sedangkan fajar sejati merujuk kepada definisi fajar astronomis di mana muncul cahaya kemerah-merahan di arah timur secara horizontal (berbeda dengan fajar semu yang memanjang secara miring mengikuti lingkaran ekliptika pada bola langit). Kemunculan fajar sejati atau fajar astronomis dapat dijadikan sebagai patokan dalam penentuan waktu peribadatan umat Islam.

 

 

Comments