Mengenal Hujan Meteor dan Ketampakannya di Tahun 2021

Oleh Andi Pangerang
31 Desember 2020

Halo, Sahabat EduSainsa semua! Pernahkah Sahabat mengamati sekelibat cahaya memanjang yang bergerak cepat di langit malam? Jika pernah, maka yang Sahabat lihat adalah meteor. Apa itu meteor? Meteor merupakan sebutan yang kita gunakan untuk menyebut sesuatu hal yang jatuh dari luar angkasa. Meteor dapat didefinsikan sebagai penampakan jalur jatuhnya serpihan benda luar angkasa–yang dinamakan meteoroid–ke atmosfer bumi, lazim disebut sebagai bintang jatuh. Penampakan tersebut disebabkan oleh panas yang dihasilkan oleh tekanan ram (bukan oleh gesekan, sebagaimana anggapan umum sebelum ini) pada saat meteoroid memasuki atmosfer. Meteor yang sangat terang, lebih terang daripada penampakan Planet Venus, dapat disebut sebagai bolide atau bola api (fireball).

Ukuran meteor umumnya hanya sebesar sebutir pasir dan hampir semuanya hancur sebelum mencapai permukaan Bumi. Serpihan yang mencapai permukaan Bumi disebut meteorit. Hujan meteor umumnya terjadi ketika Bumi melintasi dekat orbit sebuah komet dan melalui serpihannya. Jika suatu meteoroid tidak habis terbakar dalam perjalanannya di atmosfer dan mencapai permukaan bumi, benda yang dihasilkan disebut meteorit atau batu meteor. Meteor yang menabrak bumi atau objek lain dapat membentuk kawah meteor atau impact crater.

Sedangkan, hujan (shower, rain) digunakan untuk menyebut sesuatu yang jatuh dalam jumlah yang banyak atau lebih dari satu. Hujan meteor (meteor shower) ini merupakan meteor yang jatuh dan melewati permukaan bumi dalam jumlah yang banyak, sehingga dari permukaan bumi akan dilihat oleh manusia seolah seperti hujan yang turun. Hal inilah yang disebut sebagai hujan meteor. Hujan meteor secara singkat dapat terjadi karena meteoroid memasuki atmosfer Bumi dengan kecepatan tinggi.

Penyebab dan Proses Terjadinya Hujan Meteor

Hujan meteor merupakan salah satu fenomena alam yang bisa dikatakan langka dan juga merupakan fenomena alam yang terlihat mempesona. Fenomena hujan meteor ini dapat disebabkan karena beberapa hal:

  • Bertemunya lintasan atau orbit komet dengan orbit Bumi. Pertemuan ini dapat terjadi karena orbit keduanya yang berbentuk elips dan memungkinkan adanya pertemuan waktu antara orbit Bumi dan komet pada saat melintas dekat Bumi.
  • Saat komet melewati bagian dalam Tata Surya, cahaya dan panas dari Matahari menyebabkan permukaannya melontarkan gas dan debu.
  • Pada saat komet melintas dekat Bumi, muncul sebuah energi yang dapat menimbulkan tekanan. Selain itu, ketika komet melintas dapat menyebabkan jumlah meteor yang masuk ke dalam Bumi meningkat drastis.
  • Peningkatan drastis inilah yang mengakibatkan meteor kehilangan daya untuk dapat mempertahankan posisinya agar tetap berada di orbitnya. Sehingga dapat menimbulkan hujan meteor di sebagian wilayah Bumi.

Seperti halnya hujan air yang terjadi di Bumi, hujan meteor ini dapat terjadi setelah melalui beberapa proses. Meskipun tidak mendetail dan mengandung siklus seperti hujan air yang ada di bumi, namun terjadinya hujan meteor ini tetap saja melewati proses tertentu. Proses terjadinya hujan meteor ini melibatkan waktu tertentu dimana hujan meteor dapat terjadi.

Agar lebih mudah memahami proses terjadinya hujan meteor ini, berikut ini hal-hal yang berkaitan dengan proses terjadinya hujan meteor.

