Mengenal Kalender Saka Bali

Oleh Andi Pangerang
17 Maret 2021

Halo Sahabat Edusainsa semua!

Tiga hari lalu, Sahabat yang beragama Hindu telah memperingati Hari Raya Nyepi yang jatuh pada awal tahun Saka. Awal tahun Saka ini selalu jatuh berubah-ubah setiap tahunnya jika menggunakan kalender Masehi. Bagaimana tinjauan kalender Saka dalam astronomi? Mari kita simak ulasannya.

Kalender Saka, atau terkadang disebut juga Penanggalan Salihwana merupakan kalender yang berasal dari India. Sistem kalender ini menggabungkan dua penanggalan yakni penanggalan berbasis Bulan (candrakala/kamariah/lunar) maupun penanggalan berbasis Matahari (suryakala/syamsiah/solar) sehingga penanggalan ini termasuk ke dalam penanggalan lunisolar/surya-candrakala/syamsi-kamariah. Era Saka dimulai pada tahun 78 Masehi. Saat ini, kita sudah memasuki tahun 1943 Saka. Bagaimana struktur penanggalan Saka secara umum?

Sebagaimana kalender pada umumnya, kalender Saka terdiri dari tahun, bulan, pekan dan hari.

Penamaan Hari

Dalam kalender Saka, pergantian hari dimulai ketika terbit Matahari sekitar pukul enam pagi waktu setempat. Variasi waktu terbit Matahari bergantung pada letak geografis suatu lokasi yang dijadikan acuan.

Nama-nama hari dibagi berdasarkan jumlah hari dalam satu minggu atau disebut sebagai wewaran. Wewaran terbagi menjadi 11:

Ekawara (hari yang dinamai hanya ada satu):
  • Luang (tunggal),

  • sedangkan hari yang tidak dinamai diberi tanda hubung (-).

Dwiwara (hari yang dinamai ada dua):
  • Menga (terbuka) dan

  • Pepet (tertutup)

Triwara (hari yang dinamai ada tiga):
  • Pasah/Dora (tersisih),

  • Beteng/Waja (makmur),

  • Kaajeng/Byantara (termangsa).

Caturwara (hari yang dinamai ada empat):
  • Sri (kemakmuran),

  • Laba (keuntungan/pemberian),

  • Jaya (unggul/menang),

  • Menala/Mandala (berputar)

Pancawara/Pasaran (hari yang dinamai ada lima):
  • Umanis (rasa),

  • Paing/Jenar (cipta),

  • Pon/Palguna (hidup),

  • Wage/Cemengan (angan-angan),

  • Keliwon/Kasih (akal budi)

Sadwara/Paringkelan (hari yang dinamai ada enam, dinamai berdasarkan ringkel/nahas*):
  • Tungleh (musnah/tak kekal, bisa bermakna daun),

  • Aryang (kurus, bisa bermakna manusia),

  • Urukung (punah, bisa bermakna hewan),

  • Paniron (gemuk, bisa bermakna unggas/burung),

  • Was (kuat, bisa bermakna ikan),

  • Maulu (bertumbuh, bisa bermakna biji)

*meskipun begitu, di kalender Saka Bali juga dikenal ringkel/ingkel mingguan yang juga terdiri dari enam ingkel dengan urutan yang berbeda dengan urutan ingkel harian: Taru (daun), Buku (tanaman beruas), Wong (orang/manusia), Sato (satwa/hewan), Mina (ikan), Manuk (unggas/burung)
 
Saptawara/Padinan (jari yang dinamai ada tujuh):
  • Radite/Raditya/Ravivar
    (Sunday / Sun’s Day (Hari Mentari) --> Ahad/Minggu),

  • Soma/Somvar
    (Monday / Moon’s Day (Hari Rembulan) --> Senin),

  • Anggara/Manggala/Mangalavar
    (Tuesday / Tiw’s Day (Hari Mars) --> Selasa),

  • Buda/Budha/Budhavar
    (Wednesday / Odin’s Day (Hari Merkurius) --> Rabu),

  • Wrespati/Brihaspati/Brihaspativar
    (Thursday / Thor’s Day (Hari Jupiter) --> Kamis),

  • Sukra/Shukravar
    (Friday / Freya’s Day (Hari Venus) --> Jumat),

  • Tumpek/Saniscara/Shanivar
    (Saturday / Saturn’s Day (Hari Saturnus) --> Sabtu)

Astawara/Padewan (hari yang dinamai ada delapan, dinamai dari nama-nama dewa)
  • Sri berarti makmur (pengatur); Bhatari Giriputri

  • Indra berarti indah (penggerak); Sanghyang Indra

  • Guru berarti tuntunan (penuntun); Sanghyang Guru

  • Yama berarti adil (keadilan); Sanghyang Yamadipati

  • Ludra berarti peleburan; Sanghyang Rudra

  • Brahma berarti pencipta; Sanghyang Brahma

  • Kala berarti nilai; Sanghyang Kalantaka

  • Uma berarti pemelihara/peneliti; Bhatari Umayi

Sangawara/Padangon (hari yang dinamai ada Sembilan,  dinamai dari sembilan keperluan manusia*)
  • Dangu artinya antara terang dan gelap, Bhuta Urung.
    Bisa bermakna batu (dangu)

