Mengenal Kalender Imlek

Oleh Andi Pangerang
04 Februari 2021

Halo Sahabat Edusainsa,

Delapan hari lagi, etnis Tionghoa di Indonesia akan merayakan Tahun Baru Imlek 2572 Era Konfusius (Kongfuzi/Konghuchu) atau 4719 Era Huangdi (Kaisar Kuning). Bagaiamana struktur Kalender Imlek secara umum dan sejarah awal mula terbentuknya Kalender Imlek ini? Berikut ulasannya.

Kalender Imlek dinamai Imlek karena berasal dari frasa “Yin-li” dalam Bahasa Mandarin yang secara harfiah bermakna Kalender Bulan/Candrakala/Lunar/Kamariah. Meskipun pada kenyataannya, Kalender Imlek adalah kalender Lunisolar (Surya-Candrakala, Syamsi-Kamariah) karena harus menyesuaikan dengan jatuhnya musim.

Sejarah Kalender Imlek

Pada awalnya, Kalender Imlek justru berbasis peredaran semu tahunan Matahari atau Suryakala/Solar/Syamsiah. Dalam satu tahun, dibagi ke dalam lima fase sesuai dengan jumlah unsur dalam Wuxing (secara harfiah bermakna lima unsur) yakni Kayu, Api, Tanah, Logam dan Air. Setiap fase berumur 72 hari dan dibagi kembali menjadi dua bulan berumur 36 hari, sehingga dalam satu tahun mengandung 10 bulan dan 360 hari. Nama-nama bulan dinamai berdasarkan sepuluh ‘Batang Langit’ atau elemen yang berpolaritas (Yin atau negatif dan Yang atau positif) mulai dari Kayu + (Jia) hingga Air – (Gui). Hari pertama di fase Kayu bulan Kayu + (Jia) adalah Tikus Kayu (jiazi) yang menandai awal tahun dalam penanggalan Tiongkok. Berselang 72 hari berikutnya, hari pertama di fase Api bulan Api + (Bing) adalah Tikus Api (bingzi), disusul kemudian oleh hari Tikus Tanah (wùzi) di awal fase Tanah bulan Tanah + (Wu), disusul kemudian oleh hari Tikus Logam (gengzi) di awal fase Logam bulan Logam + (Geng), dan hari Tikus Air (rénzi) di awal fase Air bulan Air + (Ren). Satu bulan terdiri dari tiga pekan yang setiap pekannya berumur 12 hari sesuai dengan jumlah ‘cabang Bumi’ atau 12 hewan dalam mitologi Tiongkok: Tikus, Kerbau, Macan, Kelinci, Naga, Ular, Kuda, Kambing, Monyet, Ayam, Anjing dan Babi.

Ketika era dinasti Shang (1600 – 1046 SM), struktur kalender Tiongkok berbasis Matahari diubah dari yang semula Lima Elemen menjadi Empat Musim. Oleh karenanya, Kalender Tiongkok disebut juga sebagai nongli (Kalender Bertani). Setiap musim (semi, panas, gugur dan dingin) dibagi menjadi tiga bulan berumur 30 hari, sehingga dalam satu tahun terdiri dari 12 bulan dan 360 hari. Nama bulan dinamai berdasarkan 12 cabang Bumi dan setiap cabang Bumi terdiri dari dua chi (posisi Matahari, solar term) sehingga dalam satu tahun terdapat 24 chi dengan setiap chi merupakan sektor yang ditempuh oleh Matahari sejauh 15o. Awal tahun dimulai ketika Solstis Musim Panas (ketika posisi Matahari berada paling utara dari ekuator langit), dengan setiap musim terdiri dari 90 hari. Agar sesuai dengan jumlah satu tahun tropis yang terdiri dari 365 hari, maka di tahun kedua disisipkan 10 hari di penghujung tahun. Hal ini dimaksudkan. agar jatuhnya Solstis Musim Panas sesuai dengan posisi semu tahunan Matahari yang seharusnya. Sehingga musim panas untuk tahun kabisat terdiri dari 100 hari.