  • Hujan meteor terjadi ketika Bumi melewati puing- puing dari komet. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa bumi ini mengalami suatu gerakan atau aktivitas mengelilingi matahari (gerakan ini juga disebut dengan revolusi bumi). Dalam pergerakan mengelilini matahari, bumi mempunyai sebuat jalur yang disebut dengan orbit. Suatu saat, bumi yang berada di orbitnya melewati puing- puing yang tersisa dari komet yang telah mengalami kehancuran. Dan dari sinilah proses hujan meteor bisa terjadi.
  • Orbit bumi yang bersinggungan dengan orbit komet. Tidak hanya Bumi, komet inipun mempunyai orbitnya sendiri. Orbit komet berbentuk lebih lonjong daripada orbit bumi. Beberapa komet mempunyai orbit yang bersinggungan dengan orbit bumi. Inilah kondisi selanjutnya yang menyebabkan terjadinya hujan meteor.
  • Komet yang terlihat mempunyai ekor karena melewati Matahari. Kita perlu mengetahui mengapa komet mempunyai ekor dan tampak seperti hujan ketika berjumlah banyak. Sebenarnya inti dari komet adalah partikel debu padat, sehingga ketika melewati Matahari akan menjadi panas dan lambat laun menjadi hancur serta menghasilkan ekor. Ekor inilah yang menyebabkan komet tampak memanjang dari Bumi.
  • Puing- puing dari inti komet yang hancur ketika melintasi orbit Bumi akan terlihat seperti hujan. Inilah puncak dari hujan meteor yang terjadi. Jadi, inti komet yang melintasi Matahari dan bergerak cepat diikuti oleh serpihan berbatu yang didominasi oleh partikel berukuran seperti pasir. Serpihan inilah yang terbakar ketika sampai di atmosfer Bumi. Ketika terbakar, di sekitar serpihan akan menghasilkan cahaya yang tampak dari Bumi menyerupai hujan.

Gambar 1. Orbit Komet Halley dalam Tata Surya. Sumber: ilmugeografi.com

 Kronologi Terjadinya Hujan Meteor

Dari penjelasan sebelumnya mengenai penyebab dan proses terjadinya hujan meteor, Sahabat telah mengetahui bagaimana hujan meteor dapat terjadi. Kronologi atau urutan waktu terjadinya hujan meteor adalah sebagai berikut:

  • Ada sebuah batuan di luar angkasa yang berpapasan dengan Numi. Batuan ini tidak lain dan tidak bukan adalah serpihan komet yang telah hancur maupun batuan yang berada di luar angkasa.
  • Gaya gravitasi Bumi yang lebih besar menarik batuan tersebut, sehingga batuan tersebut bertemu dengan atmosfer bumi dan bergesekan dengan atmosfer Bumi. Gesekan yang terjadi di atmosfer Bumi dengan batuan tersebut menyebabkan timbulnya tekanan pada batuan tersebut dan akan menimbulkan panas. Salah satu jenis lapisan atmosfer Bumi ini, yakni lapisan mesosfer, berfungsi menahan dan menghalangi adanya benda langit untuk masuk ke dalam Bumi.
  • Karena adanya panas yang ditimbulkan oleh batu tersebut, mengakibatkan timbulnya api ataupun pembakaran di batu tersebut. Hal inilah yang dapat menimbulkan cahaya menyerupai bintang jatuh. Karena adanya meteor yang jatuh dan menyala ini, maka dinamakan hujan meteor. Dinamakan hujan karena biasanya meteor yang berasal dari serpihan komet yang terbakar, hangus, dan jatuh ini berjumlah lebih dari satu, sehingga lebih tepat jika disebut sebagai hujan meteor.

Meskipun jatuh ke arah Bumi dan bergesekan dengan atmosfer Bumi, namun biasanya meteor yang jatuh ini tidak sampai ke permukaan Bumi karena sudah meleleh ketika melewati atmosfer. Adapun meteor yang sampai ke permukaan Bumi adalah meteor yang berukuran lebih besar dibandingkan dengan yang lain. Bahkan, dapat membentuk kawah meteor pada lapisan permukaan bumi seperti yang ada di Arizona, Amerika Serikat, yaitu kawah Barringer.