  • Jangur artinya antara jadi dan batal, Bhuta Pataha.
    Bisa bermakna harimau (jagur)

  • Gigis artinya sederhana, Bhuta Jirek.
    Bisa bermakna Bumi (gigis)

  • Nohan artinya gembira, Bhuta Raregek.
    Bisa bermakna Rembulan (Nohan)

  • Ogan artinya bingung, Bhuta Jingkrak.
    Bisa bermakna ular (wogan)

  • Erangan artinya dendam, Bhuta Jabung.
    Bisa bermakna Mentari (kerangan)

  • Urungan artinya batal, Bhuta Kenying.
    Bisa bermakna api (wurung)

  • Tulus artinya langsung, Sanghyang Saraswati.
    Bisa bermakna air (tulus)

  • Dadi artinya jadi, Sanghyang Dharma.
    Bisa bermakna kayu (dadi)

*urutan sangawara dalam pawukon Jawa dengan wariga Bali terdapat sedikit perbedaan, setelah “gigis” diikuti dengan “kerangan”,”nohan”,”wogan”,”tulus”,”wurung” kemudian diakhiri dengan “dadi”. Sehingga hanya tiga pertama dan satu terakhir saja lah yang urutannya sama seperti sangawara dalam wariga Bali.
 
Dasawara / Pawatekan (hari yang dinamai ada sepuluh, berdasarkan sepuluh sifat dasar manusia)
  • Pandita artinya bijaksana
    seperti pemuka agama (pandhita)

  • Pati artinya tegas/dinamis

  • Suka artinya gembira/periang

  • Duka artinya mudah tersinggung, tetapi berjiwa seni

  • Sri artinya feminim, halus

  • Manuh artinya menurut
    seperti burung

  • Manusa artinya mempunyai rasa sosial
    seperti manusia

  • Raja artinya mempunyai jiwa kepemimpinan
    seperti raja

  • Dewa artinya mempunyai budi pekerti luhur
    seperti dewa

  • Raksasa artinya mempunyai jiwa keras dan tanpa pertimbangan
    seperti raksasa

Penentuan urutan nama-nama hari dapat disimak setelah penjelasan tentang penamaan pekan/minggu.
 

Penamaan Pekan/Minggu

Pekan atau minggu disini merujuk kepada minggu yang terdiri dari tujuh hari (saptawara). Ada dua penamaan pekan dalam kalender Saka Bali: Wuku dan Ingkel
Ada tiga puluh wuku yang dikenal, dinamai berdasarkan 28 putra hasil dari perkawinan antara Prabu Watugunung dan Sinta, ditambah dengan nama Prabu Watugunung dan Sinta itu sendiri sehingga menjadi genap berjumlah tiga puluh. Berikut nama-nama wuku beserta nama hari pada awal dan akhir wuku:
  • Sinta - Batara Yama (Ahad Pahing - Sabtu Pon).

    Dalam minggu ini pada hari Rabu Kliwon adalah Hari Raya Pagerwesi yang dianggap suci oleh orang Bali. Hari raya tersebut dirayakan untuk memuliakan Ida Sanghyang Widhi Wasa dengan manifestasinya sebagai Sanghyang Pramesti Guru (Tuhan sebagai guru alam semesta)
  • Landep - Batara Mahadewa (Ahad Wage - Sabtu Kliwon)

  • Wukir, Ukir - Batara Mahayakti (Ahad Legi - Sabtu Pahing)

  • Kurantil, Kulantir - Batara Langsur (Ahad Pon - Sabtu Wage)

  • Tolu, Toulu - Batara Bayu (Ahad Kliwon - Sabtu Legi)

  • Gumbreg - Batara Candra (Ahad Pahing - Sabtu Pon)

  • Warigalit, Wariga - Batara Asmara (Ahad Wage - Sabtu Kliwon)

  • Warigagung, Warigadian - Batara Maharesi (Ahad Legi - Sabtu Pahing)

  • Julungwangi, Julangwangi - Batara Sambu (Ahad Pon - Sabtu Wage)

  • Sungsang - Batara Gana Ganesa (Ahad Kliwon - Sabtu Legi)

  • Galungan, Dungulan - Batara Kamajaya (Ahad Pahing - Sabtu Pon).

    Dalam minggu ini jatuh Hari Raya Galungan pada hari Rabu Kliwon yang dianggap suci oleh orang Bali.
  • Kuningan - Batara Indra. (Ahad Wage - Sabtu Kliwon)

    Dalam minggu ini jatuh Hari Raya Kuningan pada hari Sabtu Kliwon yang dianggap suci oleh orang Bali.
  • Langkir - Batara Kala (Ahad Legi - Sabtu Pahing)

  • Mandasiya, Medangsia - Batara Brahma (Ahad Pon - Sabtu Wage)

  • Julungpujut, Pujut - Batara Guritna (Ahad Kliwon - Sabtu Legi)

  • Pahang - Batara Tantra (Ahad Pahing - Sabtu Pon)

  • Kuruwelut, Krulut - Batara Wisnu (Ahad Wage - Sabtu Kliwon)

  • Marakeh, Merakih - Batara Suranggana (Ahad Legi - Sabtu Pahing)

  • Tambir - Batara Siwa (Ahad Pon - Sabtu Wage)

  • Medangkungan - Batara Basuki (Ahad Kliwon - Sabtu Legi)

