PPKM: Panduan Praktis Ketika Membedakan Cahaya yang Muncul di Langit

Oleh Andi Pangerang
01 Agustus 2021

Halo, Sahabat Edusainsa semua! Sahabat mungkin sering mengamati beberapa cahaya di langit, dan bertanya-tanya: Cahaya apakah itu? Pertanyaan ini salah satu pertanyaan yang lazim ditanyakan oleh masyarakat awam dan jawabannya berasal dari beberapa hasil pengamatan cepat tanpa menggunakan alat bantu optik untuk cahaya yang memiliki ciri-ciri tertentu.

Ciri-ciri cahaya yang tampak ini dikelompokkan menjadi sepuluh tingkatan pertanyaan lanjutan untuk mengenali cahaya apakah yang sesungguhnya terlihat saat menggunakan mata telanjang. Untuk bagan lengkapnya dapat disimak disini:

Gambar 1. Diagram Pohon untuk Membedakan Cahaya yang Muncul di Langit

Jika Sahabat menemukan cahaya yang terlihat sebesar Matahari atau lebih besar, perlu ditelusuri terlebih dahulu apakah cahaya tersebut dapat membuat mata menjadi perih atau tidak. Hal ini karena umumnya sinar Matahari cenderung membuat mata kita menjadi perih, berbeda dengan cahaya Bulan saat malam hari. Akan tetapi, jika cahaya tersebut tidak membuat mata menjadi perih dan sebesar Matahari, sedangkan saat itu Bulan belum terbit atau sudah terbenam, maka objek tersebut adalah objek yang tidak diketahui.


Gambar 2. Sinar Matahari saat Siang Hari


Gambar 3. Cahaya Bulan Purnama saat Malam Hari

Jika cahaya yang terlihat sebesar Matahari (atau lebih besar), dapat membuat mata perih dan ternyata bukan Matahari jika ditinjau dari arah dan geraknya, maka perlu mempertimbangkan apakah cahaya tersebut bergerak cepat, berekor dan disertai ledakan. Jika demikian, maka objek tersebut adalah asteroid maupun komet yang jatuh ke Bumi. Akan tetapi, jika cahaya tersebut tidak bergerak cepat, tidak berekor dan tidak disertai dengan ledakan, ada kemungkinan cahaya tersebut adalah objek yang tidak dikenali.


Gambar 4. Komet


Gambar 5. Meteor Chelyabinsk Merupakan Salah Satu Contoh Asteroid

Benda antariksa alami lainnya seperti bolide, fireball, hujan meteor maupun meteor sporadis memiliki ciri-ciri yang hampir sama dengan asteroid dan komet. Akan tetapi, secara ukuran, keempat objek ini tidak terlihat lebih besar dibandingkan dengan Matahari. Keempat objek ini berasal dari meteoroid, yakni batu angkasa kecil yang berukuran kurang dari 10 meter. Sebagai tambahan, asteroid lebih besar dibandingkan dengan meteoroid, berukuran lebih dari 10 meter. Dari segi kecerlangan, meteor (baik berupa hujan maupun sporadis) berbeda dengan bolide dan fireball. Meteor cenderung lebih redup, sementara bolide dan fireball lebih terang dibandingkan dengan Venus.


Gambar 6. Perbedaan antara Komet, Bolide, Fireball, Meteoroid, Meteor, Meteorit dan Asteroid. Kredit: American Meteor Society

Hujan meteor cenderung berasal dari titik radian (titik kemunculan meteor) yang sama, umumnya terletak di konstelasi tertentu, dan terlihat beberapa buah dalam waktu satu jam. Meteor sporadis berasal dari sembarang titik di langit dan tidak selalu muncul dari titik yang sama dan hanya muncul sesekali saja. Bolide lazimnya disertai dengan ledakan atau dentuman, berbeda dengan fireball yang tidak terdengar ledakan. Keempat objek ini jika berhasil jatuh ke permukaan Bumi melalui atmosfer Bumi, maka disebut sebagai batu meteor atau meteorit.


Gambar 7. Bolide di Norwegia tanggal 25 Juli 2021


Gambar 8. Fireball di Texas, Amerika Serikat tanggal 25 Juli 2021

Tidak hanya benda antariksa alami saja, benda antariksa buatan yang jatuh kembali ke Bumi juga dapat terlihat tidak sebesar Matahari dan bergerak cepat (berkisar 20 hingga 90 detik) meski tidak secepat benda antariksa alami yang hanya dapat terlihat selama kurang dari sepuluh detik saja. Fenomena ini disebut juga sebagai Reentri Benda Antariksa Buatan (Space Debris Reentry).