Hujan meteor merupakan sebuah fenomena alam yang tidak sering terjadi dan merupakan fenomena alam yang menakjubkan. Hujan meteor ini merupakan sebuah fenomena alam yang bisa diprediksi kapan terjadinya. Terjadinya hujan meteor ini dapat diprediksi oleh para ilmuan secara periodik. Terjadinya hujan meteor ini tidak dapat dilihat oleh semua wilayah yang ada di Bumi.

Hujan meteor hanya dapat disaksikan oleh sebagian wilayah di Bumi. Hujan meteor hanya terjadi pada waktu-waktu tertentu dan tidak selalu sama antara satu dengan lainnya. Hujan meteor ternyata mempunyai nama yang berbeda-beda. Nama setiap hujan meteor ini disesuaikan dengan radiannya. Radian merupakan sebuah titik yang mana seolah-olah menjadi pusat dari hujan meteor yang sedang berlangsung. Dengan kata lain, radian merupakan titik kemunculan hujan meteor yang sedang berlangsung. Radian ini bisa berada di sebuah rasi bintang tertentu. Rasi bintang inilah yang digunakan untuk menamai hujan meteor tersebut.

Jenis-jenis Hujan Meteor

Hujan meteor ini terbagi menjadi beberapa jenis berdasarkan jenis posisi radiannya. Jenis-jenis hujan meteor tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Perseid

Titik radian Perseid terletak di konstelasi Perseus, maka dari itu dinamakan dengan Perseid. Meteor yang jatuh diperkirakan memiliki kecepatan sekitar 60 km per jam. Meteornya pun memiliki kilatan yang terang dan ekor cahaya yang panjang. Hujan meteor Perseid berasal dari serpihan debu ekor komet Swift Tuttle atau 109P/Swift-Tuttle yang mengelilingi Matahari setiap 133 tahun sekali. Hujan meteor ini biasanya akan terihat di wilayah Bumi pada belahan bagian utara di malam musim panas.

Umumnya akan terlihat pada sekitar pertengahan Juli hingga pertengahan Agustus setiap tahunnya. Puncak hujan meteor Perseid di tahun 2021 akan terjadi pada tanggal 13 Agustus* mendatang dengan fase Bulan sabit awal berumur empat hari sehingga minim gangguan cahaya Bulan. Perseid dapat diamati sejak pukul 00.00 tengah malam hingga menjelang fajar.

Menurut astronom, hujan meteor Perseid diperkirakan akan berbahaya bagi kehidupan bumi karena diperkirakan pada tahun 2126, hujan meteor ini berjarak sangat dekat dengan Bumi dan dikhawatirkan serpihannya akan jatuh menimpa bumi jika serpihan tersebut masih berukuran sangat besar dan tidak habis terbakar.

* puncak aktivitas Perseid terjadi pada tanggal 13 Agustus 2021 pukul 02.00 WIB sehingga waktu ketampakan terbaik baru dapat disaksikan ketika titik radian Perseid terbit sejak tengah malam di tanggal yang sama.

  1. Lyrid

Titik radian Lyrid terletak di konstelasi Lyra yang penampakannya muncul dimulai tanggal 16 hingga tanggal 26 pada bulan April sehingga sering disebut juga dengan April Lyrids. Puncak hujan meteor ini di tahun 2021 akan terjadi pada tanggal 22 April* mendatang dengan fase Bulan benjol awal berumur 10 hari sehingga akan memengaruhi intensitas hujan meteor maksimum. Hujan meteor Lyrid dapat teramati sejak pukul 22.00 hingga keesokan harinya pukul 05.00 dengan kulminasi radian terjadi pada pukul 04.00.

Lyrid berasal dari sisa debu ekor komet yang bernama Comet C/1961 G1 Thatcher yang memiliki kemiringan orbit hampir 80° dengan bidang sistem tata surya. Hujan meteor ini sudah ada dan teramati sejak 2600 tahun yang lalu sehingga hujan meteor ini merupakan hujan meteor yang paling lama keberadaannya dibandingkan dengan hujan meteor yang lainnya.

