Mentari Terbit di Utara? Bisa Diamati Tetapi Bukan di Indonesia!

Oleh Andi Pangerang
18 Juni 2021

Halo Sahabat Edusainsa semuanya! Beredar kabar bahwa Matahari terbit dari Utara di Jeneponto, Sulawesi Selatan. Benarkah demikian? Berikut ulasan astronomisnya.

Bumi setiap harinya mengelilingi Matahari pada bidang edar yang disebut sebagai ekliptika. Ketika Bumi mengelilingi Matahari, Bumi juga berputar pada porosnya dengan kemiringan 66,5° terhadap ekliptika atau 23,5° terhadap sumbu kutub langit utara. Hal inilah yang menyebabkan posisi Matahari tidak selalu berada di ekuator ketika tengah hari melainkan berada di sebelah utara maupun selatan ekuator. Ketika Matahari berada paling utara dari ekuator ketika tengah hari, fenomena ini disebut sebagai Solstis Juni. Sedangkan, ketika Matahari berada paling selatan dari ekuator ketika tengah hari, fenomena ini disebut sebagai Solstis Desember. Garis lintang yang mana Matahari berada tepat di atas kepala ketika Solstis Juni disebut sebagai Garis Balik Utara (Tropic of Cancer), terletak di 23,5°LU. Kota yang dilalui GBU ini misalkan Muscat di Oman. Sedangkan, garis lintang yang mana Matahari berada tepat di atas kepala ketika Solstis Desember disebut sebagai Garis Balik Selatan (Tropic of Capricorn), terletak di 23,5°LS. Kota yang dilalui GBS ini misalkan Sao Paulo di Brazil.


Gambar 1. Lintasan Semu Tahunan Matahari. Dokumentasi Pribadi

 

Selain itu, jika diamati dari Bumi, Matahari tidak selalu terbit tepat di arah Timur dan tidak selalu terbit tepat di arah Barat. Untuk daerah ekuator seperti Pontianak, Matahari terbit di antara arah Timur-Timur Laut hingga Timur-Tenggara seperti yang terlihat pada diagram berikut:

Gambar 2. Lintasan Semu Harian Matahari untuk Ekuator Bumi.
Sumber: http://andrewmarsh.com/apps/releases/sunpath2d.html

 

Terlihat pada gambar, garis merah tebal adalah lintasan Matahari ketika Solstis Juni sedangkan garis kuning tebal adalah lintasan Matahari ketika Solstis Desember. Ketika Solstis Juni, Matahari terbit di arah Timur-Timur Laut (arah di antara Timur dan Timur Laut). Sementara itu, ketika Solstis Desember, Matahari terbit di arah Timur-Tenggara (arah di antara Timur dan Tenggara). Lalu, bagaimana dengan Jeneponto?

Jeneponto secara geografis terletak di 5,64°LS dan 119,71°BT. Diagram lintasan Mataharinya dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 3. Lintasan Semu Harian Matahari untuk Jeneponto.
Sumber: http://andrewmarsh.com/apps/releases/sunpath2d.html

 

Terlihat pada gambar, Matahari terbit dari arah Timur-Timur Laut ketika Solstis Juni dan terbit dari arah Timur-Tenggara ketika Solstis Desember. Sedangkan, pada pukul 10.00 WITA, posisi Matahari sudah berada di arah Timur Laut dengan ketinggian 48°. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa MATAHARI TIDAK TERBIT DARI ARAH TIMUR LAUT MAUPUN UTARA UNTUK JENEPONTO KETIKA SOLSTIS JUNI.

Bagaimana dengan daerah paling utara di Indonesia yakni Kota Sabang? Kota Sabang secara geografis terletak di 5,89° dan 95,32°BT. Diagram lintasan Mataharinya dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 4. Lintasan Semu Harian Matahari untuk Sabang.
Sumber: http://andrewmarsh.com/apps/releases/sunpath2d.html

 

Terlihat pada gambar, Matahari terbit dari arah Timur-Timur Laut ketika Solstis Juni dan terbit dari arah Timur-Tenggara ketika Solstis Desember. Sedangkan, sekitar pada pukul 11.30 WIB, posisi Matahari sudah berada di arah Timur Laut dengan ketinggian 65°. Ketiga tempat tadi mewakili Indonesia belahan Utara (Sabang), Ekuator (Pontianak) dan belahan Selatan (Jeneponto). Sehingga, dapat disimpulkan bahwa MATAHARI TIDAK TERBIT DARI ARAH TIMUR LAUT MAUPUN UTARA UNTUK INDONESIA PADA UMUMNYA MELAINKAN DI ANTARA TIMUR-TIMUR LAUT DAN TIMUR-TENGGARA.