Ketika era dinasti Zhou Barat (1046 – 771 SM), diperkenalkanlah “Kalender Seimbang” yang merupakan cikal bakal kalender Lunisolar yang digunakan oleh etnis Tionghoa saat ini. Awal tahun dimulai ketika Solstis Musim Panas. Satu tahun rata-rata terdiri dari 365,25 hari dan satu bulan rata-rata terdiri dari 29,5 hari (sesuai dengan peredaran Bulan mengelilingi Bumi). Mengingat terdapat disparitas 11,25 hari setiap 12 bulan, maka disisipkanlah bulan kabisat berumur 15 hari setiap 16 bulan. Penyisipan bulan kabisat ini akan mengembalikan letak tanggal sesuai dengan jatuhnya musim setelah empat tahun. Kondisi ini mirip dengan kalender Julian yang baru terbentuk pada 45 SM dengan aturan penyisipan satu hari kabisat setiap empat tahun.

Ketika era dinasti Zhou Timur (771 – 256 SM), barulah Kalender Tiongkok mengadopsi sistem Lunisolar. Awal tahun dimulai ketika fase Bulan baru sebelum Solstis Musim Dingin. Kalender ini disebut juga Kalender Zhou. Ketika era Negara-Negara Berperang (475 – 221 SM), terdapat enam jenis kalender yang berbeda yang disebut sebagai Enam Kalender Kuno termasuk juga di dalamnya kalender Zhou. Kalender Huangdi (Kaisar Kuning) dan Kalender Lu mengadopsi aturan yang sama dengan kalender Zhou meskipun berbeda dalam aturan penyisipan bulan kabisat. Sementara itu, Kalender Yin menetapkan awal tahun ketika fase Bulan baru setelah Solstis Musim Dingin. Kalender Zhuanxu menetapkan awal tahun ketika fase Bulan baru di sekitar Solstis Musim Dingin baik sebelum maupun sesudahnya. Sedangkan, kalender Xia memiliki dua versi, yakni: versi awal tahun ketika fase Bulan baru dekat dengan Ekuinoks Musim Semi dan versi awal tahun ketika fase Bulan baru dekat dengan Solstis Musim Dingin.

Ketika era dinasti Qin (penyatuan Tiongkok pertama kali, 221 SM), Diperkenalkanlah kalender Qin dengan aturan mengadopsi kalender Zhuanxu akan tetapi nomor bulannya mengikuti nomor bulan pada kalender Xia. Sehingga, awal tahun dinomori dengan nomor bulan 10 sedangkan bulan yang fase Bulan barunya berdekatan dengan Ekuinoks Musim Semi dinomori dengan nomor bulan 1 (sekilas mirip dengan Kalender India yang mana awal tahun di sekitar Ekuinoks Musim Semi memiliki nomor bulan 10 sedangkan fase Bulan baru di sekitar Solstis Musim Panas dinomori dengan nomor bulan 1). Bulan kabisat disisipkan di akhir tahun sesuai dengan siklus Meton (19 tahun).

Ketika era dinasti Han (104 SM), awal tahun diubah menjadi fase Bulan baru di sekitar titik tengah di antara Solstis Musim Dingin dan Ekuinoks Musim Semi, yang disebut sebagai chi Awal Musim Semi (Lichun). Nomor bulan di awal tahun diberi nomor satu. Sehingga, Ekuinoks Musim Semi dan Solstis Musim dingin berturut-turut memiliki nomor bulan 2 dan 12. Konsep inilah yang digunakan hingga sekarang. Meskipun demikian, ketika era dinasti Han, bulan kabisat disisipkan ketika akhir tahun sesuai dengan siklus Meton. Kalender di era dinasti Han disebut juga Kalender Taichu.

