Mengenal “Bulan Biru” (Blue Moon) yang Tidak Benar-Benar Biru!

Oleh Andi Pangerang
30 Agustus 2021

Halo, Sobat LAPAN semua! Minggu malam yang lalu (22/8), Bulan Biru telah menerangi langit malam. Sebenarnya, apakah Bulan Biru itu?

Secara umum, ada dua definisi yang berbeda mengenai Bulan Biru:

  1. Bulan Biru Musiman (Seasonal Blue Moon), yakni Bulan Purnama ketiga dari salah satu musim astronomis yang di dalamnya terjadi empat kali Bulan Purnama.
  2. Bulan Biru bulanan (Monthly Blue Moon), yakni Bulan Purnama kedua dari salah satu bulan di dalam kalender Masehi yang di dalamnya terjadi dua kali Bulan Purnama.

Purnama pada 22 Agustus silam termasuk ke dalam Bulan Biru Musiman. Di dalam Almanak Petani Maine di Amerika Serikat, purnama ini dinamakan sebagai Purnama Sturgeon dikarenakan pada bulan Agustus, ikan Sturgeon (ikan penghasil kaviar) muncul ke permukaan danau sehingga mudah ditangkap. Purnama ini juga memiliki nama lain: Purnama Jagung Hijau (Green Corn Moon), Purnama Ceri Hitam (Black Cherry Moon) dan Purnama Terbang Tinggi (Flying Up Moon).

Tabel 1. Purnama untuk empat musim astronomis di sepanjang tahun 2021

Purnama

Musim Astronomis (Belahan Utara)

Dingin

Semi

Panas

Gugur

21 Desember 2020

17.02 WIB

20 Maret 2021

16.37 WIB

21 Juni 2021

10.32 WIB

23 September 2021

02.21 WIB

Pertama

30 Desember 2020

10.28 WIB

29 Maret 2021

01.48 WIB

25 Juni 2021

01.39 WIB

20 Oktober 2021

21.56 WIB

Kedua

29 Januari 2021

02.16 WIB

27 April 2021

10.31 WIB

24 Juli 2021

09.36 WIB

19 November 2021

15.57 WIB

Ketiga

27 Februari 2021

15.17 WIB

26 Mei 2021

18.13 WIB

22 Agustus 2021
19.01 WIB
(Bulan Biru)

19 Desember 2021

11.35 WIB

Keempat

 

 

21 September 2021

06.54 WIB

 

 

Bulan Biru Musiman terjadi setiap dua atau tiga tahun sekali, sebelumnya pernah terjadi pada 19 Mei 2019 dan 22 Mei 2016. Fenomena ini akan terjadi kembali pada 20 Agustus 2024 dan 20 Mei 2027 mendatang.

Bulan Biru Bulanan juga terjadi setiap dua atau tiga tahun sekali, sebelumnya penah terjadi pada 31 Juli 2015 dan 31 Januari 2018. Fenomena ini akan terjadi kembali pada 31 Agustus 2023 dan 31 Mei 2026 mendatang.

Mengapa Bisa Terjadi Bulan Biru?

Umumnya, dalam sebuah musim astronomis (yang ditandai oleh solstis ataupun ekuinoks) dapat terjadi tiga kali Bulan Purnama. Hal ini dikarenakan durasi musim untuk musim gugur (belahan utara) dan musim dingin (belahan utara) rata-rata 89,5 hari, sedangkan durasi musim untuk musim semi (belahan utara) dan musim panas (belahan utara) rata-rata 93 hari. Sedangkan rata-rata lunasi (satu siklus periode sinodis Bulan mengelilingi Bumi) sebesar 29,53 hari. Sehingga 89,5 : 29,53 = 3,03 atau dibulatkan menjadi 3. Akan tetapi, jika Bulan Purnama pertama terjadi berdekatan dengan awal musim astronomis, maka memungkinkan dalam sebuah musim astronomis terjadi empat kali Bulan Purnama. Bulan purnama ketiga dalam sebuah musim astronomis yang mengalami empat kali Bulan Purnama inilah yang disebut sebagai “Bulan Biru”.

Dalam kalender Masehi, ada tujuh bulan yang berumur 31 hari dan ada empat bulan yang berumur 30 hari. Nilai ini lebih besar dari rata-rata lunasi yakni 29,53 hari.  Jika Bulan Purnama terjadi di sekitar awal bulan Masehi, maka memungkinkan dalam sebuah bulan di kalender Masehi terjadi dua kali bulan purnama. Bulan Purnama kedua dalam sebuah bulan di kalender Masehi inilah yang disebut juga sebagai “Bulan Biru”. Apakah bulan Februari memungkinkan terjadi Bulan Biru? Dikarenakan umur bulan yang lebih kecil dari 29,53 hari; maka bulan Februari TIDAK MEMUNGKINKAN terjadinya Bulan Biru.

Pada tahun-tahun tertentu, bulan Februari tidak mengalami Bulan Purnama sama sekali. Fenomena ini disebut juga Bulan Hitam (Black Moon). “Bulan Hitam” memungkinkan terjadi jika pada bulan Januari dan Maret terjadi Bulan Biru. Bulan Biru yang terjadi dua kali dalam setahun disebut juga sebagai Bulan Biru Ganda (Double Blue Moon) dan tidak harus terjadi pada bulan Januari dan Maret saja akan tetapi dapat terjadi untuk bulan lainnya. Fenomena ini cukup langka terjadi, antara tiga hingga lima kali dalam satu abad. Fenomena “Bulan Biru Ganda” ini terakhir kali terjadi pada 2018 dan 1999, serta akan terjadi kembali pada 2037, 2075 (tidak dialami Amerika Selatan, Eropa, Afrika dan Australasia) serta 2094.

