Surya Pethak, Mentari Memutih Ketika Terbit dan Terbenam?

Oleh Andi Pangerang
28 Juli 2021

Halo, Sahabat Edusainsa semua!

Dalam salah satu jangka (ramalan) Sabdo Palon Noyo Genggong, disebutkan bahwa salah satu tanda akan terjadinya sebuah pralaya atau pergantian dari zaman lama ke zaman baru adalah terjadinya surya pethak. Secara harfiah, surya pethak bermakna Matahari [tampak] memutih. Surya pethak dapat dimaknai sebagai alam sunya ruri atau siang hari yang temaram seperti malam hari. Siang hari yang dimaksud disini adalah dihitung sejak Matahari terbit hingga Matahari terbenam. Sinar Matahari yang biasa kemerahan ketika terbit dan terbenam akan memutih, sedangkan ketika Matahari meninggi, sinar Matahari tidak begitu terik dikarenakan terhalang oleh semacam kabut awan. Kejadian ini dapat berlangsung selama tujuh hingga empat puluh hari paling lama. Mungkinkah fenomena tersebut akan terjadi dalam waktu dekat ini?

 

Gambar 1. Ilustrasi Matahari yang memutih ketika terbit.

 

Sebelum meninjau surya pethak dari sisi astronomis, Sahabat harus memahami terlebih dahulu mengapa Matahari dan langit tampak kemerahan ketika terbit dan terbenam, serta dapat memahami mengapa saat siang hari, Matahari berwarna putih dan langit berwarna biru. Berikut penjelasannya:

Sinar Matahari yang kita lihat termasuk ke dalam radiasi elektromagnetik yang dipancarkan oleh Matahari. Dikenal sebagai cahaya tampak, terlihat putih tetapi terdiri dari spektrum warna yang memiliki panjang gelombang yang berbeda-beda, yang mana ungu memiliki panjang gelombang terpendek dan merah memiliki panjang gelombang terpanjang. Sahabat dapat melihat spektrum warna yang berbeda ketika Sahabat mengamatinya melalui prisma atau ketika pelangi muncul di langit.

Sinar Matahari yang datang menuju Bumi sebelumnya terlebih dahulu melewati atmosfer Bumi. Atmosfer bumi sebagian besar tersusun dari molekul gas, dengan kadar oksigen (O2) sekitar 21% dan nitrogen (N2) sekitar 78%. Selain itu, molekul air (H2O) dalam bentuk droplet (tetesan air), kristal es dan uap air, serta partikel seperti debu, polutan dan abu dapat ditemukan di atmosfer, yang mana molekul lebih besar kerapatannya lebih dekat ke Bumi dan kerapatan tersebut berkurang seiring dengan meningkatnya ketinggian dari permukaan Bumi.

Ketika sinar matahari bertemu molekul gas seperti nitrogen dan oksigen, spektrum dengan panjang gelombang yang lebih panjang, seperti merah, kuning dan jingga, akan dengan mudah melewati atmosfer Bumi. Sedangkan cahaya dengan panjang gelombang yang lebih pendek, seperti biru dan ungu, diserap dan kemudian dihamburkan ke segala arah oleh molekul gas.

Ketika Sahabat melihat ke langit di siang hari, spektrum biru dan ungu yang dihamburkan ke segala arah ini akan mencapai mata kita, Sahabat. Akan tetapi, mata manusia lebih mudah menerima frekuensi biru daripada frekuensi ungu, sehingga langit tampak berwarna biru.

Fenomena ini dikenal sebagai Hamburan Rayleigh (Rayleigh Scattering). Fenomena ini dinamai berdasarkan nama fisikawan Inggris, John William Strutt yang dikenal juga sebagai Lord Rayleigh. Selain membuat langit terlihat biru, fenomena ini juga menjadi penyebab mengapa Matahari tampak kekuningan di siang hari padahal cahaya Matahari berwarna putih. Ketika Matahari berkulminasi atau mencapai titik tertinggi di atas ufuk saat tengah hari, cahaya akan menempuh jarak yang lebih pendek saat melalui atmosfer. Hal ini berarti, sebagian besar spektrum kuning, jingga, dan merah akan melewati atmosfer. Sementara, sebagian kecil cahaya biru dan ungu dihamburkan dan dihilangkan dari paduan berbagai macam spektrum. Oleh karenanya, Matahari akan tampak kuning bagi kita di Bumi.

Gambar 2. Ilustrasi Terjadinya Hamburan Rayleigh.