Diperkenalkannya kembali titik ekuinoks dilakukan di era dinasti Liang (502 – 557 Masehi), sehingga kalender di era ini disebut juga sebagai kalender Daming (secara harfiah berarti Kalender “sangat terang”). Disusul kemudian, perhitungan fase Bulan baru secara astronomis dilakukan ketika era dinasti Tang (618 – 690 Masehi, 705 – 907 Masehi) dengan kalender di era ini disebut sebagai Kalender Epoh Macan Tanah (Kalender Wùyín Yuán). Perhitungan panjang tahun tropis menggunakan trigonometri bola dilakukan ketika era dinasti Yuan (1271 – 1368 Masehi), dengan kalender di era ini disebut sebagai Kalender Shoushi (secara harfiah berarti Kalender “Era Pengajaran”).

Kalender Tiongkok yang sudah mapan dibuat ketika akhir dinasti Ming (1624 – 1644) dan disebut sebagai kalender Shixian atau kalender Chongzhen. Aturan kalender sama seperti kalender Taichu kecuali di penyisipan bulan kabisat yang harus disesuaikan dengan jumlah chi di antara dua Bulan baru yang berdekatan, aturan inilah yang digunakan hingga sekarang.

Perubahan zona waktu dari waktu tolok Shanghai (UT+8.05.43) ke waktu tolok Tiongkok (UT+8) sejak 1901 memengaruhi perhitungan 24 chi dan fase Bulan baru, Hingga tahun 1949, Tiongkok menerapkan waktu musim panas (daylight saving time) dengan menambahkan 1 jam ketika musim semi dan musim panas (menjadi UT+9) dan mengembalikan waktu ke semula ketika musim gugur dan dingin (menjadi UT+8). Sejak 1949 hingga 1985, Tiongkok tidak menetapkan waktu musim panas. Sedangkan, sejak 1985 hingga 1991, Tiongkok menerapkan kembali waktu musim panas. Tiongkok menghapus waktu musim panas sejak 1992 dan berlaku hingga saat ini.

Struktur Kalender Imlek

Kalender Imlek secara umum memiliki struktur hari, bulan, tahun sebagaimana kalender lainnya, dan ada satu penanda waktu yang penting yakni jam. Berbeda dengan sistem 24 jam yang dikenal luas, satu hari di kalender Imlek terbagi menjadi 12 dwi-ganta (dual-hour) yang dinamai berdasarkan 12 hewan mitologi Tiongkok. Dua belas hewan ini disebut juga sebagai Cabang Bumi (Earthly Branches), yakni sebagai berikut:

  1. Tikus = 23.00 [hari sebelumnya dalam kalender Gregorian] – 01.00 (tengah malam)

  2. Kerbau = 01.00 – 03.00 (1/3 malam terakhir)

  3. Macan = 03.00 – 05.00 (fajar, akhir malam)

  4. Kelinci = 05.00 – 07.00 (terbit Matahari, akhir fajar)

  5. Naga = 07.00 – 09.00 (duha awal, awal pagi)

  6. Ular = 09.00 – 11.00 (duha akhir, akhir pagi)

  7. Kuda = 11.00 – 13.00 (tengah hari)

  8. Kambing = 13.00 – 15.00 (awal sore)

  9. Monyet = 15.00 – 17.00 (asar, akhir sore)

  10. Ayam = 17.00 – 19.00 (terbenam Matahari, awal senja)

  11. Anjing = 19.00 – 21.00 (akhir senja, awal malam)

  12. Babi = 21.00 – 23.00 (1/3 malam pertama).

Pergantian hari awalnya dimulai ketika awal jam tikus (jam 23.00) kemudian awal jam tikus digeser dari pukul 23.00 menjadi pukul 00.00 sejak era dinasti Song (960-1279 Masehi), kemudian akhirnya dikembalikan lagi menjadi pukul 23.00 setelah 1279 Masehi. Pengadopsian Kalender Gregorian oleh Republik Tiongkok Awal (1912-1949) ikut mengadopsi pergantian hari yang semula awal jam tikus (23.00) menjadi tengah malam (00.00) akan tetapi, jam tikus tetap diawali sejak pukul 23.00 hari sebelumnya.