* puncak aktivitas Lyrid terjadi pada tanggal 22 April 2021 pukul 19.00 WIB sehingga waktu ketampakan terbaik baru dapat disaksikan ketika titik radian Lyrid terbit sejak pukul 22.00 di tanggal yang sama.

  1. Orionid

Titik radian Orionid terletak di konstelasi Orion dan muncul setiap tahun sejak tanggal 2 Oktober hingga 7 November. Puncak hujan meteor ini di tahun 2021 akan terjadi pada tanggal 21 Oktober*. Hujan meteor Orionid dapat terjadi dengan intensitas 15 hingga 20 meteor setiap jamnya dengan ketampakan meteor berwarna hijau maupun kuning.

Akan tetapi, puncak hujan meteor ini terjadi ketika fase Bulan purnama, sehingga memungkinkan intensitasnya akan jauh berkurang dibandingkan dengan intensitas maksimumnya ketika berada di dekat fase Bulan Baru.

Orionid akan dapat terlihat pada sekitar pukul 22.00 hingga keesokan harinya 05.00 pagi, dengan kulminasi radian terjadi pada pukul 04.00. Hujan meteor Orionid berasal dari pecahan komet Halley. Komet Halley merupakan komet yang melintasi bumi setiap 76 tahun sekali.

* puncak aktivitas Orionid terjadi pada tanggal 21 Oktober 2021 pukul 19.00 WIB sehingga waktu ketampakan terbaik baru dapat disaksikan ketika titik radian Orionid terbit sejak pukul 22.00 di tanggal yang sama.

  1. Geminid

Hujan meteor Geminid berasal dari asteroid keluarga Palladian yang bernama 3200 Phaeton dan muncul dari titik radian yang terletak di konstelasi Gemini. Hujan meteor Geminid biasanya akan terjadi antara tanggal 4 hingga 17 Desember setiap tahunnya dan puncaknya di tahun 2021 pada tanggal 14 Desember* dengan fase Bulan benjol awal berumur sepuluh hari sehingga akan memengaruhi intensitas hujan meteor maksimum. Hujan meteor Geminid dapat disaksikan bagi pengamat yang terletak baik di belahan Bumi bagian utara maupun selatan.

Hujan meteor Geminid dapat menghasilkan kilauan warna meteor seperti warna putih, biru, kuning, merah dan hijau. Geminid ini biasanya akan terlihat pada antara pukul 20.00 hingga keesokan harinya pukul 05.00 dengan kulminasi radian terjadi pada pukul 01.00. Diperkirakan Geminid ini pertama kali terlihat di bumi pada tahun 1862.

* puncak aktivitas Geminid terjadi pada tanggal 14 Desember 2021 pukul 14.00 WIB sehingga waktu ketampakan terbaik baru dapat disaksikan ketika titik radian Geminid terbit sejak pukul 20.00 di tanggal yang sama.

  1. Quadrantid

Quadrantid sama seperti hujan meteor Geminid yang tidak berasal dari komet tetapi berasal dari asteroid 2003 EH1. Quadrantid ini muncul dari titik radian yang terletak di konstelasi Quadrands Muralis. Quadran Muralis terletak di antara konstelasi Draco dan Bootes di dekat ekor konstelasi Ursa Mayor, dan saat ini termasuk ke dalam konstelasi Bootes.

Quadrantid sejak 12 Desember hingga 12 Januari setiap tahunnya dengan puncaknya pada tahun 2021 terjadi pada tanggal 4 Januari* ketika fase Bulan susut (benjol akhir) berumur 20 hari sehingga akan memengaruhi intensitas hujan meteor maksimum. Quadrantid dapat terlihat paling jelas bagi pengamat yang terletak di belahan Bumi bagian utara, karena posisi titik radian atau arah datangnya Quadrantid berada di langit utara.

Sedangkan di Indonesia, Quadrantid ini akan terlihat dari arah timur laut pada saat setelah rasi bintang Bootes terbit, yaitu sekitar pukul 02.30 dini hari hingga pukul 05.00, dengan titik radian tertinggi terjadi sesaat sebelum fajar sekitar pukul 04.00. Diperkirakan hujan meteor Quadrantid ini sudah ada sejak lebih dari 500 tahun yang lalu.