  • Maktal - Batara Sakri (Ahad Pahing - Sabtu Pon)

  • Wuye, Uye - Batara Kowera (Ahad Wage - Sabtu Kliwon)

  • Manahil, Menail - Batara Citragotra (Ahad Legi - Sabtu Pahing)

  • Prangbakat - Batara Bisma (Ahad Pon - Sabtu Wage)

  • Bala - Batara Durga (Ahad Kliwon - Sabtu Legi)

  • Wugu, Ugu - Batara Singajanma (Ahad Pahing - Sabtu Pon)

  • Wayang - Batara Sri (Ahad Wage - Sabtu Kliwon)

  • Kulawu, Kelawu - Batara Sadana (Ahad Legi - Sabtu Pahing)

  • Dukut - Batara Baruna (Ahad Pon - Sabtu Wage)

    Pada minggu ini jatuh hari Anggara Kasih atau Selasa Kliwon yang dianggap keramat oleh orang Jawa.
  • Watugunung - Batara Anantaboga (Ahad Kliwon - Sabtu Legi)

    Dalam minggu ini pada hari Sabtu Umanis adalah Hari Raya Saraswati yang dianggap suci oleh orang Bali.

 Untuk penamaan pekan menggunakan ingkel, Sahabat dapat membaca penjelasan tentang sadwara/paringkelan. Dalam satu siklus wuku (atau disebut juga pawukon), terdapat 210 hari sedangkan dalam satu siklus ingkel terdapat 6 x 7 = 42 hari. Sehingga satu siklus pawukon sama dengan lima siklus ingkel. Dengan kata lain, wuku Sinta akan memiliki ingkel yang sama dengan wuku Wariga/Warigalit, Langkir, Tambir dan Bala. Hal ini juga berlaku dengan wuku-wuku lainnya.

Penentuan Urutan Nama-Nama Hari untuk setiap Wewaran

Ada beberapa wewaran yang penamaan harinya sudah urut seperti triwara, caturwara, pancawara, sadwara, saptawara dan dasawara. Hal ini dikarenakan 210 habis dibagi dengan 3, 4, 5, 6, 7 dan 10. Ada kasus khusus seperti pada astawara (8-harian) dan sangawara (9-harian), hal ini dikarenakan 210 tidak habis dibagi oleh delapan melainkan terdapat sisa dua hari. Sisa dua hari inilah yang kemudian pada hari Ahad Pahing Dungulan yang jatuh pada astawara Kala, pada hari Senin Pon Dungulan dan Selasa Wage Dungulan juga dinamai “Kala” sedangkan Rabu Kliwon Dungulan (tepat di Hari Raya Dungulan) meneruskan dari urutan sebelumnya yakni “Uma”. Bilangan 210 juga tidak habis dibagi oleh sembilan melainkan terdapat sisa tiga hari. Sisa tiga hari inilah yang kemudian pada hari Ahad Pahing Sinta yang jatuh pada sangawara Dangu, pada hari Senin Pon, Selasa Wage, dan Rabu Kliwon Sinta (tepat di Hari Raya Pagarwesi) juga dinamai “Dangu” sedangkan Kamis Umanis Sinta meneruskan dari urutan sebelumnya yakni “Jangur”.

Ada juga penamaan hari pada wewaran yang berdasarkan perhitungan neptu/naktu/neton, yakni ekawara dan dwiwara. Sebelum lebih jauh mengenal perhitungan ekawara dan dwiwara, Sahabat perlu mengenal apa itu neptu. Neptu atau naktu atau neton adalah kombinasi angka dalam kalender Bali dan Jawa yang diambil baik dari pancawara, saptawara, bulan dan tahun untuk menentukan baik-buruknya suatu waktu. Memang, ranah ini sudah termasuk ke dalam pseudosains karena tidak terkait dengan sains sama sekali. Akan tetapi pengetahuan ini dapat memperkaya khazanah etnoastronomi di Indonesia. Neptu untuk saptawara diberi nilai minimal 3 dan maksimal 9 sedangkan neptu untuk pancawara diberi nilai minimal 4 dan maksimal 9. Berikut daftar neptu untuk pancawara dan saptawara.

Saptawara: Ahad = 5; Senin = 4; Selasa = 3; Rabu = 7; Kamis = 8; Jumat = 6; Sabtu = 9

Pancawara: Umanis = 5; Pahing = 9; Pon = 7; Wage = 4; Kliwon = 8.

Jika jumlah dari neptu pancawara dan saptawara habis dibagi oleh 2, maka ekawaranya tidak ada (-) dan dwiwaranya menga. Kombinasi yang memungkinkan adalah Senin, Kamis atau Jumat berpasangan dengan Wage atau Kliwon. Selain itu, ada kombinasi lain yang memungkinkan yakni Ahad, Selasa, Rabu, atau Sabtu berpasangan dengan Umanis, Pahing atau Pon. Sehingga ada total (3 x 2) + (4 x 3) = 18 kombinasi dari 35 siklus pancawara-saptawara

Sedangkan, jika jumlah dari neptu pancawara dan saptawara dibagi oleh 2 terdapat sisa 1, maka ekawaranya luang dan dwiwaranya pepet. Kondisi yang memungkinkan adalah Senin, Kamis atau Jumat berpasangan dengan Umanis, Pahing atau Pon. Selain itu, ada kombinasi lain yang memungkinkan yakni Ahad, Selasa, Rabu, atau Sabtu berpasangan dengan Wage dan Kliwon. Sehingga ada total (3 x 3) + (4 x 2) = 17 kombinasi dari 35 siklus pancawara-saptawara. Hal ini secara filosofis menyiratkan bahwa dualitas kosmologi (terbuka-tertutup, gelap-terang, siang-malam, panas-dingin, baik-buruk, maskulin-feminim, dsb.) relatif berimbang dan sedikit didominasi oleh “menga” atau sifat terbuka / baik / maskulin / panas / siang / terang daripada “pepet” atau sifat tertutup / buruk / feminim/ dingin / malam / gelap.