Nama-nama hari dalam kalender Imlek juga mengadopsi dari Kalender Gregorian yakni sistem 7 hari sepekan yang sebenarnya sudah ada sejak abad kedelapan Masehi (era dinasti Tang). Akan tetapi, sistem sexagesimal (60 hari) tetap dipakai karena sudah diperkenalkan sejak era dinasti Shang sekitar 1250 SM. Sistem sexagesimal sebenarnya adalah kombinasi 12 cabang Bumi dan 10 batang langit (Celestial/Heavenly Stem). Sepuluh batang langit ini berdasarkan mitologi Tiongkok bahwa awalnya Matahari di tata surya kita berjumlah 10 kemudian tersisa 1 saja.

Berikut nama-nama hari dalam sistem sexagesimal:

Tabel 1. Nama-Nama Hari Sexagesimal.


Sebelum ke struktur bulan dalam Kalender Imlek, penulis perkenalkan terlebih dahulu 24 posisi Matahari (solar term), yaitu pembagian satu lingkaran ekliptika (lintasan semu harian Matahari) ke dalam 24 bagian sama besar yang terdiri dari 15o. Bagian ini disebut juga sebagai C’ie atau Chi (qi). Chi dapat dibagi menjadi dua: Chi Tepi (Jieqi) dan Chi Tengah (Zhongqi). Berikut nama-nama Chi beserta bulan yang berasosiasi.

Tabel 2. Nama-Nama Chi dan bulan yang berasosiasi.

Awal bulan dalam Kalender Imlek dimulai ketika fase Bulan Baru astronomis. Sebelum penentuan bulan pertama dalam Kalender Imlek, terlebih dahulu menentukan bulan kesebelas menggunakan Solstis Musim Dingin. Jika diantara dua fase bulan baru yang berdekatan terdapat Solstis Musim Dingin, maka dua bulan tersebut berturut-turut adalah bulan ke-11 dan 12. Misalkan, Solstis Musim Dingin 2020 (20 Desember) diapit oleh dua bulan baru yakni 15 Desember 2020 dan 13 Januari 2021. Sehingga 15 Desember 2020 adalah bulan kesebelas atau bulan Tikus, sedangkan 13 Januari 2021 adalah bulan keduabelas atau bulan Kerbau. Oleh karenanya, bulan pertama jatuh di tanggal 12 Februari 2021.

Demikian halnya ketika Solstis Musim Dingin 2021 (21 Desember), diapit oleh dua bulan baru yakni 4 Desember 2021 dan 3 Januari 2022. Sehingga 4 Desember 2021 adalah bulan kesebelas atau bulan Tikus, sedangkan 3 Januari 2021 adalah bulan keduabelas atau bulan Kerbau. Oleh karenanya, bulan pertama di tahun berikutnya jatuh di tanggal 1 Februari 2022.

Sejak 12 Februari hingga 4 Desember 2021 terdapat 11 fase Bulan baru, sehingga tidak ada bulan kabisat yang disisipkan di antara rentang waktu tersebut.

Berbeda hal ketika tahun 2023, bulan pertama kalender Imlek jatuh pada 22 Januari (bulan kesebelas dan keduabelas tahun sebelumnya berturut-turut 24 November 2022 dan 23 Desember 2022), sementara bulan kesebelasnya jatuh pada 13 Desember. Sehingga terdapat 12 fase Bulan baru dan perlu menyisipkan bulan kabisat di antara rentang waktu tersebut. Aturan penyisipannya adalah sebagai berikut:

Jika dalam interval dua Bulan baru berturut-turut hanya terdapat satu Chi (baik Chi tepi saja maupun Chi tengah saja), maka bulan tersebut adalah bulan kabisat yang nomor bulannya sama dengan nomor bulan sebelumnya, dan nomor bulan setelahnya melanjutkan nomor bulan tersebut.