* puncak aktivitas Quadrantid terjadi pada tanggal 3 Januari 2021 pukul 23.00 WIB sehingga waktu ketampakan terbaik baru dapat disaksikan ketika titik radian Quadrantid sudah terbit keesokan harinya (4 Januari).

  1. Eta Aquarid

Hujan meteor Eta Aquarid berasal dari konstelasi Aquarius tepatnya di bintang Eta Aquarii. Tetapi walaupun berasal dari konstelasi Aquarius, untuk menikmati hujan meteor ini kita tidak perlu melihat dari arah dimana rasi bintang Aquarus berada, karena kemunculan meteor-meteor pada Eta Aquarid ini dapat datang dari segala penjuru langit.

Eta Aquarids ini akan muncul pada sekitar pertengahan bulan April hingga akhir bulan Mei dengan puncaknya pada tahun 2021 terjadi pada tanggal 6 Mei* ketika fase Bulan sabit akhir berumur 23 hari sehingga minim gangguan cahaya Bulan. Eta Aquarids berasal dari serpihan komet Halley yang muncul setiap 76 tahun sekali dan akan bisa diamati sekitar pukul 01.00 dini hari hingga pukul 05.00, dengan titik radian tertinggi terjadi sesaat sebelum fajar sekitar pukul 04.00.

* puncak aktivitas Eta Aquarid terjadi pada tanggal 6 Mei 2021 pukul 09.00 WIB sehingga waktu ketampakan terbaik baru dapat disaksikan ketika titik radian Eta Aquarid terbit sejak pukul 01.00 di tanggal yang sama.

  1. Delta Aquarid

Titik radian Delta Aquarid sama seperti pada titik radian Eta Aquariids, yaitu sama-sama berasal dari konstelasi Aquarius tepatnya di bintang Delta Aquarii. Perbedaannya, hujan meteor Delta Aquarids berasal dari pecahan komet Marsden dan Kracht Sungrazing.

Hujan meteor Delta Aquarid biasanya akan terlihat pada sekitar akhir bulan Juli dengan puncak aktivitas di tahun 2021 terjadi pada tanggal 30 Juli* ketika fase Bulan susut (benjol akhir) berumur 20 hari sehingga akan memengaruhi intensitas hujan meteor maksimum.

Delta Aquarid dapat terlihat baik di belahan Bumi bagian selatan maupun belahan Bumi bagian utara, tetapi akan lebih baik ketampakannya pada belahan Bumi selatan dengan intensitas 15 hngga 20 meteor pada setiap jamnya. Hujan meteor ini pertama kalinya diamati pada tahun 1870. Delta Aquarid dapat disaksikan sejak pukul 19.30 hingga keesokan harinya pukul 05.00 dengan kulminasi radian terjadi pada pukul 02.00

* puncak aktivitas Delta Aquarid terjadi pada tanggal 30 Juli 2021 pukul 13.00 WIB sehingga waktu ketampakan terbaik baru dapat disaksikan ketika titik radian Delta Aquarid terbit sejak pukul 19.30 di tanggal yang sama.

  1. Leonid

Titik radian Leonid terletak di konstelasi Leo dan berasal dari pecahan komet yang bernama Temple Tuttle atau disebut juga dengan komet 55P yang melintasi Bumi setiap 33 tahun sekali. Leonid akan terlihat pada bulan November antara tanggal 6 hingga tanggal 30 setiap tahunnya dengan puncak aktivitas di tahun 2021 terjadi pada tanggal 18 November* ketika fase Bulan benjol awal berumur 12 hari sehingga akan memengaruhi intensitas hujan meteor maksimum.