Gambar 9. Reentri ATV-1, salah satu benda antariksa buatan. Kredit: European Space Agency

Selain terlihat dengan sangat cepat, ada beberapa objek yang dapat terlihat agak lambat bahkan sangat lambat. Balon udara dapat terlihat agak lambat dan merayap di langit jika bergerak dalam satu garis lurus atau lengkungan sederhana dan tidak berkelap-kelip. Berbeda dengan lampu pesawat terbang yang tampak berkelap-kelip. Akan tetapi, Balon udara dapat juga terlihat sangat lambat serta tidak ikut bergerak bersama dan searah dengan bintang-bintang jika teramati pada malam hari.

Jika cahaya tersebut terlihat bergerak akan tetapi lintasannya tidak dalam satu garis lurus maupun lengkungan sederhana, cahaya tersebut merupakan objek yang tidak diketahui.

Jika cahaya tersebut bukan merupakan balon udara, dan terlihat berekor di sekitar waktu Matahari terbit ataupun terbenam, bisa jadi cahaya tersebut merupakan contrail pesawat terbang. Jika tidak terlihat berekor, cahaya tersebut merupakan benda antariksa buatan diantaranya: Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), Teleskop Luar Angkasa Hubble (HST), satelit iridum ataupun benda antariksa buatan lainnya yang mengorbit Bumi. Satelit iridium cenderung memiliki kecerlangan yang berubah-ubah berbeda dengan ISS dan HST yang kecerlangannya yang konstan. Meskipun demikian, ketiga benda antariksa ini dapat mengalami outage atau gerhana satelit saat letaknya segaris dengan Bumi dan Matahari.  ISS dan HST tampak lebih terang dibandingkan dengan bintang-bintang lainnya. Akan tetapi, jika ada benda antariksa buatan yang lebih redup dari bintang-bintang di sekitarnya, maka objek tersebut merupakan benda antariksa buatan lainnya seperti satelit LEO (berorbit rendah) dan satelit MEO (berorbit menengah).


Gambar 10. ISS transit di depan Bulan


Gambar 11. HST (yang dilingkari) transit di depan Matahari bersama dengan Venus (bulatan hitam)

Jika cahaya tersebut bergerak searah dan ikut bersama bintang, serta tampak berkelap-kelip, ada kemungkinan bahwa cahaya tersebut merupakan bintang maupun gugus bintang. Gugus bintang sendiri adalah sekumpulan bintang yang tampak menjadi satu kesatuan. Salah satu contoh gugus bintang yang paling lazim dijumpai adalah Pleiades (Objek Messier 44).


Gambar 12. Ketampakan Gugus Bintang (Kiri) dan Bintang (Kanan)

Komet dan planet sama-sama tidak berkelap-kelip. Komet juga dapat terlihat sangat lambat jika tampak samar dan berekor. Berbeda dengan planet yang tidak tampak samar. Mars, si planet merah, meski di ufuk tinggi tetap tampak kemerahan. Berbeda dengan empat planet kasat mata lainnya (Merkurius, Venus, Jupiter dan Saturnus) yang tampak berwarna putih.

Jika objek tersebut tidak tampak berekor melainkan memanjang hingga seperti membelah angkasa, maka objek tersebut adalah Bimasakti.


Gambar 13. Bimasakti yang tampak memanjang ke langit

Jika objek tersebut tidak membelah angkasa, melainkan terletak di tiga bintang yang segaris atau Sabuk Orion, maka objek tersebut adalah Nebula Orion


Gambar 14. Nebula Orion

Jika objek tidak terletak di tiga bintang segaris, maka bisa dipastikan objek tersebut adalah nebula lainnya (misalkan Nebula Lagoon) maupun galaksi lain (seperti Galaksi Andromeda).


Gambar 15. Galaksi Andromeda (Atas) dan Nebula Lagoon (Bawah)

Sahabat juga dapat menjumpai objek yang tidak bergerak sama sekali meskipun diamati berjam-jam. Objek tersebut bisa jadi merupakan lampu yang terletak di tempat yang tinggi. Contohnya adalah lampu menara. Akan tetapi, jika ternyata bukan lampu menara atau sejenisnya, maka bisa dipastikan objek tersebut adalah objek tak dikenal.


Gambar 16. Lampu Menara adalah salah satu contoh lampu di tempat yang tinggi.

Demikianlah cara membedakan atau mengidentifikasi cahaya apa saja yang tampak di langit ketika mengamatinya tanpa menggunakan alat bantu optik atau dengan kata lain, menggunakan mata telanjang. Semoga bermanfaat bagi Sahabat sekalian. Tetap sehat dan semangat, Salam Edusainsa!

Comments