Jika mengambil contoh tahun 2023, maka kita dapat menentukan jatuhnya bulan kabisat dengan menabelkan chi tepi, chi tengah dan fase Bulan baru sebagai berikut:

Tabel 3. Penentuan Bulan Kabisat dalam Kalender Imlek

No.

Bulan
Baru

Chi
Tepi

Chi
Tengah

Nomor
Bulan

1.

22 Januari
04.53 WITA

 

 

1 (Macan)

2.

 

4 Februari
10.43 WITA

 

 

3.

 

 

19 Februari
06.34 WITA

 

4.

20 Februari
15.05 WITA

 

 

2 (Kelinci)

5.

 

6 Maret
04.36 WITA

 

 

6.

 

 

21 Maret
05.24 WITA

 

7.

22 Maret
01.23 WITA

 

 

Kabisat 2

8.

 

5 April
09.13 WITA

 

 

9.

20 April
12.12 WITA

 

 

3 (Naga)

10.

 

 

20 April
16.14 WITA

 

11.

 

6 Mei
02.19 WITA

 

 

12.

19 Mei
23.53 WITA

 

 

4 (Ular)

13.

 

 

21 Mei
15.09 WITA

 

14.

 

6 Juni
06.18 WITA

 

 

15.

18 Juni
12.37 WITA

 

 

5 (Kuda)

16.

 

 

21 Juni
22.58 WITA

 

17.

 

7 Juli
16.31 WITA

 

 

18.

18 Juli
02.31 WITA

 

 

6 (Kambing)

19.

 

 

23 Juli
09.50 WITA

 

20.

 

7 Agustus
02.23 WITA

 

 

21.

16 Agustus
17.38 WITA

 

 

7 (Monyet)

22.

 

 

23 Agustus
17.01 WITA

 

23.

 

7 September
05.27 WITA

 

 

24.

15 September
09.39 WITA

 

 

8 (Ayam)

25.

 

 

23 September
14.50 WITA

 

26.

 

8 Oktober
21.16 WITA

 

 

27.

15 Oktober
01.55 WITA

 

 

9 (Anjing)

28.

 

 

24 Oktober
00.21 WITA

 

29.

 

8 November
00.36 WITA

 

 

30.

13 November
17.27 WITA

 

 

10 (Babi)

31.

 

 

22 November
22.03 WITA

 

32.

 

7 Desember
17.33 WITA

 

 

33.

13 Desember
07.32 WITA

 

 

11 (Tikus)

34.

 

 

22 Desember
11.27 WITA

 

35.

 

6 Januari
04.49 WITA

 

 

36.

11 Januari
19.57 WITA

 

 

12 (Kerbau)

37.

 

 

20 Januari
22.07 WITA

 

38.

 

4 Februari
16.27 WITA

 

 

39.

10 Februari
06.59 WITA

 

 

1 (Macan)

Dari tabel di atas terlihat bahwa di antara dua Bulan baru yang jatuh pada 22 Maret dan 20 April 2023, hanya terdapat 1 chi yakni pada 5 April. 22 Maret inilah yang akan menjadi bulan kabisat 2 dan setelah bulan tersebut, dinomori dengan bulan ketiga, keempat dan seterusnya.

Penomoran tahun dalam Kalender Imlek menggunakan aturan yang berbeda-beda dan belum ada satu kesepakatan bersama di seluruh dunia. Sejak dinasti Shang (1600 – 1046 Sebelum Masehi), penomoran tahun menggunakan sistem sexagesimal (60 tahun) yang merupakan kombinasi dari 12 cabang Bumi dan 10 bantang langit. Sistem sexagesimal ini masih digunakan sampai sekarang untuk menamai tahun Imlek yang oleh masyarakat sering salah kaprah menyebutnya sebagai SHIO atau ZODIAK CINA. Padahal, sistem sexagesimal juga digunakan untuk menamai bulan, tanggal dan jam. Berikut nama-nama tahun dalam siklus sexagesimal.