Lalu, wilayah mana sajakah yang dapat menyaksikan Matahari terbit baik di Timur Laut maupun Utara ketika Solstis Juni?

Wilayah yang terletak di antara 43°LU hingga 60°LU memungkinkan untuk dapat menyaksikan Matahari terbit dari arah Timur Laut (33,75°-56,25°) ketika Solstis Juni. Negara yang termasuk dalam wilayah ini antara lain: Amerika Serikat bagian Utara, Kanada, seluruh Eropa (kecuali Albania, Yunani dan Siprus), Rusia, Kazakhstan, Uzbekistan, Mongolia, Tiongkok bagian Utara serta Hokaido (Jepang).

Hal ini juga berlaku untuk wilayah yang terletak di antara 45°LS hingga 62°LS seperti Argentina dan Chile bagian Selatan, Pulau Selatan Selandia Baru, Kepulauan Malvinas dan Tierra del Fuego (Tanah Api). Meskipun berada di belahan Bumi Selatan, Matahari tetap dapat memungkinkan untuk terbit dari arah Timur Laut.

Gambar 5. Lintasan Semu Harian Matahari untuk Lithuania
Sumber: http://andrewmarsh.com/apps/releases/sunpath2d.html

Gambar 6. Lintasan Semu Harian Matahari untuk Malvinas
Sumber: http://andrewmarsh.com/apps/releases/sunpath2d.html

 

Wilayah yang terletak di antara 60°LU hingga 65°LU memungkinkan untuk dapat menyaksikan Matahari terbit dari arah Utara-Timur Laut (11,25°-33,75°) ketika Solstis Juni. Negara yang termasuk dalam wilayah ini antara lain: Kanada bagian Utara, Alaska, Greenland, Islandia, Norwegia, Swedia, Finlandia dan Rusia bagian Utara (termasuk di dalamnya Kawasan Siberia dan Bering). Hal ini berlaku juga untuk belahan Bumi Selatan, yakni wilayah yang terletak di antara 62°LS hingga 67°LS seperti Semenanjung Antarktika.

Untuk wilayah yang terletak di atas 65°LU akan menyaksikan Matahari terbit dari arah Utara. Bahkan untuk wilayah yang terletak di antara 65,5°-90°LU akan mengalami fenomena yang disebut sebagai Midnight Sun atau Matahari yang muncul ketika tengah malam. Matahari akan selalu berada di atas ufuk selama satu hingga enam bulan penuh. Semakin mendekati titik Kutub Utara (90°LU), maka semakin lama Matahari berada di atas ufuk. Matahari akan terlihat terbenam sekaligus terbit ketika tengah malam untuk wilayah yang terletak di 65,5°LU. Kasus khusus, untuk wilayah berlintang 65,5°LU akan menyaksikan Matahari terbenam sekaligus terbit saat tengah malam ketika Solstis Juni.

Gambar 7. Lintasan Semu Harian Matahari untuk Islandia
Sumber: http://andrewmarsh.com/apps/releases/sunpath2d.html

 

Sebaliknya, untuk Kutub Selatan, Matahari akan terlihat terbit sekaligus terbenam saat tengah hari ketika solstis Juni dari arah Utara bagi wilayah berlintang 67,5°LS. Bahkan, Matahari tidak akan terbit atau terbenam untuk wilayah di antara 68°-90°LS. Fenomena ini disebut juga sebagai Polar Night atau Malam Kutub. Matahari akan selalu berada di bawah ufuk selama satu hingga enam bulan penuh. Semakin mendekati titik Kutub Selatan (90°LS), maka semakin lama Matahari berada di bawah ufuk.

Demikianlah ulasan tentang Matahari terbit dari arah Utara maupun Timur Laut yang ternyata hanya dialami bagi wilayah berlintang tinggi dekat daerah kutub. Dengan kata lain, Matahari tidak dapat terbit di Utara maupun Timur Laut untuk wilayah Indonesia. Bagi Sahabat Edusainsas semua, jangan mudah termakan hoaks ya! Cek terlebih dahulu kebenaran sebuah berita. Banyak-banyaklah membaca referensi yang menjelaskan tentang fenomena ini, serta tetaplah berpikir rasional dan kritis!

Salam Edusainsa!

Comments


  • 19 June 2021 | 23:12 Fathir

    Saya pribadi baru kali ini denger matahari terbit dari utara. Terimakasih Lapan atas penjelasannya. Semangat terus untuk mengedukasi rakyat Indonesia. Saya harap besar nanti bisa mampir ke kantor Lapan hehe

    • 20 June 2021 | 06:13 Admin Edusainsa

      Terimakasih mas Fathir atas apresiasinya. Ditunggu kedatangannya ya.