Berikut ini urutan nama-nama hari dalam satu siklus pawukon:

Penamaan Bulan dan Penentuan Tanggal

Dalam kalender Saka Bali, terdapat dua belas bulan (disebut sebagai sasih) yang justru diawali oleh Kedasa (kesepuluh), kemudian diikuti oleh Desta (diambil dari nama bulan Jyestha dalam kalender India) dan Kesada (diambil dari nama bulan Asadha dalam kalender India). Nama-nama bulan berikutnya adalah: Kasa (pertama/kesatu), Karo (kedua), Katelu (ketiga), Kapat (keempat), Kalima (kelima), Kanem (keenam), Kepitu (ketujuh), Kewulu (kedelapan) dan diakhiri oleh Kesanga (kesembilan).

Setiap sasih dibagi menjadi dua dwi-pekan/paro-bulan (dalam Bahasa Sanskrit disebut “paksa”) yakni suklapaksa atau penanggal (paro terang) dan kresnapaksa atau panglong (paro gelap). Paro terang secara astronomis diawali ketika sabit awal pertama (tanggal 1 suklapaksa) dan diakhiri ketika purnama siddhi (tanggal 15 suklapaksa). Sedangkan paro gelap diawali ketika purnama akhir (tanggal 1 kresnapaksa) dan diakhiri ketika tilem/bulan baru (tanggal 15 kresnapaksa). Sehingga dalam satu bulan terdiri dari 30 hari.

Akan tetapi, rata-rata lunasi (periode sinodis Bulan) adalah sebesar 29 hari 12 jam 44 menit 6 detik. Sehingga terdapat kelebihan 11 jam 15 menit 54 detik yang terakumulasi selama 62,9148 bulan menjadi 29 hari 12 jam 44 menit 6 detik atau satu bulan. Dengan kata lain, setiap 62,9148 hari (dibulatkan menjadi 63 hari) terdapat kelebihan satu hari. Oleh karenanya, setiap 63 hari atau 9 wuku sekali dilakukan penghilangan satu hari yang disebut sebagai pangunalatri (dalam Bahasa Bali dikenal sebagai panyongyang hai atau penghilangan hari). Dengan kata lain, ketika suatu tanggal mengalami ngunalatri, maka terdapat dua tanggal candra dalam satu tanggal surya Dalam satu siklus pangunalatri (kembali ke fase Bulan yang sama), terdapat lima belas kali pangunalatri, antara lain (yang dicetak tebal adalah tanggal candra yang dihilangkan):

Pancadasi Pratama --> 15 kresnapaksa –  1 suklapaksa  (15k/1s)

Caturti Dwitiya --> 4 suklapaksa – 5 suklapaksa (4/5s)

Astami Tritiya --> 8 suklapaksa – 9 suklapaksa (8/9s)

Dwadasami Caturta --> 12 suklapaksa – 13 suklapaksa (12/13s)

Pratami Pancama --> 1 kresnapaksa – 2 kresnapaksa (1/2k)

Pancami Sasta --> 5 kresnapaksa – 6 kresnapaksa (5/6k)

Nawami Saptama --> 9 kresnapaksa – 10 kresnapaksa (9/10k)

Trayodasi Astama --> 13 kresnapaksa – 14 kresnapaksa (13/14k)

Dwitiya Nawama --> 2 suklapaksa – 3 suklapaksa (3/4s)

Sasti Dasama --> 6 suklapaksa – 7 suklapaksa (6/7s)

Dasami Ekadasa --> 10 suklapaksa – 11 suklapaksa (10/11s)

Caturdasi Dwadasa --> 14 suklapaksa – 15 suklapaksa (14/15s)

Tritiya Trayodasa --> 3 kresnapaksa – 4 kresnapaksa (3/4k)

Saptami Caturdasa --> 7 kresnapaksa – 8 kresnapaksa (7/8k)

Ekadasi Pancadasa --> 11 kresnapaksa – 12 kresnapaksa (11/12k)

 