Mengapa Dinamakan “Bulan Biru”?

Bulan Biru hakikatnya TIDAK BENAR-BENAR BIRU! Asal-usul historis istilah ini dan dua definisinya sebenarnya masih simpang siur dan kebanyakan pihak menganggapnya sebagai kesalahan interpretasi. Banyak orang meyakini istilah “Bulan Biru” yang dimaknai sebagai sesuatu hal yang terjadi sangat langka berasal dari ketika kabut asap dan abu vulkanik dari letusan gunung berapi mengubah Bulan menjadi berwarna kebiruan. Istilah ini sudah ada setidaknya sejak 400 tahun yang lalu dari penelusuran saat ini, yang mana seorang penutur cerita rakyat berkebangsaan Kanada, Dr. Philip Hiscock, mengusulkan bahwa penyebutan “Bulan Biru” bermakna bahwa ada hal yang ganjil dan tidak akan pernah terjadi.

Asal-Usul Bulan Biru Musiman

Bulan Biru Musiman yang didefinisikan sebagai Bulan Purnama ketiga yang terjadi dalam sebuah musim astronomis yang mengalami empat kali Bulan Purnama dapat ditelusuri dari penggunaan Almanak Petani Maine yang saat ini sudah tidak dipakai lagi. Menurut almanak ini, kemunculan purnama ke-13 dalam satu tahun dapat mengacaukan Peringatan Hari Besar Kristen (diantaranya Prapaskah dan Paskah) yang menggunakan Bulan Purnama untuk penentuannya. Angka 13 dianggap sebagai angka sial, dan juga, kesulitan perhitungan terjadinya Bulan Purnama menyebabkan Bulan Purnama tambahan ini kemudian dinamakan sebagai “Bulan Biru”.

Di dalam masa Prapaskah (Month of Lent), terjadi Bulan Purnama Prapaskah (Lenten Full Moon) yang merupakan Bulan Purnama terakhir di musim dingin (belahan utara). Sebulan setelahnya, yakni Bulan Purnama Paskah (Easter Full Moon atau Paschal Full Moon) merupakan Bulan Purnama pertama di musim semi (belahan utara). Bulan Purnama ketiga yang dinamai sebagai Bulan Biru dapat memastikan jatuhnya Prapaskah dan Paskah sudah sesuai dengan fase Bulan yang tepat, sehingga peringatan hari besar lainnya  juga akan jatuh di waktu yang tepat.

Asal-Usul Bulan Biru Bulanan

Definisi Bulan Biru yang lebih populer, yaitu Bulan Purnama kedua dalam salah satu bulan kalender Masehi, disebabkan oleh kesalahan penafsiran yang pada mulanya dibuat oleh seorang astronom amatir, James Hugh Pruett (1886–1955) dalam majalah Sky & Telescope edisi 1946. Kesalahan ini akhirnya tersebar sebagai fakta. Hari ini, definisi ini dianggap sebagai definisi kedua Bulan Biru alih-alih menganggapnya sebagai suatu kesalahan.

Seberapa Langka Bulan Biru Terjadi?

Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, Bulan Biru Bulanan dapat terjadi jika Bulan Purnama terjadi di sekitar awal bulan Masehi. Hal ini dikarenakan rata-rata lunasi sebesar 29,53 hari; lebih pendek dibandingkan dengan 11 bulan dalam kalender Masehi.

Bulan Biru Musiman terjadi sedikit lebih jarang daripada Bulan Biru bulanan—dalam 1100 tahun antara 1550 dan 2650, ada 408 Bulan Biru Musiman dan 456 Bulan Biru Bulanan. Dengan demikian, baik musiman maupun bulanan, Bulan Biru terjadi kira-kira setiap dua atau tiga tahun.

Bulan Biru yang benar-benar berwarna biru dapat terjadi sangat langka dan tidak ada hubungannya dengan kalender, fase Bulan atau jatuhnya musim, melainkan akibat dari kondisi atmosfer. Abu vulkanik dan kabut asap, droplet di udara, atau jenis awan tertentu dapat menyebabkan Bulan Purnama tampak kebiruan.

Bulan Biru Musiman dan Bulanan Dapat Terjadi Bersama-sama?

Bulan Biru Musiman dan Bulanan juga terkadang dapat terjadi di tahun yang sama. Dalam rentang waktu tahun 1550 hingga 2650, telah terjadi 20 kali Bulan Biru Musiman sekaligus Bulan Biru Bulanan di tahun yang sama. Fenomena ini terjadi terakhir kali pada tahun 1934 dan akan terjadi berikutnya pada tahun 2048.

Dalam periode yang sama, telah terjadi 21 kali Bulan Biru Musiman dan dua Bulan Biru Bulanan di tahun yang sama. Fenomena ini terjadi terakhir kali pada tahun 1961 dan akan terjadi berikutnya pada tahun 2143.

Bulan Biru Musiman yang terjadi dua kali dalam setahun adalah hal yang mustahil, hal ini karena membutuhkan 14 Bulan Purnama di tahun yang sama.

Demikian penjelasan mengenai Bulan Biru. Semoga bermanfaat bagi Sobat LAPAN semua. Salam Antariksa!

Comments