 

Ketika terbit maupun terbenam Matahari, yang mana Matahari akan tampak lebih dekat ke cakrawala, sinar Matahari akan menempuh jarak yang lebih jauh dan melalui lapisan atmosfer yang lebih padat untuk mencapai mata pengamat. Hamburan Rayleigh menyebabkan sebagian besar cahaya dengan panjang gelombang yang lebih pendek seperti biru, ungu, dan hijau dihamburkan beberapa kali, sehingga, hanya menyisakan cahaya dengan panjang gelombang yang lebih panjang seperti merah, jingga, dan kuning yang mana akan dilewatkan menuju mata pengamat. Itulah sebabnya, mengapa saat terbit dan terbenam Matahari, warna langit akan tampak merona jingga kemerahan dan Matahari akan merona merah dengan sangat indahnya.

Kini, Sahabat telah mengetahui penyebab mengapa Matahari dan langit tampak kemerahan ketika terbit dan terbenam, serta dapat memahami mengapa saat siang hari, Matahari berwarna putih dan langit berwarna biru. Alasannya adalah karena sinar Matahari mengalami hamburan Rayleigh yang menghamburkan spektrum cahaya tampak sesuai dengan jarak yang ditempuh sinar Matahari saat melalui atmosfer.

Gambar 3. Rona Langit yang memerah saat terbenam Matahari

 

Kondisi ideal ini hanya akan terjadi jika kualitas udara benar-benar bagus dan bersih di sekitar lokasi Sahabat mengamati langit. Hal ini dikarenakan kualitas udara yang akan dilalui sinar matahari juga dapat memengaruhi warna Matahari saat terbit dan terbenam. Partikel debu dan polutan cenderung mengurangi warna di langit serta menghalangi cahaya mencapai mata pengamat di permukaan Bumi. Karena itu, langit berwarna merah dan kuning kusam saat udara penuh debu dan polutan. Inilah sebabnya, mengapa terbit dan terbenam Matahari di kawasan pedesaan, di tepi pantai, dan padang gurun jauh lebih indah dan berwarna daripada di kawasan perkotaan.

Jika dikaitkan dengan fenomena Surya Pethak, yakni Matahari yang merona putih selama siang hari sejak terbit hingga terbenamnya, ada kemungkinan kabut awan yang dapat menghalangi sinar Matahari melalui atmosfer Bumi dapat ditimbulkan oleh letusan gunung berapi maupun perubahan sirkulasi air laut yang dapat meningkatkan penguapan uap air. Sangat kecil kemungkinan kabut awan yang menyelimuti permukaan Bumi ditimbulkan oleh penurunan aktivitas Matahari berkepanjangan, seperti yang pernah terjadi pada tahun 1645 hingga 1715. Fenomena tersebut disebut juga sebagai Maunder Minimum, dinamai dari nama seorang astronom Matahari, Edward Walter Maunder dan istrinya Annie Russell Maunder. Fenomena ini berlangsung ketika “Zaman Es Kecil” atau rendahnya suhu rata-rata bagi kawasan Eropa dalam waktu yang cukup lama, antara tahun 1550 hingga 1850. Meskipun demikian, tidak cukup bukti bahwa Maunder Minimum ini dapat menyebabkan Zaman Es Kecil, terlebih lagi, awal Zaman Es Kecil lebih awal serratus tahun daripada Maunder Minimum.

Selain itu, ada contoh lainnya dalam sejarah ketika aktivitas minimum Matahari berkorelasi dengan suhu yang lebih tinggi di Bumi. Oleh karenanya, hubungan antara siklus matahari dan pendinginan iklim jelas tidak terkait sama sekali.

Sempat ada isu yang beredar bahwa tidak akan terjadi aktivitas Matahari maksimum pada siklus ke-25 saat ini, sehingga iklim Bumi akan lebih dingin dari sebelumnya. Jika kita memang menuju aktivitas Matahari minimum berkepanjangan dan jika kondisi demikian memang menandakan iklim yang mendingin – yang mana keduanya tidak terbukti – ini tidak akan bertentangan dengan bukti bahwa iklim bumi memanas karena aktivitas manusia. Pendinginan dari aktivitas Matahari minimum yang berkepanjang tidak mungkin mengurangi pemanasan yang disebabkan manusia dalam jangka panjang.

Akhir kata, dalam waktu dekat ini, fenomena surya pethak tidak akan terjadi setidaknya jika dikaitkan dengan aktivitas Matahari. Akan tetapi, fenomena ini masih dapat dimungkinkan terjadi oleh letusan gunung berapi dan perubahan sirkulasi air laut yang hingga saat ini masih sulit diprediksi oleh para ilmuan vulkanologi dan oseanografi.

Tetap sehat dan tetap semangat, Sahabat Edusainsa sekalian. Semoga pandemi kali ini akan segera berakhir. Salam Edusainsa!

Comments