15k/1s    sasih pertama / hari ke-0

2s        sasih pertama / hari ke-1



15s       sasih pertama / hari ke-14

1k        sasih pertama / hari ke-15



15k      sasih pertama / hari ke-29

1s      sasih kedua / hari ke-30



15s       sasih pertama / hari ke-44

1k        sasih pertama / hari ke-45



15k      sasih kedua / hari ke-59

1s        sasih ketiga / hari ke-60



4/5s      sasih ketiga / hari ke-63

6s        sasih ketiga / hari ke-64



15s       sasih ketiga / hari ke-73

1k        sasih ketiga / hari ke-74



15k      sasih ketiga / hari ke-88

1s        sasih keempat / hari ke-89



15s       sasih keempat / hari ke-103

1k        sasih keempat / hari ke-104



15k      sasih keempat/ hari ke-118

1s        sasih kelima / hari ke-119



8/9s      sasih kelima / hari ke-126

10s       sasih kelima / hari ke-127



15s       sasih kelima / hari ke-132

1k        sasih kelima / hari ke-133



15k     sasih kelima / hari ke-147

1s        sasih keenam / hari ke-148



15s       sasih keenam / hari ke-162

1k        sasih keenam / hari ke-163



15k      sasih keenam / hari ke-177

1s        sasih ketujuh / hari ke-178



12/13s  sasih ketujuh / hari ke-189

14s       sasih ketujuh / hari ke-190

15s       sasih ketujuh / hari ke-191

1k        sasih ketujuh / hari ke-192



15k      sasih ketujuh / hari ke-206

1s        sasih kedelapan / hari ke-207



15s       sasih kedelapan / hari ke-221

1k        sasih kedelapan / hari ke-222



15k      sasih kedelapan / hari ke-236

1s        sasih kesembilan / hari ke-237



15s       sasih kesembilan / hari ke-251

1/2k     sasih kesembilan / hari ke-252

3k        sasih kesembilan / hari ke-253



15k      sasih kesembilan / hari ke-265

1s        sasih kesepuluh / hari ke-266



15s       sasih kesepuluh / hari ke-280

1k        sasih kesepuluh / hari ke-281



15k      sasih kesepuluh / hari ke-295

1s       sasih kesebelas / hari ke-296



15s      sasih kesebelas / hari ke-310

1k       sasih kesebelas / hari ke-311



5/6k     sasih kesebelas / hari ke-315

7k       sasih kesebelas / hari ke-316



15k      sasih kesebelas / hari ke-324

1s       sasih keduabelas / hari ke-325



15s      sasih keduabelas / hari ke-339

1k       sasih keduabelas / hari ke-340



15k      sasih keduabelas / hari ke-354

1s       sasih ketigabelas / hari ke-355



15s       sasih ketigabelas / hari ke-369

1k        sasih ketigabelas / hari ke-370



9/10k   sasih ketigabelas / hari ke-378

11k      sasih ketigabelas / hari ke-379



15k      sasih ketigabelas / hari ke-383

1s        sasih keempatbelas / hari ke-384



15s      sasih keempatbelas / hari ke-398

1k        sasih keempatbelas / hari ke-399



15k      sasih keempatbelas / hari ke-413

1s        sasih kelimabelas / hari ke-414



15s       sasih kelimabelas / hari ke-428

1k        sasih kelimabelas / hari ke-429



13/14k sasih kelimabelas / hari ke-441

15k      sasih kelimabelas / hari ke-442

1s        sasih keenambelas / hari ke-443



15s      sasih keenambelas / hari ke-457

1k       sasih keenambelas / hari ke-458



15k      sasih keenambelas / hari ke-472

1s        sasih ketujuhbelas / hari ke-473



15s      sasih ketujuhbelas / hari ke-487

1k       sasih ketujuhbelas / hari ke-488



15k      sasih ketujuhbelas / hari ke-502

1s        sasih kedelapanbelas / hari ke-503

2/3s      sasih kedelapanbelas / hari ke-504

4s        sasih kedelapanbelas / hari ke-505



15s       sasih kedelapanbelas / hari ke-516

1k        sasih kedelapanbelas / hari ke-517



15k      sasih kedelapanbelas / hari ke-531

1s        sasih kesembilanbelas / hari ke-532



15s      sasih kesembilanbelas / hari ke-546

1k       sasih kesembilanbelas / hari ke-547



15k      sasih kesembilanbelas / hari ke-561

1s        sasih keduapuluh / hari ke-562



6/7s     sasih keduapuluh / hari ke-567

8s        sasih keduapuluh / hari ke-568



15s      sasih keduapuluh / hari ke-575

1k       sasih keduapuluh / hari ke-576



15k      sasih keduapuluh / hari ke-590

1s        sasih keduapuluhsatu / hari ke-591



15s       sasih keduapuluhsatu / hari ke-605

1k        sasih keduapuluhsatu / hari ke-606



15k      sasih keduapuluhsatu / hari ke-620

1s        sasih keduapuluhdua / hari ke-621



10/11s  sasih keduapuluhdua / hari ke-630

12s       sasih keduapuluhdua / hari ke-631



15s       sasih keduapuluhdua / hari ke-634