Tabel 4. Nama-Nama Tahun Sexagesimal (“SHIO”).

Penomoran tahun menggunakan angka untuk kalender Imlek terdiri dari lima sistem yang berbeda:

  • Tahun Huangdi: menggunakan epoh awal kekuasaan Kaisar Kuning (2697 SM), 2021 = tahun 4719 era Huangdi
  • Tahun Yao: menggunakan epoh awal kekuasaan Kaisar Yao (2156 SM), 2021 = tahun 4177 era Yao
  • Tahun Gonghe: menggunakan epoh awal Kadipaten Gonghe (841 SM), 2021 = tahun 2862 era Gonghe
  • Tahun Konfusius: menggunakan epoh kelahiran Kongfuzi (551 SM), 2021 = tahun 2572 era Kongfuzi (digunakan di Asia Tenggara termasuk Indonesia)
  • Tahun Qin: menggunakan epoh awal kekuasaan Kaisar Qin (221 SM), 2021 = tahun 2242 era Qin

Meskipun demikian, untuk saat ini, di Tiongkok menggunakan nomor tahun Gregorian dan “shio” (sexagesimal) untuk menamai tahun Imlek. Tahun 2021 ini adalah Tahun Kerbau Logam.

Hari Raya / Festival Kalender Imlek

Ada beberapa hari raya atau festival yang dirayakan baik menggunakan Kalender Imlek maupun Posisi Matahari (24 Chi). Berikut ini hari raya yang umumnya dirayakan oleh etnis Tionghoa di seluruh dunia.

  • Xincia (Tahun Baru Imlek, Seollal di Korea) = Tanggal 1 Bulan 1

  • Capgomeh (Festival Lampion, Daeboreum di Korea) = Tanggal 15 Bulan 1

  • Shangshi (Samjinnal di Korea) = Tangal 3 Bulan 3 --> Hinnamatsuri (3 Maret) di Jepang

  • Festival Qingming (Hansik di Korea) = 5 April atau ketika Chi Langit Cerah (Qingming)

  • Duanwu (Peh Cun, Festival Perahu Naga) = Tanggal 5 Bulan 5 --> Surinal di Korea

  • Qixi (Hari Kasih Sayang, Chilseok di Korea) = Tanggal 7 Bulan 7 --> Tanabata (7 Juli) di Jepang, terkait dengan mitologi pertemuan Altair dan Vega yang terpisah oleh Bimasakti

  • Ulambana / Zhongyuan (Festival Bulan Hantu) = Tanggal 15 Bulan 7

  • Festival Musim Gugur / Festival Kue Bulan = Tanggal 15 Bulan 8

  • Chongyang (Hari Lansia) = Tanggal 9 Bulan 9 --> Kiku no Sekku (Festival Bunga Krisan, 9 September) di Jepang

  • Festival Musim Dingin / Dongzhi = 21 Desember atau ketika Solstis Musim Dingin

  • Festival Laba = Tanggal 8 Bulan 12 (Layue) --> Rohatsu (8 Desember) di Jepang

  • Festival Zao Jun (Dewa Tungku) = Sepekan sebelum Tahun Baru Imlek (Tanggal 23/24 Bulan 12)

  • Malam tahun baru Imlek = Sehari sebelum Tahun Baru Imlek (Tanggal 29/30 Bulan 12)

Selamat Merayakan Tahun Baru Imlek bagi Sahabat yang merayakannya. Semoga keberuntungan dan umur panjang menyertai kita semua! Gong Xi Fa Chai, Xin Nian Guai Le!

Comments