Leonids dapat disaksikan pada sekitar pukul 00.00 tengah malam yang muncul dari rasi bintang Leo dari arah timur menuju utara hingga pukul 05.00, dengan titik radian tertinggi menjelang fajar. Kondisi langit ketika puncak hujan meteor Leonid akan sedikit terganggu dengan cahaya Bulan berfase benjol awal yang sudah berada di arah barat sejak terbitnya titik radian hujan meteor ini. Leonid ini dulunya terkenal dengan penghasil “badai meteor” karena pada tahun 1966 dan tahun 1999 – 2002 sempat menghasilkan lebih dari 3.000 meteor tiap menitnya.

* puncak aktivitas Leonid terjadi pada tanggal 18 November 2021 pukul 01.00 WIB sehingga waktu ketampakan terbaik baru dapat disaksikan ketika titik radian Leonid terbit sejak pukul 00.00 di tanggal yang sama.

  1. Taurid Utara

Hujan meteor Taurid adalah hujan meteor tahunan dan dikaitkan dengan komet Encke (2P/Encke). Saat ini, hujan meteor Taurid terbagi menjadi dua hujan meteor yang terpisah yakni hujan meteor Taurid Utara dan Taurid Selatan. Pemisahan ini terjadi akibat perturbasi gravitasional oleh planet, terutama planet Jupiter, sehingga menyebabkan hujan meteor Taurid menjadi meluas titik radiannya dan menjadi dua titik radian yang terpisah satu sama lain.

Titik radian Taurid Utara terletak di konstelasi Taurus dan berasal dari serpihan asteroid 2004 TG10 yang mengorbit Matahari tiga kali dalam 10 tahun. Taurid Utara akan terlihat sejak 20 Oktober hingga 10 Desember setiap tahunnya dengan puncak aktivitas di tahun 2021 terjadi pada tanggal 12 November* ketika fase Bulan perbani awal.

Dikarenakan titik radian Taurid Utara terbit sejak pukul 19.00 dan berkulminasi pada pukul 00.00 tengah malam ketika Bulan terbenam, maka hujan meteor yang berintensitas 5 meteor setiap jamnya dapat disaksikan dengan baik sejak tengah malam hingga menjelang terbit Matahari dari arah Timur-Timur Laut hingga Barat-Barat Laut.

* puncak aktivitas Taurid Utara terjadi pada tanggal 12 November 2021 pukul 18.00 WIB sehingga waktu ketampakan terbaik baru dapat disaksikan ketika titik radian Taurid Utara terbit sejak pukul 19.00 di tanggal yang sama.

  1. Taurid Selatan

Berbeda dengan Taurid Utara, titik radian Taurid Selatan tertelak di konstelasi Cetus dan berasal dari pecahan komet Encke atau disebut juga dengan komet 2P/Encke yang mengorbit Matahari tiga kali dalam 10 tahun. Taurid Selatan akan terlihat sejak 10 September hingga 20 November setiap tahunnya dengan puncak aktivitas di tahun 2021 terjadi pada tanggal 10 Oktober* ketika fase Bulan sabit awal berumur 4 hari sehingga minim gangguan cahaya Bulan.

Titik radian Taurid Selatan terbit setelah senja (sekitar pukul 18.30) dan terbenam sebelum fajar (sekitar pukul 04.30) dengan kulminasi radian terjadi sekitar pukul 00.00 tengah malam. Taurid Selatan dapat disaksikan dengan intensitas 5 meteor setiap jamnya dari arah Timur-Timur Laut hingga Barat-Barat Laut.

* puncak aktivitas Taurid Selatan terjadi pada tanggal 10 Oktober 2021 pukul 16.00 WIB sehingga waktu ketampakan terbaik baru dapat disaksikan ketika titik radian Taurid Selatan terbit sejak pukul 18.30 di tanggal yang sama.

  1. Draconid

Titik radian Draconid terletak di konstelasi Draco dan berasal dari serpihan komet Giancobini-Zinner atau komet 21P yang mengorbit Matahari tiga kali dalam 20 tahun. Oleh karenanya, hujan meteor Draconid dapat disebut juga sebagai Giancobinid.