1k        sasih keduapuluhdua / hari ke-635



15k       sasih keduapuluhdua / hari ke-649

1s        sasih keduapuluhtiga / hari ke-650



15s       sasih keduapuluhtiga / hari ke-664

1k        sasih keduapuluhtiga / hari ke-665



15k      sasih keduapuluhtiga / hari ke-679

1s        sasih keduapuluhempat / hari ke-680



14/15s  sasih keduapuluhempat / hari ke-693

1k        sasih keduapuluhempat / hari ke-694



15k      sasih keduapuluhempat / hari ke-708

1s        sasih keduapuluhlima / hari ke-709



15s       sasih keduapuluhlima / hari ke-723

1k        sasih keduapuluhlima / hari ke-724



15k      sasih keduapuluhlima / hari ke-738

1s        sasih keduapuluhenam / hari ke-739



15s       sasih keduapuluhenam/ hari ke-753

1k        sasih keduapuluhenam / hari ke-754

2k        sasih keduapuluhenam / hari ke-755

3/4k      sasih keduapuluhenam / hari ke-756

5k        sasih keduapuluhenam / hari ke-757



15k      sasih keduapuluhenam / hari ke-767

1s        sasih keduapuluhtujuh / hari ke-768



15s       sasih keduapuluhtujuh / hari ke-792

1k        sasih keduapuluhtujuh / hari ke-793



15k      sasih keduapuluhtujuh / hari ke-807

1s        sasih keduapuluhdelapan / hari ke-808



15s       sasih keduapuluhdelapan / hari ke-822

1k        sasih keduapuluhdelapan / hari ke-823



7/8k     sasih keduapuluhdelapan / hari ke-829

9k        sasih keduapuluhdelapan / hari ke-830



15k      sasih keduapuluhdelapan / hari ke-836

1s        sasih keduapuluhsembilan / hari ke-837



15s       sasih keduapuluhsembilan / hari ke-851

1k        sasih keduapuluhsembilan / hari ke-852



15k      sasih keduapuluhsembilan / hari ke-866

1s        sasih ketigapuluh / hari ke-867



15s       sasih ketigapuluh / hari ke-871

1k        sasih ketigapuluh / hari ke-872



11/12k sasih ketigapuluh / hari ke-882

13k      sasih ketigapuluh / hari ke-883

14k      sasih ketigapuluh / hari ke-884

15k      sasih ketigapuluh / hari ke-885

1s        sasih ketigapuluhsatu / hari ke-886



15s       sasih ketigapuluhsatu / hari ke-900

1k        sasih ketigapuluhsatu / hari ke-901



15k      sasih ketigapuluhsatu / hari ke-915

1s        sasih ketigapuluhdua / hari ke-916



15s       sasih ketigapuluhdua / hari ke-930

1k        sasih ketigapuluhdua / hari ke-931



14k      sasih ketigapuluhdua / hari ke-944

15k/1s sasih ketigapuluhtiga / hari ke-945

Sehingga dalam satu siklus pangunalatri terdapat (15 x 63) = 945 hari yang setara dengan 32 sasih. Akan tetapi satu siklus pangunalatri ini terdapat kelebihan 15 wuku (105 hari), sehingga siklus pangunalatri dapat bertemu dengan siklus pawukon setelah 1890 hari atau 270 wuku atau 64 sasih atau 30 pangunalatri atau 9 pawukon. Siklus ini kemudian disebut sebagai siklus pangunalatri-pawukon.

Siklus pangunalatri ini membuat rata-rata satu sasih menjadi (945 : 32) = 29 hari 12 jam 45 menit. Ada kelebihan 54 detik setiap 1 sasih. Kelebihan 54 detik ini terakumulasi menjadi satu hari (24 jam) setelah (86400 : 54) = 1600 sasih atau 750 pangunalatri atau 225 pawukon atau 50 siklus pangunalatri atau setara dengan 47250 hari atau 129,3662 tahun (jika 1 tahun = 365 hari 5 jam 48 menit 45,78 detik). Oleh karenanya, penghilangan satu hari ini dilakukan setiap 50 siklus pangunalatri. Penghilangan satu hari inilah yang disebut sebagai pangalantaka. Untuk pangalantaka saat ini adalah Eka Sungsang ka Anggara Pahing setelah sebelumnya Eka Sungsang ka Buda Pon yang dilakukan pada 3 November 1998. Pangalantaka berikutnya akan dilakukan pada tahun 2128 Masehi atau 2050 Saka.

Penentuan Bulan Kabisat

Rata-rata satu tahun surya adalah 365 hari 5 jam 48 menit 45,78 detik, sedangkan rata-rata satu tahun candra adalah (29 hari 12 jam 44 menit 6 detik x 12) = 354 hari 8 jam 49 menit 12 detik. Sehingga selisih keduanya bisa mencapai 10 hari 21 jam. Selisih ini terakumulasi menjadi satu sasih setelah 33,5864 sasih atau 2,7155 tahun. Oleh karenanya, perlu dilakukan penyisipan bulan kabisat atau disebut juga nampih sasih. Nampih sasih ini dilakukan untuk menyelaraskan antara penanggalan surya dengan penanggalan candra. Dalam 19 tahun, terdapat nampih sasih sebanyak tujuh kali. Sehingga, terdapat dua kali nampih sasih berdekatan yang berjarak dua tahun (diperoleh 3 tahun x 7 – 19 tahun). Hal ini sesuai dengan siklus Meton dalam astronomi yang mana urutan tahun kabisat (K) dan basitahnya (B) adalah sebagai berikut: BBKBBKBBKBK BBKBBKBK.

Bulan kabisat dalam kalender Bali biasanya disisipkan setelah bulan Desta dan Kesada, hal ini sedikit berbeda dengan bulan kabisat pada kalender Buddha yang selalu disisipkan setelah bulan Kesada. Metode ini disebut juga sebagai nampih sasih berkesinambungan. Pada dasarnya kalender Buddha dengan kalender Saka adalah satu rumpun kalender yang sama, akan tetapi kalender Saka mengalami pemunduran pergantian tahun (isakawarsa) dari semula bulan Caitra (atau bulan kesembilan) menjadi bulan Waisaka (bulan kesepuluh). Meskipun demikian, ada metode lain yakni nampih sasih berkeseimbangan dengan artian, nampih sasih tidak selalu disisipkan hanya pada bulan Desta dan Kesada saja, melainkan dapat disisipkan juga di bulan Karo dan Kanem. Hal ini dimaksudkan agar Purnama Kedasa, Purnama Kasa, Purnama Kapat dan Purnama Kapitu selalu jatuh beriringan maupun setelah empat titik musim: Ekuinoks Maret/Menaik (Kedasa), Solstis/Titik Balik Juni/Utara (Kasa), Ekuinoks September/Menurun (Kapat), Solstis/Titik Balik Desember/Selatan (Kapitu).

Menentukan Tanggal Hari Raya Nyepi

Bagi Sahabat yang ingin mengetahui kapankah Hari Raya Nyepi pada setiap tahunnya, dapat mengikuti langkah-langkah perhitungan sebagai berikut:

1. Pertama-tama,
    bagilah angka tahun dengan 19
    misal, 1943 dibagi 19 menghasilkan 102.
    102 adalah A

2. Kemudian, sisa pembagian tersebut adalah 5.
    5 adalah B

3. Kalikan A dengan 235 (jumlah bulan dalam 19 tahun lunisolar)
    102 dikali 235 menghasilkan 23970.
    23970 adalah C.

4. Kemudian jumlahkan B dengan 13, menghasilkan 18.
    Kalikan 18 dengan 235, menghasilkan 4230
    Bagilah 4230 dengan 19, menghasilkan 222.
    222 adalah D

5. Jumlahkan C dan D kemudian jumlahkan dengan 83
   23970 ditambah 222 ditambah 83 menghasilkan 24275.
   24275 adalah E, yang merupakan banyaknya sasih (bulan) sejak 21 Maret 79 M

6. Bagilah E dengan 1600
    (Pengalantaka** dilakukan setiap 1600 bulan atau 129,36 tahun sekali)
    24275 dibagi 1600 menghasilkan 15.
    15 adalah F

7. Kemudian, sisa pembagian tersebut adalah 275.
    275 adalah G

8. Kalikan F dengan 47249, menghasilkan 708735.
    708735 adalah H

9. Tambahkan G dengan 57, menghasilkan 332
    Kalikan dengan 2835, menghasilkan 941220
    Bagilah 941220 dengan 96, menghasilkan 9804.
    9804 adalah I

10. Jumlahkan H dan I kemudian kurangkan dengan 9242
     708735 ditambah 9804 dikurangi 9242 menghasilkan 709297.
     709297 adalah J yang merupakan banyaknya hari sejak 21 Maret 79 M

11. Jumlahkan J dengan 1749991, menghasilkan 2459288.
     2459288 adalah K yang merupakan Julian Date (banyaknya hari sejak 1 Januari 4713 SM)

12. Jika K lebih besar atau sama dengan 2299161 (Julian Date untuk tanggal 15 Oktober 1582 M),
     Kurangkan K dengan 1867216,25 (Julian Date untuk 28 Februari 400 M pukul 18 Universal Time)

     2459288 lebih besar dari 2299161,
     sehingga 2459288 dikurangi 1867216,25 menghasilkan 591971,75

13. Bagilah 591971,75 dengan 36524,25 (umur 1 Abad Gregorian) dan ambil bilangan bulatnya sehingga menghasilkan 16.
      16 adalah L

14. Tambahkan L dengan 1, menghasilkan 17
      Bagilah L dengan 4 dan ambil bilangan bulatnya sehingga menghasilkan 4
      Kurangkan 17 dengan 4, menghasilkan 13.
      13 adalah M (Koreksi Julian-Gregorian)

15. Jika K lebih kecil dari 2299161, maka L dan M tidak perlu dihitung.

16. Tambahkan K dengan M. 2459288 ditambah 13 menghasilkan 2459301.
      2459301 adalah N

17. Kemudian tambahkan 2459301 dengan 1524 sehingga menghasilkan 2460825.
      2460825 adalah O

18. Kurangkan O dengan 122,1
      2460825 dikurangi 122,1 menghasilkan 2460702,9.
      Bagilah 2460702,9 dengan 365,25 dan ambil bilangan bulatnya sehingga menghasilkan 6737.
      6737 adalah P (Jumlah tahun sejak 4716 SM)

19. Kalikan P dengan 365,25 dan ambil bilangan bulatnya
      sehingga menghasilkan 2460689.
      2460689 adalah Q

20. Kurangkan O dengan Q
      2460825 dikurangi 2460689 menghasilkan 136.
      136 adalah R

21. Kemudian bagilah R dengan 30,6 dan ambil bilangan bulatnya sehingga menghasilkan 4.
      4 adalah S

22. Jika S lebih besar dari 13, kurangkan P dengan 4716.
     6737 dikurangi 4716 menghasilkan 2021.
     Kemudian kurangkan S dengan 1
     4 dikurangi 1 menghasilkan 3 (Maret)

23. Namun jika S kurang dari 14, kurangkan P dengan 4175 kemudian kurangkan S dengan 13.

24. Kalikan S dengan 30,6 dan ambil bilangan bulatnya,
      sehingga menghasilkan 122.
      122 adalah T

25. Kurangkan R dengan T,
      136 dikurangi 122 menghasilkan 14.

Sehingga Hari Raya Nyepi 1943 Saka jatuh pada 14 Maret 2021 Masehi.