Draconid akan terlihat pada awal Oktober tepatnya sejak tanggal 6 hingga tanggal 10 setiap tahunnya dengan puncak aktivitas di tahun 2021 terjadi pada tanggal 8 Oktober* ketika fase Bulan sabit awal berumur 2 hari sehingga minim gangguan cahaya Bulan, bahkan posisi Bulan terletak di arah Barat-Barat Daya sementara titik radian Draconid terlihat dari arah Utara-Barat Laut. Draconid dapat disaksikan setelah senja (pukul 18.30) hingga pukul 21.00

Draconid pernah tercatat memiliki intensitas maksimum mencapai ribuan meteor per jam pada 1933 dan 1946, serta terulang lagi di tahun 1998, 2005 dan 2012 dikarenakan jejak debu dan serpihan komet yang meninggalkan induk kometnya pada tahun 1959.

* puncak aktivitas Draconid terjadi pada tanggal 9 Oktober 2021 pukul 02.00 WIB sehingga waktu ketampakan terbaik baru dapat disaksikan ketika titik radian Draconid muncul di arah Utara-Barat Laut sejak pukul 18.30 pada malam sebelumnya (8 Oktober).

  1. Ursid

Hujan meteor Ursid berasal dari serpihan komet Tuttle atau disebut juga komet 8P dan titik radiannya terletak di konstelasi Ursa Minor yang terletak di langit utara. Sehingga komet ini memiliki ketampakan terbaik bagi pengamat yang terletak di belahan Bumi bagian utara.

Hujan meteor Ursid biasanya akan terlihat pada sekitar akhir bulan Desember, tepatnya sejak tanggal 17 hingga 26 Desember dengan puncak aktivitas di tahun 2021 terjadi pada tanggal 23 Desember* ketika fase Bulan susut (benjol akhir) berumur 18 hari sehingga akan memengaruhi intensitas hujan meteor maksimum.

Hujan meteor ini pertama kalinya diamati pada awal abad ke-20 dan pernah mencapai intensitas maksimum sebesar 169 meteor per jam. Ursid dapat disaksikan sejak pukul 04.00 hingga menjelang terbit Matahari dengan titik radian tertinggi terjadi sesaat sebelum fajar pukul 04.30 di arah Utara-Barat Laut.

* puncak aktivitas Ursid terjadi pada tanggal 22 Desember 2021 pukul 23.00 WIB sehingga waktu ketampakan terbaik baru dapat disaksikan ketika titik radian Ursid sudah terbit keesokan harinya (23 Desember).

Berikut ini rangkuman jadwal ketampakan hujan meteor selama tahun 2021:

Tabel 1. Jadwal Ketampakan Hujan Meteor Tahun 2021

No.

Hujan Meteor

Puncak
(di Indonesia)

Fase Bulan

Masa Aktif

Intensitas
(meteor/jam)

1.

Quadrantid

4 Januari

Benjol Akhir

12 Des – 12 Jan

120

2.

Lyrid

22 April

Benjol Awal

16 – 26 April

18

3.

Eta Aquarid

6 Mei

Sabit Akhir

19 Apr – 28 Mei

40

4.

Delta Aquarid

30 Juli

Benjol Akhir

12 Jul – 23 Agt

25

5.

Perseid

12 Agustus

Sabit Awal

17 Jul – 24 Agt

150

6.

Draconid

8 Oktober

Sabit Awal

6 – 10 Oktober

bervariasi

7.

Taurid Selatan

10 Oktober

Perbani Awal

10 Sep – 20 Nov

5

8.

Orionid

21 Oktober

Purnama

2 Okt – 7 Nov

15

9.

Taurid Utara

12 November

Sabit Awal

20 Okt – 10 Des

5

10.

Leonid

18 November

Benjol Awal

6 – 30 November

15

11.

Geminid

14 Desember

Benjol Awal

4 – 17 Desember

120

12.

Ursid

23 Desember

Benjol Akhir

17 – 26 Desember

10

 Setelah mengetahui jadwal ketampakan hujan meteor selama tahun 2021, Sahabat dapat mempersiapkan pengamatan di setiap puncak hujan meteor. Pastikan cuaca di tempat Sahabat benar-benar cerah ya! Selamat berburu hujan meteor dan selamat menyongsong tahun 2021!

Comments