Kalimat di atas jika disusun menjadi suatu rangkaian rumus, maka dapat menjadi sebagai berikut:

A = int(Tahun Saka : 19)
B = Tahun Saka mod 19
C = 235 x A
D = int(2835 : 19 x (B + 13))
E = C + D + 83
F = int(E : 1600)
G = E mod 1600
H = 47279 x F
I = int(2835 : 96 x (G + 57))

Balinese Date
J = H + I − 9242

Julian Date
K = 1749991 + J

if K ≥ 2299161
L = int((K − 1867216,25) : 36524,25)
M = L + 1 − int(L : 4)
N = K + M
else
L = 0
M = 0
N = K

O = N + 1524
P = int((O − 122,1) : 365,25)
Q = int(365,25 x P)
R = O − Q
S = int(R : 30,6)
T = int(30,6 x S)

if S > 13
Tahun Masehi = P − 4716
Bulan Masehi = S − 1
else
Tahun Masehi = P − 4715
Bulan Masehi = S − 13

Tanggal Masehi = R − T

Berikut daftar hari raya Nyepi untuk 20 tahun ke depan:
1944 : 2 April 2022, Sabtu Pon Sinta
1945 : 22 Maret 2023, Rabu Pahing Wuye
1946 : 11 Maret 2024, Senin Pahing Langkir
1947 : 29 Maret 2025, Sabtu Kliwon (Tumpek) Warig_alit
1948 : 19 Maret 2026, Kamis Kliwon Klawu
1949 : 8 Maret 2027, Senin Wage Tambir
1950 : 26 Maret 2028, Minggu Pon Mandasia
1951 : 15 Maret 2029, Kamis Pahing Kurantil
1952 : 5 Maret 2030, Selasa Pahing Bala
1953 : 24 Maret 2030, Senin Manis Medangkungan
1954 : 12 Maret 2032, Jumat Kliwon Sungsang
1955 : 31 Maret 2033, Kamis Wage Toulu
1956 : 20 Maret 2034, Senin Pon Wugu
1957 : 10 Maret 2035, Sabtu Pon Pahang

1958 : 28 Maret 2036, Jumat Pahing Galungan

(hari ketiga Galungan)
Tawur Kesanga bertepatan dengan hari kedua Galungan***.

1959 : 17 Maret 2037, Selasa Manis Landep
1960 : 6 Maret 2038, Sabtu Kliwon (Tumpek) Wuye
1961 : 25 Maret 2039, Jumat Wage Kruwelut
1962 : 14 Maret 2040, Rabu Wage Warig_ageng
1963: 2 April 2041, Selasa Pon Wukir

Selamat mencoba!

*Panglong atau Kresnapaksa (sunda: Paropoek, inggris: Waxing fortnight) merupakan 
fase Bulan ketika cahaya bulan menyusut setelah Purnama hingga menuju Tilem
(Bulan mati, New Moon)

**Pengalantaka adalah sistem penentuan Tilem dan Purnama sekaligus penyesuaian
musim dalam Kalender Bali. Normalnya adalah setiap 128 tahun surya sekali.
Dalam hitungan ini, Pengalantaka dibuat setiap 1600 sasih (bulan) atau
129 tahun ditambah 4-5 sasih.
Pengalantaka saat ini adalah Eka Sungsang ka Selasa Pahing yang dimulai
sejak 6 Januari 2004 (dengan menghilangkan 1 hari pada tanggal
3 November 1998 yang disebut juga Ngunalatri). Dua pengalantaka
sebelumnya yakni Eka Sungsang ka Rabu Pon dan Eka Sungsang ka Kamis Wage
terjadi pada 27 Agustus 1874 dan 16 April 1745.
Pengalantaka pada awal kalender Saka adalah Eka Kuningan ka Rabu Pahing
yang kemudian mengalami pengubahan sejak 5 Desember 192 M menjadi
Eka Kuningan ka Selasa Manis

***Kejadian ini terjadi terakhir kali pada 11 Maret 2005 (Nyepi 1927 Saka)
dan tidak akan terulang kembali. Namun akan terjadi Hari Ngembak Geni
(sehari setelah Nyepi) yang bertepatan dengan Penampahan Galungan
(sehari sebelum Galungan) yakni pada 14 Maret 2078 (Nyepi 2000 Saka)
dan 1 April 2109 (Nyepi 2031 Saka)

Comments


  • 21 March 2021 | 16:43 Hendrian Thomas

    Dimanakah posisi peletakan koreksi pangalantaka pada siklus ngunalatri tsb

    • 22 March 2021 | 11:38 Admin Edusainsa

      sebelum tilem kanem. untuk eka sungsang ka anggara kasih dilakukan di tanggal 3 november 1998

  • 21 March 2021 | 16:46 Hendrian Thomas

    Jadi awal bulan dalam kalender bali dimulai sejak hari terjadinya ijtimak atau hari sesudahnya dan awal siklus ngunalatri itu dimulai dari tanggal 1s 15s1k atau 2s

    • 22 March 2021 | 11:39 Admin Edusainsa

      siklus ngunalatri dimulai dari 15k-1s dan awal bulan di kalender bali diawali dari 1s kadasa